
Jam tangannya menunjukkan pukul 13.00. Waktu Kayla pulang dari sekolahnya. Aurel langsung membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya.
"Chika, ke ruangan saya sekarang!" Pintanya menggunakan telfon kantor.
Tok Tok Tok
"Masuk!"
"Ibu manggil saya?" Tanya Chika.
"Iya, saya mau jemput Kayla dulu. Saya sudah tidak ada jadwal meeting lagi kan?" Tanya Aurel.
"Sudah tidak ada Bu" balas Chika.
"Yasudah, kalau begitu saya pergi dulu" ujar Aurel.
"Baik Bu" balas Chika.
Aurel menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah. Ia menghampiri pak Maman, dia adalah satpam sekolah. Biasanya Kayla akan menunggunya di depan gerbang. Tapi sekarang ia tak melihat putrinya itu menunggu.
"Siang pak" sapa Aurel.
"Siang Bu" balas pak Maman. Pria dengan pakaian satpam itu, membalas sapaan Aurel dengan ramah.
"Anak-anak udah pada pulang pak?" Tanya Aurel.
"Iya Bu, udah setengah jam yang lalu" balas pak Maman.
"Oh gitu ya, bapak liat anak saya Kayla gak?" Tanya Aurel.
"Non Kayla tadi udah di jemput sama bibinya Bu" balas pak Maman.
"Bibinya? Bibinya yang mana?" Tanya Aurel, pasalnya ia tak meminta siapa pun menjemput Kayla.
"Saya kurang tau Bu, tapi non Kayla bilang itu bibinya" balas pak Maman.
"Yasudah pak, Terimah kasih infonya"
"Sama-sama Bu"
Aurel tengah berfikir, siapa yang menjemput putrinya. Karna bibinya Kayla cuma Naya. Dan Naya sedang kuliah.
Sedangkan Mikha, ia tak memanggilnya bibi. Melainkan bunda sama seperti Rendy memanggilnya.
Aurel merogoh tasnya, ia mencari ponselnya.
"Halo, kamu nyuruh orang buat jemput Kayla?" Tanya Aurel.
"Gak, kenapa?" Tanya balik Darren.
"Kayla gak ada disekolah, kata satpam dia di jemput sama bibinya. Naya kan lagi kuliah, trus siapa yang jemput?" Tanya Aurel.
"Dijemput Mikha mungkin"
__ADS_1
"Gak mungkin, Kayla kan manggil Mikha bunda"
"Trus Kayla dijemput siapa? Gak mungkin kan Kayla di culik"
"Diculik?" Tanya Aurel panik.
"Kamu jangan panik dulu, aku kesana sekarang!" Pinta Darren.
Aurel menunggu Darren di dalam mobil. Melihat adanya orang yang berlalu lalang di depan sekolah anaknya. Aurel turun dari mobilnya dan bertanya pada orang-orang yang lewat.
"Bu, maaf apa ibu liat anak ini?" Ujar Aurel, ia memperlihatkan foto Kayla yang ada di ponselnya.
"Maaf Bu, gak liat" balasnya.
"Yasudah makasih Bu"
"Pak, maaf bapak liat anak ini gak?" Tanya Aurel, pada seorang bapak-bapak yang tengah membawa anaknya.
"Gak liat Bu"
"Gak liat ya?" Balas Aurel kecewa.
"Kayla kamu kemana sih nak" ujar Aurel. Ia khawatir jika anaknya itu benar-benar diculik.
Kring..
Aurel segera mengangkat panggilan dari Darren.
"Di kantor"
"Kok di kantor, katanya mau kesini? Niat cari anak gak sih?!" Balas Aurel sewot. Bagaimana tidak, ia sudah khawatir setengah mati pada anaknya. Sedangkan Darren, ia bahkan masih ada di kantor.
"Gak usah sewot dulu, dengerin aku ya"
"Dengerin apa sih Darren, kamu gak tau apa? Aku khawatir Kayla beneran di culik, dan kamu malah nyuruh aku buat dengerin kamu" balas Aurel, suaranya sudah berubah serak menahan tangis.
"Udah, jangan nangis! Kayla udah di rumah"
"Dirumah?" Tanya Aurel tak mengerti.
"Iya, tadi Naya pulang cepat! Liat Kayla yang nunggu depan gerbang, di ajak sama Naya pulang" terang Darren.
"Kenapa Naya gak ngabarin aku?"
"Katanya sih lupa"
"Yaudah aku pulang sekarang, aku mau marahin adik kamu. Siapa suruh gak ngabarin aku kalau mau ngajak Kayla pulang, kan aku jadi khawatir Kayla kenapa-napa" omel Aurel.
"Terserah kamu aja" balas Darren, ia sedikit terkekeh sebelum akhirnya menutup telfon.
🥀🥀🥀
"Naya!!" Pekik Aurel menggema di dalam rumah.
__ADS_1
Naya yang merasa namanya di panggil, ia langsung keluar dari kamarnya dan menghampiri Aurel.
"Ada apa kak?" Tanya Naya. Ia sudah tau jika Aurel akan memarahinya. Sebelumnya Darren telah memberi tahunya untuk bersiap menerima Omelan kakak iparnya. Karna ia lupa memberi tahunya jika ia membawa anaknya pulang tanpa sepengetahuan dirinya.
"Tau apa kesalahan kamu?" Tanya Aurel.
"Iya kak, maaf aku lupa ngabarin kakak" balas Naya menundukkan kepala.
"Kamu tau, karna ulah kamu? Seberapa paniknya aku. Aku khawatir Kayla kenapa-napa, dan kamu bilang kamu lupa ngabarin? Alasan kamu gak masuk akal tau gak?"
"Aku sampai nanyain ke satpam sekolah Kayla dia bilang kalau Kayla di jemput sama bibinya, aku taunya kamu kuliah, jadi mana bisa jemput Kayla. Aku sampai nanyain ke semua orang yang lewat disana, mereka liat Kayla gak? Tapi gak ada yang tau sama sekali. Aku hampir mau nangis tau gak, pas tau kalau Kayla hilang" lanjut Aurel, matanya mulai berkaca-kaca.
"Naya, kamu tau kan? Kayla satu-satunya anak yang bisa aku miliki setalah bertahun-tahun. Bisa gak? Jangan bikin aku panik tentang Kayla?" Air matanya sudah terjun, membasahi pipinya.
"Maafin aku kak, aku tau aku salah" ujar Naya, ia sangat bersalah sekarang. Ia tak menyangka jika Aurel akan begitu panik karena ia lupa mengabari jika Kayla ia yang jemput.
Aurel menyeka air matanya.
"Dimana Kayla?" Tanya Aurel.
"Dikamar, dia lagi tidur"
Tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aurel langsung menuju kamar Kayla.
Nafas teratur dari Kayla, membuat hati Aurel sedikit menghangat. Ia kecupi kening putrinya yang tertutupi poni.
"Mama jaga kamu dengan baik kan?" Tanya Aurel lirih.
Ia mengingat bagaimana perjuangannya bisa mendapatkan putrinya itu.
Setelah lima tahun menikah, ia juga belum bisa memiliki anak. Hingga ia mencoba program bayi tabung. Namun sudah dua kali, program tersebut juga tak membuahkan hasil. Hingga pada program ketiga, ia bisa mengandung Kayla.
Namun, di saat itu dokter mengatakan jika kondisi kandungannya lemah. Dan harus banyak istirahat. Selama 7 bulan mengandung Kayla, Aurel terus berbaring di kamar dan tak melakukan aktivitas.
Di saat melahirkan pun, Aurel harus melakukan operasi. Ia melahirkan Kayla dengan kondisi yang premature.
Hingga saat ini, ia membesarkan Kayla dengan baik. Tak pernah ia lupa sedikit pun memberikan nutrisi yang cukup untuk Kayla, agar ia selalu sehat.
Mengetahui jika Kayla di jemput oleh orang yang tidak ia ketahui. Membuat Aurel sangat khawatir. Apalagi beberapa tahun lalu, dokter memberitahunya jika ia tak akan bisa mempunyai anak lagi. Tentu saja membuat Aurel sangat khawatir dan terpukul jika anaknya kenapa-napa.
Aurel menyelimuti sebagian tubuh kayla.
"Tidur yang nyenyak ya sayang" ujar Aurel. Ia kembali mengecup kening Kayla.
Ia menutup pintu kamar, dan membiarkan Kayla tidur dengan pulas.
"Kak" ujar Naya, tepat di depan pintu kamar Kayla.
"Maafin kakak ya, kakak terlalu emosional sampai ngomelin kamu kayak tadi" ujar Aurel, ia merasa bersalah pada adik iparnya itu.
"Gak papa kok kak, itu juga kesalahan aku. Lain kali kalau aku mau jemput Kayla, aku pasti kabarin kakak dulu" balas Naya.
"Yasudah, kakak mau istirahat dulu" ujar Aurel, ia segera menuju kamarnya.
__ADS_1