PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 24


__ADS_3

Aurel sudah siap dengan persiapannya menuju Bandung. Pukul 7.30 ia mengenakan seragam sekolah untuk keluar dari rumah.


"Pagi ma, aku berangkat sekolah dulu ya" pamit Aurel.


"Sarapan dulu, sini!" Ajak Aleta.


"Gak usah ma, ntar aja disekolah"


Aurel melangkahkan kakinya menuju pintu rumah. Namun ada hal aneh yang tak dimengerti Aleta saat melihat tas Aurel. Tas yang dikenakan Aurel itu tas ransel yang selalu ia gunakan saat pergi camping.


"Rel" panggil aleta.


"Iya ma"


"Kamu beneran kesekolah?" Tanya Aleta.


"I-iya, emangnya mau kemana lagi?" Tanya Aurel.


"E-enggak, yaudah kamu pergi sana ntar telat" pinta Aleta.


Entahlah? Aleta merasa janggal dengan kepergian Aurel kali ini.


Aurel tiba dirumah Darren, ia langsung disambut oleh Darren sebelum bel rumah ia pencet.


"Tumben, belum mencet bel Lo udah nongol"


"Waspada rel, ntar pala gue Lo pukul lagi" kekehnya.


"Minggir, gue mau ganti baju" ujar Aurel nyelonong.


"Dikamar tamu aja sana" tunjuk Darren pada sebuah kamar.


"Oke, thanks"


Tak lama Aurel keluar Dari kamar tamu.


"Lo udah siap kan?" Tanya Aurel mendapati Darren tengah duduk di sofa.


"Udah, nih" ujarnya menunjuk tas ransel miliknya.


"Tunggu apa lagi ayok!!" Pinta Aurel.


"Iya" Darren mengambil tas ransel yang terletak dilantai rumahnya.


Keduanya menaiki motor menuju Bandung. Setelah menempuh perjalanan panjang keduanya sampai pada rumah yang sama yang pernah mereka datangi.


"Nitip motor disitu aja!" Usul Aurel, ia melihat sebuah warung kecil diujung jalan.


"Bentar" darren mengendarai motornya menuju warung tersebut.


"Permisi pak" sapa Darren pada pemilik warung.


"Iya dek, ada yang bisa dibantu?"


"Saya titip motor disini boleh?"


"Oh silakan atuh"


"Terimah kasih pak"


Darren kembali menghampiri Aurel yang tengah berdiri diseberang jalan.


"Udah?" Tanya Aurel.


"Udah, sekarang kita langsung masuk?"


"Kita pantau dulu, liat siapa aja yang ada disana" Ujar Aurel.


.

__ADS_1


.


.


Andra berpamitan pada Hilda ingin keluar rumah, ia ingin menikmati suasana Bandung pada pagi hari. Sudah lama ia tak lagi berkeliling menghirup udara sejuk.


"Seger banget ya" gumam Andra dengan senyum lebarnya.


Ia menghentikan lari paginya, rumah kosong yang ia lihat dari seberang jalan itu membuatnya mengingat memori masa lalu itu lagi.


"Arsy Lo dimana?" Lirihnya.


Flasback on


Andra menaiki sepeda kesayangannya, ia akan menaiki sepeda itu jika petang datang. Bagi Andra suasana sore dibandung itu sangatlah menyenangkan.


Kepala yang berbalut perban tak menghentikan kakinya yang lihai dalam mengayuh sepeda. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh, kakinya memar akibat jatuh dari sepeda.


Brukkk


"Ughh" ringis Andra.


"Kak Andra gak papa?" Terdengar suara cempreng yang sangat familiar ditelinganya.


Andra mendongak melihat orang yang ia tabrak tadi.


"Lo?!" Sentak Andra.


"Iya kak, maafin ya udah bikin kak Andra jatuh" ujarnya bersalah.


"Sini Arsy bantuin" lanjutnya mengulurkan tangan.


"Gak usah gue bisa sendiri" ketus Andra.


"Maaf kak" lirihnya.


"Kenapa sih setiap ketemu Lo, hidup gue selalu sial?!!" Bentak Andra.


Andra yang sadar ucapannya membuat Arsy sedih, malah merasa bersalah.


"Sorry, gue gak maksud bentak Lo. Gue cuman kesal aja" ucap Andra bersalah.


"Arsy penyebabnya" jawabnya menciut.


"Bukan gitu" Andra tak tau harus berkata apa lagi agar Arsy tenang.


Arsy mengubah sikapnya kembali ceria. Ia tau jika Andra sedang berusaha menghiburnya. Tapi ia bingung bagaimana caranya.


"Kak Andra, Arsy gak papa kok" ucapnya.


"Serius?" Tanya Andra.


"Iya, kak Andra mau mampir kerumah Arsy gak?" Tawarnya.


"Rumah Lo?"


"Iya kak, itu rumah Arsy" tunjuknya pada rumah di seberang jalan.


"Ayo kak" ajak Arsy menarik tangan Andra.


"Tunggu!" Pinta Andra.


"Kenapa kak? Kak Andra gak mau mampir?"


"Tangan Lo?" Arsy melirik tangannya yang memar.


"Gak papa kak, luka kecil ini mah" ucap Arsy menirukan nada bicara Andra ketika dirumah sakit.


Andra terdiam dengan ucapan Arsy, ia seolah tertampar dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


Flasback off


Tersadar dari lamunannya, seseorang yang berjalan dengan tergesa-gesa menarik perhatiannya. Ia sangat mengenali orang itu. Andra mengikuti orang tersebut hingga berhenti tepat di sebuah daerah yang sepi.


Terlihat gio tengah berbicara dengan seorang perempuan. Andra tak dapat melihat wajah perempuan itu dengan jelas karna ia memakai topi dan masker pada wajahnya.


"Mereka ngomong apa sih?" Gumam Andra karna jarak ia dan gio cukuplah jauh.


Andra berusaha mendekat, agar ia bisa mendengar pembicaraan gio dan perempuan itu. Namun, usahanya itu memancing kecurigaan karna kakinya tak sengaja menginjak botol Aqua kosong.


Krekkk


"Ups, kaki Lo kalo jalan liat-liat dong" rutuknya pada diri sendiri.


Sibuk merutuki kakinya, Andra tak sadar jika dua orang yang tengah ia perhatikan sudah tidak ada pada tempatnya.


"Mereka kemana?" Pikir Andra.


Andra keluar dari persembunyiannya dan melihat sekitar namun ia tak menemukan dua orang itu.


Namun disisi lain, seorang pria tengah memperhatikannya. Dengan seringaian dan tatapan penuh kebencian pada Andra.


"Kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusan ku" gumamnya seraya menyeringai jahat.


.


.


.


Sudah satu jam Darren dan Aurel memantau rumah itu. Namun, tak ada satu orang pun yang masuk ataupun keluar dari rumah tersebut.


"Udah satu jam kita mantau rumah ini, tapi gue gak liat ada tanda-tanda kehidupan" ujar Darren.


"Makanya sabar, kalau kita gegabah kemungkinan kita gak bakalan bisa pulang ke Jakarta lagi" ketus Aurel.


"Astaghfirullah, jangan sampai deh. Kasian Mak gue ntar dia sedih kehilangan anak semata wayangnya"


"Gak bakalan sedih Mak Lo, lagian dia malah senang beban keluarga berkurang satu"


"Amp-" belum sempat Darren membalas ucapan Aurel, mulutnya sudah dibekap oleh tangan Aurel.


"Diam!" Pinta Aurel.


"Kenapa?"


"Ada yang datang" Aurel melihat sebuah taksi berhenti didepan rumahnya itu. Seseorang turun dari taksi, ia mengenakan topi dan masker pada wajahnya.


"Dia siapa?" Tanya Darren.


"Mana gue tau"


"Tapi dia perempuan, setau gue waktu kita nyelinap masuk kesini gak ada satu orang pun penjaga yang gendernya perempuan" Pikir Darren.


"Jangan-jangan dia aunia" tebak Aurel.


"Bisa jadi, kita ikuti sekarang?"


"Ayok!"


.


.


.


Thanks udah baca :)


See you next part,, ^_^

__ADS_1


Bye,, bye😊


__ADS_2