
Baru saja membuka laptopnya. Pekerjaannya kembali tertunda akibat sebuah panggilan.
"Halo" sapa Aurel.
"Ha_halo kak"
"Nay, kamu kenapa? Kok gugup?" Tanya Aurel.
"A_anu kak, kakak sibuk gak?" Tanya Naya.
"Aku lagi banyak kerjaan sih, emangnya kenapa?" Tanya Aurel.
"Bisa jemput aku gak?"
"Tumben minta jemput, memangnya kamu lagi di mana?" Tanya Aurel.
"Aku lagi di rumah sakit kak, ada kecelakaan dikit" balasnya.
"Ya ampun nay, rumah sakit mana?" Tanya Aurel khawatir.
"Nanti aku share lokasinya sama kakak"
"Yaudah, kakak kesana sekarang!" Balasnya.
🥀
Aurel tergesa-gesa menuju ruangan yang telah diberi tahukan naya padanya.
Ceklek
Aurel langsung dihadapkan oleh naya yang terduduk di ranjang rumah sakit.
"Nay" panggil Aurel, ia langsung menghampiri adik iparnya itu.
"Kak" balas Naya.
"Kenapa bisa gini?" Tanya Aurel. Ia melihat kaki Aurel yang di balut perban.
"Tadi waktu aku mau nyebrang, gak sengaja ke serempet kak" balasnya.
"Emangnya kamu gak liat-liat dulu?"
"Udah kak, tapi gak ada kendaraan yang lewat. Pas aku udah jalan, eh gak taunya ada motor lewat kencang bangetttt"
"Trus keadaan kamu gimana? Kakinya gak papa kan?" Tanya Aurel.
"Gak papa kok kak, cuman lecet dikit aja. Makanya di perban"
"Bagus deh"
"Iya kak, untungnya ada yang nolongin aku, kalau gak aku gak tau deh. Mungkin aku masih tergeletak di jalan. Karena orang-orang pada gak berani nolongin aku" balasnya.
"Siapa yang nolongin kamu?" Tanya Aurel.
"Itu kak, orangnya lagi di toilet" balas Naya.
Tak lama seorang perempuan keluar dari toilet. Perempuan dengan rambut sebahu, ia mengenakan blazer biru yang menambah kewibawaannya.
Tatapan Aurel dan perempuan itu saling terkunci. Keduanya seakan-akan terjebak dalam sorotan mata masing-masing.
Aurel masih mengingat dengan jelas. Perempuan yang ada di depannya. Perempuan yang membuatnya harus kehilangan kembarannya. Perempuan yang membuatnya kehilangan sosok untuk berbagi keluh dan kesah.
"Kamu?" Tanya Aurel shock.
"Hai, Aurel. Kita ketemu lagi setelah lima belas tahun" balasnya tersenyum.
Senyum nya terlihat manis. Tapi Aurel membenci senyum yang di perlihatkan perempuan dihadapannya ini.
"Dan saya gak pernah berharap bisa bertemu dengan anda"
__ADS_1
"Wow, lima belas tahun tidak bertemu kamu semakin angkuh ya"
"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Aurel. Karna ia tau betul jika perempuan itu sudah ditangkap dan di hukum penjara.
"Karna hukuman saya sudah selesai. Dan saya juga cuma nganterin dia" tunjuknya pada Naya.
Aurel melirik naya.
"Iya kak, dia yang nolongin aku" balas Naya.
"So, denger kan?" Tanya Arsy.
"Buat bantuan kamu, saya sangat berterimah kasih dan saya sangat menghargainya. Tapi akan lebih baik kamu pergi, karna wajah kamu cuma bikin saya muak" balasnya.
"Aurel Aurel, bicaramu seperti pisau. Sangat tajam" kekehnya.
"Yah, karna saya tahu seberapa tajamnya sebuah pisau"
"Ouh, baiklah saya akan pergi. Sepertinya kamu sangat membenci ku"
"Itu wajar, karna kamu telah merenggutnya dari ku. Dengan cara yang begitu kejam"
"Oh ayolah. Dia juga merenggut teman-teman ku. Itu pembalasan yang setimpal untuknya"
"Tapi dia sudah meminta maaf. Dan kamu bahkan tak peduli akan hal itu"
"Pembalasan harus lah setimpal. Tidak bisa berat sebelah. Dia merenggut ke empat temanku, dan aku hanya merenggutnya. Menurutku itu belum setimpal"
"Lantas apa lagi? Kau ingin merenggut keluarganya juga, atau kau ingin merenggut ku juga karna wajahku tentu mengingatkan mu padanya"
"Aku pernah berfikir seperti itu. Tapi setelah Bu Lina meninggal aku sadar. Jika yang ku lakukan adalah sebuah kesalahan. Tak seharusnya aku membiarkan dendam itu tumbuh di hatiku. Hingga akhirnya kejadian beberapa tahun silam itu harus terjadi. Maaf" lirihnya bersalah.
"Akan lebih baik kita tak melanjutkan dendam yang ada beberapa tahun silam" lanjutnya.
"Sayangnya maaf itu tak berguna lagi. Karna kata maaf itu pernah sia-sia diucapkan oleh seseorang. Hingga dia harus pergi untuk selamanya."
"Baiklah, mungkin seiring waktu kamu bisa memaafkan ku. Aku pamit" balasnya.
"Iya, hati-hati. Terimah kasih sudah menolong ku"
"Sama-sama"
🥀
"Nay, kamu istirahat dulu ya. Aku harus balik lagi ke kantor" ujar Aurel.
"Iya kak"
"Kamu gak papa aku tinggal di rumah sendiri?"
"Gak papa kak"
"Oh ya nay, kak Darren tau kamu kecelakaan?" Tanya Aurel.
"Enggak" gelengnya.
"Kenapa gak di kasih tau?"
"Aku takut kak Darren marah" balasnya
"Kenapa harus marah? Kecelakaan ini bukan keinginan kamu"
"Iya, aku tahu kak. Tapi kak Darren kan terlalu posesif sama aku"
"Dia posesif sama kamu karna dia sayang sama kamu nay"
"Aku tahu kak, tapi gak usah kasih tau kak Darren dulu. Biarin dia fokus sama kerjaannya ya kak"
"Yaudah, tapi kakak belum tau loh nay"
__ADS_1
"Apa kak?"
"Yang nyerempet kamu gak tanggung jawab?"
"Boro-boro mau tanggung jawab kak. Aku keserempet dia malah gas motornya kenceng buat kabur"
"Yasudah, nanti kakak bakalan minta polisi buat nyelidikinnya. Biar pelakunya di tangkap"
"Gak usah kak, lagian aku juga gak papa. Kan kasian kak kalau dia harus di penjara cuma karna luka kecil gini"
"Kamu ini! Jangan terlalu mudah kasihan! Gak semua orang tau caranya berterimah kasih"
"Gak papa kak, anggap aja amal buat nanti" kekeh Naya.
"Kakak tinggal ya" ujar Aurel.
"Iya kak, hati-hati"
🥀
Sesampainya di kantor. Aurel kembali berkutat dengan laptopnya.
Ia melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 12.30. Setengah jam lagi sudah waktunya Kayla pulang sekolah. Tapi pekerjaannya belum juga selesai.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo Lastri, kamu bisa jemput Kayla di sekolahnya?" Tanya Aurel.
"Bisa mbak"
"Nanti kamu antarkan ke rumah ya, di rumah ada Naya kok. Sekalian buatin sarapan buat Naya dan Kayla ya"
"Baik mbak"
"Oh ya, gimana keadaan mama?"
"Baik-baik saja mbak. Ibu sudah mulai beraktivitas, ia mulai berkebun lagi di belakang"
"Yasudah"
Berkas-berkas yang sudah menumpuk membuat Aurel kewalahan. Ini karna ia meninggalkan kantor cukup lama untuk menjemput Naya dirumah sakit dan mengantarnya pulang.
Tak terasa ia sudah terlalu lama ia berkutat dengan laptop dan membaca berkas-berkas yang menumpuk. Dan tak menyadari jika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Dering ponselnya membuat Aurel harus menghentikan kegiatannya untuk menandatangani setumpuk berkas lagi.
"Halo" ujarnya.
"Halo Aurel, kamu dimana? Kok belum sampe rumah?" Tanya Darren.
"Iya, bentar lagi aku pulang"
"Kenapa? Banyak kerjaan ya?"
"Iya nih, numpuk banget"
"Mau aku bantuin?"
"Gak usah, tinggal dikit lagi kok"
"Aku jemput ya, takutnya kamu kecapean bawa mobilnya"
"Emangnya kamu gak capek?"
"Gak kok"
"Yaudah aku tunggu"
Aurel menutup panggilannya. Ia kembali membaca dan menandatangani berkas yang ada dihadapannya.
__ADS_1
30 menit kemudian...
"Ahhh"