PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 64


__ADS_3

Sedetik kemudian Aurel langsung teringat akan teror yang di terimanya saat Aunia pergi ke Hongkong.


"Oh itu, gak papa kok. Kemarin ada anak kecil yang main disini gak sengaja mecahin kaca" balas Aurel mencari alasan.


"Serius? bukan masalah besar?" tanya Aunia kurang yakin.


"Ya bukanlah" balas Aurel tertawa garing.


"Gak lucu ya?" tanya Aurel malu karna Aunia tak ikut tertawa seperti dirinya.


"Yaudah, aku mau istirahat dulu" pamit Aunia segera menuju kamarnya.


Aunia langsung merebahkan dirinya di kasur. disusul oleh Aurel Yang merebahkan diri disampingnya.


"Hufttt capek banget hari ini" seru Aurel.


"Iya, terlalu banyak kegiatan" balas Aunia yang sudah mulai menutup matanya.


"Gue mau mandi dulu" ujar Aurel, sebelum mandi ia meletakkan ponselnya di atas nakas.


Aurel memasuki kamar mandi. Sementara itu Aunia mulai memejamkan matanya. Hari ini terlalu melelahkan baginya.


Baru saja terlelap, sebuah nada dering ponsel membuatnya kembali terbangun.


Ia meraba ponselnya yang ada dalam saku celana. Namun, saat melihat layar ponselnya tak ada panggilan. Nada dering ponsel itu masih terdengar, Aunia baru tahu jika nada dering itu berasal dari ponsel Aurel.


Aunia melirik nama yang tertera pada layar ponsel. Disana tertera nama "mama" dengan emot love berwarna merah.


Aurel melirik kamar mandi yang masih terdengar gemericik air. Tak mau membuat mamanya khawatir Aunia langsung mengangkat telfon milik Aurel.


"Halo, Aurel! mama cuma mau kasih tau, nanti bakalan ada orang ke rumah buat ganti kaca jendela kita yang pecah karna teror waktu itu, kamu arahin dia ya! mama tutup dulu, kerjaan mama banyak banget! bye" ujar Aleta tanpa membiarkan Aunia menjawab.


Aunia kembali meletakkan ponsel Aurel kembali ke Nakas.


"Teror? teror apa maksud mama" pikirnya.


Ia sekarang mengerti jika kaca jendela yang pecah itu bukan karna anak kecil yang sedang bermain seperti kata Aurel.


"Jadi Aurel bohong sama aku?" gumamnya.


Bersamaan dengan itu, Aurel keluar dari kamar mandi.


"Aunia, bukannya tadi Lo tidur? kenapa kebangun?" tanya Aurel.


"Aurel, kamu bohong sama aku?" tanya Aunia serius.


"Bohong? bohong apa? gue gak bohong sama Lo" balas Aurel.


"Kaca jendela, kaca itu pecah bukan karna anak kecil kan?" tanya Aunia.


"Kata siapa? kaca itu memang pecah karna anak kecil kok" jawab Aurel kaku.


"Jangan bohong Aurel! tadi mama nelfon dan bilang semuanya"

__ADS_1


"Mama yang bilang?" tanya Aurel.


"Iya"


Aurel langsung terdiam, sekarang bagaimana ia harus menjawab jika mamanya sendiri yang telah memberi tahu kejadian itu pada Aunia.


"Bisa ceritain ke aku, tentang teror itu?" tanya Aunia.


Aurel terdiam sampai akhirnya ia mengangguk mengiyakan.


Flashback on


Aurel dan Aleta kembali ke rumah setelah mengantarkan Aunia menuju bandara. Keduanya menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Sebuah film horor menjadi tontonan mereka saat ini.


"Ma, itu hantunya udah ilang belum?" tanya Aurel sembari menutup matanya dengan bantal sofa.


"Udah, lagian kamu! udah tau takut masih aja ngajak nonton film horor" balas Aleta.


"Uji nyali ma" kekeh Aurel.


"Ada-ada aja" ujar Aleta geleng-geleng kepala.


Pranggg...


Aurel dan Aleta langsung terdiam ketika suara kaca pecah terdengar.


"Ma, itu apa?" tanya Aurel.


"Aku ikut ma" ujarnya menyusul Aleta.


Kaca jendela yang telah berkeping-keping berserak di atas lantai.


"Kenapa bisa pecah?" pikir Aleta, ia langsung melihat keluar jendela.


Seseorang berpakaian serba hitam menggunakan motor matic tengah menatap kearahnya. Ia langsung melajukan motornya ketika melihat Aleta.


"Ma, liat deh" ujar Aurel ketika ia menemukan batu yang digunakan untuk memecahkan kaca jendela.


"Apa?" tanya Aleta menghampiri putrinya.


"Ada kertasnya" Aurel membuka kertas yang dibalutkan pada batu.


KALIAN HARUS MATI


"Mereka ngancam kita ma" ujar Aurel ketika membaca tulisan yang ada pada kertas tersebut.


Aleta langsung merebut kertas ditangan Aurel, ia sekilas membacanya lalu *******-***** kertas tersebut lalu melemparkannya.


"Kamu balik ke kamar! mama mau beresin ini" ujar Aleta.


"Biar aku bantu ma" balas Aurel.


"Mama bisa sendiri, kamu balik ke kamar" pinta Aleta.

__ADS_1


"Iya ma"


Aurel langsung kembali ke kamarnya. Ia juga tak berani membanta ucapan mamanya.


Flashback off


"Ini semua pasti karena aku" ujar Aunia menyalahkan dirinya sendiri setelah mendengar cerita Aurel.


"Lo gak bisa ngalahin diri Lo sendiri, ini semua bukan kesalahan Lo!" ujar Aurel.


"Aku tahu, tapi tetap aja mereka pikir aku yang bersalah!"


"Udahlah, gak usah di dipikirin, seiring berjalannya waktu semuanya pasti akan kembali baik-baik aja"


"Tapi gimana kalau semuanya gak baik-baik aja, bisa aja nanti akan lebih parah dan mereka yang neror mungkin aja ngelukain kita kapan pun"


Mendengar perkataan Aunia, Aurel hanya terdiam. Sebenarnya ia juga mengkhawatirkan akan teror itu. Namun, ia masih bisa tenang akibat dari perkataan Darren. Yang selalu membuatnya berfikir positif akan apa yang terjadi.


.


.


.


Keesokan harinya...


Aurel mengambil tasnya untuk berangkat ke kampus. Ia menghela nafas gusar ketika melihat Aunia masih terlelap.


Setelah Aunia mengetahui tentang teror itu, Ia tak lagi seceria sebelumnya. Wajahnya selalu murung dari kemarin, entah apa yang ada dalam pikirannya.


Aurel hanya bisa berharap, agar Aunia bisa kembali ceria seperti sebelumnya. Dan tak lagi menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa keluarga ini.


Aurel menutup pintu kamarnya. Ia segera keluar dan menunggu taksi yang telah ia pesan sebelumnya. Pagi ini ia tak di jemput oleh Darren. Karena Darren akan pergi mengantarkan mamanya menuju bandara.


Aurel segera menaiki taksi yang baru saja sampai di depan rumahnya. Ia melirik jam tangannya, saat ini ia sudah terlambat. Hal itu karna pagi ini ia bangun lebih lambat dari biasanya.


"Pak ngebut ya, saya udah telat ini!" ujar Aurel pada sopir taksi.


"Baik"


Sopir taksi segera melajukan taksinya dengan kecepatan tinggi. Beruntungnya sopir taksi tersebut ternyata sangat kompeten dalam mengemudikan taksinya.


Aurel sampai di depan kampusnya. Dengan tergesa-gesa ia segera menuju kelasnya. Sudah 5 menit ia terlambat. Hari ini ia yakin jika pak Broto pasti akan menghukumnya. Dosen yang terkenal dengan ke on time nya itu tak akan membiarkan Aurel bebas begitu saja.


Dan benar saja, sesampainya di depan kelas. Aurel sudah dapat melihat pak Broto komat Kamit menjelaskan materi.


"Maaf, saya terlambat pak" ujar Aurel memasuki kelas dan berdiri di depan pak Broto.


Dengan tatapan yang mematikan, pak Broto sedikit melonggarkan kaca matanya menatap Aurel.


"Kenapa terlambat?" tanya pak Broto datar.


"Telat bangun pak" jawab Aurel jujur. Karna ia sangat tau dengan watak pak Broto yang paling benci di bohongi.

__ADS_1


__ADS_2