PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 47


__ADS_3

"Gak ada sinyal lagi!!" rutuknya. Ketakutannya semakin menjadi-jadi ketika bayangan-bayangan kejadian buruk yang akan menimpanya terputar di otaknya.


"Sekarang gue harus gimana? mana gue gak ingat lagi jalan pulang lewat mana" gerutunya.


Sibuk merutuki diri ia menyadari sesuatu, merasa kurang jelas di penglihatannya. Aurel semakin mendekat untuk melihat lebih jelas, dengan rasa panik dan cemas Aurel terus melangkahkan kakinya. Keringatnya yang bercucuran membasahi wajahnya, namun tak ia pedulikan. Rasa penasarannya lebih besar dari pada rasa takutnya.


"Itu apa yah?" pikirnya ketika melihat sesuatu yang kurang jelas di penglihatannya.


Aurel terus melangkahkan kakinya hingga ia sampai pada sebuah pohon besar. Ia kembali di kagetkan ketika ia sadar jika sesuatu yang tak jelas dari kejauhan itu adalah sebuah kaki.


"I-ini k-ka-ki m-ma-nus-ia" ujar Aurel tak percaya, saking syoknya Aurel, ia tak sadar jika air matanya telah mengalir.


"Jangan-jangan ini mayat!"


"Gi-gimana ka-kalau di sini ada pembunuh, a-atau gak, a-ada bi-natang buas" Aurel semakin ketakutan dengan macam-macam pikiran yang tengah terputar di otaknya.


"Aurel, tenang, tarik nafas buang, Lo gak boleh takut, Lo gak boleh overthingking" ujarnya menenangkan diri sendiri.


"Oke, sekarang lebih baik Lo liat mayat ini dulu, siapa tau dia masih hidup" ujarnya memberanikan diri.


Aurel memberanikan diri melihat tubuh dari kaki yang ia lihat.


Matanya terbelalak kaget ketika mengetahui jika mayat itu tidaklah satu, ada satu lagi yang ada di sampingnya.


"Mayatnya dua" lirihnya sedikit ngeri.


"Gue minta bantuan gak yah? mana wajahnya gak keliatan lagi"


Aurel memang tak bisa melihat wajah dua mayat yang di ketahui berjenis kelamin laki-laki itu.


Dua mayat dengan posisi tubuh saling bersandar dan kepala keduanya ditekuk. Sehingga Aurel tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Tapi kalau dilihat-lihat, kenapa mereka kayaknya familiar banget yah?" pikirnya.


Aurel yang merasa penasaran pun, mencoba mendekat untuk melihat wajahnya. Namun, kakinya tak sengaja menginjak salah satu telapak tangan mayat itu.


"Ahhh!! Sakit Woyy!!"pekiknya.


Aurel yang mendengar itu pun terlonjak kaget, hingga ia terjatuh ke tanah.


"Astaga mayatnya hidup" ujar Aurel syok.


"Mayat? gue masih hidup" balas pria jangkung dengan Hoodie hitam yang tengah berdiri di depannya.


"Darren?" ujar Aurel ketika ia bisa melihat wajah pria jangkung itu dengan jelas.


"Aurel, Lo disini?" tanya Darren. Melihat Aurel yang masih terduduk pun, ia mengulurkan tangan untuk membantunya.


"Iya, tadi gue, Aunia sama petugas lain lagi nyari Lo sama Andra, tapi gue malah nyasar kesini" terang Aurel.


"Hmm, Lo ingat gak pulangnya lewat mana?" tanya Darren.


"Enggak, gue lupa" ujarnya.


"Andra kenapa? kok belum bangun?" tanya Aurel, yang melihat sang sepupu masih terkapar di tanah.


"Capek kali, semalam kita keliling nyari jalan pulang sampai jam 4 subuh, karna gak sadar kalau kita jalan udah lama banget, akhirnya kita terkapar deh disini"


"Tapi Andra baik-baik ajakan?" tanya Aurel.


"Baik kok, tenang aja"


"Lo bangunin gih, kita cari jalan pulang sekarang!" pinta Aurel.


Darren segera membangun Andra yang masih terkapar di tanah.

__ADS_1


"Ndra bangun!"


"Ndra!"


"Oi, bangun, mau pulang gak sih Lo" ujar Darren, menepuk-nepuk pipi Andra.


"Gimana?" tanya Aurel.


"Gak bangun-bangun"


"Coba Lo cek deh, jangan-jangan dia pingsan lagi" tebak Aurel.


"Kayaknya dia emang pingsan deh" balas Darren, ketika ia mengecek denyut nadi dan nafas Andra.


"Beneran pingsan?" tanya Aurel, ia mendekat untuk memastikan ucapan Darren.


"Iya pingsan dia"


"Trus gimana?" tanya Aurel.


"Kita cari bantuan dulu" usul Darren.


"Maksud Lo, Andra ditinggal disini?"


"Iya, mau gimana lagi?"


"Janganlah, ntar kalau ada binatang buas gimana?"


"Masa gue harus gendong dia sih?"


"Yaudah gendong aja, gitu-gitu dia saudara gue juga"


"Seriusan Lo nyuruh gue gendong dia, badannya gede loh"


"Oke-oke, gue gendong" ujar Darren mengalah.


Ia segera menggendong Andra di punggungnya.


"Udah nih, tadi Lo lewat mana?' tanya Darren.


"Lewat sana!" tunjuk Aurel pada arah yang sebelumnya ia lalui.


"Ayo!" ujar Darren. Ia mengikuti jalan yang tadi di lalui Aurel.


"Sekarang kemana?" tanya Darren.


"Gue cuma ingat sampai sini!" ciutnya.


Darren menatap ke atas, terlihat pohon yang tinggi dengan banyak cabang. Ia meletakkan Andra yang sedari tadi ia gendong.


"Capek gue" keluhnya.


"Lo bawa hp?" tanya Darren.


"Bawa, kenapa?"


"Coba cek sinyal, ada gak?"


"Tadi gue udah cek, tapi gak ada"


"Siniin ponselnya" pinta Darren, Aurel memberikan ponselnya pada Darren.


"Lo tunggu sini!!" pinta Darren.


"Mau ngapain?" tanya Aurel.

__ADS_1


"Nyari sinyal"


Darren memanjat sebuah pohon, sembari memanjat ia terus mengecek jaringan ponsel Aurel.


"Hati-hati" ujar Aurel.


Darren melanjutkan panjatannya hingga ia mendapatkan sinyal.


"Ada" gumamnya.


Ia segera mencari nomor Aunia untuk meminta bantuan.


"Aunia, angkat!" gumamnya.


Selang beberapa detik setelah nada tersambung terdengar suara panik Aunia.


"Aurel kamu dimana? kenapa misah?" tanya Aunia bertubi-tubi.


"Aunia ini gue Darren, bantuin kita, kita gak tau jalan baliknya lewat mana" ujar Darren.


"Darren, kamu udah ketemu sama Aunia?"


"Iya, udah"


"Oke, sekarang posisi kamu dimana?" tanya Aunia.


"Gue gak tau"


"Kamu liat sekitar deh, ada gak sesuatu yang bisa jadi tanda sebagai titik keberadaan kamu gitu?" tanya Aunia.


Darren melihat kebawah dimana Aurel berdiri menunggunya, ia melihat jika posisinya itu berada dibawah tebing.


"Aunia, kita ada dibawah tebing"


"Oke, aku kesana sekarang"


Setelah panggilan itu berakhir, ia segera turun dari pohon yang ia panjat.


"Gimana?" tanya Aurel.


"Aunia bentar lagi kesini, tunggu aja"


"Emang dia tau tempat ini?" tanya Aurel.


"Gue gak tau, tapi dia bilang mau kesini, yaudah tunggu aja, gak mungkin juga dia bohong kan? apalagi dia panik banget tadi waktu tau kalau gue nelfon pake hp Lo"


"Yaudah, tapi Andra gimana?" tanya Aurel.


Darren melihat Andra yang masih terkapar di tanah.


"Liat deh, bibir andra kok pucet banget?" ujar Aurel.


"Badannya panas lagi" ujarnya ketika merabah kening Andra.


"Bentar gue cari air dulu" ujar Darren langsung pergi mencari Air.


"Andra, Lo yang kuat yah, bentar lagi Kita keluar dari sini kok" ujar Aurel. Ia sangat prihatin dengan keadaan sepupunya itu.


"Gue udah bawa airnya nih" ujar Darren memperlihatkan air yang telah ia bawah dengan menggunakan daun.


"Airnya di apain?" tanya Aurel.


"Buat ngompres"


Darren segera merobek baju kaos yang ada dibalik hoodienya.

__ADS_1


__ADS_2