PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 19


__ADS_3

Disisi lain Hilda yang akan tidur dikejutkan oleh seekor kecoak. Ia langsung meloncat keatas kasur Aurel saking takutnya.


"Hah!! Kecoak!!" Pekiknya, ia melemparkan semua barang yang ada di atas kasur.


"Udah gak ada kan?" Gumamnya, melihat kecoak itu tak lagi ditempatnya. Hilda segera turun dari kasur, untung saja Aleta tak mendengar teriakannya itu.


Tak sengaja Hilda melihat sebuah kunci diatas kasur Aurel.


"Ini kunci apa?" Pikirnya.


Hilda melihat kesemua benda yang ada dikamar Aurel, matanya tertuju pada lemari dan beberapa laci dikamar Aurel.


"Apa mungkin kunci lemari?" Gumamnya, ia segera membuka lemari tersebut. Namun lemarinya tak dikunci. Hilda melihat kearah laci-laci yang terdapat pada meja belajar Aurel. Hilda mencoba membuka laci pertama namun tak juga dikunci, begitupun dengan laci kedua.


"Gak dikunci juga" ujarnya, ia melihat laci terakhir yang ada dimeja itu.


"Laci ini kali ya?" Pikirnya. Hilda menarik gagang lacinya, dan dugaannya benar laci itu terkunci. Ia segera membuka lacinya dengan kunci yang ada pada tangannya.


Saat laci itu terbuka, ia disuguhkan oleh beberapa benda.


"Buku? KISAH KELAM SMA DASASILA" lirihnya.


"Apa ini buku dongeng? Tapi DASASILA itu ga asing buat aku" pikirnya.


"Ah iya, aku ingat. SMA DASASILA itukan sekolahnya Aurel" ujarnya.


"Tapi kenapa ada buku kisah kelam segala?" Hilda membuka buku tersebut. Terdapat beberapa deretan angka pada dua halaman pertama. Dan selanjutnya buku itu kosong.


"Ini apa? Gak ngerti aku" ucapnya. Ia menutup buku tersebut dan kembali melirik dua benda lainnya.


"Aunia meldana" lirih Hilda membaca nama yang tertera pada pin tersebut.


"Wah gak bener nih, nama Aurel kan aurelia meldana. Kenapa diganti aunia sih" sewot Hilda, karna nama aurelia adalah nama pilihannya sewaktu Aurel lahir.


"Ini Aurel?" Ucap nya kurang yakin, saat foto tersebut ia lihat.


"Tapi kenapa matanya beda ya, tatapan Aurel di foto ini kejam banget" ngeri Hilda.


"Ah sudahlah, gak seharusnya aku ngusik barang-barangnya Aurel" ucap Hilda, ia menyimpan barang-barang Aurel dan kembali mengunci laci tersebut. Tak lupa ia menaruh kuncinya dibalik bantal.


"Mending aku tidur" ucapnya pada diri sendiri.


.


.


.


Sesampainya di Jakarta Andra menghentikan mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa berhenti ndra?" Tanya Aurel.


"Rumah Lo dimana? Biar kita Anter" tanya Andra pada laura, ia tak mengubris ucapan Aurel.


"Gang mawar no 03" balasnya.


"Ok"


"Ndra, gue dikacangin nih" sewot Aurel.


"Bukan gitu rel, gue cuma nanya rumahnya Laura aja" balas Andra lembut.


"Lo apain Abang gue? Kenapa dia bisa serespeck itu sama Lo?" Tanya Aurel pada Laura yang duduk disampingnya.


Seketika Darren dan Laura terkejut mendengar perkataan Aurel.


"Abang?!" Pekik Darren dan Laura bersamaan.


"Iya" angguk Aurel.


"Kok bisa?" Tanya Darren.


"Ya karna dia anak om gue" balas Aurel.


"Kalian sepupuan?" Tanya Laura.


"Iya, trus kalian pikir apaan?" Tanya Aurel.


Andra hanya terkekeh geli mendengar percakapan ketiganya. Namun ia salah fokus saat melihat wajah lega Laura pada cermin didepannya. Tanpa sadar ia tersenyum tipis.


"Ini rumah Lo?" Tanya Andra, saat ia berhenti pada rumah no 3 pada gang tersebut.


"Iya, mau mampir dulu gak?" Tawar Laura.


"Gak usah, udah malam lain kali aja" balas Andra diangguki Darren dan Aurel.


"Thanks udah dianterin" ujarnya lalu keluar dari mobil Andra.


Andra melajukan mobilnya kembali ke rumah Aurel.


"Kayaknya Laura suka sama Lo deh ndra" ujar Aurel.


"Ngacoh Lo" balas Andra.


"Tapi bener deh ndra, gue sependapat sama Aurel" tambah Darren.


"Gak usah Nyamber Lo" sewot Andra.


"Yailah, biasa aja kali. Lo aja sering Nyamber ucapan gue, gak masalah tuh"

__ADS_1


"Gak masalah pala bapak Lo" balas Andra, karna Darren juga sama sepertinya. Saat Andra memotong perkataannya Darren selalau sewot padanya.


"Heheh" kekeh Darren.


"Tapi kayaknya gue suka deh sama adik Lo" ujar Andra setelah hening beberapa saat. Andra hanya terkekeh mendengar ucapan Darren.


"Denger gak rel, dia suka sama Lo tuh" ujar andra, namun tak ada sahutan Aurel. Ia menengok kebelakang, ternyata gadis itu tengah tertidur pulas.


"Pantes aja kagak nyahut, tidur dianya" ucap andra.


"Biarin aja, capek kali" balas Darren.


Sesampainya dirumah, rumah tersebut sudah gelap.


"Aurel gimana?" Tanya Darren.


"Gak papa, biar gue yang gendong kekamarnya"


"Yaudah gue pamit" ucap Andra, ia melajukan motornya meninggalkan rumah tersebut.


"Lo makin lama makin berat aja ya" gumam Andra. Ia mengendong Aurel menuju kamarnya.


Saat membuka kamar Aurel, ia melihat mamanya tengah terlelap diatas kasur. Andra meletakkan Aurel disamping mamanya dengan hati-hati.


Selesai mengantar Aurel, Andra kembali kekamarnya. Namun, ia bertemu dengan gio yang sedang mengambil air di dapur.


"Om" sapa Andra.


"Hmm" balasnya.


"Baru pulang om?"


"Iya"


"Dari mana?"


"Meeting"


"Beneran meeting om?"


"Ya menurut kamu?" Balas gio, lalu kembali kekamarnya dengan segelas air.


"Emang ya, penjahat gak akan pernah ngaku" batinnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Thanks udah baca :)


__ADS_2