PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 91


__ADS_3

Tepat di depan coffe shop andra menatapnya datar.


"Kenapa lama banget?" Tanyanya dingin.


"Kan aku udah bilang alasannya"


"Yaudah, kita mulai aja" balas Andra.


"Jadi rencananya aku mau bangun cafe lagi di Bandung" ujar Andra.


"Kenapa di Bandung?"


"Karna tempatnya mendukung, aku mau bangun cafe yang temanya itu sejuk, bukan minimalis seperti cafe-cafe lain yang udah kita bangun" balas Andra.


Setelah tamat kuliah, andra di minta papanya untuk merintis perusahaan. Namun ia menolak, karna dirinya tidak tertarik dengan perusahaan. Ia ingin membangun cafe, karna itu adalah impiannya sedari kecil. Untungnya papa Andra tak menolak keinginannya. Ia mendukung keputusan yang telah di buat Andra.


Sejak hari itu, ia mulai membangun sebuah cafe. Hingga cafe tersebut memiliki beberapa cabang. Dan ia juga bekerja sama dengan Darren untuk membangun cafe-cafe tersebut. Keberhasilannya saat ini, semuanya berkat kerja sama yang telah ia lakukan bersama dengan Darren.


Bahkan coffe shop tempatnya mengobrol adalah cafe berkat kerja sama keduanya.


"Gak masalah, kamu ada contoh konsepnya seperti apa?" Tanya Darren.


"Ada, coba kamu liat dulu" balas Andra. Ia membuka laptopnya dan memperlihatkan beberapa tema yang telah ia pilih.


"Yang ini kayanya bagus deh" ujar Darren.


Tema dengan banyaknya tumbuhan hijau di sekitar cafe.


"Pas banget, aku juga suka sama konsep ini" balas Andra puas.


"Jadi kapan kita cek lokasinya?" Tanya Darren.


"Weekend, sekalian ajak keluarga buat liburan di Bandung. Mereka pasti suka" balas Andra.


"Oke, sepakat" balas Darren.


"Oh ya ada yang mau aku omongin" ujar Darren.


"Ngomong aja"


"Aku ketemu sama Arsy" balasnya.


Sontak Andra terdiam, ia menatap tajam pada Darren.


"Kenapa setelah sekian lama nama itu di sebut lagi?" Tanyanya.


"Anak yang aku tolongin tadi, ternyata itu keponakan Arsy"


"Gak peduli"


"Dan nama anak itu Andra. Sama kayak nama kamu Andra. Kamu pasti tau kan, kenapa dia ngasih nama anak itu sama kayak nama kamu?"


"Aku gak mau denger Darren! Udahlah dia udah berlalu, lupain!" Balas Andra.


"Aku gak maksud buat ngingatin kamu sama dia. Tapi dari yang aku liat kayaknya dia udah berubah, lima belas tahun sepertinya cukup membuatnya jerah"


"Dia udah berubah atau gak. Hal itu gak akan merubah apa pun. Aku udah gak mau peduli tentang dia lagi. Mau dia hidup atau mati sekali pun" balas Andra.


"Udah, jangan emosi. Aku masih ada kerjaan, aku pamit" ujar Darren.


Ia kembali melajukan mobilnya menuju kantor.

__ADS_1


🥀


"Chika, ke ruangan saya sekarang!" Pinta Aurel.


Tak lama setelah pamggilan itu. Chika langsung memasuki ruangan Aurel.


"Ada apa Bu?" Tanya Chika.


"Kamu saya tugasin buat cari suplayer bahan baku yang berkualitas untuk pembangunan apartemen. Apa sudah ketemu?" Tanya Aurel.


"Sudah Bu" balasnya.


"Apa kamu yakin bahan bakunya berkualitas?"


"Yah Bu, saya sudah mengeceknya sendiri. Jika ibu tak percaya, ibu bisa mengecek ulang bahan bakunya"


"Kalau begitu, setengah jam lagi Anter saya ketempat suplayernya. Saya mau liat sendiri!"


"Baik Bu"


"Kamu bisa pergi"


Chika keluar dari ruangan Aurel. Sementara dirinya menyelesaikan pemeriksaan beberapa berkas yang ada di hadapannya.


30 menit kemudian....


Aurel keluar dari ruangannya. Ia menghampiri tempat kerja Chika.


"Chika, ayo berangkat" ajak Aurel.


"Iya Bu"


Chika langsung mengambil tasnya menyusul Aurel yang berjalan lebih dulu darinya.


"Dimana alamatnya?" Tanya Aurel.


"Ibu jalan aja, nanti saya arahkan jalannya"


"Oke"


Setelah mengikuti arahan dari Chika. Akhirnya mereka sampai di sebuah pabrik. Angkasa raya, sebuah plang besar yang ada di depan pabrik. Kemungkinan itulah nama pabrik yang saat ini ia tuju.


"Angkasa raya?" Tanya Aurel.


"Iya Bu, itu nama pabriknya" balas Chika.


Aurel memperhatikan sekelilingnya.


"Ayo Bu, kita temui pemiliknya" ujar Chika.


"Iya"


Chika dan Aurel keluar dari mobil. Mereka menghampiri satpam yang sedang bertugas.


"Pak, permisi! Kita mau ketemu sama pak bagus" ujar Chika. Pak bagus adalah pemilik dari pabrik Angkasa Raya. Sekaligus suplayer bahan baku untuk pembangunan apartemen di puncak.


Sebelumnya Chika sudah bertemu dengan pak bagus untuk membahas hal ini. Chika sudah berdiskusi dengan pak bagus mengenai bos nya yang ingin melihat bahan baku yang di tawarkan pabrik Angkasa Raya. Apakah benar berkualitas seperti yang di katakan atau tidak. Dan pak bagus menyetujui hal itu.


"Ibu bisa langsung masuk dan bertemu dengan resepsionis kami" ujar satpam.


"Baik, terimah kasih"

__ADS_1


Aurel dan Chika menghampiri resepsionis yang terletak tidak jauh dari satpam berdiri.


"Permisi, kita mau ketemu sama pak bagus" ujar Chika.


"Apa sebelumnya sudah buat janji?"


"Sudah"


"Baik, ibu silakan masuk. Bapak sudah menunggu" ujarnya mempersilahkan.


"Lewat mana ya?" Tanya Chika.


"Ibu lurus aja, nanti bakalan ada pintu menuju pabrik" balasnya.


"Terimah kasih"


Sesuai instruksi resepsionis Aurel dan Chika terus berjalan lurus hingga menjumpai sebuah pintu.


"Ini kali ya Bu?" Tanya Chika.


"Mungkin, karna cuma ada pintu ini disini" balas Aurel.


Perlahan Chika membuka pintunya. Terlihat aktivitas buruh pabrik yang begitu kasar.


"Ibu tunggu disini, saya panggil pak bagus dulu" ujar Chika.


"Iya"


Chika menghampiri pak bagus yang sedang mengintruksikan karyawannya.


"Pak" panggil Chika. Pak bagus menoleh padanya.


"Oh Chika, sekretarisnya Bu Aurel?" Tanyanya.


"Iya pak, ibu Aurel sedang menunggu di sana" ujar Chika.


"Baik, mari" balas pak bagus.


Ia menghampiri Aurel dengan Chika berjalan lebih dulu darinya.


"Jadi ibu mau liat bahan bakunya secara langsung?" Tanya pak bagus.


"Iya pak" balas Aurel.


"Mari ikut saya menuju gudang"


"Mari" balas Aurel.


Pak bagus mengarahkan Aurel menuju gudang. Sepanjang perjalanan menuju gudang. Pak bagus terus menceritakan jika barang-barang yang ditawarkannya dijamin berkualitas. Karna mereka juga menawarkannya dengan harga yang sepadan.


Sesampainya di gudang pak bagus mempersilahkan Aurel untuk mengecek barang-barang milik pabriknya. Mulai dari semen hingga bahan baku lainnya yang di gunakan untuk pembangunan apartemen.


Aurel sangat puas dengan bahan-bahan yang ia cek. Tak ada satu pun yang bermasalah baginya. Dan harga yang ditawarkan pak bagus juga lebih murah dari suplayer sebelumnya.


"Dari yang saya lihat, bahan baku yang bapak tawarkan memang sangat berkualitas. Saya akan mengambil bahan baku dari sini untuk pembangunan apartemen kami di puncak"


"Baik Bu, senang bekerja sama dengan ibu" balas pak bagus.


"Sama-sama pak" balas Aurel.


"Kalau begitu kita pamit pak, untuk banyaknya bahan baku yang kami butuhkan bisa bapak bicarakan dengan sekretaris saya" ujar Aurel.

__ADS_1


"Tentu, mari saya antarkan ke depan"


"Terimah kasih"


__ADS_2