Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 78


__ADS_3

*Arizka POV*


Tak sengaja aku melihat Pak Iqbal berjalan ke arah pantry dan menutup pintunya. Sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Aku menguatkan tekad untuk menguping pembicaraan ya, siapa tahu kutemukan sesuatu yang penting.


"Aku sudah berusaha memfitnah Stanley kak, tapi rupanya tidak ada pengaruh bahkan dengan berani dia membawa wanita itu bekerja dikantor ini kak."


Kemudian hening sepertinya dia senang mendengarkan lawan bicaranya.


"Okay, akan kucoba mengajak wanita itu bekerja sama. Tentu kak, akan kubantu dirimu membalaskan dendammu."


Hah..... dendam? Berarti masalahnya lebih berat daripada sekedar problem romantika seperti yang kupikir selama ini. Kalau membalas dendam berarti berhubungan dengan sesuatu di masa lalu dan masalahnya pasti pelik hingga menimbulkan dendam.


Sepertinya Pak Iqbal akan segera keluar, Aku bergegas pergi ke toilet yang jaraknya dekat disitu kemudian putar balik berjalan melewati pantry kembali agar dapat berpapasan dengannya.


Benar saja, tak berapa lama kulihat Iqbal keluar dari pantry, aku bersiap jika dia memanggilku. Aku berjalan setenang mungkin dengan langkah dan ekspresi menggoda.


Sesuai rencanaku, Pak Iqbal memanggilku mengajak bicara, "Mba Arizka, bisa kita bicara sebentar. Mumpung jam makan siang, gimana kalau ke cafe seberang atau ke kantin?"


Aku pura pura terkejut, "Eh.... oh iya pak..."


"Saya Iqbal mba, dari bagian surveyor. Kita beda bagian jadi wajar mba ga mengenali saya. Mba lagi mau makan siang juga kan?"


"Oh..... Eh i... iya oke Pak, saya ngikut bapak aja mau kemana. Saya juga baru disini jadi belum banyak temen dan belum terlalu paham makanan kecuali menu di kantin." kataku pura pura.


Pak Iqbal menggiringku keluar kantor menuju cafe di seberang kantor. Aku berakting menjadi gadis polos nan lugu di depan Iqbal.


Iqbal memilih meja dipojok restoran, aku menurut saja sambil mengedarkan pandangan sebab aku belum pernah ke resto ini. Begitupun saat dia menanyakan pesanan, dengan sopan aku mengatakan untuk disamakan saja dengan menu pilihannya.


"Ehm.... ngomong ngomong kalau boleh tahu, Mba Arizka kenapa memilih bekerja di Zein Group?" tanya Iqbal mulai menyelidiki keberadaanku.


"Jujur sebenarnya pada awalnya saya tidak berpikir untuk bekerja disini Pak. Saya kebetulan teman dekat Pak Stanley waktu di USA, dan saat saya kembali ke Indonesia saya merasa ga mampu melupakan dia jadi saya kejar sampai sini dan ternyata kebetulan juga ada posisi yang pas jadi saya terima aja, itung itung sebagai jalan deketin Stanley lagi." ujarku mulai menebar racun.


Kulihat Pak Iqbal tampak kaget akan keterusteranganku, sesaat kemudian dia tersenyum senang.


"Ehm.... boleh ga saya panggil Arizka aja dan kamu panggil aja aku mas?" pintanya dengan sikap yang mulai berubah dari formal sekarang berasa ngomong sama gebetan.


Dalam hati aku tertawa, terbaca sekali tingkah lakunya untuk mengambil hatiku.


"Boleh kok mas." jawabku dengan suara genit.


Tidak susah untuk mengakrabkan diri dengan Iqbal karena memang pada dasarnya dia ramah dan genit. Iqbal banyak bertanya tentang diriku dan obsesiku mendapatkan Stanley.

__ADS_1


"Arizka kayaknya hape kamu bunyi deh coba dicek dulu takut ada yang penting." kata Iqbal saat terdengar notifikasi WhatsApp berkali kali.


Aku terbelalak melihat banyak pesan dikirim Alva berikut fotoku berdua Iqbal.


Alva : ga usah genit genit amat


Alva : jangan sampai justru kamu yang kejebak


Alva : aku di belakangmu ga usah nengok


Alva : jangan mau dipegang pegang


Alva : inget hukumanmu menanti


Alva : aku cemburu


Seketika aku menutup mulutku menahan tawa membaca pesan terakhir, bisa bisanya dia cemburu sama orang yang jelas bentukannya dibawah dia. Dan diapun tahu misiku membantu Stanley ngapain juga jadi cemburu. Dan yang justru membuatku bahagia adalah ancaman hukuman dari Alva, ya gimana ga bahagia pasti hukumannya ena ena sampai puas hihihi.


"Kenapa Riska senyum senyum gitu." tegur Iqbal penasaran.


"Eh ini mas, temen temen becandaan di grup alumni sekolah dan lucu lucu pesannya." balasku ngasal.


"Kamu pikirin dulu tawaranku tadi, aku yakin kamu bisa dapetin Stanley dengan bantuanku dan aku juga akan dapat keuntungan besar jika kerjasama kita berhasil." ujarnya dengan tawa misterius.


"Baik mas, nanti aku kabarin kamu ya kalau aku sudah mantap berpikir." balasku akhirnya dengan memberikan senyuman manis menggoda. Bodo amat dilihat Alva hihihi, batinku sambil membayangkan hukuman ena ena yang bakal dia berikan.


Akhirnya setelah seharian berkutat dengan laporan proyek, pekerjaanku selesai juga. Rasanya sudah tak sabar ingin segera pulang dan membersihkan tubuh dan bersantai meneruskan drama Korea yang sedang kuikuti.


-----------------------


Tring......


Arizka : Gab sorry kalau lu udah ga sibuk ntar telpon gue ya, ada yang mau gue laporin tapi males ngetiknya hehehe. See u.


Aku membaca pesan dari Arizka dan tertawa sejenak, ya sejak dia meminta maaf Dan menyesali semua maka tidak ada alasan untukku menolak pertemanan yang dia ulurkan.


Dan aku mulai tau kebiasaan kebiasaannya, dia paling suka bercerita dan kalau sudah bercerita bisa panjang kali lebar maka dia paling suka melakukan video call.


Menurutnya dengan video call dia merasa nyaman karena bicara dengan bertatap muka dan kita dapat mengetahui emosi dari lawan bicara kita walau tidak langsung, dia paling ga suka kalau mengetik pesan panjang.


Segera kubalas pesannya dengan satu kata Oke, kemudian aku bergegas membereskan semua pekerjaan karena hari ini ada sesuatu yang harus aku lakukan untuk memastikan kondisiku.

__ADS_1


Saat aku sudah bersiap pulang, seorang petugas Lab menghampiriku dan memberikan sebuah amplop putih hasil pemeriksaan laboratku.


Tak terasa aku senyum senyum sendiri membaca hasil laboratku. Syukurlah Aku sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku hanya butuh banyak istirahat.


Hari ini aku membawa mobilku sendiri, karena suamiku ada meeting sampai malam.


Tring.....


Honey : udah mau pulang yank?


My Love : iya ni udah dalem Mobil Hon


Honey : oke yank hati hati ya ga usah ngebut, sampai rumah makan langsung istirahat, jangan nungguin aku pulang ya.


My Love : Oke Hon 😘


------------------------


Sesampainya di apartement aku memilih berenang air hangat di minipool, sengaja aku minta tolong bibi sebelum aku sampai tadi untuk mengisi minipool.


Setelah berendam beberapa lama, seketika aku teringat janji untuk menelepon Arizka. Kuambil ponselku yang sengaja kuletakkan di loker kecil sebelah minipool.


Aku menghubunginya dengan video call, cukup lama beberapa kali deringan tapi tidak diangkat, aku menelepon kembali, beberapa kali deringan akhirnya video call-ku diaccept.


Seketika mataku terbelalak melihat adegan live dengan aksi super panas, tampak di layar dua manusia sedang menyatu. Aku terpaku melihat gerakan mereka dalam posisi miring satu kaki Arizka terangkat dan dibelakangnya Alva juga dalam posisi miring.


Sepertinya olah raga mereka mencapai puncak ditandai dengan teriak kepuasan dari mulut Arizka yang membuatku ikut berteriak juga karena kaget. Aku segera menutup mulutku menyadari kesalahanku, secara tidak langsung aku sudah mengintip aktifitas mereka live.


Dengan wajah kaget campur malu sekaligus ekspresi kepuasan karena sudah mencapai klimaks terpancar dari Arizka yang sedang melihat ke arah kamera sebab video call kami masih tersambung.


"Gaby....... kamu....... lihat?" tanyanya dengan malu malu.


Aku mengangguk tak mampu berkata kata sebab memang salahku sendiri kenapa tidak langsung mematikan ponsel.


"Sorry Gab tadinya mau aku matikan eh malah kepencetnya yang ijo ya aku ga sadar orang lagi menuju puncak telponnya bunyi mulu, maaf kamu jadi melihat pertunjukan live kami." ujarnya tanpa tedeng aling aling membuatku malu sendiri karena tidak mematikan ponsel malah menikmati drama 21 tahun ke atas hihihihihi.


"Gue yang sorry Ka, gue speechless sampe lupa matiin ponsel liat adegan live kalian. Ternyata lebih hot dari live yang dulu gue pernah tonton juga wakakakaka." balasku sambil terbahak bahak mengingat live Alva dan Nadine dulu.


Arizka ikut tertawa mengingat dia juga sudah tahu kalau aku pernah melihat Alva saat menyatu dengan Nadine.


Tiba tiba Alva sudah menghiasai layar ponselku, "Nakal kamu Gab malah nonton dan bandingin sama yang dulu, temen apa musuh si kamu malah buka rahasia ke Arizka!"

__ADS_1


"Itu juga kenapa kamu bahunya kelihatan, kamu lagi ga pake baju ya? Abis olah raga juga sama Stanley?" ledek Alva yang membuatku sadar seketika bahwa aku di dalam kolam dan emang tidak pake baju.


"Akkkkhhhhh.......!" teriakku yang diiringi tawa membahana dari seberang sana, dengan sigap kumatikan ponselku.


__ADS_2