
Aurel menuangkan empat gelas dengan sirup yang telah ia buat.
Dengan menggunakan nampan ia membawanya ke ruang tamu. Dimana Aunia, Andra dan Darren berkumpul.
"Nih, gue bawain minuman" ujar Aurel meletakkannya di atas meja.
"Tau aja gue lagi haus" ujar Darren langsung meminum sirup yang di bawa Aurel.
Sedangkan Aunia dan Andra hanya melihat saja.
"Kalian gak?" Tanya Aurel.
"Gue gak haus" balas Andra.
"Nanti aja rel" ujar Aunia.
"Yaudah deh, jadi kita mau mulai penyelidikannya dari mana?" Tanya Aurel mulai duduk dan berdiskusi bersama.
"Itu masalahnya, kita gak punya petunjuk satu pun" ujar Andra.
"Kalau kita punya petunjuk, mungkin kita bakalan tau mau nyelidikin masalah ini dari mana dulu" balas Darren.
"Gue juga gak ngeliat ada petunjuk dari teror-teror itu, kayaknya mereka teliti banget, bahkan gak ninggalin jejak sama sekali" tambah Aunia.
"Waktu gue sama mama di teror, mama sempet liat kalau peneror itu bawa motor sama pakai pakaian serba hitam gitu" ujar Aurel.
"Kalau gitu tanya sama mama aja, siapa tau mama inget plat motornya" ujar Aunia.
"Gak bisa Aunia, kalau mama sampai tau kita nyelidikin hal ini, mama gak bakalan setuju" jawab Aurel.
"Setau gue, komplek ini ada cctv-nya kan?" Tanya Darren.
"Iya, ada kok"
"Kalau gitu, kita coba cek cctv aja" usul Andra.
"Iya bener" balas Aurel.
Aurel, Aunia, Andra dan Darren segera menuju pos tempat cctv komplek rumah yang di tempatinya.
"Permisi pak" ujar Aurel pada satpam komplek.
"Iya ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.
"Begini pak, akhir-akhir ini saya merasa tidak nyaman dengan rumah yang saya tempati" ujar Aurel.
"Memangnya ada masalah apa ya mbak?"
"Saya sering di gangguin sama orang asing pak, jadi saya mau tau siapa yang gangguin saya"
"Maksud mbak?"
"Kita boleh cek cctv nya gak pak?" Tanya Aurel. Sementara yang lainnya mengangguk mengiyakan.
"Tapi__"
"Ini demi kenyamanan penghuni komplek ini pak" balas Aurel memotong.
"Yasudah, tapi hanya satu orang yang bisa masuk" ujarnya memberi syarat.
"Gimana?" Tanya Aurel pada teman-teman nya.
"Lo aja" balas Darren.
"Oke, saya aja yang masuk pak" ujar Aurel.
"Kalau gitu, ikut saya!"
Aurel dibawa memasuki ruang cctv.
"Yang itu pak, yang di depan rumah saya" ujar Aurel.
Satpam segera mengecek cctv dibagian depan rumah Aurel.
"Kejadiannya kapan ya mbak?"
"Seminggu yang lalu kayanya deh pak" ujar Aurel.
__ADS_1
Satpam segera memeriksa cctv Minggu lalu di depan rumah Aurel.
"Stop pak!" Pinta Aurel. Seseorang yang melempar batu pada kaca jendelanya hingga pecah membuatnya yakin kalau itu adalah peneror yang ia cari.
"Coba perbesar di motornya pak, saya mau liat plat motornya" pinta Aurel
Satpam memperbesar gambar pada bagian motornya.
Dengan teliti Aurel membaca plat nomor yang ada pada motor peneror itu.
"BA 3564 LA" lirihnya membaca plat nomor motor. Demi menjaga keamanan, Aurel memotretnya menggunakan hpnya.
"Yaudah, makasih bantuannya pak" ujar Aurel.
"Ya sama-sama"
Aurel keluar dari ruang cctv. Ia menghampiri teman-temannya yang menunggu diluar.
"Gimana?" Tanya Andra.
"Gue dapet sesuatu" balas Aurel senang.
"Yaudah, kita balik ke rumah aja, nanti bahas disana, kalau disini takutnya ada yang ngintai kita" ujar Aunia.
"Iya Aunia bener" tambah Darren.
Aurel, Aunia, Andra dan Darren kembali ke rumah untuk mendiskusikan rencana selanjutnya yang akan mereka lakukan.
"Gue nemuin ini" ujar Aurel, ia memperlihatkan plat motor yang ia potret di ruang cctv.
"Jadi ini plat nomornya" balas Andra.
"Kalau mau cari tau pemilik motor ini, lebih baik kita langsung ke kantor polisi aja" usul Darren.
"Kalau gitu, Lo sama gue ke kantor polisi buat ngeceknya" ujar Andra.
"Gak masalah, ayo!" Ajak Darren.
"Kalian tetap disini! Jangan kemana-mana" pinta Andra.
"Iya" balas Aurel dan Aunia.
Setelah menunggu beberapa antrian. Andra dan Darren baru bisa berhadapan dengan polisi.
"Maaf pak, kami sedang mencari tau pemilik motor dari plat nomor ini" ujar Andra. Ia memperlihatkan gambar yang baru saja di kirim Aurel.
"Baik, tunggu sebentar"
15 menit kemudian...
"Dari data yang saya dapat, pemilik motor ini bernama Bryan ia tinggal di komplek melati no 33"
"Oke Terimah kasih infonya pak"
Setelah keluar dari kantor polisi. Darren segera menghubungi Aurel.
"Halo"
"Gimana hasilnya?" Tanya Aurel.
"Pemilik motor itu bernama Bryan, dia tinggal di komplek melati no 33" ujar Darren memberitahukan informasi yang ia dapat.
"Pemilik motor itu bernama Bryan, dia tinggal di komplek melati no 33" ujar Darren memberitahukan informasi yang ia dapat.
"Rencana selanjutnya apa?" Tanya Aurel.
"Gue sama Andra bakalan kerumahnya dulu, buat cari tau, kalian tunggu aja info selanjutnya"
"Yaudah, tapi kalian harus hati-hati"
Setelah menutup telfonnya. Darren dan Andra segera menuju komplek melati. Darren dan Andra menggunakan motor, hal itu agar perjalanannya lebih cepat. Jika mereka menggunakan mobil, maka bisa saja mereka terjebak macet.
"Ini kan rumahnya?" Tanya Andra. Saat ini ia dan Darren tengah berdiri di depan rumah dengan nomor 33.
"Iya, bener kok" balas Darren.
Darren mengetuk pintu rumah.
__ADS_1
Tok Tok Tok
"Permisi!!" Ujar Darren.
Seseorang asisten rumah tangga membukan pintu untuk Darren dan Andra.
"Cari siapa mas?"
"Maaf Bryan nya ada?" Tanya Andra.
"Oh mas Bryan?"
"Iya"
"Tuan Bryan ada didalam, silakan masuk!" Ujarnya ramah.
Darren dan Andra memasuki rumah.
"Silakan duduk, saya panggil tuan dulu" pamitnya.
"Apa mungkin Bryan itu yang neror?" Bisik Darren pada Andra.
"Gue gak tau" balasnya datar.
Tak lama seorang pria yang mungkin lebih tua darinya beberapa tahun datang menghampirinya.
"Maaf menunggu lama" ujarnya. Sementara Darren dan Andra langsung berdiri, sebagai tamu mereka harus menghargai tuan rumah yang ingin ia temui.
"Tidak masalah" balas Andra.
"Silakan duduk" ujar Bryan.
Darren dan Andra kembali duduk karena sudah di persilakan pemilik rumah.
"Kalau boleh tau, apa benar anda tuan Bryan?" Tanya Darren.
"Iya benar saya Bryan"
"Apa anda punya motor dengan plat nomor ini?" Tanya Andra. Ia memperlihatkan foto plat nomor motor.
"Iya benar"
Andra dan Darren saling menatap satu sama lain. Sekarang mereka telah menemukan peneror itu.
"Jadi anda yang neror keluarga Aurel?" Tanya Darren kesal. Ia langsung berdiri dan ingin memukul Bryan namun dihalangi oleh Andra.
"Apaan lagi ndra!" Balas Darren.
"Jangan gegabah" bisiknya.
Sementara itu Bryan tampak bingung dengan tuduhan yang di lontarkan padanya.
"Maksud kalian apa? Peneror?" Tanyanya tak mengerti.
"Jangan pura-pura bodoh, kita bukan anak kecil yang bakalan percaya dengan omong kosong Lo gitu aja!" Balas Darren.
"Tapi saya benar-benar gak tau maksud kalian apa?" Balasnya bingung.
"Motor Lo dipakai buat neror keluarga pacar gue! Dan gak mungkin itu bukan Lo kan?!" Balas Darren.
"Motor itu emang dibeli atas nama saya, tapi motornya saya berikan untuk adik saya" balas Bryan.
"Maksud Lo? Yang neror adik Lo?" Tanya Andra.
"Gak! Adik saya gak mungkin ngelakuin hal itu, dia anak yang penurut dan gak banyak neko-neko, malahan dia hampir kehilangan nyawa karna seorang psikopath! Jadi dia gak mungkin ngelakuin hal seperti itu" balas Bryan, ia tak terima jika adik kesayangannya di tuduh apalagi oleh orang yang tak dikenal.
"Kehilangan nyawa?" Tanya Andra.
"Iya, beberapa tahun yang lalu, saat dia bersekolah di sebuah SMA, ada seorang murid baru yang tidak waras dan ngelukain dia dan teman-temannya, hanya dia yang selamat dari musibah itu, semua teman-temannya mati Karna psikopath itu" jelas Bryan.
"Trus di mana adik Lo?" Tanya Darren.
"Dia pergi dari rumah dan milih ngontrak sendiri setelah kematian mama" ujarnya. Dari sorot matanya sangat terlihat kesedihan.
"Boleh kita tau alamat kontrakan adik Lo dimana?" Tanya Andra.
"Gue gak tau, cuma papa yang tau kontrakannya dimana"
__ADS_1
"Papa Lo dimana?" Tanya Darren tak sabaran.
"Kerja, tapi biasanya jam segini papa udah pulang" ujar Bryan melirik jam tangannya.