
Dengan tatapan yang mematikan, pak Broto sedikit melonggarkan kaca matanya menatap Aurel.
"Kenapa terlambat?" tanya pak Broto datar.
"Telat bangun pak" jawab Aurel jujur. Karna ia sangat tau dengan watak pak Broto yang paling benci di bohongi.
"Sekarang kamu keluar! saya tidak akan mengajar orang yang terlambat!" pinta pak Broto.
"Tapi pak" bantah Aurel.
"Berani bantah saya, itu artinya kamu ingin mengulang semester ini!"
"Gak pak, saya keluar" pasrah Aurel meninggalkan kelas.
Aurel terduduk diam di kursi diluar kelas. Helaan nafas kasar keluar begitu saja dari mulutnya. Setelah dengan susah payah menyuruh supir taksi agar ngebut untuk sampai ke kampus. Hasilnya sia-sia begitu saja. Karna pak Broto tak menerima murid yang terlambat. Mata kuliahnya hari ini hanya dengan dosen berkacamata itu.
Aurel merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Ia mengetikkan beberapa pesan pada pacar yang tak bisa menjemputnya pagi ini. Karna harus mengantar mamanya menuju bandara.
Hai..
Udah balik dari bandara?
Gue cuma mau ngabarin kalau ntar gue gak bisa ketemu sama Lo di kantin
Gue telat mata kuliah pak Broto
Jadi diusir deh, gak boleh masuk hehe
Hari ini mata kuliahnya cuman itu doang
Jadi gue pulang aja ya..
Maaf gak bisa ketemu
~Aurel
Setelah mengetikkan beberapa bait pesan pada Darren. Aurel langsung beranjak dari duduknya menuju gerbang kampus.
Melihat adanya taksi yang lewat Aurel segera menghentikannya. Aurel segera kembali kerumahnya. Suasana rumah yang sunyi dan sepi membuat Aurel tertawa hambar. Dulunya rumah ini adalah rumah yang penuh dengan kehangatan. Sang ayah yang selalu mengajak istri dan anaknya untuk piknik bersama di waktu libur. Suara ibu yang begitu rewel memarahi anaknya agar selalu sarapan pagi sebelum berangkat kesekolah. Dan tingkah anak yang tak mau menurut pada ibunya untuk sarapan. Lalu akan datang sosok ayah yang akan berangkat berkerja dan melihat tingkah anak dan ibunya. Ayahnya akan selalu bilang "Kamu mau kan jadi kebanggaan ayah?" tanya sang ayah. Anaknya mengangguk semangat.
Sang ayah tersenyum melihat putrinya yang begitu lugu. "Kalau mau jadi kebanggaan ayah, harus rajin sarapan ya! biar cepat besar, oke!" ujar sang ayah mengelus putrinya. Putrinya langsung memakan sarapannya setelah mendengar perkataan ayahnya. Sang ibu hanya tersenyum dan ikut makan bersama suami dan anaknya.
__ADS_1
Kenangan indah diusianya masih 13 tahun itu membuat sudut-sudut matanya berair. Aurel mengelap kasar kedua sudut matanya.
Ia memasuki rumah, sebelum menuju kamar ia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Kerongkongannya terasa begitu haus setelah mengingat kenangan indah namun menyesakkan dada untuk di ingat.
Aurel meletakkan gelas bekas minumnya di atas meja dapur. Ia segera menuju kamarnya.
Namun saat pintu kamar baru ia buka. Aurel mengerenyitkan dahinya melihat Aunia sedang memasukkan pakaiannya kedalam koper.
"Loh, Aunia ngapain? ada lomba lagi?" tanya Aurel sembari menghampirinya.
Aunia yang melihat adanya Aurel, tampak kaget.
"Aurel? kamu udah pulang?" tanya Aunia.
"Iya, tadi gue telat mata kuliah pak Broto. Jadi gue di usir gak boleh masuk. Yaudah gue pulang aja, lagian gak ada mata kuliah lain juga" jawab Aurel sembari duduk di pinggiran kasur.
"Trus Lo ngapain packing baju? ada lomba lagi?" tanya Aurel masih penasaran.
"Gak kok, aku cuma ngerasa kalau aku masih ada disini, kamu sama mama gak akan pernah tenang" balas Aunia sembari memasukkan baju-bajunya yang lain ke dalam koper.
"Gak tenang gimana? justru kita senang karna Lo ada disini" balas Aurel menghentikan tangan Aunia memasukkan baju-bajunya kedalam koper.
Aunia menutup kopernya, ia sudah selesai memasukkan barang-barang nya kedalam koper.
"Aunia, dengerin gue! Lo gak mau kan liat mama sedih lagi? mama udah kehilangan papa, mama gak akan sanggup kalau kehilangan Lo juga!" bentak Aurel.
Namun tekad Aunia sudah bulat. Ia menyeret kopernya keluar dari kamar.
"Maaf rel, keputusan aku udah bulat!" ujar Aunia menyeret kopernya.
"Aunia, jangan kayak gini! ini semua gak akan nyelesain masalah!" seru Aurel menghadang langkah Aunia. Ia berdiri di depan Aunia dan menghentikan setiap pergerakannya.
"Seenggaknya ini bisa ngurangin masalah! minggir Aurel!!" bentak Aunia.
"Gue gak akan minggir, sebelum Lo mau dengerin gue!" ujar Aurel tak mau kalah.
"Aurel minggir!!" Aunia mendorong tubuh Aurel ke samping dan segera menyeret kopernya.
Namun, tanpa disangka dorongannya itu terlalu kuat. Sehingga kepala Aurel terbentur ke sudut meja.
"Ahhh" ringis Aurel memegangi kepalanya. Kepalanya berdenyut begitu hebat, cairan kental terasa di tangannya. Saat ia melihat cairan itu, ternyata itu darah yang berasal dari luka di kepalanya.
__ADS_1
Aunia yang baru saja sampai di ambang pintu. Langsung berbalik menghampiri Aurel yang sudah tak sadarkan diri di lantai.
"Aurel!" pekiknya berlari menghampiri Aurel.
Ia berlutut dan menyandarkan kepala Aurel kedadanya.
"Aurel! bangun!" ujarnya menepuk-nepuk pipi Aurel.
Karna tak ada reaksi, Aunia semakin panik. Ia segera menghubungi Darren untuk meminta bantuan.
Namun, beberapa kali ia menghubungi Darren tetap saja tak di angkat olehnya.
Melihat Darah segar yang terus mengalir dari kepala Aurel membuatnya kalang kabut. Ia segera membopong Aurel menuju keluar rumah. Beruntungnya saat di depan rumah, Aunia langsung mendapatkan taksi.
"Pak, ke rumah sakit" ujarnya pada sopir taksi.
Sopir taksi segera melaju menuju rumah sakit.
"Pak cepetan dong!" ujar Aunia lagi, karna ia merasa perjalanan menuju rumah sakit sangatlah lama. Entah itu karna ia merasa panik atau memang jalan taksinya yang terlalu lambat.
"Iya mbak, ini udah cepat kok" balas sopir taksi.
Aunia segera membopong Aurel ke dalam rumah sakit. Melihat adanya kursi roda, Aunia segera mendudukkan Aurel yang sudah tak sadarkan diri. Ia mendorongnya menuju UGD. Tepat di depan pintu UGD Aunia melihat adanya dokter. Ia segera menghampirinya.
"Dok! tolongin Saudara saya dok!" ujarnya panik.
"Baik, mbak tunggu disini ya!" pinta dokter, Aunia mengangguk mengiyakan.
"Sus, bawa pasien ke UGD!" pinta Dokter.
"Baik dok!" balas suster.
Aurel dibawa masuk kedalam UGD untuk mendapatkan penanganan. Sementara itu, Aunia menunggu di luar dengan harapan agar Aurel baik-baik saja.
Dering di ponselnya membuatnya segera melirik ponselnya.
"Halo, Darren buruan ke rumah sakit! Aurel masuk rumah sakit!" ujar Aunia tanpa membiarkan Darren berbicara sepatah kata pun.
"Gue ke sana sekarang!" hanya kata itu yang bisa di ucapkan Darren setelah mendengar kabar dari Aunia.
Aunia kembali menyimpan ponselnya. Ia kembali menatap pintu UGD yang belum terbuka.
__ADS_1