Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 80


__ADS_3

*Stanley POV*


Jam di tanganku sudah menunjukkan 23:15, sudah hampir tengah malam dan aku masih disini karena kecerobohanku. Kulihat batre ponselku yang tinggal 20%, bertepatan dengan itu ponselku berdering dan caller ID My Love muncul disana.


Aku merasa sangat bersalah pada istriku yang sedang tidak baik baik saja. Ragu ragu untuk menerima panggilannya. Dia pasti akan sangat marah dan kecewa karena sepertinya aku tidak dapat pulang malam ini. Kembali ponselku berdering setelah tadi terputus.


Saat aku akan mengangkat telepon Gaby, tiba tiba perawat memanggilku dan menyuruhku mengikuti brankar pasien yang sedang didorong ke ruang operasi. Aku akhirnya mengangkat telepon sambil berlari mengejar mereka.


"Ha... halo yank.... eh.... uh.... anu.... ka... kamu jangan tunggu aku ya. Ii..... ini me...metingnya.... be.... belum se... selesai yank." ucapku terbata bata seperti perpaduan sedang push up dan kehabisan tenaga karena berlari.


"Kok suaramu gitu kamu lagi ngapain, meeting dimana?" cecar Gaby, aku memukul kepalaku mengingat alasan yang kubuat tidak masuk akal, mana ada meeting sampe tengah malem gini.


"Halo.... Halo..... Hon...!" aku cek ponselku karena tiba tiba suara Gaby menghilang, oh shit ponselku kehabisan batre. Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Aku bukannya tidak mau memberitahukannya bahwa aku mengalami masalah hanya saja menurutku bukan waktu yang tepat sebab akhir akhir ini Gaby sedang tidak baik baik saja.


Kulihat Sammy keluar dari ruang operasi, "Sam, gimana kondisi bapak itu?"


"Tenang bro fraktur doank di kakinya, udah dipasang pen juga. Lu pulang aja biar kami yang jaga mereka. Si mbaknya juga baik baik aja cuma shock doank. Bayinya juga kuat sehat."


"Lebih baik lu pulang biar Gaby ga cemas. Kayaknya dia lagi sering ga enak badan dan badmood, kemarin gue denger dia sampai cek lab juga. Ga usah merasa bersalah karena ini cuma kecelakaan Stan, secara lu juga udah bertanggung jawab merawat mereka. Percaya sama gue semua bakal baik baik aja." ceramah Sammy sedikit menenangkanku walau masih ada rasa mengganjal seperti akan terjadi sesuatu yang tidak baik, tapi aku tak tahu apa.


Aku menuruti Sammy, berpamitan padanya untuk pulang. Sepanjang jalan aku berusaha mereka ulang peristiwa kecelakaan itu. Jujur aku tidak merasa menabrak motor di bapak karena justru si bapak itu yang merebut jalanku dari arah kanan.


Sepertinya aku harus meminta CCTV di TKP Karena kebetulan tadi kejadian di depan mini market yang biasanya terpasang CCTV. Bukan apa apa tapi aku masih merasa kalau kecelakaan ini disetting seseorang. Mungkin aku yang terlalu paranoid sehingga mengkaitkan kecelakaan ini dengan aksi teror telepon dan message yang sering Gaby terima.


Aku segera menelepon seseorang yang dapat membantuku, "Lex, sorry ganggu telepon tengah malem gini, gue butuh bantuan lu."


Aku menceritakan detail kejadian yang menimpaku dari awal aku melihat motor itu mengikuti mobilku sampai akhirnya terjadi kecelakaan tanpa ditutupi sedikitpun beserta tempat kejadian perkaranya.


"Oke Stan, percayakan sama tim gue nanti kita tracking area yang lu ceritain tadi, usahakan korban dirawat di ruang yang sama agar kita pasang satu CCTV disana atau kalau terpaksa ga bisa ya kita pasang satu satu gapapa ya. Harga pasti ga masalah donk buat lu bro hahahaha." kata Alex menerangkan apa saja yang akan dia lakukan diselingi sedikit kelakar tentang harga.

__ADS_1


"Tentu aja ga masalah Lex, lebih baik gue bayar mahal sama lu temen gue daripada orang lain yang ga gue kenal bro." balasku bijak sambil terkekeh karena sedikit beban rasanya sudah terangkat.


Sesampainya di basement kumatikan mesin mobil dan bergegas masuk apartement untuk melihat kondisi isteriku, aku benar benar mencemaskan Gaby apalagi kata Sammy dia sampai melakukan cek laborat segala. Otakku sudah berpikir yang tidak tidak, benar benar menakutkan.


Ceklek........


Kulihat istriku sepertinya tertidur dengan posisi badan membelakangi pintu kamar. Aku segera membersihkan diri dan mendekati Gaby, kusingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.


Aku terkejut melihat lelehan air mata dan bantal yang masih basah. Aku mengernyitkan dahiku berpikir hal apa yang membuatnya menangis lama sampai bantalnya basah.


Ya Tuhan, rasanya aku benar benar tidak tenang tapi tak mungkin juga untuk membangunkan dia dan meminta penjelasan. Apakah ini berhubungan dengan kondisi tubuhnya atau berhubungan dengan terlambatnya aku pulang, otakku masih bertanya tanya.


Kuhapus sisa air mata di pipi Gaby, dengan lembut kukecup dahinya dan membawanya dalam pelukanku, rasanya seluruh kesalku luruh bersama hangatnya pelukan kami.


--------------------------


Pagi hari aku terbangun dalam kondisi sangat lemas dan mataku rasanya perih bengkak. Aku mengerjapkan mataku menyadari ada Stanley yang tidur sambil memelukku. Entah kapan dia pulang yang jelas aku senang karena dia kembali ke sisiku.


Aku menatap suamiku dalam tidurnya, ada lingkaran hitam di matanya bukti dia sangat lelah. Lamat lamat mataku bersitatap dengan mata Stanley yang entah kapan terbangun mungkin karena usapan usapanku.


Dengan sigap aku melempar arah pandangku dan segera melepaskan diri dari pelukannya. Stanley yang menyadari pergerakanku, tak kalah cepat menarik kembali tanganku sehingga posisi kami duduk berhadapan saat ini.


"Kamu marah sama aku yank? Kamu nangis? Please jangan diem aja jangan nguji kesabaran aku."


"Apa yang bikin kamu nangis uhm...... cerita sama aku yank, hei kok malah nangis lagi sih!" sentak Stanley yang sepertinya menahan kesal.


Aku jadi terpancing emosi karena harusnya aku yang marah kenapa jadi dia yang lebih kesal. Kubesarkan mataku yang memang sudah besar untuk memelototinya.


Anehnya aku melotot tetapi air mataku menganak sungai, kukerjapkan untuk menghentikan ya namun yang ada justru semakin deras.

__ADS_1


"Lho yank kenapa si sebenarnya kok kamu jadi bersimbah air mata begini? Kamu sakit, bagian mana yang sakit? Kemarin hasil laboratnya mana, kamu nangis gara gara itu?" berondongnya sebagai tanda perhatian tetapi justru membuatku sungguh makin kesal.


Aku berusaha diam menunggu cerita siapa perempuan hamil di foto itu yang dia rangkul masuk ke IGD Zein Hospital. Sebenarnya bisa saja aku langsung mengecek ke Sammy, tapi aku mau Stanley sendiri yang cerita padaku bukan orang lain.


Tetapi rupanya manusia satu ini sangat amat tidak peka sehingga tidak langsung cerita malah mengira hasil tes laboratku yang jelek. Aku sudah mampu meredakan tangisku hanya tersisa isak isak kecil.


"Yank please jangan begini, aku ga paham sama apa yang kamu mau kalau kamu ga bicara!" mohonnya padaku.


Kami terdiam dengan pikiran masing masing sampai akhirnya dikejutkan oleh dering ponsel Stanley.


Kulihat Stanley sedikit ragu ragu untuk mengangkat teleponnya di depanku. Tetapi kemudian dia menyerah karena pelotottan dariku.


"Ya Halo selamat pagi, ya benar saya sendiri." sahutnya kemudian mendengarkan kembali suara disebrang sana.


"Owh oke nanti sore saya kesana, iya benar saya yang bertanggung jawab." sesaat aku terkesiap mendengar kata bertanggung jawab , kembali foto itu menghantuiku.


"Terima kasih atas kerja samanya sus." aku kembali terkejut, sus artinya perawat Dan berarti keberadaannya di Zein Hospital tengah malam itu adalah benar.


Dadaku sesak rasanya seperti diremas remas, aku sungguh kehilangan semua akal sehat dan kewarasanku. Yang berputar diotakku adalah Stanley memiliki anak dari wanita lain.


Apa salahku, tega sekali dia melempar kotoran dimukaku, dia membawa wanita hamil itu ke Zein Hospital yang notabene lingkungan kerjaku. Orang pasti dengan mudah akan bergunjing tentang kami.


Tangisku kembali datang, aku luapkan semua kesalku amarahku sambil memegang perutku yang sedikit ngilu.


"Yank kok malah makin histeris, kenapa pegang perut? Perut kamu sakit?"


"Kamu kenapa please jawab, jangan pancing amarahku Gabrielle Angela Saputra!" serunya panik, membuatku kaget dan terpancing emosi.


"Keluar, keluar dari kamar ini!" teriakku menyuruhnya keluar agar aku bisa menenangkan diriku dahulu. Tapi Stanley tidak paham dan malah makin mendekatiku, berusaha memelukku.

__ADS_1


"Aaarrrrgggghhhhh........!" teriakku marah dan secepat kilat menepis tangannya yang menghalangiku, aku berlari keluar dari kamar, masuk ke kamar kerja Stanley dan mengunci diriku disana.


__ADS_2