
Istirahat baru saja di mulai, Aurel dan Darren menuju kantin untuk mengisi perutnya.
"Lo duduk aja, gue pesen dulu" pinta Darren, Aurel mengangguk dan duduk pada meja kosong disamping jendela.
Darren memesan makanan yang biasa ia pesan pada ibu kantin.
"Bu, ini uangnya" salah seorang gadis memberikan uang pada ibu kantin. Darren melihatnya sekilas, lalu ia sadar. Gadis itu adalah gadis yang memperingatinya kemarin.
"Hey, Lo yang kemarin kan?" Panggil Darren, saat gadis itu menyadari adanya Darren. Ia segera berlari menjauh, Darren berusaha mengejar gadis itu. Ia mengabaikan ibu kantin yang terus memanggilnya.
"Eh, tunggu!" Panggil Darren, tapi gadis didepannya tak juga menghentikan larinya.
Darren terus mengejarnya, hingga gadis itu berhenti. Gadis itu tak bisa melanjutkan larinya, jalan didepannya buntu.
"Akhirnya Lo berhenti juga" ucap Darren dengan nafas ngos-ngosan. Sementara gadis di depannya menampilkan raut wajah ketakutan, seluruh tubuhnya dipenuhi keringat akibat terus berlari menghindari Darren.
"Tenang aja, gue gak bakalan nyakitin Lo" ucap Darren, berusaha menenangkan gadis yang ada didepannya.
"Lo mau apa?" Tanya gadis itu, masih ada suara ketakutan dari nada bicaranya.
"Gue cuma mau nanya sesuatu sama Lo"
"Apa?"
"Kenapa gue harus jauhin Aurel?" Tanya Darren to the point.
"Dia iblis" balas gadis itu.
"Iblis?" Tanya Darren bingung.
"Iya, dia kejam! Pembunuh! Gue benci dia!" gadis didepan Darren mengucapkannya dengan nada menggebu-gebu.
"Kenapa Lo sebenci itu sama dia?"
"Dia udah bunuh teman-teman gue" nadanya menjadi lemah, saat gadis itu mengucapkan kata "teman-teman gue".
"Bunuh teman-teman Lo?" Darren masih tidak mengerti, bukannya Aurel baru saja pindah, bagaimana bisa ia membunuh orang.
"Gue benci dia! Gue benci dia!" Gadis itu tak bisa menahan emosinya, seperti ia sangat membenci Aurel. Darren tak tau harus berbuat apa, gadis didepannya menangis saat mengatakan kalimat itu berulang-ulang.
"Malah nangis, gue harus gimana?" Batin darren. Darren berusaha menenangkannya, tapi gadis itu tak juga berhenti menangis.
"Gue gak bakalan nanya Lagi deh, tapi nangis nya udahan ya" ucap Darren lembut. Perlahan gadis itu berhenti menangis setelah mendengar perkataan Darren.
"Gue Darren" Darren mengulurkan tangannya, Darren berfikir mungkin ia terlalu gegabah menanyai gadis ini, sehingga ia jadi takut padanya.
"Laura" balasnya menerima uluran tangan darren.
"Nama yang bagus" puji Darren.
"Makasih" Laura tersenyum.
Tanpa disadari Aurel tengah menatap keduanya dari jarak jauh. Nafasnya memburu, tanpa ia sadari tangannya mengepal kuat.
.
.
.
Darren kembali ke kantin, ia mencari keberadaan Aurel.
"Gue lupa lagi, Aurel kan nungguin di kantin" Darren mempercepat larinya, namun dikantin ia tak menemukan Aurel.
"Aurel kemana? Apa udah duluan ke kelas?" Batin Darren. Darren segera menyusul ke kelas, ia sedikit berlari menuju kelas.
Di dalam kelas Darren menemukan Aurel yang tengah duduk di bangkunya.
__ADS_1
"Gue cariin di kantin, Lo malah disini" ucap Darren, ia duduk disebelah Aurel. Darren merasakan ada yang aneh dengan Aurel, Aurel tak membalas ucapannya.
"Lo kenapa? Sakit?" Tanya Darren, ia memeriksa suhu badan Aurel.
"Normal kok" lanjutnya. Tak sengaja Darren melihat lantai tepat ditempat Aurel duduk. Matanya melotot, melihat cairan kental berwarna merah yang terus saja menetesi lantai.
"Rel, tangan Lo kenapa?" Darren segera memeriksa tangan Aurel yang sudah berlumuran darah.
Darren mengambil kotak P3K yang selalu dimasukkan oleh mamanya kedalam tas, tak disangka kotak itu berguna untuknya sekarang. Darren segera mengobati tangan Aurel yang sudah berlumuran darah, ia mengobatinya dengan teliti.
"Selesai" ucap Darren, setelah selesai membalutkan perban pada tangan Aurel. Darren menyimpan kotak P3K tersebut kedalam tasnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Darren, tapi Aurel hanya diam, tatapan matanya terlihat kosong.
"Aurel, plis jangan diam aja" ucap Darren lembut.
"Rel" Darren menyentuh pundak Aurel, namun Aurel hanya melihat sekilas lalu tatapannya kembali kosong.
"Yaudah, kalau Lo gak mau ngomong" Darren pasrah, segala cara yang ia lakukan untuk mengajak Aurel berbicara, hasilnya tetap nihil.
"Siapa dia?" Tanya Aurel dingin.
"Hah?"
"Gadis yang Lo ajak kenalan"
"Oh maksud Lo Laura"
"Jadi namanya Laura?" Smirk yang dikeluarkan Aurel saat menyebut nama Laura, tak bisa Darren mengerti.
.
.
.
Setelah pulang sekolah Darren tidak pulang kerumahnya ia berkumpul dirumah Aurel bersamaan dengan Andra.
"Udah" jawab Darren, tapi Aurel tak mengeluarkan reaksi apa-apa.
"Lo rel?" Tanya Andra.
"Udah" balas aurel, tapi yang tidak dimengerti oleh Darren dan Andra adalah makna dari senyuman yang di perlihatkan Aurel.
"Senyum Lo harus gitu rel, serem amat" balas Andra, ia sudah bergidik ngeri melihat tingkah Aurel yang berbeda sejak pulang dari sekolah.
"Iya rel, Lo kok aneh sih" ucap Darren.
"Aneh gimana?" Bukan Aurel yang menjawab melainkan Andra.
"Iya, masa tadi disekolah tangannya berlumuran darah, pas gue tanyain dia gak ngomong apa-apa" jawab Darren.
"Jadi itu alasannya tangan Lo di perban?" Tanya Andra, nada bicaranya terdengar sedang mengintimidasi.
"Bukan urusan Lo" Aurel meninggalkan Andra dan Darren.
"Aurel kenapa?" Tanya Darren.
"Gak tau, gak biasanya dia kek gitu, apa dia lagi ada masalah?"
"Mana gue tau, gue tanyain malah gue yang dikacangin"
"Kasian gue sama lo" ucap Andra, yang dibalas dengusan oleh Darren.
"Bodoh amat"
Darren dan Andra kembali fokus pada kegiatannya masing-masing. Sementara Aurel ia terus saja mencari benda-benda tajam yang bisa ia gunakan di dapur.
__ADS_1
Aurel tak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa akhir-akhir ini ia sangat menyukai benda-benda tajam seperti ini. Aurel teringat akan kejadian disekolah dimana dirinya terluka dan mengakibatkan tangannya berlumuran darah.
Flashback on
Aurel terus saja menunggu Darren memesan makanan, namun waktu istirahat hampir saja berakhir dan Darren belum juga kembali. Aurel mencari darren, tapi ia tak menemukan Darren. Aurel terus mencarinya hingga ia menemukannya tengah berjabat tangan dengan seorang gadis.
Gadis itu tersenyum pada Darren, dan Darren pun membalas senyuman gadis itu. Aurel merasa panas saat melihat betapa akrabnya Darren dengan gadis itu, tanpa sadar pun tangannya mengepal kuat menahan emosi.
"Gue Darren"
"Laura" balasnya menerima uluran tangan darren.
"Nama yang bagus" puji Darren.
"Makasih" Laura tersenyum.
Melihat Darren dan gadis itu entah kenapa ia merasa sangat emosi. Aurel segera menuju taman belakang sekolah, ia duduk pada sebuah kursi putih. Aurel berusaha sekuat tenaga menahan emosinya, namun tetap saja ia belum merasa lega.
Sebuah botol kaca yang terletak disudut dinding membuat Aurel tersenyum puas.
Prankkkkkk
Botol kaca tersebut pecah, Aurel melemparkannya Ke dinding. Ia mengambil kepingan kaca tersebut dan menggoreskannya pada tangannya sendiri.
Cairan kental itu mulai bertetesan, namun Aurel tak merasakan sakit sama sekali, ia malah ingin melakukannya lagi dan lagi. Ada kepuasan sendiri bagi Aurel saat ia melukai tangannya.
Aurel kembali ke kelas dengan tangan yang berlumuran darah, tetesan darah itu menetes disepanjang jalan Aurel. Orang-orang yang melihat itu, langsung menjauh dari aurel.
Dikelas Aurel duduk di bangkunya seorang diri. Tatapan matanya kosong, ia tak mengerti dengan apa yang dilakukannya. Bagaimana bisa ia melukai dirinya sendiri tanpa sadar, ia seperti menjadi sosok asing bagi dirinya sendiri.
"Gue cariin di kantin, Lo malah disini" ucap Darren, ia duduk disebelah Aurel. Darren merasakan ada yang aneh dengan Aurel, Aurel tak membalas ucapannya.
"Lo kenapa? Sakit?" Tanya Darren, ia memeriksa suhu badan Aurel.
"Normal kok" lanjutnya. Tak sengaja Darren melihat lantai tepat ditempat Aurel duduk. Matanya melotot, melihat cairan kental berwarna merah yang terus saja menetesi lantai.
"Rel, tangan Lo kenapa?" Darren segera memeriksa tangan Aurel yang sudah berlumuran darah.
Darren mengambil kotak P3K yang selalu dimasukkan oleh mamanya kedalam tas, tak disangka kotak itu berguna untuknya sekarang. Darren segera mengobati tangan Aurel yang sudah berlumuran darah, ia mengobatinya dengan teliti.
"Selesai" ucap Darren, setelah selesai membalutkan perban pada tangan Aurel. Darren menyimpan kotak P3K tersebut kedalam tasnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Darren, tapi Aurel hanya diam, tatapan matanya terlihat kosong.
"Aurel, plis jangan diam aja" ucap Darren lembut.
"Rel" Darren menyentuh pundak Aurel, namun Aurel hanya melihat sekilas lalu tatapannya kembali kosong.
"Yaudah, kalau Lo gak mau ngomong" Darren pasrah, segala cara yang ia lakukan untuk mengajak Aurel berbicara, hasilnya tetap nihil.
"Siapa dia?" Tanya Aurel dingin.
"Hah?"
"Gadis yang Lo ajak kenalan"
"Oh maksud Lo Laura"
"Jadi namanya Laura?" Smirk yang dikeluarkan Aurel saat menyebut nama Laura, tak bisa Darren mengerti.
Flashback off
.
.
.
__ADS_1
.
Thanks udah baca :)