Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 45


__ADS_3

"Thanks ya Sam udang nebengin, lu ati ati di jalan. Salam buat Dicta ya, bye."


Aku sengaja minta dianter Sam karena tadi Stanley bilang ngantuk berat dan mau tidur dulu jadi aku putuskan untuk ga bangunin dia dan pulang bareng Sam aja.


Aku naik ke apartement yang Stanley siapkan untuk kami karena letaknya yang terbilang dekat dengan Rumah Sakitku.


Sesampainya di pintu segera kumasukkan tanggal lahirku yang dijadikan password, badanku rasanya lengket banget pengen secepatnya mandi.


Ruang tamu kosong menandakan Stan masih di kamar, tapi samar samar aku mendengar bunyi bunyi aneh. Tanpa sadar aku berjalan mengendap endap, jantungku mulai berdetak lebih kencang karena bunyi aneh tadi berubah menjadi suara desahan seperti orang sedang bersetubuh.


Aaahhh....... oohhh........ aaahhh..... come on baby....... aaahhhhh........


Jantungku makin kencang, badanku mulai panas dan bergetar, air mata mulai turun terbayang adegan live Alva dan Nadine diwaktu lalu. Emosiku sudah ga karuan tapi langkah kakiku makin mendekat ke pintu kamar kami.


Suara desahan dan bunyi badan yang beradu semakin jelas terdengar, aku makin ga karuan. Air mata menjadi lebih deras turun tak tertahan, aku gigit bibirku agar tidak mengeluarkan suara terisak. Aku urungkan niatku untuk membuka pintu.


Kutarik nafas berulang kali untuk meredKan tangisku, segala pikiran buruk berkeliaran di otakku, mungkinkah Arizka kembali dan berhasil mendapatkan Stanley, ohhh tidak...... kugigit bibirku semakin keras hingga terluka demi menahan teriakan hatiku keluar dari mulutku.


Aku terus berusaha bernafas dengan baik, menghentikan tangisku. Aku ga boleh lemah sudah cukup kebaikanku dimanfaatkan, aku ga akan mengampuni siapapun wanita itu yang berhasil menggoda Stanley dan tentu saja aku juga ga akan maafin Stan kali ini.


Aku bertekad untuk menghadapi apapun atau siapapun yang ada didalam sana, suara desahan kenikmatan semakin terdengar jelas sepertinya si wanita sudah mencapai kepuasan tetapi si pria masih mengejar puncak kenikmatan.


Aaahhh.....ooohhhh.... yeeaaa...... faster baby.... suara keclap keclap tanda beradunya tubuh mereka semakin kencang terdengar..... ya Tuhan kenapa bisa aku terjebak lagi dalam situasi ini.


Tanganku mencengkeram handle pintu, cekrek ...... Brak..... kubuka pintu dan kudorong kuat menabrak tembok di belakang pintu itu... hah .........


Umpatan yang sudah setengah jalan hampir kekuar dari bibirku tertahan oleh rasa kaget karena kamar itu kosong. Aku bingung kemana mereka sedangkan suaranya masih terdengar dan makin jelas, aku bergegas ke arah kamar mandi, kudengar suara gemericik air shower dan anehnya suara desahan itu melemah berarti bukan di dalam.


Aku beranjak dari depan pintu kamar mandi ke arah lemari pakaian menguar pandang mataku kesegala penjuru, dan hah .........


Kakiku melangkah mendekati sumber suara yang semakin jelas, aahhh..... oohhh.... yeeesssss.


Mataku melotot melihat adegan persetubuhan yang telah selesai itu.


Tak tahan aku berteriak, "Aaaaarrrrrrrgggggggghhhhh brengsek sialan!"


Aku mengumpat berkali kali sembari menetralisir degub jantungku, ternyata suara tersebut berasal dari laptop Stanley yang ada di meja kecil dekat ranjang jadi kalau dari arah pintu tidak terlihat. Huft...... berangsur rasa sesakku mereda, ya ampun konyol sekali tingkahku mengira Stanley melakukan hal senonoh.


Yang terjadi adalah dia menonton film dewasa plus plus dan kemudian dia masuk ke kamar mandi tanpa mematikan film tersebut. Ya Lord hampir saja ambrol jantungku, aku bergegas mengambil baju ganti dan memutuskan mandi di kamar mandi dekat pantry.


Tok..... tok..... tok ......


Aku matikan shower karena mendengar pintu diketok.


"Yank, kok ga bilang si malah udah pulang duluan? Dianter Sam kan?"


"Iya tadi sama Sam, ya udah aku beresin mandi dulu ya biar ga kemaleman nanti sampe rumah mami."


Aku melanjutkan mandiku setelah mendengar langkah kakinya menjauh. Huh.... terbayang kembali adegan tadi yang sempat kulihat dan jauh lebih hot dari adegan live Alfa dan Nadine dulu. Eh.... kok jadi bandingin si haduh Gaby mesum mesum mesum runtukku dalam hati.


----------------------------

__ADS_1


Huaaaa hahahahahaha terdengar suara Stanley tertawa terbahak bahak dari arah kamar. Aku berpikir kalau sekarang Stan sedang menonton film komedi yang sangat lucu sampe menggelegar gitu ketawanya.


Hah...... mataku melotot melihat ke arah televisi, ternyata Stan memasang cctv di setiap sudut apartemen dan yang membuatnya terbahak adalah adeganku mengendap endap dan mendobrak pintu.


Reflek tanganmu menutup wajahku sungguh aku amat malu melihat kekonyolanku yang mencurigai Stanley bercinta dengan wanita lain. Stanley melihatku di depan pintu dan berjalan ke arahku.


"Ngapain di depan pintu tutupan muka gitu yank? Maaf ya udah bikin kamu sport jantung. Gimanapun aku lelaki normal yang terkadang butuh pelepasan yank." katanya seraya menuntunku duduk disofa yang ada di dalam kamar kami.


Aku menurutinya dan ikut duduk disofa,


"Aku maklum kok stan. Cuma kaget aja aku tadi udah hampir mati rasanya Stan, otakku butek kebayang segala adegan yang dulu pernah kusaksikan secara live cuma beda artis cowok doank."


"Maaf ya karena sempat meragukanmu, aaahhh aku malu banget sama kamu Stan. Apalagi ternyata aksiku kerekam cctv semua." ucapku jujur yang membuat Stanley kembali tertawa.


Akupun ikut tertawa mengingat kekonyolanku tadi, "Eh... Stan.... kenapa seluruh sudut apartement kamu pasang cctv bahkan di dalam kamar, nanti privacy kita bisa kesebar lho kalau ada orang yang jahil ngambil data kita?"


"Tenang aja cuma aku yang bisa akses cctvnya, itu juga aku pasang buat preventive aja yank karena kan kita belum tinggal disini sedangkan tiap hari ada yang datang bebersih jadi aku harus ekstra jaga takutnya ada orang yang berniat jahat."


"Apalagi paska adanya Tina yang ngaku ngaku pacar papaku, dia sampe sekarang belum mau ngaku bekerja untuk siapa jadi lebih baik aku mencegah hal hal yang tidak diinginkan terjadi."


Aku mengangguk angguk mencerna argumennya yang memang masuk akal, apalagi dulu dia pernah hampir masuk perangkap Nadine dan Arizka, jadi ga da salahnya sedikit berjaga.


"Stan....... aku tak dapat melanjutkan kata kataku sebab entah bagaimana bibirku dan bibirnya sudah bertautan. Ciuman lembut yang makin lama makin dalam dan panas, tanpa sadar aku sudah mengalungkan tanganku di leher Stan, posisi dudukkupun entah sejak kapan sudah ada dipangkuannya.


Ciuman kami semakin dalam, tanganku refleks menekan tengkuk Stanley memperdalam ciuman kami, pertukaran saliva semakin menjadi. Hasrat diripun semakin meningkat, tangan Stanley mulai memasuki kaosku, menemukan gunung kembarku, aset berhargaku, untuk pertama kalinya seorang lelaki menyentuhnya.


Disaat aku semakin bergairah dan akal sehatku semakin terkikis, Stanley menghentikan seluruh aktivitasnya, melepas tangannya dari gunung kembarku dan mendaratkan bibirnya dikeningku.


Setelah mampu menguasai diri, "Maaf yank, aku kebablasan jangan marah ya!"


Aku menggeleng dan kembali memeluknya dengan erat, thanks God udah kirim lelaki sebaik ini, kalau bukan Stan mungkin aku udah habis dilalap pikirku.


Kami sudah dewasa dan wajar apabila bergairah terhadap lawan jenis, maka yang bisa dilakukan hanya membatasi diri supaya tidak terlampau batas.


"Aku makin mantep buat kita cepet nikah aja Yank, takut khilaf aku. Kamu mau kan jadi penyempurna hidupku?" aku terkekeh mendengar ucapan Stanley yang romantis gitu. Tentu aja aku mau, buatku bersama Stanley seperti onta gurun pasir yang menemukan oase.


Aku mengangguk, "Tentu aja aku mau Stan karena kamu itu hidup aku, kamu bisa jadi udara, air, tanah dan semua unsur kehidupan yang dibutuhin manusia." ucapku polos tanpa bermaksud gombal.


Stanley tertawa, "Nah ini lebih kreatif yank. Aku tersanjung banget lho karena smua yang kamu sebutin adalah sangat penting buat kelangsungan hidup manusia."


"Sini aku mau kasih kamu oksigen lagi boleh ya." ledeknya sambil kembali ******* bibirku dengan lembut.


"Hah....... ini mah bukan menyalurkan oksigen malah bikin sesak nafas kekurangan oksigen." ucapku sembari terengah engah setelah Stan melepas ciumannya.


Kambali dia tertawa sambil mengacak rambutku, "Udah yuk kita pulang udah laper aku yank."


-------------------------


*Stanley POV*


Hari ini aku sungguh gembira melihat Gaby semakin nyaman dan merasa memilikiku, aku tak berhenti tertawa melihat rekaman cctv yang menunjukkan betapa dia tak ingin kehilanganku.

__ADS_1


Kami juga bermesraan sebentar yang hampir saja kebablasan untuk akal sehatku tadi segera kembali, kalau tidak bisa dipastikan Gaby akan membenciku seumur hidupnya.


"Yank, kamu masih utang cerita lho." kataku mengingatkan janjinya untuk jujur mengenai pak Gun.


"Iyaa Stan, ni aku juga lagi mau cerita tapi bingung mulai dari mana, bentar ya kususun dulu urutannya."


Hah...... aku tak sanggup menahan tawa mendengar jawaban polos gadisku ini, sepanjang apa si kisah pak Gun ini sampe dia bingung ceritainnya. Tapi kemudian aku memilih diam dan konsentrasi menyetir.


"Stan, dulu selama 5 tahun awal kehidupanku, aku dan mami tinggal sama pak Gun di sebuah rumah bordil, mami bertugas menjadi cleaning service. Aku karena masih kecil sebenarnya tidak begitu paham lingkungan seperti apa yang menjadi tempatku tinggal, tapi yang jelas aku jijik berada disana."


"Saat umurku 3 tahun, pak Gun menyerahkanku kepada preman yang bertugas menjadi pimpinan pengemis dan pengamen aku dijadikan pengamen cilik."


Aku tak dapat berkata kata mendengar cerita awal Gaby, rasanya tak masuk akal anak pengusaha sekelas keluarga Saputra bisa terjebak disana. Aku mengelus rambutnya memberi kekuatan agar tak ragu bercerita, untung hari ini aku bawa mobil matic jadi ga terlaku ribet nyetir maka tanganku yang kiri bebas.


"Suatu hari aku mengamen di restoran Chinese food, disana pertama kali aku ketemu papa kamu. Aku yang kelaparan dibawanya makan dimeja yang sama, tak hanya itu papa juga mengajakku ke mall yang ada didekat situ menyuruh sekretarisnya yang saat itu ikut bersama papa untuk memandikanku di toilet mall kemudian memberiku pakaian baru."


Saat ini Gaby sudah bicara sembari terisak isak, dan aku masih mengelus kepalanya dengan setia.


"Hatiku terasa hangat saat papa kamu memperlakukanku sebagai manusia yang berharga. Bahkan setelah aku berganti pakaian, dia mengajakku berbelanja, membelikanku semua makanan yang bahkan aku belum pernah coba Stan."


"Papa kamu bilang kalau wajahku mirip isterinya, owh ya aku baru inget brati wajahku mirip mama dunk Stan?"


Kata kata Gaby membuatku tersentak kaget, reflek kupandangi wajahnya dan menyamakan dengan wajah mama di ingatanku. Hah ....... benar juga ya wajah Gaby sekilas mirip mama. Kenapa bisa gini ya batinku.


"Ya mungkin emang aku mirip mama ya Stan makanya kamu cinta mati sama aku hihihi." ujarnya seraya tekekeh.


Aku tersenyum mengiyakan pemikirannya, "Berarti kita emang jodoh ya yank, makanya kamu bisa mirip sama calon mertuamu."


Gaby kembali menceritakan kisahnya, setelah diajak belanja dia diantarkan pulang ke rumah maksiat itu.


"Dan saat papa anter aku itulah dia berkenalan sama pak Gun, papa mengenalinya sebagai teman masa kecilnya yang tinggal di panti asuhan milik keluarga Saputra. Jadi papa dan papiku juga sudah kenal sedari mereka kecil."


"Sayangnya pada saat itu mami sedang pergi jadi papa tidak dapat menemuinya. Setelah kepergian papa, pak Gun sangat marah padaku dia menyiksaku dan mengancam agar aku tidak bertemu orang sembarangan."


"Sehari setelah kejadian bertemu papa, pak Gun membawa kami berpindah rumah kali ini bukan rumah bordil tapi rumah penampungan para pengemis dan pengamen. Anehnya walau pak Gun jahat tapi dia selalu berpesan pada para preman untuk tidak menyentuh aku dan mami."


"Waktu kecil aku mengira pak Gun adalah ayahku, tapi mami bilang bukan dia ayahku dan mami bilang suatu saat nanti kami akan kembali ke rumah papi tapi mami tak pernah sekalipun menceritakan siapa keluargaku siapa ayahku."


"Dan saat umurku 5 tahun aku kembali bertanya tanya siapa sebenarnya pak Gun dan siapa sebenarnya ayahku, tapi mami ga pernah kasih jawaban, dia selalu bilang aku harus sabar dan banyak berdoa supaya bisa segera dijemput papi."


"Sampai pada suatu hari..........


Tiba tiba Gaby terdiam seakan enggan menceritakan kisah lanjutnya, aku yang sudah amat penasaran mencoba menahan untuk tidak bertanya. Aku pilih menunggu dia sendiri yang lanjut bercerita.


-----------------------------


Waahh..... jadi sebenernya siapa ya pak Gun itu??? Penasaran ga si sama kisah dokter Gaby selanjutnya???


Ikutin terus ya biar ga penasaran lagi.......


Dan author mohon dukungannya biar tetep semangat nulis, tolong kakak tinggalkan jejak untukku ya... boleh like, vote, koment dan kirim kritik serta sarannya.

__ADS_1


Terima kasih🙏😘


__ADS_2