Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 81


__ADS_3

*Stanley POV*


Aku sungguh bingung melihat kelakuan Gaby yang sangat mudah menangis dan marah akhir akhir ini. Semalam dia tertidur sambil menangis dan paginya dia marah tapi hanya diam tak menjawab pertanyaanku kemudian menangis. Sungguh aku tak tahu apa yang dia rasakan atau apa yang dipikirkan.


Satu satunya yang terpikir olehku hanya menghubungi Dicta dan memintanya menemani Gaby hingga kemarahannya mereda.


"Thanks Dict, udah mau luangin waktu buat Gaby, jujur gue ga tahu dia kenapa moodnya kaya rollercoaster gituh. Tolong lu nginep sini aja Dict, soalnya gue lagi ada urusan dan bakal sampe malem baru beres kayaknya."


"Oke Stan, lu tenang aja, percaya sama gue Gaby bakal baik baik aja." balas Dicta yang membuatku jauh lebih tenang sekarang.


Aku pikir sebaiknya jangan mendekatinya dahulu, biarkan Gaby punya waktu buat berpikir karena aku sendiri butuh waktu untuk menyelesaikan urusan semalam.


Setelah aku selesai bersiap ke kantor, kucoba membuka pintu ruang kerja dan ternyata masih dikunci. Aku menghela nafas, dadaku sesak menghadapi kemarahan isteriku yang aku sendiri tak tau sebabnya.


"Yank, maafin aku sudah membuatmu menangis. Aku pergi dulu ke kantor ya, nanti Dicta akan menemanimu. Jangan lupa sarapan ya."


Hening tak terdengar suara apapun dari dalam sana, nyatanya Gaby masih diam tak menjawab pamitanku. Lebih baik aku abaikan dulu urusan isteriku sambil berharap moodnya segera membaik.


Tring..... tring..... tring......


Kunyalakan speaker Bluetooth Dan mengangkat telepon yang ternyata dari Alex.


"Ya Lex, apakah ada perkembangan?" tanyaku to the point. Kemudian Alex melaporkan semua info dan data yang dia dapat, dan Alex setuju bahwa ada orang yang mengatur semua ini entah dengan tujuan apa.


"Jadi sesuai rencana siang ini kita akan pasang CCTV, tugas lu bawa keluar pasien dari kamar sejauh mungkin supaya gue punya banyak waktu. Dalangnya pasti akan mengirim orang untuk mengawasi mereka di Zein Hospital. Maka lu harus mengecohkan mereka sejauh mungkin!"


"Oke, gue bakal lakuin sesuai rencana lu Lex. thanks ya lu udah gerak cepat."


Kumatikan kembali sambungan telepon kami dan fokus menyetir. Aku harus tiba di Zein Group tepat waktu karena ada meeting pagi ini.


------------------


Aku mengurung diri di kamar mencoba mencerna semua kejadian dengan benar, karena dari lubuk hati terdalam aku yakin ini bukan kasus pengkhianatan atau perselingkungan seperti yang terlihat di foto.


Aku justru merasakan ada suatu hal jahat yang sedang mengintai kami. Tapi aku sendiri tak dapat menjelaskan dengan gamblang, hanya feeling seorang isteri terhadap suaminya.


"Yank, maafin aku sudah membuatmu menangis. Aku pergi dulu ke kantor ya, nanti Dicta akan menemanimu. Jangan lupa sarapan ya."


Dadaku sakit sekali rasanya, aku ingin memeluknya, aku ingin mengabarkan sesuatu yang penting. Tapi apa daya kemarahan malah menguasaiku, aku tahu dengan benar apa yang membuatku marah. Aku merasa Stanley membohongiku, ya alasan apapun suatu kebohongan tetaplah kebohongan.


Tak berapa lama aku mendengar Stanley berpamitan pada Bibi, segera kubuka pintu dan melangkah untuk sarapan. Ada makhluk kecil yang harus aku jaga sekarang, jadi aku ga boleh egois.


Ting.... nong......Ting.... nong.....


"Biar Bibi aja yang buka Non." katanya sambil bergegas ke pintu depan.


Ternyata Dicta yang datang sesuai perkataan Stanley tadi. Aku menyuruhnya bergabung makan bersamaku.

__ADS_1


"Gab, lu kenapa? Stanley sampai kalang kabut gitu."


Aku tunjukkan foto yang No Name kirimkan, disitu ada foto Stanley dan perempuan hamil yang wajahnya ga terlihat karena hanya difoto dari belakang. Sedangkan Stanley wajahnya terlihat jelas sebab dia difoto saat menoleh ke belakang. Tangan kanan Stanley ada di bahu kanan perempuan itu sedangkan tangan kiri memegang tangan kiri sang wanita.


Dicta memelototkan matanya membaca caption foto itu, "Nyonyah rumah kalah sama selingkuhan, kamu memang pantas ngerasain itu dokter sombong!"


"Gimana ga kesel liat yang gitu Dict, itu dikirim tengah malem dan pas gue telepon masa dia alesannya meeting, Mana Ada meeting tengah malem sedangkan di foto jelas dia lagi di Zein Hospital."


"Terus ponselnya ga bisa dihubungin, okeh mungkin habis batre jadi gue maklum. Paginya dia masih ga cerita juga masalah tu perempuan, sikapnya kayak ga da apa apa gitu. Makin kesal gue."


Dicta mendengarkanku sambil tatapannya masih di foto yang kuberi.


"Ini tuh kalau ditelaah baik baik Stanley kaya lagi Bantu memapah si perempuan ya, teus dia ngadep belakang kayaknya ngomong ke pak Satpam minta bawain kursi roda deh nah pas nengok sengaja di foto ya."


"Trus pagi tadi ada telpon dari Zein Hospital, dan mungkin karena perubahan hormon gue jadi sensi denger dia bilang tentang pertanggung jawaban. Gue yakin itu pasti berhubungan sama si perempuan di foto itu."


Tampak Dicta sedikit terkejut sebelum akhirnya berseru kegirangan, "Serius Gab, perubahan hormon artinya gue bakal dapet ponakan yeeeee!"


"Lu udah ke Obgyn buat pastiin Gab?"


Aku menggelengkan kepala, "Gue baru tes Lab kemarin, rencana mau bilang Stanley terus ajak ke Obgyn tapi ya batal karena gue dah ngamuk duluan."


"Siang ini aja yuk, gue temenin ke dokter Bowo, apa mau dokter cewek?" tanya Dicta sangat antusias membuatku tersenyum.


"Dokter Bowo ajalah, gue butuh asupan yang ganteng ganteng hahaha." candaku yang diberi sentilan di dahi oleh Dicta.


Dictapun membalas dengan mengacungkan jempolnya tanda setuju, "Janin udh usia brapa say? Udah telat brapa minggu?"


"Kalau itungan haid belum telat karena biasa awal bulan atau mundur, gue kemarin berasa ga enak badan dan lemes terus tapi ga mual mual, terus perut kaya kenceng gitu jadi curiga aja makanya cek Laborat. Mungkin kisaran 2 mingguan ya usianya."


"Lu jangan stress say jangan ngamuk mulu, mending alihin aja emosi lu ke habit yang lebih oke, baca novel kek atau ngemil sehat gitu. Perjanjian kan kalau hamil lu dikandangin hehehehe!" ujarnya sambil tertawa senang.


"Yaelah Dict seneng amat lu tau gue mau dikandangin. Kayanya gue mau nego aja ambil dinas pagi terus jadwalnya daripada kudu di kantor bakal bosen ga si?"


"Iya juga secara biasa rame ya di unit trus tetiba diem duduk ketak ketik lappy, kalau dibayangin si boring entah kalau udah dijalanin. Tu buktinya laki gue biasa aja tetep semangat."


"Lu udah beres kan sarapannya, kita berangkat sekarang aja yuk!" ajak Dicta yang langsung kusetujui karena memang lebih baik berangkat cepat daripada keabisan jadwal praktek dokter kandungan ganteng yang super antri pasiennya.


--------------------


Sesampainya di Zein Hospital, aku segera ke pendaftaran untuk membuat janji konsul dengan dokter Bowo, niat jahilku mau ngerjain dia. Ya dahulu awal dinas disini aku sempat dekat dengan beliau tapi karena satu dan lain hal maka kisah itu tak berujung menguap begitu aja.


"Lu mau ngerjain dia ya? Awas CLBK lu! Cinta Lama Belum Kelar." ledek Dicta padaku.


Kamipun tertawa, "Ga ngerjain cuma bikin surprised aja tiba tiba jadi pasien dia, lagian tau sendiri dia udah ada pawang sekarang, ogah gue kalo sampe dokter Mauren cemburu."


Sekarang kami sudah berada di ruang tunggu poli ObGyn menunggu dipanggil namaku. Sudah cukup lama aku tidak pernah bertemu dengannya karena kesibukan kami dan lokasi kerja yang cukup jauh sebab Zein Hospital ini amat sangat luas.

__ADS_1


"Nyonya Zein, silahkan masuk." panggil perawat yang bertugas dengan ramah, rupanya dia merasa mengenaliku, terlihat dari kernyitan di dahinya, aku berikan senyuman manis yang kumiliki.


Saat masuk dokter Bowo sedang menunduk menyelesaikan status pasien sebelum diriku sehingga dia tidak langsung melihatku masuk. Aku dan Dicta langsung duduk de kursi berhadapan dengannya.


Aku memberi kode pada perawat yang bertugas untuk diam dan tidak memberitahu kedatanganku, mereka paham dan menunggu dalam diam sambil mengulum senyum.


Setelah sekian menit beberapa detik dia tetap dalam posisi menunduk, aku mulai angkat bicara, "Sibuk sekali ya Dok sampe pasien cantik kaya saya dianggurin gitu?"


Seketika dia tersentak mengangkat kepalanya, "Hah, Gaby Dicta, lho.... kalian... eh sorry sorry duh kaget aku sungguh. Sus kenapa kalian diem aja dari tadi, saya ga sadar pasien udah masuk!"


"Dokter Gaby yang suruh kami diem dok, maaf." kata perawat itu dengan sopan.


"Cih kamu dok sok galak ah ga asyik, ya udah kalau lagi sibuk aku antri lagi aja deh." ujarku pura pura ngambek sambil beranjak dari dudukku.


"Eh...eh... eits .... sabar sabar, ngambekan banget si. Stanley mana dia ga ikut?" bujuknya sambil menunjuk bed agar aku tiduran dan bisa mulai diperiksa.


"Sus ngapain malah bengong ayo mulai prosedurnya, makan gaji buta ntar kita dipecat lho sama suaminya." ledeknya sambil ketawa.


Perawat yang bertugas segera membantuku menaikkan baju hingga bawah dada dan kemudian mengoleskan ultrasound gel.


"Kita langsung liat aja ya Gab dari USGnya karena tes Lab sudah jaminan akurasinya tinggi." jelas dokter Bowo


"Wah selamat ya kamu udah bathi, sudah untung kalau kata orang Jawa Tengah. Itu titik hitam masih kecil banget skitar 2 minggu jadi harus super duper extra hati hati."


"Ada keluhan ga yang kamu rasain?" tanyanya hati hati.


Aku mengangguk sambil sedikit mengerucutkan bibirku, "Aku jadi super cepat lelah lemes tapi ga mual atau pusing sih, terus emosiku bak rollercoaster dok. Terus kemarin perut aku kenceng gitu dok."


"Hahahaha, jadi sensitive ya Gab, wajar kok tapi harus dikendalikan jangan sampe stress. Hoby kamu aja jalanin Gab biar ga terlalu ngerasain emosi negatifnya."


"Ini aku resepin duphaston, asam folat sama Promethazine buat obat mualnya. Jangan kecapekan Gab terutama capek mikir." pesannya sambil tersenyum manis, yang bikin antrian di polinya selalu padat merayap hehehe.


"Sekali lagi selamat ya dan jaga calon mantuku hahaha." candanya yang bikin aku ketawa ngakak.


Dicta sampe terbatuk saking semangat ketawa, "Mau ngapain dok, menjalin silaturahmi cinta lama yang belum kelar?"


"Hahaha gitu juga bolehlah biar makin deket kan ga salah donk. Saya udah kebayang aja anak perpaduan Stanley ama Gaby bentukannya pasti lucu manis." lanjutnya dengan argumen yang makin bikin ketawa.


"Makasih lho ujiannya eh... pujiannya maksudku. Dapet besan dokter ObGyn Paling terkenal seantero Zein Hospital mah hayo ajalah siapa takut." balasku sumringah.


"Ya udah makasih ya dok, udah ngabisin waktu anda, saya pamit dulu ya nemuin Pak Direktur nih, ada yang udah kangen." ledekku yang membuat Dicta merona bak udang rebus.


Dan begitu keluar dari ruang dokter Bowo, senyum manis kami langsung sirna Tak berbekas berganti amarah yang membakar hatiku. Dicta yang juga kaget langsung menarik tanganku, membawaku ke kantor Sammy. Sepanjang jalan ke ruang Direktur, kutahan tangisku, dan Dicta segera menelepon Sammy memastikan keberadaannya.


*****************


Hayo yang udah pada dapet THR senangnya bisa belanja sepuasnya, kalau aku minta THR juga dari kalian boleh ga sih???

__ADS_1


THRnya bentuk Like Vote Comments Dan rating ya. makasih😘🙏


__ADS_2