
"Stan, kita spa yang di Pasteur kan? Jadi sekalian bawa barang aja ya, biar ga balik Lembang lagi nanti." tanyaku sambil membereskan barang kami.
"Iya ke Zen Family Spa and Reflexology yang di Pasteur. Habis spa main ke Dago bentar ya. atau dari sini kita ke Dago dulu baru spa? Aku masih pengen lama jalan ama kamu. Masih banyak yang kita belum obrolin Gab." katanya dengan mimik wajah sendu.
Aku mengangguk sambil ketawa melihat ekspresi wajah Stan, "Idih mukanya gitu amat Stan, takut aku ga mau ya hehehehe. Kapan aja kamu mau ngobrol pasti aku ladenin Stan!"
"Kayaknya mending Dago dulu ya baru pasteur, abis itu bablas ke tol pulang ke ibu kota yang kejamnya kaya ibu tiri." hahahaha
Beberapa saat kami sama sama terdiam, aku sibuk melipat baju dan packing, sedangkan Stanley sibuk dengan ponselnya.
"Stan, tentang yang di FO...... ya kamu bener aku emang liat dan mendengar sepintas saat kamu marah sama papamu. Dan aku jujur emang shock ga nyangka papamu ada WIL, tapi Stan dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ga percaya sama omongan perempuan itu, aku liat kesedihan di mata papamu."
"Langkahmu udah bener untuk meminta penjelasan dari papamu, karena kita ga tau ada alesan apa dibalik ini semua. Kamu ga perlu minder atau takut aku mikir yang buruk, karena aku pernah ngalamin lebih dari kamu Stan. Bahkan kalau kamu tau apa yang pernah terjadi mungkin kamu bakal jauhin aku."
Susah payah aku kendalikan diri supaya ga menangis mengingat masa laluku. Tugasku adalah menguatkan Stanley saat ini bukan meminta kekuatan darinya.
"Heii maksudmu apa Gab, aku ga bakal mandang kamu buruk, sejelek apapun masa lalumu yang mungkin aku belum tau, aku ga akan menilaimu buruk sebab aku tahu sebaik apa hatimu. Waktu kebersamaan kita dulu sudah cukup memperlihatkan bahwa kamu sangat berharga buatku perjuangkan Gab."
Stan memelukku, memberiku kekuatan atau justru dia mencari kekuatan dariku...... entahlah yang jelas saat ini kami berpelukan dan rasanya hangat tenang.
"Gab, saat dulu aku menikah dengan Arizka, dihari H aku memohon padanya dan berlutut agar dia mau melepaskanku dan menyuruhku bertanggung jawab dengan cara lain. Aku tau saat aku menyetujui menikahinya, itu seperti aku menggali lubang kuburku sendiri. Maka dengan menanggalkan harga diri aku terus memohon Arizka mau melepasku."
"Terus apa yang Arizka perbuat atas permohonan kamu Stan?"
"Yang terjadi sangat mengejutkan Gab, tiba tiba dia turun dari kursi rodanya dan berdiri tegak, dia bilang ga akan lepasin aku karena emang ini semua rencana nya." aku melongo.
"Menurut pengakuannya, ketika dia siuman dari pingsan akibat tabrakan itu, aku adalah orang pertama yang dia lihat karena memang saat itu aku yang menungguinya. Dia ada hati sama aku, dan saat itu kondisinya emang dia ada cedera kaki membuat dia ga bisa jalan."
"Hari berikutnya saat kamu ikut aku nengok Arizka dan memperkenalkan kalian, dia sangat marah karena ternyata aku udah milik orang lain. Dari situ dia punya ide untuk pura pura cedera kaki berat hingga lumpuh dan menyuruh keluarganya menekan keluargaku agar mau menuruti permintaannya menikahiku." aku makin melongo ga menyangka Arizka puteri konglomerat yang cantik dan dikenal baik hati ternyata bisa melakukan hal kaya gitu, so tricky.
__ADS_1
"Terus kenapa akhirnya di hari itu Arizka malah membuka kedoknya sendiri Stan? Kalau dia udah niat sandiwara harusnya kan lanjut aja sekalian kpalang tanggung?"
"Arizka mengira aku memohon untuk membatalkan pernikahan karena aku malu punya istri cacat, karena saat itu emang aku hanya beralasan ga siap dengan harus menikah. Dia mengira perhatianku selama ini menemaninya di RS karena aku sudah ada hati juga ke dia. Tapi intinya aku sangat diuntungkan dengan prasangkanya itu karena aku jadi tahu hal yang sebenarnya."
"Terus gimana akhirnya Arizka mau mengajukan pembatalan Pernikahan?"
"Arizka ga sadar diruang tempat aku dan dia bicara ada cctv, awalnya aku juga ga tahu. Dan karena aku ga punya bukti bahwa aku menikah dalam tekanan, maka kami tetap melangsungkan pernikahan tersebut. Setelah menikah, hari ke2 aku langsung mengajaknya tinggal di apartement."
"Selayaknya pasangan pengantin baru, Arizka berusaha mendekatiku dan meminta haknya, jujur semua yang ada padanya sbenarnya sangat cantik, ya Arizka memang cantik tapi ada hal yang ga bisa membuatku jatuh dalam pesonanya. Setiap aku mencoba menyerah akan tuntutannya, setiap itu pula ingatan akan kamu muncul dan membuat tubuhku tak bereaksi apapun terhadapnya."
Aku menghembuskan nafasku kasar, seperti ada balok yang menindih dadaku terangkat, jujur mendengar cerita Stan tentang tuntutan hak dari Arizka membuatku merinding dan sesak nafas, aku membayangkan hal yang tidak tidak hehehehehe. Entah mengapa lega sekali rasanya mendengar tubuh Stan ga bereaksi terhadap godaan Arizka.
Aku tak bisa membayangkan apabila Stan jatuh dalam godaan dan sudah melakukan persetubuhan dengannya, maka aku mungkin ga bisa lagi terima Stanley. Sebaik baiknya aku, tetap saja ada sisi egois dimana pasti sulit menerima lelaki yang sudah pernah berhubungan intim dengan wanita lain. Aku hanya manusia biasa aku bukan malaikat jadi sisi egois itu ada, buktinya aku memilih bubar dengan Alva. Bukan karena aku sok suci tapi justru karena aku amat egois jika berhubungan dengan hal itu.
**************************
Akhirnya aku menceritakan semua yang berkaitan dengan pernikahanku dan Arizka pada Gaby, ada rasa was was sekaligus lega karena beban yang kusimpan sendiri selama ini seringkali membuatku sesak. Kulihat reaksi Gaby cenderung tenang, ada beberapa riak emosi tapi dia coba menahannya, jujur aku takut kalau melihat Gaby shock seperti kemarin. Setelah yakin bahwa Gaby aman, aku kembali melanjutkan ceritaku.
"Aku melihat Arizka sangat kecewa dan dia mengira aku memiliki kelainan, aku juga sebenarnya kaget kenapa tubuhku ga seperti biasanya tapi saat itu kondisi tersebut sangat menguntungkanku. Arizka yang frustrasi menelpon beberapa temannya untuk bertemu di club, diam diam aku mengikutinya."
Flachback On
Di dalam Club, aku ambil meja yang dekat dengan meja Arizka tetapi aku duduk memunggungi mereka. Arizka dan teman temannya mulai minum alkohol. Setelah minum beberapa sloki, temannya bertanya apa yang terjadi hingga dia mengajak mereka minum di club padahal Arizka baru saja menikah.
Rupanya Arizka sudah mulai mabok dan menceracau, aku mendengarkan dengan seksama siapa tahu omongan dia bisa dijadiin bukti, karena aku bertekad mengakhiri pernikahan ini.
"Apa salah gue gaes hahaha, demi ngedapetin Stanley gue rela pura pura lumpuh. Kalian tahu, gue kira perhatian dia slama di RS adalah rasa dia yang udah mulai tumbuh buat gue. Ternyata gue salah besar, gue yang awalnya ngejebak Stan sekarang gue yang ngerasa di jebak gaes."
"Lu tau kan gimana kemampuan gue di ranjang? Laki mana yang ga bertekuk lutut ama gue?" umbar Arizka makin tak terkendali karena maboknya.
__ADS_1
Dan aku merinding mendengar pengakuan dia yang ternyata udah sering making love with another guy. BoMat deh dia mikir gue ga bisa tegang karena kelainan, yang penting gue selamet.
"Terus apa yang bikin lu kesel? Dia jebak lu gimana?" tanya teman Arizka masih tidak paham arah bicaranya.
Terlihat Arizka minum kembali dan dengan gusar mengacak acak rambutnya sendiri.
"Gue merasa terjebak karena ternyata dia ga perkasa tau, gue goda gimanapun tubuh bawahnya ga bereaksi. Gila ga? Masa gue seumur hidup bakal jajan terus gara gara punya suami ga perkasa gitu?" teriaknya kesal mengungkapkan amarah dan kecewanya.
"Terus lu maunya gimana sekarang? Lu lagi tinggi ya, mau kita panggilin mainan lu yang biasa?" tanya temannya yang lain yang membuatku kembali terperanjat ga nyangka tampang cantik bak malaikat ternyata mainannya kaya gitu. Apakah Arizka ini memiliki kelainan yang disebut hypersex, batinku. Ah tapi hal itu ga penting buat sekarang.
"Gue mau ajuin pembatalan pernikahan besok, udah ga da gunanya hidup sama pria kaya gitu kan? Hasrat gue ga bakal terpenuhi, ngapain gue nyiksa diri atas nama cinta."
Betapa leganya hatiku dalam waktu singkat doaku terkabul yaitu lepas dari masalah ini.
"Oke Arizka kalau itu dah keputusan lu, dalam hitungan jam kalo bokap lu yang urus juga udah beres smua administrasinya. Mending sekarang kita seneng seneng aja, hahahaa olahraga yang amat memabukkan." sahut temannya sembari menarik Arizka ke lantai 2 yang memang disiapkan bila ada tamu yang akan check in.
Aku hanya mampu mengelus dada melihat kelakuan mereka. Sudah cukup bukti yang kupunya, seandainya Arizka berubah pikiran dan kembali ingin membelengguku maka akan kugunakan bukti ini. Bergegas aku keluar dari club ini, bukan sok suci tapi takut khilaf hehehehehe.
Flashback off
Dan setelah hari itu Arizka tidak lagi kembali ke apartementku, dia datang kembali saat usia perkawinan kami 7hari dengan membawa surat gugatan pembatalan pernikahan yang sudah dia ajukan secara agama (gereja) dan sipil.
Tetapi butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengurus maka akupun tetap pada rencana awal meneruskan kuliah di sini (USA) sedangkan tentang pembatalan itu kuserahkan pada kuasa hukum Arizka, artinya aku hanya nurut aja. Dan sekarang semua urusan legalitas dan administrasinya sudah selesai, kuliahkupun sudah selesai dan disinilah aku sekarang, kembali ke negeriku tercinta, berharap juga kembali kepada kekasih hatiku hehehe.
*Terkadang yang membuat kita hancur adalah hasil perbuatan tangan kita sendiri, bukan keadaan atau kondisi yang orang lain ciptakan untuk kita, melainkan karena kita memaksakan diri, memaksakan keinginan kita pada orang lain*
******To Be Continue******
Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘
__ADS_1