PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 35


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Aurel dan aunia masih setia menunggui dan merawat Aleta dirumah sakit. Namun, Aleta belum juga membuka matanya. Bahkan Aleta tak memiliki perkembangan apa pun selama seminggu dirumah sakit. Aurel tak henti-hentinya berharap jika sang mama bisa sadar secepatnya. Ia bahkan bercerita pada Aleta yang masih memejamkan matanya, sembari memegang tangan sang mama. Aurel menceritakan hal-hal yang pernah dilakukan keduanya selama ini. Raut wajah senang terlihat jelas saat Aurel bercerita, namun saat ia sadar jika sang mama tak dapat menanggapi ceritanya ia kembali murung.


Aunia juga tak kala sering bercerita pada mamanya yang masih tertidur. Bagaimana ia merindukan Aleta, bagaimana ia selalu memperhatikan kegiatan Aleta tanpa bisa menyapa atau memanggil mamanya sekali pun.


Sementara itu Andra selalu menyempatkan dirinya untuk menjenguk Aleta ke Jakarta. Kuliahnya yang masih berjalan membuatnya jarang mengunjungi sang Tante. Dan Darren, ia selalu datang mengunjungi Aleta untuk memberikan tugas-tugas yang tertinggal untuk Aurel. Darren selalu memberikan semangat pada Aurel agar ia tak selalu bersedih namun hal itu tak mempengaruhi Aurel yang masih tetap sedih akan keadaan mamanya.


"Rel, gue bawain tugas sekolah buat Lo nih, biar gak ketinggalan banget, bentar lagi kita kan mau ujian akhir" ujar Darren, memberikan beberapa buku pada Aurel.


"Makasih yah Darren, Lo selau bantuin gue, maaf yah ngerepotin Mulu" balas Aurel.


"Santai aja, buat gue Lo gak akan pernah ngerepotin, malahan gue seneng kalau di repotin Lo" kekehnya.


"Bisa aja Lo"


"Oh yah, tugasnya harus selesai besok yah mau gue kumpul"


"Siap, pasti gue selesain kok"


Hal yang paling disukai Darren adalah wajah ceria Aurel. Ia akan melakukan apa pun agar wajah ceria itu selalu dapat ia lihat. Ia tak tau entah sejak kapan rasa itu ada, tapi Darren tak peduli ia hanya ingin melindungi dan menyayangi Aurel sepenuh hatinya.


"Mau gue beliin makanan gak?" tawar Darren.


"Boleh deh, sekalian yah buat aunia juga dia belum makan dari pagi" ucap Aurel, melirik aunia yang masih menggenggam erat tangan Aleta. Ia bahkan tak pernah membayangkan jika ia akan memiliki teman untuk berbagi semua masalah, Aurel merasa lega karena ia tak lagi sendirian menghadapi masalahnya.


"Bentar yah, gue beli dulu". Darren pergi membeli makanan untuk Aurel dan aunia. Bersamaan dengan itu Andra dan Hilda juga baru saja datang untuk menjenguk Aleta.


Darren yang tadinya hendak pergi, malah mengurungkan niatnya karna melihat kedatangan Andra dan mamanya. Aurel segera menghampiri Hilda dan memeluknya, ia sangat butuh pelukan saat ini. Hilda membalas pelukan Aurel, hal itu tentu memberikan kenyamanan pada Aurel.

__ADS_1


"Sabar yah sayang, mama kamu pasti bangun, cuma lagi capek aja makanya tidur nya lama" hibur Hilda.


Lama berpelukan akhirnya Aurel melepaskannya, hatinya juga sudah merasa lega. Ia teringat akan aunia, Aurel memperkenalkannya pada Hilda. Sifat dan sikap aunia yang tak seluwes Aurel membuatnya bersikap terlalu monoton pada Hilda.


"Halo Tante" sapa aunia kaku.


"Gak nyangka Tante, kamu masih hidup, kamu tau betapa hancurnya hati mama kamu saat tau kalau kamu meninggal, dia bahkan gak mau makan atau minum selama seminggu hingga dia pingsan dan dibawa ke rumah sakit, Tante gak bisa bayangin betapa bahagianya mama kamu kalau tau kamu masih hidup dia pasti senang banget" ujar Hilda. Ia mendekap aunia ke dalam pelukannya, aunia yang dipeluk mendadak merasa kaget, namun ia merasa nyaman saat Hilda memeluknya.


"Iya Tan, mama langsung meluk aku pertama tau kalau aku masih hidup. Tapi saat itu mama juga gak pernah bangun lagi sampai sekarang, aku jahat yah Tan? aku bikin Mama tidur lama banget" ujarnya sendu.


"Gak boleh ngomong gitu, ini bukan kesalahan kamu" hibur Hilda.


"Udah yah, jangan sedih lagi Tante bawain makanan buat kalian semua, makan dulu yah" ujar Hilda.


Disaat semua orang makan makanan yang dibawanya, Hilda menatap wajah pucat Aleta yang masih tertidur.


"Kamu apa kabar? kenapa tidurnya lama banget, jangan bikin anak-anak kamu sedih yah" ujar Hilda mengusap rambut Aleta lembut.


"Kok cepet banget Tan, gak mau nemenin mama disini?" tanya Aurel.


"Bukan gitu rel, Tante gak bisa ninggalin om, besok dia mau ke Amerika lagi dan Tante nemenin dia kesana"


"Yaudah deh Tan, gak papa kok"


"Gue juga pamit yah, besok gue kuliah, gak mungkin gue tinggal terus" ujar Andra.


"Hati-hati ya" ucap Aurel.


Setelah kepergian Andra dan Hilda, ruangan itu kembali hening. Sebelum akhirnya Darren berpamitan untuk pulang karna sudah terlalu larut malam.

__ADS_1


"Rel, gue pamit yah, udah malam banget mama gue pasti nyariin" pamit Darren.


"Iya"


"Besok gue kesini lagi kok, jangan lupa tugasnya diselesain" ujar Darren dan pergi meninggalkan ruangan yang menyisakan Aurel dan aunia di dalamnya.


"Lo istirahat aja, udah malam biar gue yang jagain mama sambil ngerjain nih tugas" ujar Aurel pada aunia.


"Iya"


Aunia mengambil posisi tidur di sofa, mencari posisi nyaman bagi tubuhnya. Merasa nyaman dengan posisi tidurnya, aunia akhirnya terlelap. Mungkin karena terlalu letih dan sedih akibat banyaknya hal yang harus ia hadapi dalam waktu bersamaan. Melihat wajah aunia yang terlelap Aurel tersenyum, ia tak pernah berfikir jika saudarinya yang telah meninggal ternyata masih hidup.


Hingga ia melirik Aleta yang masih setia dengan tidurnya. Hatinya merasakan sakit yang bahkan tak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Kondisi Aleta yang belum memiliki perkembangan sama sekali membuat Aurel menjadi sedikit pesimis jika sang mama akan bangun lagi. Tapi saat ia teringat akan ucapan dan perkataan Darren, ia kembali optimis jika mamanya akan sembuh. Ia optimis jika mamanya akan berkumpul lagi dengannya dan aunia.


"Mama pasti sembuh, gue yakin! mama gak akan ninggalin gue sama Aunia" ujarnya lirih. Sorot matanya yang sangat yakin, membuatnya mengecup singkat kening sang mama.


Hingga ia beralih pada buku-buku yang terletak di atas Nakas. Ia mengambil buku-buku itu dan mulai mengerjakan semua tugas yang telah dibawakan Darren untuknya. Aurel sangat berterimah kasih karna ia dihadirkan orang yang selalu memberinya support dan semangat dalam keadaan terpuruk seperti ini.


Tengah malam telah berlalu tapi Aurel masih bergelayut dengan tugasnya. Ia bahkan tak merasakan kantuk sama sekali saat ia mengerjakan tugasnya.


"Finish" ujarnya saat semua tugas itu telah selesai ia kerjakan. Matanya melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Udah jam segini aja" kekehnya, ia meletakkan buku tersebut kembali diatas Nakas, lalu mencari posisi tidur yang nyaman untuknya.


.


.


.

__ADS_1


Thanks udah baca :)


Jangan pelit-pelit nekan likenya yah.. hehe


__ADS_2