PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 67


__ADS_3

"Kamu berdoa aja buat mama, biar dia bisa selamat sampai Singapura"


"Amiiin"


"Yasudah, papa masih ada meeting, nanti kita lanjutkan obrolannya"


"Iya pa, maaf ganggu waktu kerja papa"


"Gak papa, sesibuk apapun papa kalau kamu ada perlu, pasti kamu yang papa utamakan"


Darren kembali menyimpan ponselnya. Entahlah, saat ini perasaannya menjadi tidak tenang memikirkan mamanya.


"Berita terkini, pesawat xxxx dengan tujuan indonesia-singapura telah terjatuh didekat pemukiman warga, berikut video yang sempat terekam oleh kamera"


Suara televisi di lorong rumah sakit langsung membuat Darren kaget. Setahunya pesawat tersebut adalah pesawat yang akan di naiki mamanya.


Darren langsung menelfon papanya. Namun beberapa kali ia menelfon tapi papanya tak menganggkat panggilan darinya.


"Pa, angkat dong" gumamnya resah.


Ia terus mengulang menelfon papanya. Tapi hasilnya tetap sama, panggilannya tak dijawab oleh papanya.


"Apa papa masih meeting ya" pikirnya.


"Berikut daftar korban dari pesawat xxxx" Suara televisi kembali menarik perhatian Darren.


Ia mencari dengan teliti nama yang tertera dilayar televisi. Sembari berusaha meyakinkan hatinya bahwa mamanya tidak apa-apa.


Dessy Paula


Darren langsung terbelalak kaget, ketika nama yang begitu tak asing baginya tertera diantara banyaknya nama korban.


"Mama" lirihnya.


"Gue pasti mimpi, ini gak nyata kan?" ujarnya.


Ia menampar wajahnya sendiri, rasa sakit yang ia rasakan pada bagian pipinya sudah dapat menjelaskan bahwa ia tidaklah bermimpi.


Darren segera mengambil kunci motornya yang tertinggal di ruang rawat Aurel.


"Ada apa?" tanya Aleta yang melihat Darren tergesa-gesa mengambil kunci motornya.


"Tan, aku ada urusan mendesak, aku pamit ya" ujarnya langsung keluar dari ruang rawat Aurel. Bahkan Aleta belum sempat menjawab ucapannya.


Bandara telah ramai oleh banyak para keluarga korban. Mereka berdesakan didepan deretan nama korban pesawat yang telah di tempel di dinding.


Ada yang menangis histeris hingga jatuh pingsan karena tak sanggup menerima kenyataan ditinggalkan oleh orang yang disayangi.


Darren langsung menghampiri petugas yang ada di bandara.


"Permisi, saya mau tanya! apakah ada korban yang selamat?" tanya Darren penuh harap.


"Maaf bapak, untuk hal itu kami belum bisa memastikan, silakan bapak tunggu informasi selanjutnya"


"Tapi kapan informasi itu?" tanya Darren tidak sabar.


"Petugas sedang berusaha mencari korban, harap bapak bersabar"


Darren menghampiri kerumunan yang berdesakan, ia menerobos masuk kedalam kerumunan. Tujuannya untuk memastikan jika nama mamanya tidak ada disana.


Meski kemungkinannya sangat kecil, tapi ia masih berharap di dalam hati kecilnya.


Ia meneliti satu persatu nama yang tertera di dinding. Namun, nama mamanya masih ada di daftar korban tersebut.


Dengan lesu Darren keluar dari kerumunan. Perasaan nya bercampur aduk, rasa sedih, marah, semuanya bercampur menjadi satu.


Getaran ponselnya ia rasakan di dalam saku celananya. Di layar ponselnya tertera nama "papa".


"Halo pa" ujarnya lirih.

__ADS_1


"Maaf tadi papa ada meeting, ada apa?" Tanya papanya.


"Mama pa" ujarnya tak bisa melanjutkan kata-kata.


"Mama kenapa? Trus kenapa suara kamu sedih gitu?"


"Pesawat yang di tumpangi mama jatuh pa"


"Trus keadaan mama gimana? Mama gak papa kan?" Tanya papanya cemas.


"Aku gak tau pa, petugas masih mencari para korban"


"Yasudah, hari ini papa balik ke Indonesia"


"Iya pa"


Setelah menutup panggilan, Darren segera melangkahkan kakinya keluar dari bandara. Namun seorang wanita paru baya menarik perhatiannya.


"Mama" lirihnya.


Wanita paru baya itu, sangat mirip dengan mamanya. Darren yang hanya melihat bagian punggung wanita itu, sangat yakin jika itu mamanya.


Darren mengikuti wanita itu. Hingga ia sampai pada toilet wanita.


"Gue yakin, itu pasti mama" gumamnya.


Darren terus menunggu di depan toilet. Beberapa orang menatapnya risih karna berdiri di depan toilet wanita.


Namun, ia tak mempedulikannya. Baginya mamanya lebih penting dari pada tatapan risih orang-orang.


Sudah setengah jam ia menunggu di depan toilet. Tapi wanita paru baya yang ia yakini sebagai mamanya tak juga keluar.


"Maaf mbak, boleh nanya?" Tanya Darren, ketika seorang wanita baru keluar dari toilet.


"Ada apa ya mas?"


"Didalam masih ada orang gak?" Tanya Darren.


"Gak ada ya?" Tanya Darren.


"Iya"


"Yaudah makasih mbak"


"Permisi mas" pamitnya.


"Gak mungkin, gue yakin kok kalau mama tadi masuk kesini" ujarnya.


Merasa penasaran, Darren langsung memasuki toilet untuk memastikan mamanya ada di dalam.


Ia mengecek satu persatu toilet, tapi setiap ruangan kosong. Tak ada satu orang pun.


"Apa mama udah keluar ya?"


"Tapi kenapa gue gak liat?"


Darren keluar dari toilet, namun bersama dengan itu seorang wanita baru saja masuk ke dalam toilet.


"AHHHH, MESUMMMM!!"


"Maaf mbak, saya salah masuk toilet" alibi Darren.


"Gak liat apa di depan ini toilet wanita, sana keluar sebelum saya panggil security"


"Iya mbak"


Darren meninggalkan bandara dan kembali ke rumah sakit. Ia masih mengkhawatirkan mamanya, tapi ia juga ingin tau kondisi Aurel yang masih di rawat di rumah sakit.


Perlahan Darren membuka pintu ruang rawat Aurel. Terlihat Aleta yang tengah menyuapi Aurel makan bubur.

__ADS_1


"Darren" ujar Aurel.


"Hey, udah bangun?" Balas Darren.


"Udah, ini lagi disuapin bubur sama mama" ujar Aurel, dengan wajah pucatnya ia masih bisa tersenyum.


Darren mengelus rambut Aurel sayang, namun senyum yang ia tunjukan sangat jelas di paksakan.


"Kenapa?" Tanya Aurel.


"Gak papa"


"Jangan bohong! Ada masalah?" Tanya Aurel lembut.


"Pesawat yang ditumpangi mama jatuh" balas Darren lesuh.


"Trus keadaan Tante gimana?"


"Belum ada kabar, petugas masih nyari para korban"


"Sabar ya, gue yakin Tante pasti baik-baik aja"


"Gue harap juga gitu"


"Lo lanjutin aja makannya, gue mau keluar bentar" ujar Darren.


"Mau kemana?"


"Cari angin"


"Yaudah, jangan lama-lama dan jangan nyakitin diri sendiri" pinta Aurel.


"Hmm"


Darren meninggalkan ruang rawat Aurel. Ia menyusuri lorong rumah sakit yang hanya di lewati oleh para suster dan dokter.


Namun, seorang wanita kembali menarik perhatiannya.


"Mama" lirihnya.


Darren langsung mengejar wanita paru baya itu.


"Mama!" Teriaknya mengejar wanita paru baya yang ia yakini sebagai mamanya.


Darren melihat jika wanita itu masuk kedalam sebuah ruangan.


"Mama ngapain kesini?" pikirnya.


Darren mengintip di balik jendela. Seorang anak perempuan berusia 8 tahun tengah terbaring di atas brankar.


Darren dengan jelas melihat wajah wanita paru baya yang ia ikuti. Itu Benar-benar mamanya.


Dengan penuh sayang, mamanya mengelus rambut anak itu. Dan menyuapinya makan. Anak itu terlihat senang, sedangkan mamanya sepertinya sangat menyayangi anak perempuan itu.


"Ada hubungan apa mama sama anak itu? Setau gue mama gak punya saudara yang punya anak perempuan" pikirnya.


Darren memberanikan diri memasuki ruangan itu.


"Ma" ujarnya ketika ia sudah berdiri di belakang mamanya.


Mamanya berbalik melihatnya.


"Darren"


"Kamu kok ada disini?" Tanya mamanya.


"Seharusnya aku yang nanya sama mama? Mama ngapain disini?" Tanya Darren.


"Mama tau gak? Pesawat yang mama tumpangi itu jatuh, aku sama papa khawatir sama mama. Kenapa mama gak ngasih kita kabar sama sekali?" tanya Darren marah.

__ADS_1


"Maafin mama"


__ADS_2