PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 68


__ADS_3

Darren memberanikan diri memasuki ruangan itu.


"Ma" ujarnya ketika ia sudah berdiri di belakang mamanya.


Mamanya berbalik melihatnya.


"Darren"


"Kamu kok ada disini?" Tanya mamanya.


"Seharusnya aku yang nanya sama mama? Mama ngapain disini?" Tanya Darren.


"Mama tau gak? Pesawat yang mama tumpangi itu jatuh, aku sama papa khawatir sama mama. Kenapa mama gak ngasih kita kabar sama sekali?" tanya Darren marah.


"Maafin mama"


"Aku gak butuh maaf mama, aku mau penjelasan mama"


"Iya mama jelasin, tapi mama suapin Naya makan dulu ya"


Darren mengangguk sedikit mengiyakan perkataan mamanya.


Dessy melanjutkan menyuapi anak perempuan yang bernama Naya itu makan.


Darren terus memperhatikan mamanya yang begitu teliti menyuapi anak perempuan itu makan. Entah kenapa Darren merasa iri, dari tindakan mamanya anak perempuan itu seperti memiliki posisi penting dalam hati mamanya.


"Sekarang Naya tidur ya, mama mau ngobrol bentar sama kak Darren" ujarnya Dessy.


Darren langsung kaget, ketika namanya mengajari anak perempuan itu memanggilnya mama.


"Iya ma" balasnya.


"Darren, kita ngobrol di luar ya" ujar mamanya.


"Iya" ujarnya mengikuti Dessy keluar ruangan.


"Sekarang mama udah bisa jelasin?" Tanya Darren. Keduanya berdiri di depan ruang rawat Naya.


"Waktu kamu anterin mama ke bandara, mama gak sengaja liat anak perempuan ketabrak mobil. Jadi mama langsung bawa dia ke rumah sakit. Saat dia sadar, mama tanya orang tuanya di mana, ternyata dia anak yatim piatu. Mama sedih banget waktu tau dia anak yatim piatu, apalagi saat dia bilang kalau paman sama bibinya bawa dia ke bandara dan ninggalin dia disana"


"Tapi kenapa mama gak ngabarin aku? Aku khawatir sama keadaan mama, aku pikir mama bakalan ninggalin aku selamanya"


"Maaf ya, hp mama hilang waktu di bandara. Mama mau hubungin kalian tapi mama gak tau nomor hp kamu"


Sekarang darren mengerti kenapa mamanya tak mengabarinya. Mamanya memang kesulitan dalam mengingat nomor hp. Ia bahkan tak mengingat satu pun nomor hp keluarganya. Baik itu dirinya atau pun papanya.


"Trus kenapa anak itu panggil mama dengan sebutan mama?" Tanya Darren.


"Setelah denger ceritanya yang di buang sama paman dan bibinya, mama jadi prihatin. Jadi mama berniat buat ngadopsi dia" ujarnya.


"Kamu gak keberatan kan?" Tanya mamanya ragu.


"Aku gak masalah, ngeliat mama baik-baik aja aku udah senang"


"Makasih ya, kamu emang anak mama yang paling pengertian" balas Dessy.


"Aku ngasih tau papa kalau pesawat yang mama tumpangi kecelakaan, papa mau pulang hari ini ke Indonesia"


"Yaudah gak papa, papa jarang juga pulang ke Indonesia"


"Mama gak mau balik ke rumah aja?"


"Iya, hari ini mama pulang ke rumah, Naya juga udah di bolehin pulang sama dokter"


"Mau bareng aku? Atau naik taksi?"

__ADS_1


"Mama naik taksi aja"


"Yaudah aku mau ke ruangan Aurel dulu" pamit Darren.


"Aurel? Dia sakit?" Tanya Dessy.


"Iya"


"Mama mau jenguk dia, boleh?"


"Boleh, ayo ma" ajak Darren.


Darren kembali memasuki ruang rawat Aurel, tapi kali ini ia tak sendiri. Ia membawa mamanya untuk menjenguk keadaan Aurel.


"Darren, Tante?" Ujar Aurel sedikit heran, karna setahunya mama Darren mengalami kecelakaan pesawat.


"Kamu pasti udah denger kabar pesawat jatuh itu ya?" Tanya Dessy.


"Iya Tan, tadi Darren ngasih tau aku"


"Tante gak jadi ikut penerbangan"


"Oh syukur deh, aku seneng Tante gak jadi ikut penerbangan itu, kalau gak, aku gak tau lagi deh bakalan sesedih apa Darren" balas Aurel lega.


"Cuma Darren aja yang sedih? Kamu gak?" Tanya Dessy.


"Ya pasti sedih Tan, aku gak mau kali kehilangan camer sebaik Tante" ujar Aurel di selingi kekehannya.


"Bisa aja kamu, jadi makin sayang Tante sama kamu" ujar Dessy mencubit pelat kedua pipi Aurel.


"Ah Tante bisa aja" balas Aurel malu. Sedangkan Darren, ia sangat senang dengan keakraban kedua wanita yang sangat disayanginya itu.


"Aurel, mama mau__" ucapannya terhenti ketika melihat Darren dan mamanya sedang berbicara dengan Aurel.


"Aku Dessy, mama Darren" ujar Dessy mengulurkan tangan.


"Aleta, mama Aurel"


"Pantesan anaknya cantik, mamanya cantik gini" puji Dessy.


"Ah bisa aja, kamu juga cantik"


"Tapi tadi Darren bilang?" Ujar Aleta melirik Darren.


Darren yang mengerti, segera menjawab.


"Ternyata mama gak ikut penerbangan itu Tan"


"Oh beruntung banget ya" balas Aleta tersenyum pada Dessy.


"Iya"


"Darren, Tante mau pulang dulu, Tante titip Aurel ya, Tante mau cari Aunia dari tadi dia gak ada kabar. Tante telfon juga gak di angkat. Tante khawatir dia nyalahin diri sendiri karna udah bikin Aurel masuk rumah sakit"


"Iya Tan, aku pasti jagain Aurel"


.


.


.


"Aunia!"


"Aunia, kamu dimana?!"

__ADS_1


"Kenapa gak nyahut?"


"Aunia!!"


"Kemana sih nih anak?" Pikirnya. Ia sudah mencari keseluruh ruangan putrinya itu. Tapi ia tak menemukannya sama sekali.


Sekarang ia tepat berada di kamar kedua putrinya.


Ia berusaha menelfonnya, tapi tak juga ada hasilnya. Hanya ada suara operator yang terus mengatakan jika nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan.


"Kemana sih anak ini?!" Gerutunya.


"Hubungi teman-teman nya aja kali ya" pikir Aleta.


"Tapi aku gak punya nomor telfonnya"


"Cari di lemarinya aja kali ya, siapa tau dia nyatet nomor teman-teman nya"


Aleta langsung membuka lemari Aunia. Matanya langsung terbelalak kaget. Ketika ia tak melihat satu pun baju milik Aunia di dalam lemari.


"Apa dia kabur dari rumah? Tapi kenapa?" Pikirnya. Karena ia tak bisa mencari tau apa alasan putrinya itu kabur dari rumah.


"Apa Aunia sama Aurel berantem?" Ujarnya menduga-duga.


"Aku ambil baju ganti Aurel dulu aja deh, nanti di rumah sakit coba aku tanya sama Aurel, mereka ada masalah apa?" Putusnya.


Setelah menyiapkan baju ganti untuk Aurel. Aleta segera kembali ke rumah sakit. Hari ini Aurel sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Karna lukanya juga tidak terlalu parah. Jadi dokter mengizinkannya untuk pulang.


Aleta memasuki ruang rawat Aurel dan meletakkan baju ganti Aurel di atas Nakas.


"Gimana keadaannya? Udah mendingan?" Tanya Aleta.


"Udah ma"


"Ini mama bawain baju ganti buat kamu, kamu ganti sana! Mau mama bantuin?"


"Gak usah ma, aku bisa sendiri"


"Darren mana? Kok gak keliatan?"


"Lagi keruangan Naya"


"Naya?"


"Iya adik angkatnya Darren"


"Ooh gitu"


"Aku ganti baju dulu ma"


"Iya, mama juga mau bayar biaya administrasi kamu dulu" ujar Aleta.


Setelah Aurel memasuki toilet untuk berganti pakaian. Ia langsung menuju resepsionis untuk membayar biaya administrasi putrinya itu.


"Permisi saya mau bayar biaya rumah sakit atas nama Aurel"


"Baik ibu, tunggu sebentar ya"


Selesai membayar biaya administrasi, Aleta kembali ke kamar Aurel untuk mengecek putrinya.


"Udah selesai?" Tanya Aleta.


"Udah ma"


"Mau pulang sekarang atau tunggu Darren dulu?"

__ADS_1


__ADS_2