
*Stanley POV*
"Ya Halo Alv......., ya boleh main aja kesini. Kantor Saputra Group ya bro, lantai Lima."
"Gue bawa Arizka ya Stan, dia mau ngomong sesuatu sama lu. Is that Okay?" tanya Alva meminta ijin mempertemukanku dengan Arizka.
"Sure, that's okay talk to her properly, to be honest selama dia mulai menekan gue sampe menikah kami ga pernah ngobrol dengan baik. So I think this is the right time!"
Setelah kami mengakhiri sambungan telepon, aku kembali memikirkan nomer nomer asing yang hari ini kembali mengirim kalimat kalimat menyakitkan buat Gaby dan seperti biasa isteriku hanya mengabaikan karena merasa tidak terancam.
Sebaliknya aku merasa cemas justru karena belum terlihat benang merah antara foto yang Iqbal kirim ke ponselku dan ancaman no name di ponsel Gaby apakah berkaitan atau tidak. Jika lawan bermain main terlalu halus begini justru berbahaya karena kita bisa terlena.
Jika Alva membawa Arizka karena ingin bicara denganku maka tentu dia tidak terlibat, lalu Iqbal bekerja sendiri atau untuk siapa lagi? Sedangkan untuk bertanya langsung pada Iqbal sangat tidak mungkin, mana Ada maling mau ngakukan?
--------------------------
Tok...... Tok...... Tok.....
"Ya masuk!" seruku karena ada ketokan di pintu ruanganku.
"Maaf Pak, saya mengantar tamu bapak." kata sekretaris papi sambil mempersilahkan Alva dan Arizka duduk di sofa yang tersedia diruang kerjaku.
"Makasih Elda, tolong minta OB pesenin makan siang buat kami ya."
Aku menatap Alva dan Arizka yang saling pandang seolah masing masing menyuruh membuka percakapan. Berasa kepala sekolah ngadepin dua murid badung, apa mukaku semenakutkan itu sampai ga da yang berani buka suara.
"Eehem .. deheem.... jadi kalian mau saling tatap sampai kapan? Ga jadi ada yang dibicarain sama gue?"
Terlihat Alva memelototkan mata pada Arizka menuruhnya segera angkat suara.
"Eh... ehm... Stan, gue minta maaf atas semua yang gue lakuin dulu, gue bener bener menyesal, cuma karena rasa penasaran gue, bikin lu ama Gaby terpisah bertahun tahun." katanya terpatah patah.
"Oke gue maafin, lagian gue juga sbenernya mau berterima kasih sama lu karena udah melepaskan gue dari ikatan pernikahan yang ga pernah gue inginkan."
"Gue minta sama lu jangan ganggu kami, Gaby mungkin akan bersikap lunak saat diganggu tapi gue ga bakal tinggal diam." ancamku pada Arizka.
"Gak Stan, gue janji ga bakal ganggu Gaby, gue sadar sekarang seberusaha apapun gue dapetin lu ujungnya cuma dapet kebencian yang makin besar dari lu."
"Alva udah nyadarin gue, bahwa bukan Cinta yang gue punya tapi cuma obsesi kosong semata. Gue juga mau benerin hidup gue, memulai semuanya dengan benar."
"Gue tahu ini pasti bakal sulit dipercaya tapi gue tulus Stan, gue mau berubah. Kalau boleh gue juga mau jadi temen Gaby, selama ini gue ga pernah punya temen yang baik, semua temenan ama gue cuma karena duit gue aja."
Ceklek......... aku kaget karena ruanganku terbuka dan muncul wajah manis yang kurindukan. Aku segera berdiri dan menghampirinya, kukecup dahinya, kurengkuh pinggangnya dan mengajaknya duduk di sofa.
Gaby tampak kaget karena tak menyangka sedang ada tamu, tapi dia tidak malu akan perlakuanku, bahkan membalas ciumanku dengan mengecup pipi kiri dan kananku.
Aku ajak Gaby duduk disebelahku berhadapan dengan Arizka dan Alva. Gaby terlihat sedikit canggung menghadapi tatapan dari kedua tamuku ini, Alva dengan sorot mata masih cinta dan Arizka dengan sorot mata menilai. Kurangkul pinggangnya simbol perlindungan dariku supaya dia percaya diri menghadapi Arizka.
"Sorry ya Hon, aku ga tau ada Alva dan.....
"Halo Gab, apa kabar, lu masih inget gue kan? Congrats ya akhir kamu resmi jadi nyonya muda Zein." kata Arizka pada Gaby yang terlihat tulus.
"Eh, iya Arizka, gue inget kok. Lu Kan mantan isteri Stanley."
Seketika, aku melototkan mataku padanya, "Kami kan batal nikah yank, jadi bukan mantan isteri dong ya!"
Gaby menatapku nyengir, "Eh iya maaf Hon."
"So mumpung ada Gaby disini, gue mau nanya apa tujuan lu nyuruh orang foto fotoin kita waktu lu nyamperin gue di kantor? Pose pose di foto itu ambigu banget, untung Gaby tipe rasional jadi ga asal ngamuk liat foto foto itu."
__ADS_1
Kulihat wajah bingung Arizka, dia melirik Alva meminta pencerahan, dalam hati aku yakin berarti Iqbal bukan kaki tangan Arizka.
"Jadi ada orang yang kirim foto foto kamu sama Stanley waktu di kantor kemarin, fotonya seolah olah kalian sangat intim. Sekarang kamu jujur aja apa emang kamu yang suruh orang untuk foto dan mengancam menggunakan foto itu?"
Arizka menggelengkan kepalanya dengan sorot bingung, "Sungguh Alv aku ga lakuin itu, ga suruh orang buat fotoin aku dan Stanley. Hari itu aku datang emang karena penasaran aja dan berusaha merayu Stanley supaya mau kembali padaku. Tapi dia menolakku dengan kasar, setelahnya aku pergi dari kantornya dan tak melakukan apa yang kalian bicarakan tadi."
"Sungguh aku tidak melakukan pengancaman atau apapun yang kau tuduhkan tadi Alv. Aku tahu sekalinya aku berbohong maka akan sulit untuk orang lain mempercayaiku, tapi ini kamu Alv, orang yang sejak dulu sangat menegenalku. Lihat apakah ada kebohongan dimataku ini, lihat Alv!" suara Arizka sudah mulai bergetar tanda dia menyimpan marah dan kecewa.
Tanpa kuduga reaksi Alva justru sangat mengejutkan. Dia menarik Arizka kedalam pelukannya sambil menenangkannya. Aku dan Gaby saling berpandangan melihat adegan live kemesraan mereka. Dengan segera kutarik Gaby masuk kedalam pelukanku juga.
"Kita jangan mau kalah yank, ayo lakuin yang lebih daripada yang mereka lakuin." bisikku dengan suara dibuat seseductive mungkin.
Gaby meronta dan mencubit pinggangku, "Awww sakit yank." Rupanya teriakanku mengagetkan Alva dan Arizka.
Alfa melepaskan pelukannya dengan wajah merona, "Sorry Stan, gue ga tahan liat cewek nangis."
Wakakaka, tawaku meledak mendengar pengakuan Alva, "Aman Bro lanjutin aja yang penting bukan isteri gue yang lu peluk Karena nangis gitu."
Kembali lagi perutku mendapat bonus cubitan, "Aww ish sakit yank, salahnya apa si kan yang aku bilang bener yank."
"Ga da yang salah, tapi kamu becanda mulu Hon, jadi keganggu kan aku liat adegan live Alva lagi." kata Gaby meledek Alva yang otomatis membuat tawaku membahana.
"Gab, jahat ish kamu, masa belum maafin juga si kekhilafanku itu." celetuk Alva yang merasa malu diingatkan adegannya dengan Nadine yang sempat kutonton.
Arizka hanya cemberut bingung arah pembicaraan kami, "Alv, kamu percaya kan sama aku? Aku kan udah janji bakal berubah, bakal bersihin semua jejak kelamku."
"Iya Ka, aku percaya kok sama kamu. Kita berusaha bersama ya memperbaiki hidup kita."
Adegan mesra akan kembali kulihat seandainya OB tidak datang membawakan kami makanan.
"Silahkan dimakan Pak, bu." sapa OB ramah menyilakan kami makan.
-----------------------------
"Jadi, kamu sama Arizka udah balikan Alv?" kataku setelah kami semua selesai makan.
"Yah seperti yang kamu lihat Gab, kami mencoba memperbaiki semua. Aku sudah banyak belajar kesalahanku dari hubungan kita dulu jadi aku yakin bisa menjalani dengan lebih baik bersama Arizka."
"Makasih ya Gab, karena banyak mengajarkanku kebaikan. Bahkan disaat Hal terburuk yang kulakukan didepan matamu, kamu masih memaafkan dan bahkan membantuku menjalani keterpurukanku. Aku ga pernah menyesal mengenalmu walau bukan takdirku untuk bersamamu." ujar Alva lembut membuatku bahagia karena Alva mau memperbaiki dirinya.
"Ehem..... dehem.....
"Ish lu ya Stan masih aja cemburu ama gue, ngerusak moment gue sama Gaby aja lu." kesal Alva karena interupsi Stanley.
Aku hanya tertawa melihat mereka, tanpa sengaja mataku melihat kesedihan di sorot mata Arizka. Kenapa ya dia, batinku.
"Sampai kapanpun Alv kalau lu ngomongnya sok sweet gitu ama isteri gue ya jelas gue cemburulah. Gimanapun lu pacaran sama dia lebih lama dari gue pasti banyak moment indah juga walau akhirnya bangsul lu ketauan hehehehe." sahut Stanley masih berniat melanjutkan perdebatan dengan Alva.
"Iya pacaran doank lama ujungnya balik juga sama lu. Selama sama gue juga hatinya tetep sama lu, ya posisi gue layaknya satpam penjaga harta tuannya, begitu tuan pulang hartapun pindah tangan. Gitu aja masih lu cemburuin Stan, heran gue!" balas Alva dengan nada kesal.
Aku tertawa melihat perdebatan mereka yang yah penting ga penting si, dan kembali kudapati sinar kesedihan dimata Arizka. Apa ya yang sedang dia rasakan, batinku.
"Lu ga tau aja jawaban dia Alv, kalau saat itu lu ga khilaf mana mungkin dia jadi isteri gue sekarang, makanya hak guelah cemburu sama lu!" lanjut Stanley makin ngegas.
Ya ampun badan doank gede gede kelakuan ABG semua, "STOP!!! Kalian tuh cari mati ya ngeributin hal yang mana subyeknya aja masih ada di depan kalian. Udah kita semua punya jalan hidup masing masing ga usah cemburu cemburuan. TITIK ga pake koma!"
Seketika dua lelaki seumuran ini diam patuh pada titahku, giliran aku bingung juga ketika mereka diam suasana jadi sunyi dan awkward banget rasanya. Aku kembali melirik mata Arizka, sorot kesedihan sudah berangsur hilang.
"Hon, aku boleh ga ngobrol berdua sama Arizka? Kalian kalau mau denger juga gapapa, tapi jangan becandaan ya."
__ADS_1
Arizka yang namanya kusebut mendongakkan kepala yang tadi tertunduk dengan sedikit terkejut.
"Eh ... oh .... mau ngobrol apa Gab, kamu kalau masih ragu tanya aja, akan aku jelasin semua yang kamu mau tau."
"Ka, kamu dulu kenapa suka sama Stanley padahal ada Alva yang ga kalah keren dan baiknya? Sorry mungkin lancang tapi Aku beneran kepoo, kamu yang cantik, berkelas dan tajir tapi mau sampe melakukan tindakan gitu?"
Terlihat Arizka menarik nafas dalam dalam, "Pertama aku sendiri ga tau kenapa ada hasrat yang kuat buat ngrebut dia dari kamu." jawabannya yang lugas membuatku sedikit terkejut.
"Kedua, aku sangat penasaran karena dia menolak godaanku, belum pernah ada yang merasa ingin melarikan diri saat aku datang menggoda."
"Ketiga, karena orang pertama yang kulihat saat sadar dari kecelakaan adalah Stanley, aku merasa sangat senang karena diperhatikan sampai sampai aku salah mengartikan kebaikannya."
"Dan saat kemudian Stanley mengenalkanmu, aku sangat cemburu dan sakit hati, pikiranku kacau, dan yah aku merasa kalah, lagi lagi orang yang aku inginkan ternyata menginginkanmu."
Dahiku mengernyit tak mengerti arah bicaranya, "Maksdmu dengan lagi lagi orang yang kamu inginkan ternyata menginginkanku itu apa?"
"Aku pernah berkenalan dengan temanmu Kent di sebuah club, dia mabok dan menyebut nyebut kamu, sepertinya dia habis kamu tolak atau gimanalah. Intinya dia mabok dan aku menemaninya hingga naik ke ranjangnya."
"Yah, aku sangat kotor Gab, selalu mencari kesenanganku sendiri dari ranjang pria satu ke pria lain. Saat bertemu Kent, aku merasakan ingin memilikinya maka setiap kami bermain aku selalu menggunakan perasaanku tetapi maaf, selalu namamu yang dia sebut."
Hah...... ternyata aku melukai Kent terlampau dalam, penolakanku tanpa sengaja membuatnya menderita, pikirku. Sesaat kurasakan tangan besar meremas tanganku, kulihat Stanley sedang berusaha menahan amarah karena mengetahui isterinya dijadikan bahan fantasi liar lelaki lain.
Aku mengelus punggung tangannya dengan tangan yang bebas. Kuberikan kecupan dipipinya agar amarahnya segera reda.
"So......sorry Stan, gue ga maksud apa apa, gue cuma pengen ceritain semua aja." ujar Arizka gemetar melihat wajah Stanley yang merah padam menahan amarah.
"It's okay, ceritain aja biar udah ga da beban lagi buat hubungan kita kedepannya." kataku menenangkannya.
"Ya dia mau bersamaku hanya karena tubuhku, mungkin ini karma karena aku meninggalkan Alva tanpa mau mengerti perasaannya, maka saat aku menyukai seseorang ternyata perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan, rasanya amat sakit."
"Kent tanpa merasa bersalah menceritakan apapun yang dia ketahui tentang kamu, membuatku makin sakit hati padamu sosok yang bahkan belum pernah kutemui. Dia memperlihatkan foto saat kalian di SMA."
"Saat itu dan sampai hari kemarin aku masih sangat kesal karena tak dapat mengalahkanmu, aku bahkan tak tahu kekuranganku sendiri sampai para lelaki lebih menyukaimu. Tapi sekarang aku tahu mengapa mereka ber tiga sangat mencintaimu."
Aku penasaran dengan hasil pengamatannya, "Emang apa yang membuat mereka mencintaiku?"
"Kebaikan hatimu membuat orang yang berada disekitarmu merasakan kenyamanan. Poor Alva yang dengan bodohnya melakukan kesalahan sehingga membuatnya kehilanganmu. Tapi lihat apakah Alva terpuruk ternyata tidak bahkan banyak kebaikan yang dia lakukan khususnya padaku sebagai hasil belajar darimu Gab."
Aku tanpa sadar meneteskan air mata haru, karena seorang cewek yang dulu sangat membenciku sekarang mengatakan segala kebaikan tentangku yang aku sendiri merasa ga sehebat itu.
"Eh yank dipuji kok malah mewek si, pengen dicium ya." bisik Stanley yang langsung kuhadiahi cubitan di pinggang.
"Haduh sakit yank, kamu KDRT terus ih!" aku tertawa melihat wajah kesalnya.
"Ka, aku tu ga sebaik itu lho, aku kalah sama kamu yang dengan berani menceritakan semua, mengakui kesalahanmu dan mau memperbaiki diri. Saat aku melihat kekhilafan Alva, aku memilih mengakhirinya, karena aku tak dapat menerima kekurangannya."
"Pria terbaik sudah ada di hadapanmu Ka, dia bahkan mau menerimamu apa adanya. Kuharap kau tak menyia siakannya lagi. Cinta itu adalah saat kamu dapat menerima semua kekurangan pasanganmu."
Ilmu cinta tertinggi adalah saat Kita dapat menerima dengan tulus kekurangan orang lain. Menerima segala kelebihan tentu sangat mudah tetapi menerima kekurangan sangatlah sulit, maka saat itu bisa kita lakukan artinya kita berhasil mencintai dia.
-------------------------------
Wah ternyata bukan Arizka dalangnya....... rupanya motivasi Iqbal masih jadi misteri.
Seperti misteri yang author hadapi, viewer makin banyak tapi ga sebanding dengan jumlah like hehehehe.
Sedih? Pasti, tapi gapapa harus tetap semangat dan belajar terus membuat cerita yang bagus dan menghibur.
Oleh karena itu mohon dukung terus Thornya dengan ikhlas memberikan like vote and comments. terima kasih.😘🙏
__ADS_1