Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 15


__ADS_3

"Mami marah?" tanya Stanley saat kami berjalan menuju pantai.


"Gak kok, interogasi dikit aja kenapa kamu bisa ada di villa kami. Kita dah clearkan semua dan ga da masalah lagi. Tentang Sam dan Dicta juga mereka senang lho."


"Serius Gab, lu dah bilang klo gue sekarang pacaran ama Dicta?"


"Serius Sam, dan kalau lu udah yakin katanya suruh cepet nyusul ke pelaminan gituh." jawabku dengan tambahan inovasi yang langsung dihadiahi cubitan dari Dicta wakakaka.


"Serius gue, kamu sendiri gimana Dict? Nikah cepet aja yuk, biar pacarannya lebih hot kalo dah nikah." ceplos Sammy to the point yang membuatku tertawa terbahak-bahak sebab Dicta langsung menggetok kepala pacarnya itu.


"Setuju gue ama lu Sam, walau pacarannya baru tapi selama ini kan kalian temenan juga udah rasa pacar ya mending cepet ajalah. Apalagi si yang ditunggu, pacaran lama toh ga da jaminan pasti bakal nikah." ucapku yang bermaksud memotivasi mereka tetapi jatuhnya malah jadi curcol hehehehe.


"Deuh yang curcol beda tipis ama kasih semangat ya cyin." ledek Dicta diiringi tawa puas dari Sammy.


"Aku yang akan bayar waktu kamu selama ini Gab, percaya sama aku semua bakal indah tepat waktunya." bisik Stanley dan lagi-lagi aku hanya mengangguk mencari keseriusan di matanya.


"Seneng banget bisik-bisik si lu Stan, bikin gue penasaran!" dengus Dicta.


"Rahasia weeekkkk..........!" ledek Stanley dan merekapun kejar-kejaran saling meledek. Aku dan Sammy geleng kepala melihat kelakuan mereka.


"Gue berharap Stanley bisa balik sama Lu Gab, gue tau banget betapa dia hancur saat ninggalin lu." aku hanya tersenyum menanggapi doa Sammy.


Sesampainya di pantai, kami ber4 memilih duduk dibawah pohon sambil menatap Brandon dan Clara yang sedang membangun istana pasir. Mereka berdua sangat fokus seolah olah istana pasir itu adalah istana cinta mereka sendiri wakakaka. Clara emang beruntung banget dapetin laki-laki sebaik Brandon, dikalangan para medis juga Brandon sangat terkenal dengan kemurahan hatinya.


"Saat itu tiba, kamu cukup bersiap berikan hatimu untukku, biar aku yang berusaha menjaga dan membahagiakannya." bisik Stanley yang entah sejak kapan duduk disebelahku, kali ini disertai usapan halus dirambutku. Lagi lagi aku hanya mengangguk, biarlah kali ini aku pilih jadi egois dan menerima saja kasih dan kebaikan yang orang lain berikan untukku.


"Gab nyanyi yuk, nih gue bawa gitar. Lagu andalan lu aja Gab." ajak Dicta yang sudah bersiap dengan gitarnya.


"Emang lagu andalan dia apaan?" penasaran Sammy.


"Itu obat mujarabnya Gaby, Pura Pura Lupa!" sahut Dicta yang dibarengi ketawa renyahnya.


"Sini biar gue aja yang main Dict, gue tau lagu itu." pinta Stanley mengambil gitar di tangan Dicta.


"Kamu boleh Pura Pura Lupa sama aku asal jangan Pura Pura Cinta ya Gab." gombalnya sambil terkekeh. Aku ketawa geli karena Stanley yang kukenal ga pernah gombal tapi dari kemarin kayaknya brubah jadi Raja Gombal. Kamipun mulai memperdengarkan suara merdu kami yang standart kamar mandi hehehehe.


*Pernah aku jatuh hati


Padamu sepenuh hati


Hidup pun akan kuberi

__ADS_1


Apapun kan ku lalui


Tapi tak pernah ku bermimpi


Kau tinggalkan aku pergi


Tanpa tahu rasa ini


Ingin rasa ku membenci


Tiba tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


Semakin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Biar aku yang pura pura lupa


Ohhh ohhhhh ohhhh


Tiba tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


Semakin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa

__ADS_1


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia*…


Brandon dan Clara yang semula asyik sendiri, akhirnya tertarik bernyanyi bersama kami. Aku benar-benar beryukur pada Tuhan karena walaupun aku harus kehilangan Alva tetapi Tuhan gantikan dengan keluarga yang begitu mengasihiku.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap kebahagiaan mereka dengan kesedihan.


******Alva POV******


Kali ini aku benar benar kehilangan Gaby, perempuan yang biasanya sangat pemaaf dan percaya padaku, kini memilih pergi karena kehilangan kepercayaan padaku. Aku akui kecantikan dan keseksian Nadine membuatku terperangkap, tetapi bukan berarti aku memberi hati padanya.


Saat itu yang ada hanya nafsu, tetapi tentu saja korelasinya adalah aku tak kuat Iman sehingga jatuh pada godaan Nadine. Dan bagaimanapun kesetiaanku pasti dipertanyakan untuk kedepannya, hal itu yang tak bisa Gaby terima. Aku sungguh sangat memahami pola pikir Gaby, tapi keputusannya tak dapat kuterima begitu saja.


"Alv, lepasin Gaby, lu bisa mencintai dia dengan cara yang lain kan? Ga harus memaksa dia balik sama elu." kata Alex tiba-tiba, entah kapan dia ada disekitarku. Ya sejak Alex melihatku menyakiti diri sendiri, dia memang selalu saja hadir disekitarku.


"Gue sakit banget liat dia sama cowok lain, gue udah terbiasa dia hadir dan selalu ada saat gue butuh dia Lex. 3 tahun gue kaya ketergantungan ama dia."


"Lah kenapa lu bisa kegoda sama si Nadine kalo gitu? Kejebak itu kalo cuma sekali nah kalo sampe 2x namanya kegoda broo!" tegas Alex yang makin membuat nyeri hatiku.


"Namanya khilaf Lex, bayangin aja tu cewek dari bubar show langsung nempelin gue Lex. Nah di depan lift dia nyosor saat itulah Dicta fotoin gue. Trus dia maksa ikut masuk apartement gue, saat gue mukai mabok dia ngikutin gue ke kamar trus buka baju ***** nyerang gue terus. Gue lagi sedikit mabok langsung on aja trus terjadilah yang Gaby liat." ceritaku sambil terisak penuh penyesalan.


"Udah Alv, yang penting Gaby udah mau maafin lu, gua bakal bantu lu buka cctv di club pas dia jebak lu jadi seandainya dia nuntut macem macem kita bisa lawan!" Ucapan Alex kali ini sedikit menenangkanku, karena jujur aku ga mau sampai terjebak harus menikahi nadine.


"Alv, waktu lu ke club itu sendirian atau sama temen band lu? Gue curiga da temen yang ikut bantu Nadine deh, sebab kalo lu pergi ramean biasanya kan mereka jagain lu biar ga sampe macem-macem. Inget ga sama kasus gue yang hampir kejebak juga tapi temen gue yang selametin?" kata Alex mengingatkanku bahwa dia juga pernah dijebak tapi gagal.


Aku berusaha mencerna dan mengingat kejadian malam itu, dan muncul satu sosok yang mungkin bisa dicurigai membantu Nadine, yahh Rafa si bar tender, dia yang kasih minuman ke aku.


"Mungkin ga kalau Rafa? Seinget gue, temen temen gue smua duduk doank dan minuman dianter ke meja kita, abis minum itu gue pamit ke toilet dan itu udah kondisi gue mulai kepanasan. Iya Lex bener, kayaknya Rafa karena gue dpt minuman dari tangan dia!" kataku dengan geram dengan tangan terkepal. Tak habis pikir Rafa yang selama ini kuanggap teman bisa jadi tersangka dari kasus penjebakanku.


"Oke ini bisa lebih mudah buat kita cari bukti Alv!" ujar Alex seraya menepuk bahuku tanda supaya aku percayakan urusan ini padanya.


Aku tersenyum dan memeluk Alex spupu yang paling dekat denganku yang selalu menjagaku, aku sangat berterima kasih padanya. Kemudian aku melayangkan pandanganku kembali pada Gaby dan keluarganya, ingin sekali rasanya aku menghampiri mereka.


"Lex, Alv, kalian disini rupanya. Ada WA dari Brandon nih, kita disuruh ke villa utama nanti jam makan siang. Brandon mau ajak lunch bareng sekalian ucapan terima kasih karena udah bantu dia." info dari Chika benar-benar membuatku bahagia, walau sudah jadi Mantan tapi setidaknya aku masih bisa dekat dengan Gaby. Akupun langsung setuju dan tanpa sadar teraenyum lebar.

__ADS_1


"Gitu donk Alv, senyum yang ganteng, jangan manyun aja, senep liatnya." goda Chika padaku. Lalu kami bertiga memutuskan bersiap-siap untuk acara lunch berama.


******To Be Continue******


__ADS_2