
Dicta :
Woi lagi ngapain si kalian gempa nih di lantai satu 🤣🤣🤣🤣 buruan turun makanan pesenan lu udah dateng.
Gaby :
Iye bentar pake baju dulu gue
Dicta :
Hah udah dikamar hampir dua jam belum pakai baju lu? ckckckckck amazing.
Ga lecet ituh kalau selama ituh?
Wakakakaka dasar Dicta pertanyaannya ngena banget. Stanley melirikku matanya seolah bertanya siapa , "Dicta nih kasih tau kita suruh cepet turun Hon makanan udah siap katanya, yang kamu pesen juga udah dateng."
Gaby :
Yah.... maklum Dict ritualnya banyak jadi lama. Gue otw ke bawah ya
Aku tertawa dalam hati sengaja menjawab dengan kalimat ambigu biar dia makin penasaran dan berimajinasi sendiri.
Makan malam berlangsung dengan tertib dan khidmat pasalnya kami berempat udah sangat kelaparan, rendang, sambel ijo, sayur nangka, rebusan daun singkong, dan beberapa macam sushi lenyap dengan segera dalam lorong usus kami.
Masih ada dessert leicy puding with choco fla yang mana flanya dikasih sedikit rhum, ehm.... bener bener menggoda selera. Heran ternyata disaat kelaparan manusia bisa sedikit bertindak sopan yaitu makan dengan tenang tak secuilpun candaan menyelipi acara makan kami.
"Gab, kita mau nginep sini ya males pulang gue." kata Dicta memecah keheningan setelah kami semua selesai dinner.
Aku mengangguk dan tersenyum jahil, mengerlingkan mata pada Dicta "Bolehlah Dict, gue juga pengen ngobrol ama lu udah lama kan kita ga tidur bareng. Nanti biar Sammy tidur di kamar atas, gue ama lu dibawah ya. Kan kata orang tua pamali bawa cewek lain nginep di kamar suami istri nah kali kalau yang dibawa cowok lain kan aman ga papa."
Terlihat Dicta menahan tawa melihat tatapan membunuh dari Stanley. Sammy yang paham kejahilan kami ikut menahan tawa.
"Dicta jangan gila deh, lu nyabotase istri gue. Gak gak udah sana kalian balik aja, gue takut tidur ama Sammy!" protes Stanley tak setuju.
"Heh lu muna banget Stan, udah sering tidur bareng gue juga lu sok sokan ga mau. Gue juga kangen ama lu, udah lama ga ngobrol yang ada tiap ketemu omongannya urusan kantor mulu." balas Sammy ikutan jahilin Stanley.
Stanley menatapku dengan mata sendu, "Kamu serius yank mau tidur sama Dicta? Kita baru nikah lho yank, baru mau dua minggu jadi suami isteri masa udah pisah ranjang? Aku ga bakal bisa tidur kalau sama Sammy."
"Justru itu mumpung masih baru aku minta free satu hari aja cuti tidur sama kamu yaa Hon, aku kangen banget ama Dicta pengen ngobrolin rahasia cewek. Sammy aja bisa kasih cuti lama buatku masa kami kumintain sehari aja nolak?" jawabku dengan matinmatian mempertahankan diri supaya tak meledak tawaku.
"Hah? Mana ada si cuti tidur sama suami, gak gak aku gak mau. Kamu boleh ngobrol sama Dicta sampe jam brapapun asal pulang ke kamarku ga pake nginep di kamar dia!" tegasnya tapi sambil menyeretku naik ke atas diiringi tawa membahana Dicta dan Sammy.
Aku mengikuti langkah suamiku sebelum naik tangga kukerlingkan mata ke arah Dicta dan Sammy yang masih tertawa melihat tingkah kekanakan Stanley.
__ADS_1
Lama kelamaan cengkeraman Stan ditanganku makin kuat, aku sedikit meringis merasakan sedikit perih dipergelangan tanganku, "Hon, lepasin tanganku sakit!"
Stanley tidak menggubrisku, dia terus menarik tanganku tetapi cengkeramannya sedikit mengendor. Sesampainya di kamar, dia mendudukanku disofa, mengecek pergelangan tanganku.
"Yank, maaf aku terlalu keras ya narik tangan kamu. Abis aku kesel masa iya kamu mau tidur ama Dicta sih ga lucu ah becandanya." katanya dengan kesal tapi justru makin imut dipandang.
Aku diam mengulum senyum menatapnya terus menerus hingga membuatnya jengah. "Apa si yank liatin terus? Ada yang aneh ya? Apa aku makin ganteng gituh?" tanyanya sambil bercermin memeriksa dirinya sendiri.
Hahahaha, akhirnya tawaku meledak juga, "Hon, kamu tu kenapa si seharian kayaknya sensitive banget lho dikit dikit ngambek. Kayaknya yang bentar lagi menstruasi kan aku kenapa kamu yang sensitive si?"
"Tadi pagi juga kamu aksi ngambek trus pas Sammy ngeledekin di telpon kamu langsung ngambek juga. Barusan kami ledekin juga ngambek. Ada apa si cerita dong?"
------------------------
*Stanley POV*
"Hah? Mana ada si cuti tidur sama suami, gak gak aku gak mau. Kamu boleh ngobrol sama Dicta sampe jam brapapun asal pulang ke kamarku ga pake nginep di kamar dia!" teriakku sambil menyeret Gaby naik ke atas diiringi tawa membahana Dicta dan Sammy.
"Hon, lepasin tanganku sakit!" ujar Gaby sedikit merintih karena tanpa sadar aku mencengkeram tangannya kuat.
Aku tidak menggubris permintaannya, terus kutarik tangannya tapi cengkeramanku sedikit kukendorkan agar pergelangan ya tidak lecet. Sesampainya di kamar, Aku mendudukkan Gaby disofa dan segera mengecek tangannya yang memerah.
Aku sungguh merasa sangat bersalah Dan menyesal sudah bertindak kasar, "Yank, maaf aku terlalu keras ya narik tangan kamu. Abis aku kesel masa iya kamu mau tidur ama Dicta sih ga lucu ah becandanya."
Aku segera mengecek kondisi tubuhku di cermin, perasaan ga da yang aneh. Tapi kenapa istriku menatapku sampe segitunya ya.
Tiba tiba Gaby tertawa terbahak bahak, "Hon, kamu tu kenapa si seharian kayaknya sensitive banget lho dikit dikit ngambek. Kayaknya yang bentar lagi menstruasi kan aku kenapa kamu yang sensitive sih?"
"Tadi pagi juga kamu aksi ngambek trus pas Sammy ngeledekin di telpon kamu langsung ngambek juga. Barusan kami ledekin juga ngambek. Ada apa si cerita dong?"
Aku menghela nafas panjang, aku jujur juga ga tau kenapa jadi sensitive, yah mungkin karena sebuah foto yang dikirim orang tak dikenal padaku dan juga telepon gelap yang diterima Gaby yang belum kuketahui sampai saat ini.
Kuambil ponselku dan memberikannya pada isteriku, "Lihat ini yank!"
Ada 3 fotoku dan Arizka yang entah bagaimana terlihat seperti memiliki hubungan dekat. Padahal sebenarnya ini adalah kejadian dia tiba tiba muncul di kantorku, saat itu kami berdebat dan bahkan aku mengusirnya tetapi entah bagaimana anggel yang diambil justru seperti kami memiliki kedekatan intim.
Foto pertama di Loby saat dia berusaha menggandengku tetapi aku tepis, ternyata foto ini justru terlihat kami bergandengan mesra menuju lift.
Foto kedua saat memasuki lift dan lagi lagi dia mencoba lebih dakat denganku tetapi kutepis kembali dan justru tergambar seolah dia masuk lift sambil badannya bersender di tubuhku.
Dan ketiga saat dia menyerang diruang meeting dan aku menolak tetapi yang tergambar justru seperti dia akan menaiki tubuhku.
Kulihat mata Gaby melotot dan nafasnya terdengar lebih cepat karena terdengar kasar. Aku memeluknya, sangat kesal rasanya disaat kami baru menikah malah pengganggu datang.
__ADS_1
"Hon, ini ga seperti yang terlihat kan? Atau.....
"Gak yank, sumpah aku bukan lelaki seperti itu, bahkan aku sudah menceritakan pertemuanku dengannya jauh hari kemarin kan? Sepertinya dia memang sengaja ingin menjebakku jadi membawa fotographer secara diam diam. Atau justru ada orang kantorku yang berkhianat mengambil foto kami dari anggel yang pas."
Aku sungguh tidak tenang karena reaksi istriku terlalu ambigu sulit ditebak. Nomer yang mengirim foto itu juga tidak memberi ancaman atau apapun membuatku sulit menentukan langkah.
"Hon, semua tempat di kantormu yang jadi setting foto ini apakah ada CCTV? Kalau ada segera kamu kumpulin kita berjaga jaga jika sipengancam mulai menebar aksi maka kamu sudah bisa mengcounter."
Aku tertegun sejenak menatapnya, what..... ternyata malaikat tak bersayap emang ada ya, dan aku yang beruntung mendapatkannya.
"Hon, kok malah melototin aku gitu? Atau jangan jangan ......foto foto ini memang......
"Gak yank, gak gak foto itu ga bener, aku ga pernah beradegan begitu sama dia, tapi aku akui memang dia sempat menyerangku saat di ruangan tapi aku tepis dan ada security yang bisa jadi saksi." jelasku sedikit menggebu takut istriku ini berubah pikiran.
Hihihihi, Gaby tertawa lepas melihatku yang ketakutan tidak dipercaya. Sesaat badanku terasa lemas, aku memeluknya dengan erat, seolah menyedot energi darinya.
"Jangan gerak dulu yank, aku mendadak lemas butuh energi lebih yank." kataku saat Gaby ingin melepaskan diri.
Kurasakan dia membalas pelukanku erat, "Ambil energi dariku sebanyak banyaknya Hon, anggep aja aku chargeran Hape."
Aku tertawa mendengar candaannya, dan kubisikan sesuatu, "Yank tapi yang dibawah juga jadi keisi nih butuh penyaluran, gimana donk."
Tubuhnya langsung menegang, "Hah gak mau Hon, gak sekarang, kan kamu janji aku boleh ngobrol sama Dicta. Please kasih cuti dua jam aja yah, kasih free time buatku, please!"
Aku tertawa mengusak usak rambutnya untuk kemudian melepasnya, "Oke, dua jam ya kalau dalam dua jam belum kelar brati kamu harus kasih aku bonus, ehm.... dua ronde aja cukup."
"Hah...... tadi kan udah Hon?"
"Dua ronde atau ga usah ngobrol sekalian?"
"Iya iya iya oke, oke aku nurut." kata Gaby seraya berlari keluar kamar.
Aku tertawa sendiri melihat tingkah Gaby melarikan diri, hatiku rasanya lega karena sudah jujur pada isteriku. Bagaimanapun isteri adalah salah satu pilar kekuatan dalam rumah tangga, maka aku tak ingin menyembunyikan masalah sekecil apapun darinya. Dari masalah kecil terkadang bisa menjadi bom waktu datangnya masalah besar yang bahkan bisa menghancurkan rumah tanggaku.
----------------------------
Stanley bisa ngambekan juga ya ternyata hehehe. Tahan Stan jangan diforsir tu isteri kasian hahaha, masa ngobrol dua jam kudu ganti dua ronde, ga kebayang emak emak kalau udah ngerumpi bisa berjam jam. Nah berapa ronde tu Gaby utangnya wakakaka.
Waow abis manis manis muncul kerikil dikit ya, siapa ya pengirim foto foto itu, apa benar Arizka atau...........
Temukan jawabannya di next episode ya readers, masih setia kan???
Kalau pilar kekuatan Stanley itu Gaby maka pilarnya author ya para readers semua tentu saja, maka biar Thornya makin kuat makin semangat cuz ya kasih Like Vote comments and Rate Bintang 5 ya jangan lupa. Thank You 😘🙏
__ADS_1