
Hari sudah berganti malam. Mereka kembali ke rumah Aleta. Bukan untuk menginap. Tapi untuk memberikan makanan yang telah ia belikan untuk mamanya.
Mereka memasuki rumah, dan mendapati Aleta yang tengah menonton tv sendirian.
"Ma" panggil Aurel.
Aleta yang sedang asyik menonton tv langsung melupakan kegiatannya.
"Loh, udah pulang?" Tanya Aleta.
"Iya ma, ini Aurel bawain makanan buat mama. Mama pasti belum makan kan?" Tanya Aurel.
"Kamu tau aja"
"Gimana tadi jalan-jalannya?" Tanya Aleta pada cucunya.
"Seru Oma, sayang banget Oma gak ikut" balas Kayla.
"Gak papa, lain kali Oma ikut deh" balasnya terkekeh.
"Janji ya Oma" ujar Kayla. Ia mengacungkan jari kelingkingnya.
Aleta menautkan kelingkingnya ke kelingking milik Kayla.
"Iya Oma janji"
"Ma, makanannya udah aku siapin ya. Mama tinggal makan aja"
"Iya"
"Aku sama Darren gak bisa nginep sini ma, besok Kayla harus sekolah. Mama gak papa aku tinggal?" Tanya Aurel.
"Iya gak papa kok" balasnya.
"Ma, naya kemana? Kok aku gak liat dia dari tadi?" Tanya Darren.
"Loh emangnya Naya gak pamit sama kamu?" Tanya Aleta.
"Pamit? Dia kemana ma?" Tanya Darren.
"Dia pamit sama mama, katanya mau hangout bareng teman-temannya" balas Aleta.
"Oh gitu, yaudah deh ma. Kita pamit ya" ujar Darren.
"Iya, hati-hati bawa mobilnya!" Pinta Aleta.
Darren dan Aurel kembali ke rumahnya. Darren harus menggendong Kayla menuju kamarnya. Karena putrinya itu tertidur di mobil. Mungkin karna terlalu lelah bermain seharian.
Darren menidurkan putrinya itu dikasurnya. Aurel membantu menyelimuti anaknya itu. Ia kecupi kening putrinya yang tertutup poni bergantian dengan sang suami. Sebelum keluar, Aurel tak lupa mematikan lampu kamar Kayla.
"Aku mau liat Naya dulu, dia udah pulang atau belum ya?" Ujar Aurel.
"Yaudah, aku juga mau mandi" balas Darren. Ia langsung menuju kamarnya.
Aurel berjalan menuju kamar Naya. Dilihatnya kamar Naya yang gelap. Aurel membukanya perlahan. Ia tersenyum ketika melihat Naya sudah tidur dengan pulas.
"Aku kira kamu belum pulang" gumamnya. Terakhir kali saat naya pulang larut malam. Ternyata ada sesuatu yang menimpanya. Hal itu tentu membuat Aurel sangat khawatir. Saat Naya di dititipkan oleh mama mertuanya. Sudah menjadi tanggung jawab Aurel untuk memastikan jika Naya baik-baik saja.
__ADS_1
Aurel kembali menutup pintu kamar Naya. Ia segera menuju kamarnya untuk berisitirahat.
🥀
Pagi hari..
"Aku panggil Kayla dulu, kamu makan duluan aja!" Pinta Aurel. Ia langsung menuju kamar Kayla.
"Kay, udah bangun?" Tanya Aurel.
"Udah ma, aku lagi mandi!" Teriaknya dari dalam kamar mandi.
"Cepet ya, nanti telat" ujar Aurel.
"Iya ma"
Aurel keluar dari kamar Kayla. Ia menghampiri kamar Naya yang ada di sebelah kamar Kayla.
Tok Tok Tok
"Nay" panggil Aurel.
"Masuk aja kak" ujar Naya dari dalam kamar.
Aurel membuka pintu kamar Naya. Ia sedikit kaget ketika melihat Naya tengah memasukkan barang-barang nya ke koper.
"Loh nay, kenapa di masukin ke koper?" Tanya Aurel.
"Aku mau ke singapur besok kak" balasnya sembari menutup kopernya.
"Kok mendadak?" Tanya Aurel.
"Kak Darren udah tau?"
"Belum" balas Naya menggelengkan kepala.
"Aku belum sempat ngasih tau. Sebenarnya kemarin-kemarin aku mau kasih tau, tapi mama kakak malah sakit, aku gak enak kasih taunya. Habis itu kakak harus temenin Kayla jalan-jalan juga. Aku gak mungkin ganggu" jelas Naya.
"Ya ampun nay, maaf ya" ujar Aurel.
"Kenapa kakak minta maaf?"
"Maaf aku gak ada waktu buat kamu beberapa hari ini" sesalnya.
"Ihh kak apaan sih, jangan lebay deh" kekeh Naya.
"Aku gak lebay, cuma aku ngerasa selama kamu tinggal sama kita, kita gak bisa jagain kamu"
"Kata siapa? Buktinya aku baik-baik aja sekarang. Berarti keluarga ini bisa jagain aku dengan baik" balas Naya.
"Besok berangkat jam berapa?" Tanya Aurel.
"Jam dua kak"
"Yaudah, besok kakak siapin waktu buat nganter kamu ke bandara ya"
"Iya"
__ADS_1
"Belum sarapan kan?"
"Belum" geleng Naya.
"Yuk sarapan!"
"Iya"
"Hari ini mau kemana?"
"Aku mau main sama teman-teman kak, sekalian perpisahan karna gak bisa ketemu mereka lagi"
"Yasudah, ayo!"
Aurel dan Naya menuju meja makan. Begitu juga Kayla yang telah bersiap untuk pergi ke sekolah.
Selesai sarapan pagi. Semuanya menjalani rutinitasnya masing-masing. Aurel yang mengantarkan Naya ke sekolah. Kemudian ia menuju kantornya. Naya yang kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan barang yang perlu ia bawa ke Singapura nantinya. Dan Darren yang juga harus menuju kantor.
Jalanan yang macet membuat Darren sedikit geram. Bagaimana tidak, pagi ini ia ada meeting dengan seorang klien yang penting. Tapi dirinya harus terjebak macet di lampu merah. Sungguh menjengkelkan.
Ditengah kejengkelannya. Darren kembali melihat perempuan yang ia lihat di supermarket. Bukan hanya itu yang menarik perhatian Darren. Perhatiannya tertuju pada anak yang berusia sekitar 8 tahunan. Anak laki-laki itu terus bergelayut padanya sembari menyebrangi jalan.
Tiiitttt
Suara klakson mobil membuat Darren kaget. Ia melirik lampu merah yang telah berubah hijau. Dengan cepat Darren kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Ia melupakan pemikiran yang membuatnya terganggu.
Sesampainya di kantor, ia langsung di sambut oleh sekretarisnya. Sekretarisnya langsung mengarahkan Darren ke ruang meeting. Karna dirinya sudah di tunggu klien sedari tadi.
🥀
Aurel baru saja memasuki ruangannya. Ia meletakkan tasnya di atas meja. Dan mulai membuka laptopnya.
Tok Tok Tok
"Masuk!" Pinta Aurel.
"Permisi Bu" ujar Chika memasuki ruangan.
"Iya ada apa?"
"Ibu di tunggu di ruang meeting sama pak Bryan Bu" ujar Chika.
"Baik, saya ke sana sekarang" balasnya.
Aurel langsung menuju ruang meeting untuk bertemu dengan Bryan. Dia adalah salah satu klien penting di perusahaannya. Sekaligus pemilik saham terbanyak di perusahaan yang ia pimpin. Bukan hanya itu, Bryan adalah kakaknya Arsy. Gadis yang telah membunuh kembarannya beberapa tahun lalu.
Kenangan itu memang pahit untuk di ingat. Tapi Bryan, ia tak bersalah dalam masalah ini. Kejadian itu murni kesalahan adiknya. Tak ada campur tangan Bryan.
Akan lebih baik bagi Aurel untuk tak menaruh dendam padanya. Karna dendam hanya akan berakhir menyakitkan bagi kedua belah pihaknya.
"Maaf lama menunggu pak Bryan" ujar Aurel menjabat tangan Bryan.
"Tidak masalah Bu Aurel" balasnya menjabat tangan Aurel.
"Mari pak, kita mulai meetingnya" ujar Aurel.
"Baik" balas Bryan.
__ADS_1
Kedua belah pihak berdiskusi cukup serius. Hingga tak terasa setengah jam telah berlalu. Bryan pamit dan meninggalkan kantor.
Sementara Aurel, ia kembali ke ruangannya. Banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan dan selesaikan hari ini.