
Aurel langsung menuju kamarnya. Sementara Darren ia menunggu di ruang makan.
"Darren, Tante titip Aurel ya, dia baru aja keluar dari rumah sakit"
"Tante tenang aja, aku pasti jagain Aurel kok"
"Tante percaya sama kamu"
Aurel kembali menghampiri Darren setelah ia berganti pakaian.
"Ayo!"
"Kita pamit Tan" ujar Darren.
.
.
.
Setelah melewati gang sempit. Aurel dan Darren baru bisa sampai di sebuah rumah yang mereka tuju.
Melihat keadaan sekitar, Aurel cukup kagum karna daerahnya cukup terawat dan bersih.
Aurel memberanikan diri mengetuk pintu rumah. Ia sangat berharap jika Aunia benar-benar ada didalam.
Tok Tok Tok
"Ya siapa?" Tanya seseorang sembari membuka pintu.
Aurel sangat familiar dengan suara orang tersebut. Keyakinannya untuk membawa Aunia kembali ke rumah semakin kuat.
Aurel tersenyum ketika melihat Aunia berdiri di depannya. Berbeda dengan Aunia yang langsung ingin menutup pintu ketika bertemu Aurel.
Dengan cepat Aurel menghalangi pintu dengan tangannya. Sehingga tangannya tanpa sengaja terjepit oleh pintu.
"Ahhh" ringisnya merasakan sakit karna terjepit oleh pintu.
"Aurel" ujar Darren, ia tak akan membiarkan Aurel terluka bahkan oleh kembarannya sendiri. Namun, Aurel memberikan isyarat jika ia harus tetap diam. Darren hanya diam menahan amarahnya.
Aunia yang melihat Aurel terluka merasa tidak tega. Tapi jika ia keluar, Aurel pasti akan membujuknya untuk pulang. Dan hal itulah yang paling ditakutinya. Ia tak ingin Aurel dan mamanya semakin terluka. Akan bahaya yang bisa saja datang karena nya.
"Aunia, tolong keluar gue mau ngomong bentar" ujar Aurel.
"Kamu pulang aja! Jangan ganggu aku!"
"Gue gak mau, sebelum Lo mau ngomong sama gue, gue gak akan pulang!"
"Kamu keras kepala Aurel! Aku bilang pulang ya pulang!"
"Lo juga keras kepala, gue mau ngomong bentar aja Lo gak mau!".
Keduanya sama keras kepala. Tak ada yang ingin mengalah, keduanya ingin perkataannya yang di dengar dan dituruti.
"Aunia keluar bentar ya, Lo gak kasian sama Aurel, tangannya pasti sakit kejepit pintu, tolong keluar ya, gue mohon" bujuk Darren.
Mendengar perkataan Darren, Aunia sedikit melirik tangan Aurel yang terjepit di antara pintu.
Tangannya sudah memerah akibat jepitan pintu yang ia tutup. Aunia berusaha melonggarkannya, tanpa disangka hal itu dimanfaatkan Aurel untuk masuk.
"Aurel! Kamu!" Geram Aunia.
"Aunia dengerin gue bentar ya, bentar aja" bujuk Aurel.
"Aku gak mau, kamu pulang sekarang!" Usir Aunia mendorong tubuh Aurel dan Darren.
"Lo gak bisa gini Aunia, lari dari masalah gak akan nyelesain masalah! Yang seharusnya Lo lakuin, Lo hadapin masalahnya, jangan lari! Kalau Lo kayak gini, Lo bukan nyakitin diri Lo sendiri, tapi semua orang yang sayang sama Lo!" Balas Aurel marah.
Aunia terdiam dengan perkataan Aurel. Selama ini ia hanya takut akan membahayakan keluarganya. Sehingga ia fikir jika lebih baik pergi dari pada keluarganya dalam bahaya. Tidak sangka jika keluarganya sendiri malah sedih dengan kepergiannya.
"Maaf" lirih Aunia.
Aurel menghela nafas, sebelum akhirnya ia memegang bahu Aunia.
"Pulang ya" bujuk Aurel lembut.
"Tapi_"
__ADS_1
"Lo gak kangen sama mama?" Tanya Aurel memotong ucapan Aunia.
"Kangen" balasnya sedikit menciut.
"Yaudah sekarang pulang ya" bujuknya lagi.
Aunia mengangguk singkat.
"Maaf ya" ujarnya lagi.
"Buat?" Tanya Aurel.
"Tangan kamu" balas Aunia melirik tangan Aunia yang memerah.
"Gak papa, luka kecil doang ini, sakitnya gak berasa ketimbang lo yang gak mau ketemu sama gue, nyesek tau gak!" Balas Aurel.
"Maaf" ujarnya lagi.
"Maaf terus dari tadi, lebih baik Lo packing kita pulang!" Pinta Aurel.
"Iya, tunggu bentar"
Aunia segera mengemasi barang-barangnya. Sementara itu Aurel dan Darren tengah menunggunya di luar.
"Liat sini tangannya!" pinta Darren.
"Buat apa?" Tanya Aurel. Tapi tetap mengulurkan tangannya.
"Pasti sakit ya?" Tanya Darren.
"Gak kok, luka kecil ini" balas Aurel.
"Bentar, gue nyari batu es dulu buat ngompres" ujar Darren beranjak pergi.
Darren menuju dapur, yang berukuran cukup kecil. Ia membuka pintu kulkas, untung saja di dalamnya ada beberapa es batu.
"Sini tangannya!" Pinta Darren. Aurel mengulurkan tangannya.
Dengan teliti Darren mengompres tangan Aurel.
"Yaudah tunggu apa lagi, ayo pulang!" Ujar Aurel bersemangat.
"Tapi rel_" balas Darren ragu.
"Kenapa?"
"Kita kesini pake motor, gimana bawa Aunia?"
"Oh iya, gue lupa, pake apa ya?" Pikirnya.
Sejenak Aurel berfikir.
"Gue tau, kenapa gak minta bantuan Andra aja" usul Aurel.
"Iya Lo bener, gue telfon dulu deh"
Darren langsung mencari nomor Andra di daftar kontaknya.
"Halo ndra, Lo bisa bantuin gue gak! Gue sama Aurel udah berhasil nemuin Aunia, tapi gue bawa motor gak bisa bonceng tiga" ujarnya.
"Yaudah, gue kesana! Share lokasi Lo ke gue"
"Oke siap"
Setelah mengirimkan lokasinya pada Andra. Darren segera menyimpan ponselnya.
"Gimana?"
"Dia bakalan ke sini, kita tunggu aja" ujar Darren.
.
.
.
Darren dan Aunia membantu membawakan barang-barang Aunia. Karna tempat yang di tinggali Aunia adalah gang sempit. Sehingga mobil Andra tak bisa memasukinya.
__ADS_1
Ketiganya harus berjalan hingga sampai di tempat mobil Andra berhenti.
Andra memasukkan barang-barang milik Aunia ke dalam bagasi mobilnya.
"Lo pulang sama kak Andra ya, gue masih nunggu Darren ngambil motor" ujar Aurel.
"Iya"
Setelah Aunia memasuki mobil. Andra melajukan mobilnya meninggalkan gang sempit tersebut.
Tak lama setelah mobil Andra pergi. Darren telah sampai dengan motornya.
"Ayo!" Ujar Darren memberikan helm pada Aurel.
Setelah menaiki motor, Darren melajukan motornya menuju Jakarta. Kota yang ditempati keduanya.
🐰🐰🐰
Sesampainya di Jakarta, Aurel Darren tiba lebih dulu di rumah. Keduanya langsung disambut oleh Aleta yang menunggunya pulang.
"Ma, kok mama duduk disini?" Tanya Aurel. Melihat Aleta yang duduk diluar pada malam hari dengan sebuah laptop membuatnya sedikit khawatir.
"Gak papa, mama nungguin kalian pulang, oh iya Aunia mana? Dia pulang sama kalian kan?" Tanya Aleta.
Aurel tersenyum sekilas, ia menggenggam tangan mamanya.
"Ma, bentar lagi Aunia sampai kok, mama tenang aja" ujar Aurel meyakinkan.
"Kayaknya mama terlalu gak sabaran ya?" Kekehnya.
"Gak papa ma, Lagian gak sabar ketemu anak sendiri gak di larang kok" kekeh Aurel.
Ditengah perbincangan keduanya, mobil Andra memasuki perkarangan rumah.
"Itu Aunia udah sampe" ujar Aurel.
Aleta terus menatap mobil Andra. Dengan cepat Aunia keluar dari mobil. Ia langsung memeluk mamanya dengan terisak.
"Ma maafin aku" isaknya di dalam pelukan Aleta.
"Mama gak pernah marah sama kamu" balas Aleta mengusap punggung Aunia.
Namun, Aunia masih setia memeluk Aleta dan terisak.
Aleta membiarkan nya menangis hingga puas. Ia rasa jika terus membiarkannya menumpahkan air mata maka beban yang di pikulnya akan sedikit berkurang.
"Udah nangisnya?" Tanya Aleta melepaskan rangkulannya.
Aunia tak menjawab, ia hanya mengangguk sembari mengelap sisa-sisa air matanya.
"Lama amat nih drama, kapan selesainya" kekeh Andra.
"Yaudah ndra, kita masuk aja! Biarin aja mama sama Aunia peluk-pelukan sampai pagi" ujarnya bercanda.
"Kamu cemburu ya?" Tanya Aleta dengan nada meledek.
"Gak tuh, siapa bilang" balas Aurel.
"Yaudah, kita masuk sekarang! Kalian pasti capek ya"
"Iya Tan, capek banget" ujar Darren. Tubuhnya memang sudah lelah sedari tadi. Tapi ia harus tetap mengikuti Aurel kemana pun ia pergi.
"Kalau gitu, Lo nginep sini aja, sekamar tuh sama Andra" ucap Aurel.
"Nah bener tuh, Andra gak keberatan kan?" Tanya Aleta.
"Gak kok tan" balas Andra, langsung memasuki kamar yang biasa ia gunakan.
"Darren, kamu ikut sama Andra sana!" Pinta Aleta.
"Iya tan"
"Mama juga istirahat!" Pinta Aunia.
"Iya nanti mama istirahat kok, kalian ke kamar aja!"
"Iya ma" balas keduanya.
__ADS_1