Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 37


__ADS_3

Hari hari kami di Rumah Sakit semakin sibuk, cukup tertekan mengingat banyak barang medis yang susah di dapat padahal kami sangat membutuhkan.


Kesal rasanya pada orang orang yang justru egois, tetap berkeliaran saat diharuskan mengisolasi diri, atau justru menumpuk barang medis seperti masker skali pakai dan Handsanitizer.


Tertekan? Ya sedikit banyak secara pribadi tertekan menghadapi kondisi yang lumayan mencekam karena ada saja pihak pihak yang tanpa pikir panjang mengkaitkan kondisi sekarang dengan isu isu lain.


Aku mencoba fokus saja dengan tugas dan tanggung jawabku sebagai tenaga medis. Aku juga membatasi interaksiku dengan keluarga dan teman teman termasuk Stanley.


"Gab, kita makan dulu yuk. Jangan tunda makan, dokter juga butuh asupan!" tegas Sammy dengan tatapan tidak terima penolakan.


Aku mengikutinya ke arah ruang dokter dan ternyata Sammy sudah memesankan bermacam makanan kesukaanku. Seketika senyuman yang menurutku sangat manis kuberikan pada Sammy, sahabat dan calon spupu iparku inih.


"Sam, kata Dicta lu ikut tinggal di apartement dia ya? Aman tu Sam, bisa kontrol lu?" ledekku menggoda Sammy yang jadi BuCin banget sama Dicta.


" Yeee lu ngledek, diri sendiri tiap hari balik ke rumah Stanley sekarang aman ga tuh?" balasnya sambil tergelak.


Hahaha aku menggaruk kepala kena skakmat mau ngledek malah dibales. Memang sudah beberapa hari ini aku pulang ke rumah Stanley, dan yah...... sampai saat ini apa yang seharusnya dijaga masih terjaga dengan baik, tak dipungkiri ledakan aamara pasti ada tapi bisa kami batasi.


"Serius Sam, mami D ga marah?"


"Mami ga marah tu, dia bilang ga masalah asal bisa kontrol diri, gue kan mau barang spesial itu bisa dinikmati di waktu yang tepat, kalau gue blangsak mah dari dulu udah tanem benih dimana mana kali gue."


"Kalau mami lu sendiri gimana, marah ga?"


"Mami mah kan udah kenal lama sama papa Stan jadi pas gue disuruh pulang kesana itu yang minta ijin justru papa. Lu pasti udah diceritain Dicta kan masa lalu gue sebelum aku dan mami ditemukan sama keluarga Saputra?"


Sammy menggeleng, "Dicta ga cerita detail, dia bilang lu yang bakal cerita ke gue karena dia gak berhak ceritain itu katanya."


Kemudian aku ceritakan secara singkat tentang masa laluku pada Sammy, aku ingin tahu bagaimana reaksinya sebagai tolak ukur kira kira bakal seperti apa reaksi Stan saat kuceritakan nanti. Ternyata Sammy biasa biasa saja, membuatku sedikit tenang.


"Lu kenapa ga cerita sama Stan? Dia cinta sama lu jadi dia bakal terima apapun masa lalu lu. Papanya aja terima lu banget Gab masa Stan ga bisa trima? Lagipula lu hidup disana kan bukan karena sengaja tapi karena suatu musibah yang menimpa lu sama mami G. Rasanya mah ga da alesan buat Stan ga nerima elu."


"Gue dulu sering banget di bully karena dianggap anak haram Sam, Dicta sama Brandon sampe sering berantem karena belain gue."


"Lu kenapa ga pernah ceritain hal ini ke Stan? Apa yang sebenernya lu takutin wong yang keluarin lu dari tempat itu juga bokap Stan?"


"Entahlah Sam, gue takut aja kalau dia ga bisa terima. Dulu pernah gue mau ceritain semua tapi bokap Stan ga bolehin katanya biar jadi rahasia kita aja jadi dari situ gue ga pernah cerita ama Stan tentang masa lalu gue sampe sekarang."


"Santai aja Gab, jadi diri sendiri aja kalau nanti lu rasa udah siap lu harus cerita ama Stan, dia sempet nanya si ngerasa curiga kenapa lu bisa akrab banget ama bokap dia, beda banget sama mantan dia dulu dulu. Perlakuan bokap nyokapnya ke lu beda banget menurut dia."


"Dan gue liat perlakuan bokap nyokap lu ke Stan juga gitu lho kaya sama anaknya, beda pas sama Alva. Mereka ga pernah nolak Avla tapi juga ga akrab banget sampe bisa peluk cipika cipiki kan. Itu si dari kacamata gue sebagai orang luar ya Gab."


"Rasa penasaran gue kejawab waktu Dicta cerita bahwa sebelumnya mami papi lu ada kesalahpahaman yang bikin lu dibawa keluar dari rumah mereka. Terus papa mama Stan yang bantu lu sama mami keluar dari masalah sampe akhirnya kalian balik lagi ke keluarga Saputra."


"Iya emang inti kejadiannya kaya gitu, dan karena kesalahpahaman itu gue ga bisa mentolelir pengkhianatan Sam, selama 5 th dalam hidup gue itu rasanya mencekam karena gue dianggap anak haram." tanpa terasa aku terisak isak lepas kendali.

__ADS_1


Sammy yang ingin memelukku kuingatkan masalah social distance dan dia paham. Kuhabiskan tangisku masa bodoh jika ada yang melihat pikirku, setelah lega aku dan Sammy kembali bertugas ke IGD.


"Dok bed 6, pria 65th, atas nama bapak Gun, keluhan sesak nafas, nyeri dada, tidak habis bepergian, tidak demam, sudah pasang infus dan oksigen, sudah tersambung dengan monitor, saturasinya rendah dok." jelas suster Mira sambil mengantarku ke bed 6.


Otakku merangkai semua info suster Mira sambil memikirkan tindakan medis yang harus ditempuh sekaligus menerka apakah nama Gun adalah orang sama dengan orang yang membuatku dan mami menderita dulu. Dan kalau ternyata sama apa yang akan kulakukan menyelamatkan atau dengan tega membalas sakit hatiku.


Sesampainya di bed 6, aku merasakan kebencian yang mendadak hadir, ya dia adalah orang yang sama yang membuat kami menderita dulu. Kukepalkan tanganku erat erat, mengatur nafasku dan menenangksn emosiku.


"Ehem..... pak Gun maaf saya periksa dulu." sengaja aku berdeham menarik perhatian pasien. Kulihat wajahnya kaget, tangannya mendadak tremor. Angka di monitor memperlihatkan hipoksia yang ditandai rendahnya kadar oksigen dalam darah, naik turun di angka 85-80%.


Diagnosisku terjadi serangan jantung ringan akibat penyumbatan, dan biasanya akan kembali terjadi serangan jantung berokutnya dengan kadar lebih tinggi apabila tidak segera ditindak.


"Sus keluarga pasien mana? Saya harus refer ke spesialis Jantung dan pembuluh."


"Maaf dok sepertinya beliau ga didampingi keluarga, penjamin hanya orang yang menemukan beliau pingsan di jalan."


Aku menatapnya, pak Gun juga menatapku. Tatapan memohon belas kasihan, ada suara iblis membisikkan jika ini saatnya membalas semua yang dia lakukan padaku, tapi sisi lain mengingatkan bahwa dokter bekerja berdasarkan perikemanusiaan.


"Sus bisa panggil dokter Sam?" pintaku pada suster Mirna sebagai cara agar dia meninggalkan kami.


"Ternyata sosok yang kejam bisa sakit juga ya, dan anak yang dulu anda sumpah serapahi anda caci maki, dengan leluasa sekarang dapat menjadi penentu langkah hidup anda!" kataku lirih dengan senyum menyeringai dan nada kejam.


Dibalik masker oksigen yang dipakai aku membaca kata permohonan maaf dari bibirnya. Tiba tiba ada nyeri yang kurasa di dadaku, sebenci bencinya aku ga boleh kalah sama suara iblis sebab kalau aku menuruti hawa nafsuku maka apa bedanya aku dengan dia.


Terdengar langkah dokter Sammy mendekati kami, "Ada yang bisa kubantu dokter Gaby?"


"Diagnosisku penyumbatan pembuluh darah dan harus segera refer ke spesialis jantung sebab saturasinya ga beranjak dari angka 80. bersediakah kau menjamin dia Sam?"


Tanpa panjang kata Sammy langsung menyetujui sebagai penjamin. Dia menatap pak Gun dengan tatapan tajam, sedangkan pasien masih menggerak gerakan bibirnya seperti meminta maaf.


"Bapak tenang aja kami disini profesional, dan saya mau menjamin bapak hanya karena kemanusiaan." kata Sammy tegas yang dibalas anggukan.


" Maaf berhubung kami ga tahu dimana keluarga bapak, maka saya minta rekan saya jadi penjamin untuk semua prosedur perawatan yang akan kami jalankan untuk anda. Dugaan saya ada penyumbatan di jantung, maka saya akan refer anda ke spesialis jantung."


Setelah selesai urusan penjamin, aku dan Sammy pergi ke meja masing masing, melanjutkan tugas membantu pasien lain.


Fokusku sedikit terganggu setelah bertemu dengan pasien tadi.


"Dok, pasien yang di refer ke Jantung siap pindah sekarang ya dok, saturasi masih di 85 kesadaran masih baik."


"Oke Sus, segera dibawa aja jgn lupa tabung oksigen dipasang dulu, jarak ke unit jantung lumayan jauh soalnya."


Gimanapun orang ini harus selamat, banyak hal yang masih tersembunyi dari peristiwa lalu. Dulu aku masih kecil hanya mampu melupakan semua kepahitan tapi kini saatnya aku tahu smua kebenarannya.


Sesaat malam datang

__ADS_1


Menjemput kesendirianku


Dan bila pagi datang


Kutahu kau tak di sampingku


Aku masih di sini untuk setia


Aku masih di sini untuk setia


Aku masih di sini untuk setia


Tiba tiba terdengar refren lagu Setia - Jikustik dari ponselku, "Haloo Stan."


"Udah siap siap pulang? Hari ini kita bakal kedatangan tamu spesial lho, kamu ga lupa kan?"


Owh iya aku hampir saja melupakan urusanku sama Tina si nenek lampir, untung aja Stan ngingetin.


"Oke, kamu jemput sekarang aja jadi sampe sini pas aku dah siap pulang. Makasih Stan."


Aku segera membereskan status status pasien, kemudian membereskan meja kerjaku bersiap gantian jaga.


"Udah siap siap Gab, Stan udah jemput emang? Barusan dari unit jantung telepon mau katerisasi trus pasang ring, tadi pasien nyuruh suster buka dompet dan ada kartu asuransi swasta, nanti pohak admin yang langsung urus. Jadi tadi gue acc-in aja surat jaminannya. Gue tau kalau lu sebenernya cuma pura pura lupa sama urusan masa lalu tapi saat liat pasien ini pasti hasrat pengen tau kisah yang terjadi dulu sangat besar kan Gab, maka pasien ini harus selamat."


Aku tersenyum membenarkan semua penilaiannya, "Dokter Sammy emang the best!"


"Jasa gue ga gratis lho, lu kudu cerita detail tentang ini semua, lu tau kan gue ga suka klo mengetahui sesuatu ga utuh!"


Aku hanya tertawa sembari mengacungkan jempolku dan mengajaknya berlalu sebab jam dinas kami sudah usai.


#


#


#


#


Orang lemah, balas dendam. Orang kuat, memaafkan. Orang cerdas, mengabaikannya.


Menjadi Bahagia dan Sukses adalah cara terbaik untuk balas dendam pada orang yang pernah menyakiti kita.


Jangan buang waktu untk membenci dan balas dendam. Setiap orang yang menyakiti pada akhirnya akan menerima karmanya sendiri.


**********To Be Continue**********

__ADS_1


Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘


__ADS_2