
*Arizka POV*
Aku merebahkan tubuhku di kasur Alva, rasanya tubuhku begitu relax setelah berendam dan mandi air hangat.
Entah sudah berapa lama aku terlelap dan merasakan suatu kenikmatan di inti tubuhku, aku membuka mata dan melotot melihat aktifitas Alva dibagian bawah tubuhku.
"Hei jangan bengong, nikmatin ajah hukuman kamu." katanya menyeringai dan dengan cueknya melanjutkan kembali memberi kenikmatan kepadaku. Aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaanku menikmati semua yang dilakukannya padaku.
Disaat hampir menuju puncak berkali kali ponselku berbunyi kemudian mati dan berbunyi lagi, maka aku berusaha mematikan ponselku dan kembali fokus menikmati saat saat pelepasan kami.
"Aaaakkkkhhhhhhhhh........!" teriakku merasakan puncak yang sangat enak Dan menakjubkan.
"Aaaaaarrrrggghhhhh.....!" aku sangat terkejut mendengar suara teriakan lain dan bukan suaraku. Seketika kumelihat ke ponselku dan mataku terbelalak melihat si empunya suara yang menghiasai layar ponselku.
"Gaby....... kamu....... lihat?" seruku dengan wajah yang sangat amat malu, kalau bercermin pastilah sudah semerah kepiting rebus
Gaby hanya mengangguk tak mampu berkata kata, membuatku jadi tak tega karena dia pasti juga sangat malu dan tidak enak hati.
"Sorry Gab tadinya mau aku matikan eh malah kepencetnya yang ijo ya aku ga sadar orang lagi menuju puncak telponnya bunyi mulu, maaf kamu jadi melihat pertunjukan live kami." ujarku sambil nyengir malu.
"Gue yang sorry Ka, gue speechless sampe lupa matiin ponsel liat adegan live kalian. Ternyata lebih hot dari live yang dulu gue pernah tonton juga wakakakaka." balasnya sambil terbahak bahak mengingat live Alva dan Nadine dulu.
Aku ikut tertawa mengingat dia juga sudah tahu kalau aku pernah melihat Alva saat menyatu dengan Nadine.
Tiba tiba Alva sudah mengambil alih ponselku, "Nakal kamu Gab malah nonton dan bandingin sama yang dulu, temen apa musuh si kamu malah buka rahasia ke Arizka!"
"Itu juga kenapa kamu bahunya kelihatan, kamu lagi ga pake baju ya? Abis olah raga juga sama Stanley?" ledek Alva pada Gaby.
"Akkkkhhhhh.......!" teriak Gaby yang menyadari kalau dirinya tak berpakaian membuatku tertawa terbahak bahak, dan sambungan telpon langsung dimatikan.
Aku menatap Alva sambil memonyongkan bibirku kesal.
__ADS_1
"Eh ngapain bibir dimonyongin gitu, minta disedot lagi?" katanya meledekku.
"Alv, malu tau kok bisa bisanya kita ditonton Gaby."
"Udah cuek aja, udah sama sama dewasa kok pasti Gaby juga maklumlah. Lagian dia udah liat juga aku main sebelum ini. Ga lewat ponsel lagi tapi beneran ada didepanku." balas Alva santai.
Aku menghela nafas melihat betapa santainya dia, ga kebayang saat itu bagaimana perasaan Gaby melihat Alvaro yang notabene masih kekasihnya.
Tiba tiba aku teringat sesuatu yang membuat dadaku sesak, "Alv, jujur sama aku, kamu masih cinta ga sama Gaby?"
"Jujur masih dan mungkin sudut hatiku selalu akan mencintai dia. Tapi aku juga sangat menyayangimu jadi please jangan kembali bermain main dengan mengumbar hasratmu diluaran sana. Belajarlah menyayangiku bukan sekedar tubuhku Ka." ujar Alva dengan lugasnya membuat sedikit perih dihati sekaligus kebahagiaan.
Gimana ya Aku jelasinnya, jadi rasanya perih krn Alva ga bisa menghilangkan cintanya pada Gaby tapi aku juga sangat bahagia karena rasa sayangnya untukku. Dan aku bisa menerima tempat Gaby disudut hatinya sebab tempatku jauh lebih besar di hatinya, jadi terluka tapi bahagia hehehehe.
"Maafin Aku ya Alv karena keegoisanku kita jadi harus melalui hal seperti ini. Aku ga perlu belajar menyayangimu Alv karena sekarang aku sudah benar benar menyayangimu." kataku sambil menatap matanya mencari tahu reaksi Alva.
Kulihat binar kebahagiaan dimata itu, "Aku juga ga tahu sejak kapan aku mulai merasa cemburu saat dengan lugas kau mengatakan masih mencintainya. Aku juga ga tahu sejak kapan aku merasa takut kehilanganmu."
"Aku ingin bisa menjadi seperti Gaby, menjadi wanita yang terhormat dan disayangi suaminya. Aku iri karena kehormatannya menjadikan Gaby dicintai banyak lelaki, aku malu Alv sudah mengobral diriku sendiri demi sebuah kepuasan."
"Maafkan aku karena kembali padamu disaat tubuhku sangat kotor." ucapku sambil menangis tak dapat kubendung lagi tangis penyesalanku.
Alva memelukku erat, membisikkan penghiburan untukku, "Husst jangan pernah iri padanya, kalian sudah digariskan memiliki jalan hidup yang berbeda. Aku juga bukan lelaki suci Ka, sama sepertimu. Jadi jangan pernah merasa malu karena kita sama, memiliki kesalahan dan kondisi yang sama."
"Yang perlu kita lakukan hanyalah memperbaiki hidup kita, tingkah laku kita dan tentunya meresmikan hubungan kita ini agar tidak lagi melanggar norma agama. Will you marry me Arizka Wijaya?" kata kata Alva yang begitu lembut tapi mampu membuatku terlonjak kegirangan.
"Yes, I will!" seruku sambil beruraian air Mata bahagia. Kamipun berpelukan erat, aku sungguh lega dan bahagia. Aku tidak lagi takut menjalani hidup dalam kesepian karena Tuhan sudah kirimkan lelaki terbaik untukku.
----------------------
*Apartement Gaby Stanley*
__ADS_1
Oh Shit...... umpatku dalam hati, gila gila gila bisa bisanya aku kembali menikmati live show Alva yang begitu erotis. Oh bukan, bukan aku mengatakan suamiku tidak erotis karena dia juga suka mengeksplor posisi posisi yang variatif. Tapi dua Kali memergoki orang yang sama menyatu dangan wanita berbeda rasanya sangat awkward.
Semoga adegan 21++ tadi segera menyingkir dari otakku, lebih baik aku menyusun rencana bagaimana cara menyampaikan informasi penting yang kudapat hari ini kepada suamiku.
Sudah mulai larut malam tapi Stanley belum juga memberi kabar. Kucoba menelepon suamiku, beberapa kali nada dering tapi tidak diangkat. Aku kembali mencoba meneleponnya, masih tidak diangkat. Aku mencoba kembali dan pada deringan ketiga akhirnya Stanley mengangkat telponku.
"Ha... halo yank.... eh.... uh.... anu.... ka... kamu jangan tunggu aku ya. Ii..... ini me...metingnya.... be.... belum se... selesai yank." ucapnya terbata bata seperti perpaduan sedang push up dan kehabisan tenaga.
Aku mengernyitkan dahi, "Kok suaramu gitu kamu lagi ngapain, meeting dimana?"
"Halo.... Halo..... Hon...!" aku cek ponselku ternyata panggilan teleponku dimatikan oleh Stanley. Aku mencoba menelepon kembali tetapi operator yang menyambut bahwa nomer telepon yang aku tuju tidak aktif.
Aku jadi gelisah sendiri tidak tenang. Sebenernya meeting dimana si sampe ngos ngosan gitu suaranya. Hari ini Kan jadwal Stanley ke Saputra Group, ah lebih baik aku tanyakan sama papi aja sebenernya meeting dimana sampe hampir tengah malem gini belum pulang.
"Ya Halo Gab, kamu tumben telepon papi, Ada apa Gab?"
"Pi sorry aku mau nanya apakah hari ini ada rapat manajemen yang mengharuskan Stanley hadir full?" tanyaku langsung to the point.
"Iya benar Gab tadi ada rapat penentuan target market per enam bulanan jadi Stanley hadir, tapi udah selesai jam delapan malem tadi." aku langsung melongo mendengar pernyataan papi, selesai jam delapan, lah udah tiga jam lebih berlalu dan Stanley belum sampai rumah.
"Tumben kamu nanya jadwal dia, apa anak papi itu belum pulang? Haloo Gab...... kamu masih disitu?" aku tersadar bahwa sambungan telepon masih aktif.
"Eh ga kok pi, cuma mau kroscek aja bener ga tadi meeting. Stan udah pulang kok pi lagi mandi dia. Ya udah besok aku telpon papi lagi ya, aku ngantuk mau bobo dulu. Salam kiss buat Mami ya!" tutupku buru buru mengakhiri pembicaraan pertelpon dengan papiku.
Pikiranku melayang kemana mana, sebenarnya apa yang sedang terjadi ga biasanya Stanley kayak gini. Padahal aku menunggunya karena ingin memberi informasi tentang kesehatan tubuhku.
Tring........
Pasti Stanley yang mengirim message batinku senang.
Ya Tuhan foto apa ini, siapa dia , kenapa dia disana, seketika air mataku turun dengan deras tanpa aku dapat tahan. Aku berusaha tetap rasional mungkin ini tidak seperti yang aku bayangkan, lagi lagi No Name yang mengirimiku foto ini. Siapa sebenarnya dia , Aku tak habis pikir apa maksudnya terhadap semua ini.
__ADS_1
Capek menangis dan membayangkan banyak hal serta munculnya berbagai pertanyaan yang tak ada jawaban, akhirnya aku tertidur kelelahan.