PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 62


__ADS_3

Namun, melihat wajah Darren yang tak berkedip menatapnya. Membuat Aurel gemas, dan mencubit kedua pipinya.


"Ayo! liatin apa?" tanya Aurel sembari mencubit pipi Darren.


"Aduh!! sakit!" ringis Darren mengelus-elus kedua pipinya.


"Makanya jangan liatin gue Mulu!" kekeh Aurel.


"Emang gak boleh ngeliatin pacar sendiri?"


"Bukan gitu, kalau Lo liatin gue terus kapan ke rumah Lo nya" Alibi Aurel.


"Yaudah ayo berangkat sekarang!" ajak Darren menarik tangan Aurel menuju motornya.


Aurel dan Darren mengendarai motor menuju rumahnya.


.


.


.


Sekarang di sinilah mereka, sebuah mol di kota Jakarta. Mama Darren yang sangat bersemangat untuk berbelanja terlihat heboh dengan banyaknya diskon di mol tersebut. Diusianya yang sudah menginjak 40an. Ia masih aktif bergerak kesana kemari.


"Darren, ini bagus deh buat kamu" ujar mamanya memperlihatkan sebuah kemeja warna hitam.


"Nah iya kan bagus" ujar mamanya ketika mencocokkan baju tersebut pada tubuh Darren.


"Mama ambil ini satu ya, buat kamu" ujar mama Darren semangat.


Darren yang merasa jengah karna mamanya ini sudah seperti remaja berusia 18 tahun. Ia bahkan tak sadar jika ia sudah memilihkan banyak baju dan celana untuk Darren.


Darren menghembuskan nafasnya kasar.


"Ma, udah ah! mama gak liat ini! udah banyak" balas Darren.


"Tapi yang ini bagus, sayang banget kalau gak di ambil" jawab mama Darren.


"Terserah mama aja deh"


Darren sangat mengerti bahwa mamanya ini sangatlah keras kepala. Apa pun ucapan yang keluar dari mulut Darren tak akan bisa mengubah keputusan yang telah di buat sang mama.


"Gak papa Darren, itu tandanya mama Lo perhatian" ujar Aurel di lanjutkan kekehan di akhir perkataannya.


"Ketawa aja trus, senang banget liat gue menderita" sewot Darren.


"Bukan gitu, tapi Lo gak liat tuh, mama Lo antusias banget buat beliin Lo baju, masa Lo mau buat mama Lo kecewa?" nasehat Aurel.


"Yaiyah gue tau, tapi baju sebanyak ini buat apa? ntar ujung-ujungnya jadi penghuni lemari doang, trus rusak deh di makan kecoak"


"Bisa Lo jual lagi mungkin, atau gak sedekahin ke orang yang membutuhkan" balas Aurel.

__ADS_1


Sejenak Darren terdiam, ia bahkan tak pernah berfikir untuk menyedekahkan baju yang tak ia gunakan pada orang yang membutuhkan. Ia selalu marah karena mamanya memberikan banyak baju tapi tak ia gunakan. Tapi bagaimana dengan orang-orang di luar sana yang bahkan kekurangan baju untuk ia gunakan.


"Ide bagus" gumamnya, namun masih bisa di dengar oleh Aurel.


Aurel tersenyum ketika sarannya diterima dengan baik oleh Darren. Ternyata pacarnya itu punya sisi baik yang belum pernah ia lihat.


"Aurel, sini!" panggil mama Darren. Aurel langsung menghampirinya.


Mama Darren mengukurkan sebuah dress berwarna hitam pada tubuh Aurel.


"Bagus kan?" tanya Mama Darren.


"Iya bagus Tante" jawab Aurel.


"Yaudah, ini kamu ambil juga ya" ujar Mama Darren memberikan dress berwarna hitam itu pada Aurel.


"Tapi tan--"


"Gak ada penolakan!" bantah mama Darren cepat.


Aurel menatap dress hitam yang di berikan oleh mama Darren. Sangat mewah dan Elegan. Aurel bisa menebak jika harga dress ini sangatlah mahal.


Setelah puas berbelanja, mereka langsung ke kasir untuk membayar belanjaan.


Darren yang merasa berat karna mamanya membelikan terlalu banyak untuknya. Bisa bernafas lega saat meletakkan barang-barang tersebut di atas meja kasir.


Petugas kasir hanya bisa cengo saat melihat belanjaan Darren lebih banyak dari pada wanita-wanita yang ada di sampingnya.


"Punya mama saya mbak" balas Darren.


"Oh, saya pikir masnya" kekeh petugas kasir sembari menghitung belanjaan.


Disampingnya Mamanya dan Aurel terkekeh karna ucapan petugas kasir.


.


.


.


Aurel memasuki rumah dengan tiga paper bag di tangannya. Setelah selesai berbelanja Aurel di antarkan pulang oleh Darren.


Kegiatan berbelanja tadi siang membuatnya sangat kelelahan. Ia sungguh kagum pada jam Darren, diusianya yang sudah tidak lagi mudah. Mama Darren masih aktif dalam beraktifitas. Beda halnya dengan dirinya yang mudah lelah jika terlalu banyak kegiatan.


Aurel melemparkan paper bag nya ke atas kasur. Melihat kasur membuatnya langsung menghempaskan diri karna terlalu lelah.


"Huh, capek banget"gumamnya.


Aurel terbangun dari tidurnya, entah sudah berapa lama ia tertidur. Saat ia bangun rumahnya sudah gelap.


"Udah malam?" pikir Aurel mengambil jam bekernya.

__ADS_1


Pukul 10 malam, ia sedikit terkejut. Ternyata ia tertidur terlalu lama. Rasa malas pada dirinya membuat Aurel kembali menutup mata. Namun suara berisik orang mengobrol membuatnya kembali membuka mata.


Ia tengah berfikir siapa yang mengobrol pada jam 10 malam di rumahnya.


"Siapa yang ngobrol? di rumah cuma ada gue sama mama" gumamnya.


Aurel semakin mengencangkan pendengarannya. Salah satu suaranya terdengar familiar baginya. Suara mamanya yang terdengar antusias dengan suara pria yang tak ia kenali.


Aurel segera mengecek ke sumber suara yang ada diruang tamu. Terlihat mamanya sedang asyik bicara dengan seorang pria yang mungkin lebih tua darinya beberapa tahun.


"Ma!" panggil Aurel.


"Aurel, udah bangun?" tanya Aleta.


Aurel menatap pria yang ada disamping mamanya. Pria itu adalah pria yang telah ia tuduh mesum sat di mol. Segelas kopi sudah terletak dimeja. Aurel bisa menebak jika kopi tersebut dihidangkan mamanya untuk pria itu.


"Aurel, kenalin ini Bryan orang yang udah nolongin mama" Ujar Aleta ketika ia melihat putrinya terus menatap pria itu.


"Nolongin mama? mama kenapa?" tanya Aurel mulai khawatir.


"Mama gak papa, tadi waktu mama pulang kantor, mama hampir aja keserempet motor, untungnya ada Bryan yang nolongin mama" terang Aleta.


"Kenapa mama gak bilang sama aku?" tanya Aurel.


"Mama gak tega bangunin kamu, keliatannya capek banget"


"Lo Bryan?" tanya Aurel.


"Iya" Angguknya.


"Gue cuma mau bilang makasih karna Lo udah bantuin mama gue, nanti gue pasti balas kebaikan Lo, gue gak suka utang Budi!" balas Aurel tegas.


"Aurel, gak boleh ngomong gitu!" bantah Aleta.


"Gak papa kok tan, karna udah malam saya pamit pulang dulu" ujar Bryan melirik jam tangannya.


"Yasudah, hati-hati" balas Aleta.


Setelah Bryan pergi, Aurel kembali ke kamarnya. Namun, panggilan dari mamanya membuat ia menghentikan langkahnya.


"Aurel!" panggil Aleta.


Aurel berbalik menatap Aleta.


"Kenapa ma?" tanyanya.


"Mama gak suka ya! kamu ketus banget sama Bryan, dia udah nolong mama"


"Aku udah bilang makasih sama dia, aku rasa itu cukup"


"Apa sebelumnya kamu pernah ketemu sama dia?" tanya Aleta. Melihat raut wajah putrinya yang terlihat tak suka pada Bryan. Aleta beranggapan kalau keduanya pernah bertemu dan terlibat masalah.

__ADS_1


Aurel terdiam dengan perkataan mamanya. Tanpa menjawab pertanyaan mamanya Aurel langsung kembali ke kamarnya. Menghiraukan Aleta yang terus saja memanggil namanya.


__ADS_2