
*Alva POV*
"Oke datang aja, apartementku masih yang dulu." jawabku sebelum menutup sambungan telepon.
Aku sebenarnya tidak yakin akan diriku sendiri untuk dapat membantu Stanley menghalau Arizka dari kehidupan rumah tangganya. Hubunganku dan Arizka sebenarnya sangat manis, ya kami sudah seperti suami istri berbagi semua hal bahkan berbagi ranjang.
Tapi bertanya tentang rasa, sepertinya hanya aku yang merasa menyayanginya, sedangkan dia menganggapku hanya tempat mengadu dan alat pemuas. Awalnya dia hanya mau berbagi ranjang denganku tetapi lama kelamaan petualangannya makin jauh bahkan dia tak segan menclok sana sini dengan bebas berbagi ranjang dengan siapapun yang menarik baginya.
Apakah aku sakit hati dan terluka, jawabannya iya karena aku main hati sedang dia hanya main fisik. Maka dipuncak kesalku, aku menarik diri darinya hingga kecelakaan itu terjadi. Dan saat dia mengincar Stanley, aku yang dilibatkan dalam mengamati gerak gerik Stanley jadi tahu tentang Gaby.
Awalnya aku hanya penasaran mengapa Stanley begitu susah tergoda oleh Arizka yang bisa dibilang lebih cantik dan bodynya lebih sexy daripada Gaby. Lama kelamaan, aku mulai tertarik padanya dan seperti itulah akhirnya cerita kami saat ini. Gaby telah kembali ke pemiliknya.
Dan saat ini justru Stanley yang meminta bantuan menjauhkan Arizka darinya, kalau mengikuti otak jahatku maka aku justru akan dengan mudah menghancurkan rumah tangga mereka melalui Arizka, tapi jika kulakukan tetap aja bukan Cinta Gaby yang kudapatkan melainkan kebenciannya.
No... no.... big No kataku mengingatkan diri sendiri. Lu orang baik Alv ga pantes ngancurin Rumah Tangga temen lu sendiri, batinku mengingatkan otakku agar tetap waras.
----------------------------
Ting.... tong......Ting....tong......
Bagitu pintu kubuka, Arizka langsung mendorongku masuk, memelukku dan menyerang wajahku dengan ciuman ciumannya. Aku tergeragap mendapat serangan yang tiba tiba, "Wait... wait.... kamu kenapa?"
Aku berusaha melepaskan pelukan Arizka, kutahan wajahnya agar tak kembali menyerangku. Tercium bau alkohol, sepertinya dia mabok, Arizka masih berusaha menciumku.
"Alv, kamu udah ga suka sama aku sudah ga tertarik lagi menyentuhku?" teriaknya yang membuatku makin yakin kalo dia lagi mabok dan tinggi.
Arizka kembali menyerangku tangan dan bibirnya tak berhenti menggerayangi seluruh tubuhku. Oh Shit, tubuhku bereaksi, dan lebih gilanya aku merasakan sensasi liar yang kurindukan saat saat dulu bermain bersamanya.
Come on Alva behave jangan kepancing ntar hati lu juga yang ujungnya sakit sendiri, kata satu sisi dalam diriku, tapi sisi yang lain menyuruhku menikmati apa yang disajikan. Selagi aku pusing dengan pertarungan otakku sendiri, Arizka sudah terlihat makin berhasrat, tubuhnya menempel padaku seperti lintah.
"Alv, aku lagi pengen, ayo puasin aku Alv." rengeknya sambil menarik tanganku ke arah kamar, ya Arizka memang termasuk hyperse*.
Seperti tersihir aku menuruti saja keinginannya. Aku mulai membalas semua pancingannya, dia tipe pemain kasar, dia sangat menyukai gerakan yang dinamis, bukan percintaan dengan ritme lembut.
Kuberikan semua yang diinginkannya, sepertinya Arizka merawat tubuhnya dengan baik, erangannya, desahannya semua masih persis sama dengan dia yang dahulu.
"Aahhh ..oohh.... Alv... yaaa..... disitu lebih kencang lagi.... come on Alva... lebih keras.....uuuu." ceracaunya semakin membuatku terpacu untuk memberikan kepuasan padanya.
__ADS_1
Berbagai gaya dimintanya untuk kulakukan, berbagai tempat dikamarku sudah dijelajahi, tapi tampaknya Arizka benar benar tak terbendung, semakin menggila. Dan yang lebih gila lagi aku memenuhi semua fantasinya tanpa kenal lelah.
"Ssshhhh...... Aaahhh.... ssshhhh ..... Alv.... Alv..... aku .... aaahhhhh."
Arizka berteriak mendesah mengerang Tak beraturan, aku merasakan sepertinya dia telah sampai, maka segera kuselesaikan juga hasratku.
Aaarrrrgggghhhhh....... tanpa pikir panjang kumuntahkan semua hasratku di dalam dia.
"Makasih ya, kamu ga berubah Ka." bisikku dengan nafas yang masih ngos ngosan.
"Kamu juga Alv, ga pernah aku rasain kayak gini jika dengan orang lain." balasnya
Kamipun beranjak untuk membersihkan badan. Sejenak aku lupa tugas yang diberikan Stanley, tapi permintaan Arizka memang tak dapat juga kuabaikan, terlalu munafik kalau aku mengingkari ajakan Arizka. Bagaimanapun dia pernah ada dalam hati dan hidupku jadi memasukinya adalah seperti mengulang rasa yang pernah ada.
--------------------------
"Alv, aku kangen banget sama kebersamaan kita, bertahun tahun aku berjauhan denganmu nyatanya kamu tetap yang terbaik."
Kalau aku tidak tahu menahu tentang sepak terjangnya, rasanya kalimat itu begitu indah didengar, rasanya seperti pujian. Tetapi untukku saat ini rasanya seperti ditusuk belati, dia yang hanya datang jika membutuhkan pemenuhan hasrat apakah dapat kupercaya kata kata manisnya.
"Benarkah? Lalu kenapa kau memilih mengejar Stanley atau lelaki lain daripada tetap bersamaku?" balasku santai sambil tersenyum miris.
Arizka terdiam seraya mengeratkan pelukannya padaku, posisi kami duduk bersebelahan disofa dengan dia yang menempel memelukku dari arah samping persis seperti bayi panda.
Kuresapi pelukannya, aku berusaha mencari apakah ada getaran seperti dulu atau perasaan bagaimana yang hadir dalam kebersamaan ini. Nihil, aku tak menemukan apapun selain kepuasan karena dapat menuntaskan hasrat.
"Ka, kamu mencariku benar benar hanya untuk menuntaskan hasratmu? Atau ada hal lain?"
Arizka masih terdiam, seperti sedang menyusun kata pembukaan.
"Alv, kamu masih cinta sama Gaby?" ceplosnya membuatku menaikkan alis mengerutkan dahi, ke arah mana tujuan pembicaraan ya.
"Dari semua cewek cuma dia yang aku cinta!" tegasku berusaha setenang mungkin agar dia terus mau membuka apa rencana yang Ada dikepalanya.
"Apa sih kelebihan dia dibanding aku, sampai banyak cowok suka sama dia? Sampai Kent si raja Playboy aja nyimpen rasa sama dia. Wajah sama fisik ya cantik tapi ga spesial pake telor perasaan, kenapa banyak fans ya. Bahkan Stanley aja sampe ga bisa nafsu sama aku gara gara dia!" ujarnya menceritakan tentang Gaby dengan nada marah.
Aku menghela nafas dalam, mencoba menjelaskan, "Secara fisik kamu memang lebih cantik, tapi ga da aura baik yang terpancar. Gaby cantik karena hatinya, ada aura positif setiap kali berdekatan sama dia."
__ADS_1
"Dia pintar, ramah dan hormat sama orang lain. Semua hal yang dia lakukan membuatku makin mencintainya hingga perasaanku ke kamu benar benar hilang. Aku pribadi sangat mengaguminya maka Aku bersedia membantumu saat itu."
"Kamu tau setelah mengenal Gaby, Aku sadar bahwa cinta itu anugerah dia datang tanpa kita tahu karena cuma dapat dirasakan. Bersama Gaby semua terasa pas dan nyaman."
Arizka mencibir mengejek pengakuanku, "Sayangnya dia not good in bed makanya kamu selingkuh sama Nadine hahahaha. Aku tahu semua kisah kalian Alv, jadi jangan bangga banggain dia kalau akhirnya kamu tinggalin juga, artinya kamu ga nyaman dan ga puas."
Aku mengangkat bahuku tak peduli ejekannya, "Justru aku yang tak mau merusaknya sebelum terikat pernikahan. Nadine tak berarti apapun untukku, dia sama denganmu yang hanya membutuhkanku sebagai selimut hidup. Urusan kami hanya berbagi ranjang tanpa berbagi hati."
Aku sudah mulai tak sabar menghadapi Arizka sebenarnya apa yang ingin dia katakan padaku sampai menghampiri dan bahkan memuaskanku.
"So, kamu dateng kesini cuma mau cek apa kemampuanku masih sama atau Ada urusan tertentu? Dari tadi malah ngomongin masa laluku."
Arizka tertawa, "Iya aku ingin menikmati rasa yang dulu kudapatkan setiap kali bersamamu. Tapi yang utama juga karena aku ingin kamu memisahkan Stanley dan Gaby. Sampai saat ini aku masih ingin memiliki dan menikmati Stanley."
"Stanley tidak pernah dapat bereaksi saat aku menggodanya. Sampai aku berpikir dia kelainan, yang membuat aku akhirnya meminta pembatalan perkawinan. Tapi saat aku melihatnya kemarin hasratku terhadapnya kembali hadir."
"Arizka, dia sudah menjadi suami orang sebaiknya kamu menyerah. Stanley cowok baik baik ga akan bisa nafsu sama player macam kamu. Sorry kedengarannya kasar tapi itu fakta Ka."
Arizka memberengut kesal mendengar penilaianku, aku tersenyum miring mengejeknya.
Aku mencoba bernegosiasi, "Maukah kamu menghentikan apapun rencana yang ada di kepala kamu terhadap mereka, dan kembali sama aku?"
Arizka terperangah mungkin tak menyangka aku akan bicara seperti itu, "Kita bisa bersihkan semuanya Ka, belajar saling menyayangi, buang kebiasaanmu celup sana sini, kembali seperti kita yang dulu. Bukankah aku adalah yang pertama untukmu dan sebaliknya? Rasanya tak akan sulit menyembuhkan benih benih cinta diantara kita."
Arizka menangkup wajahku, agar mata kami bertemu, "Sebegitu besarnyakah cintamu Alv sampai sampai kamu mengorbankan diri kepadaku demi melindunginya?"
Aku menggeleng, "Aku memang mencintainya, tapi tugas melindunginya sudah berpindah tangan sejak aku mengkhianatinya. Aku tulus mengajakmu membuka lembaran baru Ka, aku bertanggung jawab karena jadi orang pertama yang merusakmu."
"Aku tahu dirimu penasaran karena tak berhasil menaklukan Stanley, tapi apa yang kamu cari Ka dengan menaklukkannya? Cinta? Gak akan mungkin kamu mendapat cintanya karena Gaby dan Stanley saling mencintai. Jangan buat dirimu terlihat lebih murahan lagi dimatanya, dia hanya akan membencimu."
"Aku sangat yakin dapat membahagiakanmu, sudah terbukti kan dari persetubuhan kita tadi, aku bahkan dapat membuatmu mengerang puas berkali kali."
"Biar waktu yang bekerja membuat kita saling menyayangi. Pikirkan baik baik tawaranku Ka!"
---------------------------
Wuih...... kebaikan Gaby udah menular ke Alva ya, dia berusaha nglurusin Arizka yang mikirnya bengkok mulu.
__ADS_1
Ternyata benar ya kalau kebaikan itu akan menular, satu orang melakukan kebaikan pada orang lain, dan orang itu akan melakukan kebaikan pada orang yang lain lagi, begitu seterusnya.
Yuk readers kita jadi agen kebaikan mulai dari sekarang ya. Yang paling sederhana dengan memberikan like vote dan comments serta rating Bintang Lima buat Thor ya. Makasih😘🙏