
Drt.... drt....drt....drt...drt....
Aku melihat nama Dicta muncul di layar, dengan segera aku menepikan mobilku.
"Ya Halo.......
"Gab, lu brapa lama lagi sampe?
"10 menit lagi kira kira Dict!"
Segera kumatikan HP dan kembali menjalankan mobilku. Dalam hati sebenernya penasaran juga kenapa Dicta seperti tergesa - gesa menyuruhku ke apartementnya.
Aku kembali fokus karena memang jarak ke apartement Dicta tinggal sedikit lagi. Setelah memarkirkan mobilku di basement, aku bergegas masuk lift menuju kamar 601 milik Dicta.
Ting Tong...... Ting Tong...... Ting Tong.....
Tak lama muncullah wajah cantik sahabat sekaligus saudara sepupuku itu, mempersilahkan aku masuk.
"Dict ada apaan si urgent bgt kayaknya gue kudu ksini?" keluhku karena memang tari aku sedang dalam mode malas saat spupuku ini menyuruhku datang.
Dicta diam sejenak tidak langsung menjawab pertanyaanku, dari ekspresinya aku justru menangkap keraguan.
"Gab, ehm... gue boleh tanya ga?
Aku menatap matanya dan sedikit mengangguk tanda mengijinkan dia bertanya.
"Hubungan lu sama Alva gimana sekarang?" tanyanya.
"Kenapa emangnya say?" tanyaku balik dengan tatapan menyelidik.
Aku sedikit merasa aneh sebab Dicta adalah orang kedua yang mempertanyakan hubunganku dengan Alvaro, setelah kemarin Maria juga bertanya hal yang sama.
__ADS_1
Aku melihat Dicta diam menghela nafas kemudian membuka HP dan memberikannya padaku. Aku melotot kaget melihat foto Alva dan Nadine berciuman. Dadaku terasa sesak sangat sesak tapi anehnya aku tidak menangis. Nyeri yang hebat melanda kepalaku.
Aku berusaha tenang mengendalikan amarahku, kupejamkan mata dan mengurut kepalaku yang terasa berdenyut. Dalam kamusku kesetiaan adalah modal utama dalam berhubungan, tidak akan ada yang namanya PELAKOR kalau setiap pasangan mampu setia menjaga hatinya.
"Gab, itu foto gue ambil 1jam yg lalu saat mereka keluar dari lift."
Aku paham maksud Dicta, brati kejadiannya blm lama dan kmungkinan mereka masih bersama, karena Alva memang tinggal di Apartement yang sama dengan Dicta.
Tanpa aba aba, aku bergegas keluar dr kamar Dicta menuju ke lantai 7 dimana kamar Alva berada. Dicta mengikutiku sambil tangannya tak lepas menggenggamku seolah memberiku kekuatan.
Sesampainya kami di depan pintu kamar Alva, segera kumasukkan password yang aku tau karena memang selama 3th kami berhubungan, aku punya akses bebas kluar masuk apartement Alva.
Pintu terbuka, aku segera masuk dan mendapati 3 rekan satu band Alva teler di ruang tamu. Aku dan Dicta kmudian masuk menuju kamar tidur, kami berasumsi Alva ada di dalam kamarnya.
Ceklek........
Betapa shocknya aku dan Dicta mendapati sepasang manusia beda kelamin dengan tubuh tanpa sehelai benangpun sedang menyatu dalam gairah.
Tak ada tangis yang keluar dariku, hanya ada amarah yang berkobar di mataku. Aku terus menarik nafas dalam untuk mengontrol emosiku. Gaby tidak boleh sampe lepas kontrol, gue harus tegar dan meluruskan semua. Dicta yang duduk di sandaran sofa trus menerus memijit bahuku membantu menetralkan sesakku.
Alva yang telah berpakaian kmudian bersimpuh didepanku meraih tanganku dan mengucapkan kata maaf berulang ulang. Sedangkan Nadine bergegas keluar dari kamar itu entah pergi kemana.
Disatu sisi aku masih diam menetralkan emosiku, sampai akhirnya aku meminta waktu untuk bicara berdua dengan Alva.
"Dict sorry bisa tunggu gue di luar?"
Dicta beranjak dari duduknya "Take care ya Gab, gue kluar dulu." pamitnya sambil menutup pintu kamar.
"Yank, please maafin aku, maafin kekhilafanku!" Alva memecah kebisuan di antara kami. Alva menangis memohon maaf, aku masih diam karena bayangan persetubuhan mereka tadi masih bersliweran di kepalaku, sangat menjijikan.
Alva masih terus memohon maaf dan membenamkan kepalanya dipangkuanku. Selama 3th hubunganku dengannya, Alva selalu baik dan akupun merasakan ketulusannya. Dia selalu menjagaku, menghormati prinsipku "no sex before married". Kalau sampe kejadian yang terjadi hari ini berarti adalah masalah yang aku terlambat ketahui.
__ADS_1
Aku sangat percaya bahwa dalam hubungan pacaran maka saat ada kegagalan maka kesalahan ada di 2 belah pihak, maka dari itu aku ingin mendengar dari Alava sendiri mengapa sampe terjerat oleh Nadine. Yah Nadine yang seorang Model terkenal dengan sensasi negatif dibanding prestasinya.
"Yank, please pukul aku, maki aku, jangan diem aja. Aku pantes kamu maki-maki karena udah jadi pengkhianat dalam hubungan kita."
Alih alih memaki atau memukul, tanganku spontan malah mengelus kepala Alva. Kalian mungkin akan mencercaku wanita bodoh, tapi inilah dorongan hatiku saat melihat Alva dengan penyesalannya.
"Aku mau denger penjelasan tentang ini semua Alva!" tuntutku dengan tangan yang masih saja mengelus rambut pirang halusnya Alva. Setelah cukup lama saling berdiam, kemudian Alva mengangkat wajahnya dan menatapku sebagai tanda bahwa dia siap menjelaskan.
Minggu lalu tepatnya saat band Alva perform, rupanya bersama dengan Nadine yang menjadi model juga diacara tersebut. Setelah acara Nadine terus berusaha mendekatkan diri pada Alva. Dari meminta nomer HP kemudian terus menerus mengirimkan pesan dan mengajak Alva bertemu.
Kebetulan dalam satu minggu itu, aku juga sibuk karena jadwal jaga IGD shift malam terus. Karena sama sama sibuk, kami tidak berkomunikasi dengan benar, maka aksi Nadine yang sangat gencar meruntuhkan benteng Alva.
"Yank, dia menjebakku dengan memasukkan afrodisc ke minumanku maka terjadilah persetubuhan antara aku dan Nadine."
"Dia membuat video saat kami berhubungan dan selalu mengancamku akan menyebarkan video itu apabila aku tidak merespons keinginannya atas tubuhku."
Aku tercengang mendengar pengakuan Alvaro, segila itukah nadine sampai melakukan hal-hal menjijikan demi menikmati obsesinya atas Alva. Aku sangat percaya cerita Alva karena memang Nadine sudah sangat terkenal reputasi buruknya.
"Yank, please maafin aku, jangan tinggalin aku!" pinta Alva
"Alv, kamu tau kan selama ini apa yang jadi prinsipku selama kita menjalin hubungan? Kamu juga tahu kan traumaku terhadap ketidaksetiaan, kebencianku terhadap pengkhianatan?"
"Yank, kasih aku kesempatan sekali aja buat nebus smua kesalahanku. Aku masih sangat mencintaimu, hatiku tetap sama kamu yank, please!"
"Alv, akupun sampai saat ini masih mencintai kamu, tapi maaf bayangan kejadian tadi ga bisa aku hilangkan, sangat melukaiku, bekasnya dalam Alv. Untuk kedepannya kamu harus lebih hati-hati menjaga diri kamu, agar tidak mudah dimanfaatkan orang jahat Alv.
Aku merengkuh wajah Alva, kekasih yang perdetik ini hanya akan menjadi ex seorang Gabrielle alias MANTAN!!!
"Alv semoga kamu tetap dan terus bahagia walau tanpa aku!" kataku sambil melepaskan dekapanku padanya. Aku segera berlari keluar kamar karena sudah tidak tahan lagi menahan air mataku yang membuat dadaku seakan mau meledak.
"Yank.....please yank....., triak Alva frustrasi sambil berusaha mencegahku kluar dari apartment nya, tapi sekuat tenaga aku hempaskan dia.
__ADS_1
************* To be Continued ************