
Aurel dan aunia terus memantau jalan sepi itu. Hingga seseorang lewat sendirian dengan tergesa-gesa.
"Ada orang!" ujar Aunia.
"Tunggu deh" sergah Aurel.
"Kenapa? jangan sampai kita kehilangan kesempatan!!"
"Liat! kayaknya dia gak sendirian" ujar aurel saat wanita itu di ikuti oleh seorang pria di belakangnya.
"Dari gerak geriknya dia?"
"Rampok" lanjut Aurel.
"Kita tolongin atau gak?" tanya Aurel.
"Biarin aja, ini bakalan mempermudah kita"
"Maksud Lo?"
"Kita gak perlu turun tangan buat nyakitin dia" balas aunia.
Aurel dan aunia terus memperhatikan wanita itu, hingga pria dibelakangnya berlari memghampirinya dan menarik tas yang ada pada bahu wanita itu.
Terlihat ia menarik tasnya kembali saat pria itu menariknya dengan paksa. Teriakan demi teriakan di lontarkan wanita itu untuk meminta tolong, tapi suaranya itu tak membawakan hasil karna tempat itu kosong. Tak ada satu orang pun yang lewat disana.
"Diam!!" bentak sang pria, ia langsung menodongkan pisau pada perut wanita itu, hingga ia tergeletak di tanah.
Setelah mendapatkan tasnya pria itu langsung pergi meninggalkan sang wanita yang tergeletak tak berdaya.
"Apa dia mati?" tanya Aurel.
"Aku gak tau, mending kita periksa sekarang!"
"Iya, mumpung gak ada orang"
Aunia dan Aurel berlari menghampiri wanita itu. Tubuhnya berlumuran darah, bahkan pisau yang di gunakan untuk menusuk wanita itu masih berada pada bagian perutnya.
Aunia mengecek nadinya, ia sedikit kaget ketika mendapati wanita itu sudah tidak bernyawa lagi.
"Gimana?" tanya Aurel.
"Dia udah mati"
"Seriusan? trus gimana?" tanya Aurel mulai panik.
"Gak usah panik, justru ini baik buat kita, kita gak perlu ngotorin tangan buat bunuh dia, dia udah mati sendiri, sekarang kita bawa dia ke Bandung buat cek apa jantung dia sama mama cocok atau gak"
"Ke Bandung? apa itu gak memakan waktu, mama cuma punya waktu 24 jam" ujar Aurel.
"Kamu benar, kita bawa dia langsung ke rumah sakit aja" ujar Aunia.
__ADS_1
"Apa Lo yakin? gimana kalau pihak rumah sakit mencurigai kita?"
"Gak usah khawatir, aku ada ide"
.
.
.
Aunia berlari keluar dari dalam taksi dengan tergesa-gesa. Ia memanggil para suster yang berlalu lalang di lorong rumah sakit.
"Sus, tolongin saudara saya dia ke tusuk pisau!!" teriaknya di lorong rumah sakit.
Para suster yang mendengar itu segera membawa brankar menuju taksi yang ditumpangi aunia dan Aurel. Wanita itu di naikkan ke atas brankar dan segera di masukkan ke ruang UGD.
Namun baru beberapa menit dokter yang menangani wanita itu masuk, ia langsung keluar dengan raut wajah sedih.
"Maaf kami tidak bisa menyelamatkannya, ia sudah meninggal sebelum di bawa ke sini" ujar sang dokter.
"Gak! Gak mungkin dok, saudari saya gak mungkin meninggal!" pekik Aurel mendramatisir, karena sebelum tiba dirumah sakit. Aurel dan aunia telah mengatur semuanya agar setibanya dirumah sakit ia harus berakting.
"Kasian sekali nasib saudari saya dok, dia meninggal dengan cara tragis" lirih aunia sedih.
"Oh yah dok, tadi saat di perjalanan kesini, saudari saya berpesan, kalau ia mau mendonorkan jantungnya untuk pasien bernama ibu Aleta di rumah sakit ini, tapi ia minta jangan sampai identitasnya di ketahui oleh keluarga korban" ujar Aurel memberitahu.
"Baiklah kalau begitu, kami akan melakukan amanahnya" ujar sang dokter lalu pamit meninggalkan mereka.
"Ayo ke ruangan mama!" ajak Aunia.
"Iya"
Keduanya melangkah menuju ruangan di mana Aleta di rawat. Saat memasuki ruangan Aurel dan aunia di suguhi oleh Darren dan Andra yang menatap keduanya aneh.
"Dari mana kalian?" tanya Andra.
"Melaksanakan misi penting" ujar Aurel misterius.
"Misi penting?" tanya Darren mengerenyitkan alisnya tak mengerti.
Seorang suster memasuki ruang rawat Aleta, membuat semuanya diam dan mendengarkan apa yang di ucapkan sang suster.
"Permisi, donor jantung untuk ibu Aleta telah didapatkan, dan sebentar lagi kami akan melakukan operasi" ujar suster tersebut.
"Baik sus, Terimah kasih" ujar Aurel.
"Sama-sama, saya permisi"
Suster tersebut keluar dan meninggalkan ruang rawat Aleta. Aurel segera menghampiri mamanya.
"Akhirnya yah ma, mama bakalan sembuh dan gak sakit lagi" ujarnya haru.
__ADS_1
"Cepat sembuh yah ma, kita sayang banget sama mama" ujar Aunia.
Setengah jam setelah kedatangan suster itu, Aleta langsung di pindahkan ke ruang operasi. Aurel dan aunia tak henti-hentinya berdoa agar operasi mamanya berjalan lancar dan mamanya sembuh.
Sementara Darren dan Andra hanya mengamati gadis kembar itu. Yang entah sejak kapan bisa seakrab dan se dekat itu satu dengan yang lainnya.
"Aneh gak sih? mereka bisa akrab gitu, apalagi dalam waktu yang cepat gini?" bisik Andra pada Darren.
"Iya, emang aneh, tapi mungkin aja karna mereka kembar jadi kalau mau ngomongin apa pun itu bisa nyambung, kayak ada ikatan batin gitu" balas Darren.
Andra hanya mengangguk-angguk kan kepala mengiyakan ucapan Darren.
Satu jam setelah operasi dilakukan akhirnya dokternya keluar.
"Gimana dok? operasinya lancar kan?" tanya Aurel.
"Iya dok, mama gak papa kan?" tanya aunia.
"Operasinya lancar, hanya saja pasien belum sadar, kami akan memindahkannya ke ruang rawat terlebih dahulu untuk mengetahui kondisinya lebih lanjut" ujar sang dokter.
"Baik dok" balas Aurel.
Aleta di pindahkan ke ruang rawat, ia didampingi oleh Aurel, Aunia, Darren, dan Andra. Mereka semua berharap jika Aleta secepatnya sadar, karna setelah mendengar ucapan dokter bahwa Aleta mengalami koma dalam waktu yang tidak dapat ditentukan membuat Aurel dan Aunia kembali bersedih.
"Ma, bangun dong jangan tidur Mulu, gak bosan apa ma?" lirih Aurel.
"Ma, bangun! mama gak mau liat aunia ma, aunia baru pulang loh, masa mama tinggal tidur gini" ujar Aunia serak.
"Gue beli makan dulu" ujar Darren meninggalkan ruang rawat Aleta.
Setelah kepergian Darren, pintu kembali terbuka. Namun semua orang yang ada disana tak menoleh ke arah pintu. Karna mereka pikir kalau yang datang adalah Darren.
"Kenapa? ada yang ketinggalan?" tanya Andra tanpa menoleh. Sementara aunia dan Aurel tengah sibuk mengelus-elus kepala Aleta.
"Aurel, aunia"
Mendengar bukan suara Darren, mereka melihat ke arah pintu. Terlihat Gio yang berdiri di ambang pintu.
"Mau apa papa kesini? gak ada yang berharap papa disini" sarkas Aurel menghampiri Gio.
"Rel, papa tau kamu marah, papa minta maaf" sesal Gio.
"Apa pemintaan maaf papa, bisa buat mama bangun lagi" mendengar perkataan Aurel, Gio tak lagi bisa berbicara. Ia terdiam dengan penyesalan dan rasa bersalah pada dirinya.
.
.
.
Thanks udah baca :)
__ADS_1
Jangan lupa like, coment and vote ya...ðŸ¤