
"Apa sebelumnya kamu pernah ketemu sama dia?" tanya Aleta. Melihat raut wajah putrinya yang terlihat tak suka pada Bryan. Aleta beranggapan kalau keduanya pernah bertemu dan terlibat masalah.
Aurel terdiam dengan perkataan mamanya. Tanpa menjawab pertanyaan mamanya Aurel langsung kembali ke kamarnya. Menghiraukan Aleta yang terus saja memanggil namanya.
"Kenapa bisa ketemu dia lagi sih? mama lagi yang bawa, ampun dah gue malu bangettt" ujarnya sembari menutupi wajahnya.
Dikamarnya Aurel terus saja mengingat kejadian memalukan itu.
Sekeras apa pun ia melupakan kejadian itu, memori memalukan itu terus saja berputar di kepalanya. Aurel begitu malu hingga terus saja merutuki dirinya sendiri. Sedangkan pria yang bernama Bryan itu belum tentu mengingatnya.
"Aurel Lo tenang, kaleemmmm belum tentukan dia ingat sama gue? mungkin aja dia udah lupain kejadian itu" gumamnya berusaha berfikir positif.
Aurel segera meneguk air putih yang ada di atas Nakas. Ia menghembuskan nafas lega setelah menandaskan air di dalam gelas tersebut. Perasaanya menjadi lebih baik sekarang.
Aurel menarik selimutnya dan berusaha untuk tidur. Sebelum tidur ia terus mengatakan pada dirinya semuanya sudah berlalu dan tidak perlu di ingat lagi.
.
.
.
Aurel terbangun dari tidurnya pukul 10 pagi. Beruntungnya hari ini ia memiliki kelas siang sehingga ia tak harus bangun pagi.
Setelah selesai membersihkan diri Aurel segera menuju meja makan untuk sarapan.
Tapi dering ponselnya membuatnya mengurungkan niat.
Nama sang kembaran tertera di layar ponselnya. Dengan semangat 45 Aurel segera menggeser Ikon hijau pada layar ponselnya.
"Gimana? menang gak?" tanya Aurel antusias.
"Kamu ini! bukannya nanyain kabar aku, malah nanya aku menang atau gak?" balas Aunia sedikit kesal.
"Hehe maaf ya, gue kepo soalnya" kekeh Aurel.
"Iya di maafin"
"Gimana kabar Lo? baik kan? terus lombanya gimana? saingannya hebat gak? Lo menang? atau kalah?" tanya Aurel bertubi-tubi.
Aunia hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan beruntun dari Aunia.
"Kamu bisa gak kalau nanya satu-satu" balas Aunia.
"Hehe gue penasaran banget Aunia"
"Yaudah, nanti aku ceritain kalau udah sampai rumah"
"Lo kapan pulang?"
"Ini aku udah di bandara"
"Pulang hari ini?" tanya Aurel.
"Iya, nanti jemput ya" kekeh Aunia.
"Siap" balas Aurel.
"Nanti kalau udah sampai aku kabarin"
"Yaudah gue tutup ya, laper nih belum sarapan"
"Iya"
__ADS_1
Aurel kembali meletakan ponselnya di atas Nakas. Dan kembali menuju meja makan untuk sarapan.
.
.
.
Mata kuliah siang ini begitu membosankan bagi Aurel. Ia terus saja berusaha membuka matanya di tengah kantuk yang menyerang. Alhasil hanya dengan menopang dagu dan menatap lurus ke depan lah yang bisa ia lakukan. Tanpa mengerti dengan apa yang di terangkan oleh dosen dengan kaca mata sedikit melorot itu. Mulutnya tiada hentinya berbicara.
"Hufttt akhirnya" ujar Aurel menghela nafas gusar.
Dosen dengan kaca mata sedikit melorot itu akhirnya mengakhiri pelajarannya.
Aurel langsung merapikan buku yang telah ia coret-coret tanpa arti ke dalam tas. Dengan cepat ia sudah menyandang tasnya dan meninggalkan kelas.
"Darren pasti udah di kantin" gumamnya. Karna hanya kantin lah tempat keduanya bertemu setelah mata kuliah usai.
Aurel segera menuju kantin untuk menghampiri Darren, namun belum sempat ia sampai di kantin telfonnya berdering.
Nama Aunia tertera di dilayar ponselnya.
"Halo" lirih Aurel.
"Aku udah nyampe, kamu bisa jemput aku?" tanya Aunia dari seberang sana.
"Lo udah nyampe?" tanya Aurel ragu.
"Udah, kenapa? kamu gak bisa jemput ya? kalau gak bisa gak papa kok, aku bisa pulang sendiri" balas Aunia.
"N-ngak kok, gue bisa, gue jemput sekarang ya" ujar Aurel. Ia juga tak enak hati jika membiarkan sang kembaran pulang sendiri. Apalagi sebelumnya ia sudah berjanji untuk menjemputnya.
"Aku tunggu" tutup Aunia.
Benar saja Darren tengah menunggunya di kantin. Aurel segera menghampirinya dengan langkah agak tergesa-gesa.
"Darren!" panggil Aurel.
"Tumben lama?" tanya Darren.
"Biasalah, pak Broto emang lama kalau ngejelasin materi, mana gue gak ngerti lagi" kekehnya sembari duduk di kursi.
"Mau minum?' tanya Darren.
"Gak usah, gue bentaran doang kok, buru-buru mau jemput Aunia" jelas Aurel.
"Aunia udah pulang?" tanya Darren.
"Udah, sekarang lagi nunggu di bandara"
"Ohh"
"Gue haus nih, bagi minum ya" ujar Aurel mengambil es teh punya Darren.
"Iya"
Setelah meminum minuman Darren, Aurel merasa lega karena sedari tadi kerongkongannya kering.
"Gue duluan ya, takutnya Aunia bete nungguin gue kelamaan" pamit Aurel, kembali menyandang tasnya.
.
.
__ADS_1
.
Aurel celingak-celinguk mencari sosok yang sangat mirip dengannya. Sembari berusaha menghubungi Aunia.
"Lo dimana? gue udah sampe nih" tanya Aurel sesaat setelah panggilan telfonnya di angkat oleh Aunia.
"Coba liat kesamping!" pintanya.
Aurel langsung menengok kesamping kanannya, tapi ia tak menemukan Aunia.
"Sebelah kiri!" pintanya lagi.
Aurel segera menengok ke samping kirinya. Dan benar saja ia menemukan Aunia yang tengah menarik koper sembari mengangkat telfon menatap ke arahnya.
"Bilang dong, gue kan gak tau Lo di samping mana" balasnya sedikit kesal.
Aunia segera berjalan menuju tempat Aurel berdiri dengan menyeret kopernya.
"Maaf" lirihnya, saat langkahnya tepat berada di depan Aurel.
"Iya" balas Aurel setengah hati.
"Aku capek! pulang yuk" ajak Aunia.
"Oke, sini kopernya gue bawain" ujar Aurel mengulurkan tangannya untuk mengambil koper Aunia.
"Tumben, pengertian" kekeh Aunia sembari memberikan kopernya pada Aurel.
"Gue emang pengertian, Lo aja yang gak tau" balas Aurel tak mau kalah.
"Iya-iya, si paling pengertian" ledek Aunia.
Aurel berjalan lebih dulu, ia sedang tak ingin meladeni Aunia.
Diluar bandara, kedua gadis itu menghentikan taksi yang lewat.
"Jalan pak!" pinta Aurel ketika mereka telah duduk di dalam taksi.
Taksi melaju menuju rumah mereka. Sepanjang perjalanan tak ada yang bicara. Suasana hening sangat terasa di antara gadis dengan wajah yang sama persis itu.
Sesampai dirumah, sopir taksi mengeluarkan koper Aunia yang di letakkan di bagasi.
"Makasih ya pak" ujar Aunia sembari mengambil kopernya.
"Sama-sama, saya permisi" ujar sopir taksi, ia segera mengemudikan taksinya keluar dari perkarangan rumah kedua gadis tersebut.
Keduanya memasuki rumah. Namun Aunia merasa ada yang berbeda saat ia memasuki rumah.
"Rel" panggil Aunia.
"Iya kenapa?" tanyanya.
"Kenapa kacanya bisa pecah?" tanya Aunia. Saat melihat kaca rumahnya pecah kembali. Padahal yang satunya sudah diganti. Akibat teror pertama yang mereka terima.
Sedetik kemudian Aurel langsung teringat akan teror yang di terimanya saat Aunia pergi ke Hongkong.
"Oh itu, gak papa kok. Kemarin ada anak kecil yang main disini gak sengaja mecahin kaca" balas Aurel mencari alasan.
"Serius? bukan masalah besar?" tanya Aunia kurang yakin.
"Ya bukanlah" balas Aurel tertawa garing.
"Gak lucu ya?" tanya Aurel malu karna Aunia tak ikut tertawa seperti dirinya.
__ADS_1
"Yaudah, aku mau istirahat dulu" pamit Aunia segera menuju kamarnya.