PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 46


__ADS_3

"Tapi pak, teman kami bagaimana?" tukas Aurel.


"Tidak masalah, teman kalian hanya akan kelelahan karna terlalu lelah menyusuri jalan yang sama terus menerus"


"Baiklah pak, kami akan menunggu ditenda, tapi saat pagi mohon bantuan bapak untuk mencari teman kami" ujar Aunia.


"Baik, saya permisi"


"Ta--" belum sempat Aurel protes, Aunia sudah menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Iya pak, Terimah kasih"


Setelah petugas tersebut pergi, Aunia baru melepaskan tangannya dari mulut Aurel.


"Kenapa Lo bekap mulut gue?" tanya Aurel dengan wajah datar.


"Jangan terlalu gegabah Aurel, aku tau kamu khawatir, tapi kamu dengarkan apa yang dikatakan petugas tadi, didalam hutan ada kabut tebal yang bisa membuat siapapun yang terjebak didalamnya tersesat, kalau kita ngotot cari Kak Andra sama Darren sekarang, yang ada bukannya bantuin mereka, kita malah nyusahin. Lagi pula petugas itu juga bilang mereka gak bakalan kenapa-kenapa, mereka cuman bakal kelelahan Karna kabut itu selalu ngarahin mereka pada jalan yang sama berulang kali. Lebih baik kita balik ke tenda dan nunggu pagi buat cari mereka, oke!" terang Aunia.


"Yaudah iya"


Aurel tak punya pilihan lain selain menuruti ucapan saudara kembarnya itu.


Mereka kembali ke tenda, walaupun pikiran mereka tidak bisa tenang karna terus saja memikirkan keadaan Andra dan Darren tapi akhirnya mereka terlelap karna terlalu lelah.


Sementara itu,


"Ndra gimana? Lo ingat jalan baliknya kagak?" tanya Darren, ia sudah mulai panik. Cuaca malam yang dingin dan suasana sunyi yang mencekam semakin manambah kepanikan Darren.


"Bentar gue mikir dulu" Andra terdiam sejenak, berulang kali ia mengingat jalan mana yang ia lewati sebelum sampai disini. Tapi ia tak bisa mengingatnya, apalagi saat ia melihat satu jalan dengan jalan lainnya sama tak terlihat perbedaannya.


"Kayaknya di sana deh" tunjuk Andra pada arah selatan.


"Lo yakin?"


"Feeling aja sih, tapi gak ada salahnya kan kita coba?"


"Yaudah, kali ini gue ikutin lo"


Andra berjalan ke arah selatan, tiga puluh menit keduanya berjalan. Namun bukannya keluar dari hutan, mereka malah kembali ke tempat semula mereka berada.


"Tunggu deh, ini tempat tadi bukan?" tanya Darren. Andra mengamati sekelilingnya dan benar saja mereka kembali ke tempat tersebut.


"Iya Lo benar, ini tempat yang tadi"


"Apa kita cuman muter-muter doang disini?"


"Kayaknya si gitu"


"Sekarang gimana?"

__ADS_1


"Kita coba sekali lagi, tadi selatan sekarang kita ke arah Utara" usul Andra.


"Ayo!"


Keduanya kembali menyusuri jalan ke arah Utara, dan mereka juga mendapatkan hasil yang sama. Mereka kembali ketempat semula setelah setengah jam berjalan.


"Kok kesini lagi!" gerutu Darren.


"Mau coba lagi atau gak?"


"Lanjutin aja, Aurel sama Aunia pasti khawatir sama kita"


Dua laki-laki itu terus saja berjalan kesegala arah, namun usahanya itu sia-sia. Karna sejauh apa pun mereka berjalan, mereka akan tiba ditempat yang sama berulang kali.


"Gue capek!" ujar Darren, ia duduk di sebuah kayu yang terletak di tanah. Kakinya sudah lemas berjalan, jika bisa dihitung mungkin mereka telah berjalan berkilo-kilo meter jauhnya.


"Gue juga!" balas Andra. Keringat bahkan sudah membasahi baju mereka, nafas keduanya tersengal-sengal. Tak ada lagi tenaga, bahkan hanya untuk bicara. Keduanya menatap langit malam yang bertaburan dengan bintang, sangat indah. Namun saat ini bukan waktunya bagi mereka untuk mengagumi bintang-bintang.


Langit malam yang bertaburan bintang itu, perlahan-lahan mulai buram dalam pandangan mata keduanya.


.


.


.


Aurel dan Aunia langsung menuju pos petugas untuk meminta bantuan mencari Andra dan Darren.


"Pak, bisa kita cari teman kami sekarang?" tanya Aurel.


"Baiklah, matahari sudah mulai tampak, kemungkinan kabutnya mulai menghilang"


"Ayo pak berangkat sekarang!" ujar Aunia.


Para petugas kawasan gunung pancar di kerahkan untuk mencari Andra dan Darren. Kami mulai memasuki hutan, berulang kali kami memanggil nama Andra dan Darren namun tak ada sahutan dari mereka.


"Kalau cuman cari kayu bakar, mereka gak mungkin masuk pedalaman hutan kan?" pikir Aunia.


"Iya, tapi kalau kejebak kabut itu, kemungkinan besar mereka masuk ke pedalaman hutan" jawab salah satu petugas.


Mendengar ucapan petugas, membuat hati kedua gadis kembar merasa khawatir kembali. Jika mereka masuk ke pedalaman hutan, maka kemungkinan terburuk pun bisa terjadi.


Apalagi di pedalaman hutan sangat banyak binatang buas yang bisa menerkam mereka kapan saja.


"Darren sama Andra gak bakalan kenapa-kenapa kan?" ujar Aurel, ia sangat khawatir dengan kondisi kedua orang itu.


"Berdoa aja, kita cuma bisa cari mereka, ayo!" balas Aunia mengajak Aurel kembali menyusuri hutan untuk mencari dua laki-laki yang semalam menghilang.


Dengan perasaan gundah, Aurel dan Aunia masih sibuk mencari keberadaan Andra dan Darren.

__ADS_1


Hampir seluruh bagian hutan mereka telusuri, namun mereka tak menemukan adanya tanda-tanda keberadaan Andra dan Darren.


"Aduh" ringis Aurel, ia tak sengaja tersungkur karna tak melihat ada yang menjegal kakinya.


"Aurel, kamu gak papa?" tanya Aunia, ia membantu Aurel berdiri dengan mengulurkan tangannya.


"Gak papa, tadi kaki aku ke jegal sama--" ucapannya terhenti ketika ia melihat setumpuk kayu bakar.


"Aunia, ini kayu bakar yang udah di kumpulin, jangan-jangan mereka ada disekitar sini" ujar Aurel semangat.


"Liat deh, ada satu lagi di sana!" tunjuk Aurel pada kayu bakar yang terletak tak jauh dari tempatnya terjatuh.


"Maybe" balas Aunia.


Aurel dan Aunia memanggil para petugas yang sedang sibuk mencari Andra dan Darren.


"Pak!! sini pak!!" panggil Aurel.


Mendengar teriakan Aurel yang melengking ke gendang telinga mereka, mereka segera menghampiri sumber suara tersebut.


"Ada apa?" tanya petugas.


"Liat pak, disini ada kayu bakar yang udah dikumpulin, jangan-jangan teman kita ada disekitar sini" ujar Aurel.


Petugas melihat kayu bakar yang telah terkumpul itu.


"Telusuri daerah ini!" pintanya pada petugas lain.


Semuanya menyebar menelusuri Daerah tersebut, termasuk Aurel dan Aunia.


Aurel terus mengamati seluruh daerah dengan seksama. Ia tak akan melewatkan apa pun untuk mencari kedua laki-laki yang sangat di sayanginya itu.


"Darren Lo dimana? gue khawatir" gumam Aurel.


"Andra Lo selalu jagain gue, jangan bikin panik gue dong!" ujar seorang diri.


"Aurel, kamu dimana!!" teriakan Aunia terdengar di telinganya.


"Gue disi--" teriakannya terhenti ketika ia sadar jika jalannya sudah terlalu jauh dari para petugas tadi.


"Gue dimana?" pikirnya.


"Aunia Lo dimana?!!" teriak Aurel, ia benar-benar tak pernah tersesat, apalagi di hutan.


"Aunia!!" pekik Aurel sekali lagi. Namun tak ada sahutan, hanya suara hening dan gema dari suaranya yang terdengar.


Aurel mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Aunia,


"Gak ada sinyal lagi!!" rutuknya. Ketakutannya semakin menjadi-jadi ketika bayangan-bayangan kejadian buruk yang akan menimpanya terputar di otaknya.

__ADS_1


__ADS_2