PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 60


__ADS_3

Aurel dan Darren memang berniat menuju tempat tukang bakso yang biasanya mereka beli.


"Masih sore juga" balas Aurel.


"Iya masih sore, kemarin aja kita pergi siang tukang baksonya udah tutup" ujar Darren sewot. Aurel hanya membalasnya dengan cengiran, dan langsung menaiki motor Darren.


Sepanjang perjalanan Aurel sangat menikmati waktunya bersama Darren. Ia mengeratkan pegangannya pada Darren sembari menikmati angin yang menerpa wajahnya.


Darren menghentikan motornya di pinggir jalan. Sebuah tempat bakso yang ada di pinggir jalan menjadi tujuan keduanya.


"Mang, baksonya masih ada?" tanya Darren mendatangi warung bakso tersebut di ikuti oleh Aurel.


"Masih atuh mas" balas tukang bakso ramah.


"Pesen dua ya mas"


"Siap mas"


Aurel dan Darren duduk di sebuah meja yang terletak di bagian ujung. Walaupun warung bakso tersebut terletak di pinggir jalan, namun warung tersebut sangatlah diminati. Setiap harinya banyak pengunjung yang datang dengan kecewa karena bakso yang mereka inginkan telah habis oleh pengunjung lain.


"Silakan di nikmati mas, mbak" ujar tukang bakso meletakkan dua mangkok bakso di atas meja.


"Makasih mang" balas Aurel.


Ditengah-tengah keasyikannya menyantap bakso bersama Darren. Aurel tak sengaja melihat sosok yang sangat ia ingat. Ia tengah memesan bakso pada tukang bakso.


Aurel refleks menatap pria yang tengah berdiri tegap di samping tukang bakso.


"Kenapa?" tanya Darren yang melihat Aurel berhenti menyantap baksonya.


"Gak papa" balas Aurel berusaha tak melihat apa-apa.


"Kenapa berhenti makannya?" tanya Darren.


"Gak enak ya?" lanjutnya.


"Hem, Enak-enak kok" balas Aurel cepat dengan senyum canggung dan kembali menyantap baksonya.


Disaat Aurel kembali menatap pria yang tengah berdiri di samping tukang bakso itu. Sialnya ia tertangkap basah, karna pria itu juga menatapnya.


"Uhuk, Uhuk" Aurel terbatuk-batuk ketika ia berusaha menatap pria itu diam-diam.


"Makanya makan pelan-pelan" ujar Darren sembari memberikan segelas air meneral.


Aurel langsung meneguknya, dalam sekali tegukan ia berhasil menandaskan gelas yang terisi penuh air.


"Udah lega?" tanya Darren, sembari mengusap-usap punggung Aurel.


"Udah" balas Aurel meletakkan gelas minumnya.


"Udah selesai kan?" tanya Aurel.


"Udah, kenapa?"


"Pulang sekarang yuk!" ajak Aurel.


"Tapi bakso Lo belum habis" ujar Darren melirik mangkok Aurel yang masih tersisa setengah.


"Gak papa, gue mau pulang sekarang! Ayo!" kekeuh Aurel.


"Iya, bentar gue bayar dulu" ujar Darren.


"Gue tunggu di motor"


"Oke, bentar ya" balas Darren segera membayar bakso pesanannya dan Aurel segera menuju motor Darren. Ia berusaha menghindari kontak mata dengan pria yang masih menatapnya datar.

__ADS_1


"Berasa uji nyali gue" ujar Aurel ketika ia sudah bersandar pada motor Darren.


Ia masih ingat, bagaimana malunya saat ia salah memasuki toilet. Dan pria itu adalah orang yang ia sangka mesum karna memasuki toilet yang sama dengan dirinya.


Padahal dirinya lah yang salah memasuki toilet.


"Kenapa bisa ketemu disini sih" ujarnya kesal. Karna pria itu telah mengganggu makannya bersama Darren.


"Ketemu siapa?" tanya Darren dari belakang Aurel.


"Darren udah selesai bayarnya?" tanya Aurel kaget.


"Udah, Lo ketemu siapa disini?" tanya Darren mengulang pertanyaannya.


"Hmm, Gak ketemu siapa-siapa" balas Aurel cepat.


"Tapi tadi kamu bilang--"


"Salah denger kali" balas Aurel memotong ucapan Darren.


"Hmm, gue salah denger ya?" tanya Darren menatap Aurel. Aurel membalasnya dengan anggukan canggung.


"Mungkin gue emang salah denger kali ya" balas Darren, langsung mengambil helmnya.


"Ayo pulang!" ajak Darren.


.


.


.


Pukul 9 pagi Aunia sudah bersiap di depan rumah didampingi oleh Aurel dan Aleta. Aunia berinisiatif berangkat satu jam sebelum pesawatnya berangkat agar ia tidak terlambat.


Aleta sengaja mengambil cuti untuk hari ini agar ia bisa mengantar putrinya menuju bandara.


"Gak kok ma, udah semua" balas Aunia.


"Sampai sana jangan lupa bawain gue oleh-oleh ya" ujar Aurel.


"Oke, nanti aku bawain" balas Aunia.


Setelah taksi online yang mereka pesan sampai, mereka langsung menuju bandara.


"Kamu berangkat sendiri?" tanya Aleta.


"Gak kok ma, nanti di bandara aku pergi sama rekan-rekan satu tim aku"


"Jadi langsung ketemu di bandara nih?"


"Iya ma"


Taksi telah memasuki Area bandara, Aurel dan Aleta segera mengantarkan Aunia pada rekan-rekan satu timnya.


"Ma, itu teman-teman aku" ujar Aunia ketika melihat teman-teman nya melambai padanya.


"Yaudah samperin teman-teman kamu!" pinta Aleta.


"Iya ma, aku pamit ya" ujarnya sembari mencium tangan Aleta.


"Hati-hati, sampai sana jangan lupa kabarin mama"


"Iya ma" ujar Aunia.


"Jangan lupa oleh-oleh buat gue" ujar Aurel terkekeh.

__ADS_1


"Aurel, kamu ini!" ujar Aleta mencubit pinggangnya.


"Ah, mama sakit!" ringis Aurel.


"Iya, nanti aku bawain" balas Aunia.


"Aku pamit ya ma, Aurel" pamit Aunia bergantian memeluk mama dan juga kembarannya.


Aunia menyeret kopernya menuju teman-temannya dan juga guru pembimbing yang akan mendampingi mereka.


"Kita pulang sekarang ma?" tanya Aurel.


"Bentar, kita liat Aurel naik pesawat dulu" ujarnya menatap Aurel dan teman-temannya yang berjalan berbaris memasuki pesawat.


Setelah melihat Aurel memasuki pesawat, Aleta baru bisa lega.


.


.


.


Aurel dan Aleta kembali ke rumah setelah mengantarkan Aunia menuju bandara. Keduanya menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Sebuah film horor menjadi tontonan mereka saat ini.


"Ma, itu hantunya udah ilang belum?" tanya Aurel sembari menutup matanya dengan bantal sofa.


"Udah, lagian kamu! udah tau takut masih aja ngajak nonton film horor" balas Aleta.


"Uji nyali ma" kekeh Aurel.


"Ada-ada aja" ujar Aleta geleng-geleng kepala.


Pranggg...


Aurel dan Aleta langsung terdiam ketika suara kaca pecah terdengar.


"Ma, itu apa?" tanya Aurel.


"Mama gak tau, mama cek dulu!" ujar Aleta beranjak bangkit.


"Aku ikut ma" ujarnya menyusul Aleta.


Kaca jendela yang telah berkeping-keping berserak di atas lantai.


"Kenapa bisa pecah?" pikir Aleta, ia langsung melihat keluar jendela.


Seseorang berpakaian serba hitam menggunakan motor matic tengah menatap kearahnya. Ia langsung melajukan motornya ketika melihat Aleta.


"Ma, liat deh" ujar Aurel ketika ia menemukan batu yang digunakan untuk memecahkan kaca jendela.


"Apa?" tanya Aleta menghampiri putrinya.


"Ada kertasnya" Aurel membuka kertas yang dibalutkan pada batu.


KALIAN HARUS MATI


"Mereka ngancam kita ma" ujar Aurel ketika membaca tulisan yang ada pada kertas tersebut.


Aleta langsung merebut kertas ditangan Aurel, ia sekilas membacanya lalu *******-***** kertas tersebut lalu melemparkannya.


"Kamu balik ke kamar! mama mau beresin ini" ujar Aleta.


"Biar aku bantu ma" balas Aurel.


"Mama bisa sendiri, kamu balik ke kamar" pinta Aleta.

__ADS_1


"Iya ma"


Aurel langsung kembali ke kamarnya. Ia juga tak berani membanta ucapan mamanya.


__ADS_2