PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 36


__ADS_3

Sinar matahari pagi mulai menembus tirai-tirai jendela. Dua gadis kembar yang masih tertidur mulai menggeliatkan badannya yang terasa pegal karna tidur di sofa. Aurel mulai membuka matanya perlahan, panca inderanya kembali melihat nuansa putih rumah sakit. Aleta yang masih tertidur kembali ia lihat, sorot matanya kembali sayu saat melihat tubuh mamanya yang terbaring lemah.


"Mama bangun yah, gak kangen apa sama aku dan aunia" batinnya.


Terlalu asyik memperhatikan Aleta yang masih tertidur, Aurel tak sengaja melihat aunia yang juga menatap Aleta dengan tatapan sendunya. Aurel menghampiri Aunia dan menyentuh bahunya.


"Tenang aja, mama pasti bangun kok" hibur Aurel pada aunia, namun tanpa sadar pun ia menghibur dirinya sendiri agar kuat menerima kenyataan apa yang akan ia dapatkan kedepannya.


"Aku takut, mama bakal pergi dan aku gak akan pernah ketemu mama lagi" ujarnya sendu.


"Hush, gak boleh ngomong gitu, kita cuma punya mama, mama tau itu, dia gak mungkin ninggalin kita, liat aja ntar mama pasti bangun" ujar Aurel optimis.


"Aku harap gitu" balas aunia.


"Gue cuci muka dulu, jagain mama bentar" pinta Aurel.


"Iya"


Aurel keluar dari kamar mandi dengan muka basahnya, ia mengelap wajahnya dengan tisu.


"Gimana tugas kamu? udah selesai?" tanya aunia.


"Udah" singkat Aurel, ia kembali mengelap wajahnya yang basah dengan tisu.


Saat Aurel ingin membuang sampah tisunya ke tong sampah, tak sengaja ia melirik jari-jari Aleta yang mulai bergerak. Aurel mencoba memastikan jika penglihatannya tidaklah salah. Dan benar saja, jari Aleta benar-benar bergerak. Saking senangnya kondisi Aleta ada perkembangan Aurel langsung memanggil dokter yang menangani mamanya.


"Dok!!" teriak Aurel mencari sang dokter.


"Dokter!! mama saya tangannya gerak" ujar Aurel saat ia menemukan sang dokter tengah berjalan menuju ruang rawat mamanya.


"Biar saya periksa dulu" ujar sang dokter, Aurel mengangguk cepat dan mengikuti dokter tersebut dari belakang.


"Kondisi pasien sudah mulai membaik, seperti dia akan segera siuman, kalian tunggu saja" ujar sang dokter dengan senyum ramahnya, setelah ia selesai memeriksa Aleta.


Setelah kepergian sang dokter, aunia dan Aurel saling tatap, keduanya tersenyum yang menyiratkan betapa bersyukurnya mereka pada Tuhan karna telah memberikan kesembuhan pada mama mereka.


"Udah pukul satu siang, kita belum makan, gue beli makanan dulu" ujar Aurel.


"Iya" singkat aunia.


Aurel segera menuju kantin untuk membeli makanan untuknya dan aunia. Selesai membeli makanan, Aurel langsung kembali ke ruang rawat Aleta. Namun sebelum sampai di ruang rawat Aurel melihat gio yang juga ingin memasuki ruang rawat Aleta.

__ADS_1


"Papa!!" panggil Aurel setengah berteriak. Gio yang tadinya hendak membuka pintu pun tak jadi, karna panggilan Aurel.


Aurel sedikit berlari menghampiri gio, dengan amarah yang masih menggebu-gebu.


"Papa ngapain disini?!" sarkas Aurel.


"Papa minta maaf Aurel, papa tau papa salah, tapi apa gak ada kesempatan kedua untuk papa?" tanya gio serak.


"Gak ada pa"


"Papa mohon rel, apa kamu gak inget betapa senang nya kamu waktu papa pulang kerja, dan betapa sedihnya kamu karna papa jarang pulang, kamu anak kesayangan papa, kamu gak akan mungkin bisa benci sama papa kan?" ujar gio, ia teringat bagaimana indahnya kehidupan yang pernah dilalui ia dan Aurel dahulu. Sebelum semuanya hancur akibat perbuatan kotornya.


"Iya aku ingat kok pa, tapi itu udah berlalu, semenjak aku tau kalau papa ternyata sekejam itu, aku nyesal pernah punya papa seperti anda" ujar Aurel berlalu meninggalkan gio yang terpaku dengan ucapannya.


.


.


.


Keesokkan harinya...


Aurel terbangun tatkala sofa tempat ia tidur lama kelamaan terasa menyiksa, seluruh tubuhnya menjadi sakit akibat terlalu sering tidur di sofa.


"Aurel" panggilan itu, panggilan yang beberapa hari ini tak lagi ia dengar.


"Mama" serunya menghampiri Aleta yang masih terbaring diatas brankar.


"Mama udah bangun?" tanya Aurel haru, ia tak menyangka wanita paru baya yang beberapa hari ini tak lagi menasehatinya sekarang bangun dari tidur panjangnya. Senyumnya masih hangat seperti biasanya, Aurel sangat bersyukur ternyata harapan dan doanya terkabulkan.


"Ma, Aurel kangen" lirihnya memeluk sang mama.


"Mama juga kok" ujar Aleta, ia mengusap punggung Aurel dengan tangan yang dipasangkan selang infus.


"Liat deh ma, aunia juga nungguin mama disini" ujar Aurel, terlihat aunia yang masih tertidur di sofa dengan lelapnya.


"Makasih yah udah mau nungguin mama, mama senang kalian masih peduli sama mama" ujar Aleta.


"Mama ngomong apa sih, pasti kita nungguin mama, gak mungkin lah Aurel sama Aunia ninggalin mama dalam kondisi mama kayak gini" balasnya.


"Ma, aku panggil dokter dulu ya, buat periksa mama" ujar Aurel. Aleta mengangguk mengiyakan ucapan Aurel. Sebelum memanggil dokter Aurel terlebih dahulu membangunkan Aunia yang tidur di sofa.

__ADS_1


"Aunia, bangun!" ujar Aurel menepuk pipi aunia, sekali tepukan lembut dari Aurel sudah mampu membangunkan Aunia dari tidurnya yang tipis itu.


"Kenapa rel?" tanya aunia sembari menggosok-gosok matanya yang masih ngeblur.


"Mama udah sadar, gue mau manggil dokter dulu, jagain mama yah!" pinta Aurel.


"Mama udah sadar?" ujar Aunia mengulangi ucapan Aurel.


"Iya" mendengar jawaban Aurel, Aunia segera menghampiri Aleta yang masih terbaring dibrankar.


"Mama" pekiknya menghampiri Aleta. Sementara Aunia asyik berbicara dengan mamanya, Aurel segera memanggil dokter untuk memeriksa Aleta.


"Kondisinya pulih dengan cepat, sepertinya ibu punya semangat untuk sembuh yang sangat besar" puji sang dokter pada Aleta, setelah ia selesai memeriksa tubuh Aleta.


"Tentu dok, sayang punya anak kembar yang selalu setia mendampingi saya, bagaimana bisa saya tega selalu menyiksa mereka tidur di sofa karna menunggui saya" kekehnya dengan suara lemah dan serak.


"Ibu beruntung sekali" ujar sang dokter. Setelah selesai memeriksa tubuh Aleta, dokter tersebut pamit dan meninggalkan ruang rawat Aleta.


"Ma aku senang deh, mama cepat sadar, biar kita cepat pulang" ujar Aurel.


"Iya sayang"


Beberapa hari setelah Aleta sadar dari tidur panjangnya, kondisi tubuh Aleta membaik dengan cepat. Sehingga sang dokter telah memperbolehkannya untuk pulang. Aurel mengemasi semua barang-barang yang telah mereka bawa kerumah sakit. Kemudian Aurel, Aunia dan Aleta meninggalkan rumah sakit setelah selesai membayar biaya administrasi Aleta selama dirawat disini.


Sesampainya dirumah Aleta di papah oleh Aurel dan aunia menuju kamar.


"Mama istirahat dulu yah, kan baru pulih gak boleh banyak gerak" ujar Aunia.


"Iya, mama pasti patuh kok sama kalian" kekehnya.


"Aku ambilin makanan buat mama yah, habis itu minum obat" ucap Aurel. Aurel segera mengambilkan makanan untuk Aleta dan Aunia ia menemani mamanya dikamar, sembari menceritakan banyak hal yang pernah ia alami sebelum ia bertemu dengan Aleta.


.


.


.


Thanks udah baca :)


Segini dulu yah, see you di part selanjutnya..

__ADS_1


Jangan lupa like, and coment nya..


__ADS_2