PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 15


__ADS_3

Andra tergesa-gesa menuju rumah sakit, ia sudah berusaha datang dengan cepat. Namun, sopir yang ia bawa tidak bisa diandalkan. Sopir itu terlalu takut, untuk melajukan mobil lebih kencang.


Pagi-pagi sekali saat Andra baru saja sampai Jakarta, ia telah menghubungi Aurel. Bertanya dimana Aleta dirawat, setelah mengetahui rumah sakit tempat Aleta dirawat ia segera menyuruh sopirnya untuk melajukan mobilnya menuju rumah sakit tersebut.


Andra memasuki ruangan yang telah disebutkan oleh Aurel. Dilihatnya Aurel dan Aleta yang sudah bersiap untuk pulang.


"Ndra, baru nyampe?" Tanya Aurel.


"Iya, Tante gimana keadaannya?" Tanya Andra.


"Gak papa ndra, udah baikan kok" balas Aleta.


"Iya ndra, sekarang mama udah di bolehin pulang sama dokter, makanya kita udah siap-siap buat pulang" ujar Aurel.


"Yaudah pake mobil aku aja" ucap Andra.


"Tapi ndra, gue bawa mobil" ucap Aurel, yang di balas pelototan dari Andra.


"Seriusan?!! Lo kan gak bisa bawa mobil"


"Ya gimana, keadaan genting yang gak bisa di bisahin aja lah" jawab Aurel sedikit ngawur ditelinga Andra.


"Trus mobilnya gak lecet kan?"


"Ihhh Andra Lo kok gitu sih? Yang Lo tanyain itu seharusnya gue kenapa malah mobilnya? Mobilnya lebih penting dari pada adik tercantik Lo ini" ucap Aurel dengan kepedean tingkat dewa.


"Hahaha, anak Tante PD nya ketinggian" ledek Andra. Aleta yang mendengar perdebatan Aurel dan Andra hanya terkekeh geli, ini bukan kali pertamanya keduanya berdebat perkara yang tidak penting. Aleta sudah sering melihat perdebatan keduanya sejak mereka masih kecil. Namun, Aleta tau keduanya saling menyayangi satu sama lain, dan Andra bisa diandalkan untuk menjaga Aurel putri nya semata wayang.


"Liat tuh ma, Andra ngeledekin aku lagi" adu Aurel.


"Tukang ngadu" ejek Andra.


"Maaa" rengek Aurel.


"Udah-udah, mama pusing nih kita pulang aja ya" ucap Aleta menengahi.


"Yok ndra, pulang sekarang!" Pinta Aurel.


"Ayo, Lo ikut mobil gue aja! Mobil Lo ntar gue suruh sopir yang bawa, lagian Lo kan gak punya SIM mau ditilang apa?" Ledek Andra.


"Tuh ma, dia mulai lagi" adu Aurel.


"Mama pusing liat kalian berantem Mulu" keluh Aleta.


"Kita gak berantem lagi kok tan"


Andra lebih memilih mengalah dari pada meladeni Aurel yang berakibat pada kesehatan Aleta itu akan lebih rumit.


Saat di mobil Aurel teringat akan teriakan Aleta.


"Ma, aku mau nanya boleh?" Tanya Aurel.


"Nanya apa?" Balas Aleta.


"Mama kenapa bisa pingsan dilantai?" Tanya Aurel, ia sudah penasaran dari semalam, namun melihat kondisi Aleta yang tak memungkinkan ia mengurungkan niatnya.


"Kejadian itu, Aurel gak boleh tau" batin Aleta.


"Ma, aku tanyain kok malah diam aja?"


"I-itu mama liat kecoak" ujar Aleta.


"Kecoak Tan?" Andra yang menyimak dari tadi tak habis pikir, Aleta hanya pingsan karena kecoak.

__ADS_1


"Iya ndra"


"Masa liat kecoak aja bisa pingsan ma?" Balas Aurel, ia merasa alasan yang diberikan Aleta tidak masuk akal sama sekali.


"Bisa aja rel, ketakutan yang berlebihan pada sesuatu gitu, mungkin aja Tante phobia sama kecoak" ujar Andra.


"Benar kata Andra rel" tambah Aleta. Aurel hanya manggut-manggut, ia kurang percaya dengan ucapan Aleta.


"Aku kira serangan jantung mama kumat lagi tau?" Ucap Aurel, ia sudah berfikir jika Aleta terkena serangan jantung. Saat dokter mengatakan Aleta hanya syok Aurel bisa bernafas dengan lega.


Aleta dan Andra terdiam oleh ucapan Aurel.


"Ah ngadi-ngadi Lo rel, ya kali serangan jantung Tante kumat lagi, kan udah dinyatain sembuh sama dokter" ucap Andra.


"Mama sehat kok rel kamu gak usah khawatir" ujar Aleta lembut.


"Iya ma, aku tau kok. Tapi kok kalian kayak panik gitu?" Tanya aurel, ia melihat gelagat aneh dari Andra dan Aleta. Terlihat dari cara bicaranya yang terdengar kaku.


"Ka-kaku gimana?" Tanya Andra.


Sebelum Aurel menjawab ucapan Andra, suara dering ponsel Aurel terdengar. Tertera nama Darren dari layar ponselnya.


"Halo" sapa Aurel.


"Rel Lo dimana? Kok gak ada di sekolah, tadi gue kerumah, tapi gak ada orang" tanya Darren.


"Gue dijalan"


"Dijalan? Udah jam berapa nih"


"Gue gak sekolah, gue baru aja pulang dari rumah sakit"


"Rumah sakit? Lo sakit apa? Kok gak ngabarin gue?" Terdengar pertanyaan beruntun dari Darren.


"Bukan gue yang sakit"


"Mama"


"Mama lo? Sakit apa?"


"Iya, gak sakit sih. Mama pingsan aja, katanya abis liat kecoak"


"Kecoak?"


"Iya, kalau kata Andra sih. Mama tuh phobia sama kecoak makanya sampai pingsan"


"Yaudah, bel udah bunyi, gue tutup dulu ya" ucap Darren.


.


.


.


Setelah sampai dirumah Aurel memapah Aleta menuju kamarnya. Ia membantu Aleta berbaring.


"Ma, kalau ada apa-apa kabarin aku ya" ujar Aurel.


"Iya"


"Aurel keluar dulu, mama istirahat aja"


Aurel segera menemui Andra yang berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Ndra" rengek Aurel.


"Kenapa? Kayak bocah Lo, ngerengek Mulu"


"Gue bingung tau gak?"


"Gak"


"Ihhh Andra gue belum ngomong" Aurel mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah apa?"


"Besok kan kita mau ke Bandung, tapi kalau kayak gini, gimana perginya? Lo liat sendiri kan keadaan mama"


"Ya trus?"


"Gue gak mungkin ninggalin mama, apalagi kondisinya lagi gak baik-baik aja. Walaupun mama bilang dia cuman pingsan karena kecoak, tapi hati kecil gue yakin, mama lagi bohong sama gue. Mama gak mungkin pingsan cuman karna kecoak"


"Benar juga, kenapa gue gak kepikiran ya?"


"Ya karna otak gue lebih pintar dari Lo"


"Gak usah ngawur deh"


"Iya-iya, trus gimana?"


"Ah gue tau, gimana kalau gue suruh aja nyokap gue nginap sini. Tante pasti senang kan kalau ketemu mama gue" usul Andra.


"Boleh tuh, tumben otak Lo encer?"


"Otak gue mah encer selalu, Lo aja yang kadar kegoblokannya melewati batas normal"


"Gelut yok ndra, kesel gue dari tadi liat Lo"


"Ayok, siapa takut" Andra mengambil ancang-ancang begitu pun dengan Aurel.


"Hiiiiyaaa" pekik Andra dan Aurel.


"Batu gunting kertas" ucap keduanya.


"Yeyyy gue menang" sorak Aurel.


"Curang Lo!"


"Siapa yang curang, wlekk" cibir Aurel.


"Jangan lupa, camilan kesukaan gue satu dus" pinta Aurel.


"Banyak amat"


"Kan emang gitu peraturannya, siapa yang kalah harus nurutin kemauan yang menang"


Permainan batu gunting kertas adalah permainan yang sering dimainkan keduanya sedari kecil. Mereka juga membuat permainannya lebih menarik, permainannya akan dilakukan jika keduanya tengah berdebat dan tidak menemukan jalan tengah. Peraturannya jika permainan tersebut dimenangkan oleh salah satu dari mereka maka kemauannya harus dituruti apapun itu.


"Iya ntar gue beliin" ucap Andra dengan nada kesal.


"Nah gitu dong, ini baru Abang gue" gurau Aurel.


.


.


.

__ADS_1


.


Thanks udah baca :)


__ADS_2