
"Thanks ya buat couple dating dan traktirannya. Kapan kapan gantian dunk di tempat gue ya." ujar Sammy saat kami berpisah pagi tadi untuk pulang ke rumah masing masing.
Kami berjanji akan mengulang acara santai seperti ini di kemudian hari. Setelah saling berpamitan kami melaju ke rumah masing masing.
----------------------
Aku menyapa Mami papi Dan bergegas ke kamar berganti pakaian karena sudah ditunggu untuk sarapan.
Kucium bergantian kedua orang tuaku, lalu membantu mamiku menata meja makan.
"Gab, gimana kencan kalian? Seru ga pacaran dirumah aja gitu? Kamu masih utuh kan Gab ga macem macem kan? Awas lho!" ancaman Mami kusambut dengan ketawa ngakak.
"Ish Mami aneh Masa ga ngapa ngapain garink dunk ah, namanya pacaran ya udah jelaslah ngapa ngapain. Minimal tangan aktivitas sana sini, mulut, kaki juga olah raga mi, dan ternyata nikmat banget." aku sengaja mengatakan hal hal yang ambigu untuk menggoda Mami.
Mamik menatap tajam, "Yang bener kamu? Kamu udah bolong Gab? Hah ....... Mami kan selalu ngajarin kamu jaga asetmu Gab kenapa malah .......!" saking kesal mamiku Tak dapat melanjutkan kata-katanya.
Wakakakaka aku Tak dapat menahan tawaku yang langsung meledak. Tentu saja Mami ga tinggal diam ketika sadar sudah aku bohongin, centong nasi mendarat dikepalaku dengan sukses. Ish sakitnya Mana dari kayu lagi tu centong digetokin pada jarak hanya 25cm diatas ubun ubun Dan kecepatan setara kilat.
"Mii sadis banget si, Mami kan udah Tau aku pasti becanda kenapa si Mami sensi banget deh ah!" seruku ngambek.
"Makanya Hal Kaya gitu jangan kamu jadiin candaan, Mami tu selalu ngomongin Hal itu serius Gab, jangan sampe kamu bikin suamimu kecewa di malam pertamanya karena keperawananmu sudah terenggut!" tegas Mami membuatku merasa bersalah.
Aku langsung memeluk mamiku, meminta maaf karena bahan becandaanku sangat sensitive.
"Udah ga usah cemberut gitu, Mami udah maafin kok. Kalau suatu saat kamu Tau Mami melakukan kesalahan kamu bakal maafin ga Gab?" aku mengernyitkan dahi heran dengan pertanyaan Mami
"Eh kok jadi Mami yang sensitive sekarang?"
Mami cuma senyum tanpa mau melanjutkan pembahasannya tadi kembali sibuk menata meja makan.
"Stan kok ga turun turun Gab?" kentara sekali usahanya mami mengalihkan perhatianku.
Aku menghela nafas membatin bahwa membuat Mami bicara tampaknya susah sekali saat ini.
"Stan ngantuk mi trus nanti jam 9 Ada meeting online jadi sempetin tidur dulu. Nanti aku bawain aja makanannya ke kamar ya mi."
"Iyaa biarin aja tidur dulu kasian anak Mami capek, Mami ga mau kalau Stan sampe sakit."
Hah..... anak Mami batinku, sejak kapan sebutannya gitu ke Stan, aku Tau Mami perhatian Dan sayang sama Stan tapi ga pernah sebut anak Mami gitu.
"Kok anak Mami? Trus aku anak siapa?" tanyaku yang membuat mamiku terlihat kaget.
"Eh ...... ehm.... kan Stan mau nikah sama kamu brati dia anak Mami kan?" penjelasan Mami yang terlihat gugup membuatku sedikit curiga.
"Papi udah Laper nih makanan udah siap belum mi?" Tanya papiku yang tiba tiba sudah ada di ruang makan.
"Udah siap kok pi, baru aja aku mau panggil tapi papi udah dateng duluan."
Papiku tersenyum, "Ayo makan papi dah laper banget."
------------------------
*Alva POV*
tok...... tok..... took .....
Siapa si pagi pagi dah ganggu aja huh..... batinku, "Masuk!"
Kulihat wajah cantik Nadine muncul dengan senyum sumringah menghampiriku.
"Alva bangun yuk, udah waktunya sarapan. Kamu masih sakit kepala, semalam kamu minum banyak Alva."
"Ehm......" dengan enggan aku hanya bergumam malas merespon Nadine.
Nadine sangat pantang menyerah dia semakin mendekat kemudian merundukkan wajahnya ke wajahku dan mengecup bibirku.
Arrgghhhh sialan...... jam segini adalah waktunya juniorku sensitive Dan mudah bangkit.
Nadine tampaknya memang sengaja membangkitkan gairahku pagi pagi begini, dia menggigit bibirku mengajakku membuka mulut dan menuntut lidah kami untuk saling bertarung.
Hasratku begitu besar Dan sejenak aku melupakan rasa tidak sukaku pada Nadine. Aku melayani permainannya, bibir kami semakin intense bekerja saling menyedot
dan *******. Ohhhh Aahhhh.......tangan Nadine sudah merayap ke juniorku, memberi pijatan dan remasan.
Uuaww.... rasanya sungguh enak, owhhh hasratku semakin tinggi, dan Nadine semakin nekat, dia memposisikan wajah di bagian juniorku, aku hanya pasrah menerima semua yang Nadine lakukan. Sama seperti kejadian yang Lalu Lalu pada akhirnya aku hanya pasrah Dan menikmati surga dunia.
Nadine seperti kesetanan, tubuhnya bergerak liar memacu milikku terus Dan terus. Bermacam posisi dia lakukan seperti Tak Ada kata puas, pergumulan yang sangat panas membuat keringat kami bercucuran. Setelah berulang kali bergantian posisi, aku merasa akan menuju pelepasan maka kubalik posisi Nadine menjadi dibawahku.
Ahhh..... ahhh.... aaahhhhhhhh......... tumpah sudah semua hasratku didalam Nadine. Segera kucabut milikku Dan bergegas membersihkan diri.
Dibawah shower aku memutar kembali
__ADS_1
pergulatan kami tadi, aaarrrggghhhhh ....... sialnya aku menikmati semua yang Nadine suguhkan tapi hatiku entah kmana Tak dapat kurasakan romansa cinta sama sekali hanya nafsu Dan hasrat untuk melepaskan saja.
Bagaimana nasib anakku nanti kalau aku Tak punya rasa sedikitpun pada ibunya. Aku Tak mau kalau anakku mengalami nasib yang sama denganku, dilahirkan hanya sebagai sebuah prasyarat supaya ayah Dan ibuku tidak kehilangan warisan.
Seandainya aku lebih cepat mengikat Gaby pasti aku Tak akan kehilangan dirinya. Seandainya aku dapat menjaga diriku dengan baik pasti aku Tak akan terjebak dalam kondisi ini. Seandainya seandainya Dan beribu satu macam seandainya berputar di otakku.
Aaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhhhhh............ aku emang brengsek bisa bisanya berkali Kali bersetubuh tanpa rasa sedikitpun. Kegilaanku menghadirkan makhluk kecil yang bagi orang lain anugerah tapi untukku adalah musibah. Sepertinya Nadine tidak akan melepasku begitu saja, apalagi Gaby membuatku Tak dapat menolak keberadaan Nadine disisiku.
Tok..... tok....... tok.......
"Vaa.... tolong Va....... please perutku sakit banget..... Va...... tolong!"
Kumatikan shower agar dapat mendengar dengan jelas suara Nadine, "Va....... darah VA.... please tolong aku!"
Aku bergegas menyeleaaikan mandiku dan keluar untukberpakaian. Kulihat Nadine menangis sambil mencoba menghubungi seseorang lewat ponselnya.
Kurebut ponsel ditangannya, rupanya dokter Dicta, "Cepet minta anter ke IGD Rumah Sakit terdekat aja Dan jangan panik!"
Aku membantu Nadine mengenakan baju yg tadi belum sempat dia pakai setelah kami bercinta.
"Lex .... Alex... help me please!" teriakku pada Alex yang terlihat melintas di depan kamarku.
" Yo ada apa VA?" Tanya Alex
" Anter Kita ke UGD Rumah Sakit terdekat Lex, Nadine perdarahan. Please Lex!" pintaku yang langsung diangguki Alex.
Aku menggendong Nadine diikuti Alex, hatiku sedikit hangat melihat Nadine menangis Dan darah merembes di pahanya. Oh Tuhan...... baru saja aku merasa kehadirannya musibah Dan sekarang terjadi perdarahan, mohon ampuni aku ya Tuhan, selamatkan bayiku, aku ingin menebus kesalahanku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Tuhan, mohonku dalam hati.
------------------------
"Halo sorry Gab, aku ganggu. Nadine perdarahan Gab. Aku lagi bawa ke Zein Hospital, kamu dinas ga Hari ini?"
Aku terkejut mendengar kabar Nadine perdarahan, " Sorry Alv, aku jadwal off Hari ini. Kamu sama Alex Kan? Kamu tenang jangan panik biar Nadine juga bisa tenang. Aku ga bisa susul kamu, kalau Ada yang bisa kubantu kamu telpon aku aja ya."
"Peluk Nadine Alv, kasih dia kehangatan biar ga stress, semoga perdarahannya ga parah ya Alv. Jangan lupa doa semoga baby baik baik aja."
Sesaat tadi aku bimbang, ada rasa ingin segera menyusul karena takut Alva kebingungan tapi kuurungkan niatku. Bukan tidak mau membantu tapi ada hal yang harus mulai aku batasi supaya ketergantungan Alva dapat berkurang.
Tebakanku Nadine perdarahan kmungkinan karena making love, ibu yang hamil muda memang harus ekstra hati hati dalam berhubungan seksual tapi disisi lain Ada hormon yang membuat libido ibu hamil meningkat.
Meningkatnya hormon testosterone membuat libido ibu hamil meningkat dan area area sensitivenya sangat mudah terangsang. **** saat kehamilan diperbolehkan asal dilakukan dengan sangat hati hati, menilik adegan live yang pernah kusaksikan sepertinya tidak dapat dikatakan gerakannya aman untuk kondisi Nadine saat ini.
Dalam hati aku tertawa sekaligus miris melihat Alva yang selalu menikmati tubuh Nadine tapi Tak dapat menumbuhkan perasaannya, sangat contradictive. Maka keputusanku kembali pada Stanley sudah tepat rasanya.
Kupandangi wajah gantengnya yang tampak lucu karena matanya berusaha membuka, "Eh..... lho yank kamu dah dari tadi ngliatin aku tidur?"
Direngkuhnya tubuhku agar berbaring bersamanya, aku mengikuti kemauannya. Entahlah sejak keyakinanku akan Stanley kembali bahkan bertambah, aku berpikir tidak ada salahnya sepasang kekasih bermesraan selama dalam kewajaran. Maka aku berusaha selalu menanggapi sentuhan sentuhan darinya.
"Siap siap Stan, Makan trus meeting online Kan? Jadi ga meetingnya?"
"Ah iya hampir aja lupa, setengah jam lagi nih yank. Aku siap siap dulu deh, makasih ya perhatiannya." katanya beranjak dari ranjang dan mengecup dahiku sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.
Aku mencari surat dari pak Gun, dan bertekad menanyakan semua yang menjadi ganjalan hatiku hari ini, semoga ga da drama Mami pingsan lagi deh batinku.
-----------------------
"Yank, aku meeting skitar 2 jam gapapa?"
"Gapapalah kenapa emang? Kan meeting dirumah klo kangen aku tinggal masuk aja liatin kamu hehehe." ucapanku yang terdengar gombal mengundang tawa Stan.
Tring ....... Tring........ Tring.......
"Stan selamat meeting ya aku angkat telling dulu ke bawah skalian bantu Mami siapin lunch." pamitku sambil memberi kiss bye yang dibalas anggukan serta senyum manis Stan.
Deuh hidup kayaknya lagi manis manisnya gini kudu ati ati diabet nih hahahahaa batinku geli.
"Halo.... ya Alv, gimana kondisi Nadine?"
"Perdarahannya sudah stop dan untung ga da pembukaan jadi janin aman, cuma dianjurkan bedrest 3 Hari di Rumah Sakit. Apa ga bisa di rawat jalan aja gitu yank eh....... sorry maksdku Gaby?"
Hehehehehe, "Santai Alv aku ga marah kok kamu Salah panggil, justru aku takut Nadine yang bermasalah kalau kamu Salah panggil terus lho."
"Ehm.... bisa kasih telponnya ke dokter yang nanganin Alv?"
Sesaat kudengar Alva meminta dokter Bowo untuk bicara denganku.
"Ya Halo Gaby gimana?" Sapa dokter Bowo ramah.
Aku mengutarakan maksud Alva untuk meminta rawat jalan saja apalah memungkinkan dan kondisi pemulihan nanti akan dibawah pengawasan Dicta.
"Bisa bisa aja Gab, kondisi rahim cukup prima kok cuma tadi perdarahan setelah mereka beraktivitas seksual, beruntung jalan lahir ga terbuka. Oke nanti saya rujuk untuk rawat jalan aja dan kubawain catetan nanti apa yang boleh Dan tidak boleh dilakukan ya Gab."
__ADS_1
Sesuai dugaanku perdarahan karena aktivitas seksual hahahaha sampai segitunya rasanya bullshit kalau Alva bilang ga da perasaan ya. Tapi Hal itu udah ga penting sekarang, yang penting gimana bikin mereka mau saling menerima untuk memperbaiki keadaan.
"Halo Gab, makasih ya. Nanti aku akan konsultasi terus sama Dicta biar bantu jaga kondisi Nadine."
"Sama sama Alv, saranku kendalikan libido kalian, berhubungan boleh dengan gerakan lembut supaya tidak terjadi perdarahan."
"Eh..... oh...... ehm...... maaf ya Gab, aku memang brengsek manfaatin tubuh Nadine tanpa perasaan."
"Ga da yang salah kok kalian sama sama single jadi hak kamu buat berhubungan sama siapa aja Alv termsuk Nadine. Saranku lagi sebaiknya kalian mulai pikir mau bermuara dimana hubungan kalian ini secara sekarang ada baby yang harus kamu pikirin."
Hening........., "Halo... Alv masih disitu Kan?"
"Eh..... I..iya.... Gab, aku cuma bingung apa yang harus aku lakukan. Aku ga punya rasa sama dia."
"Please Alv, jangan egois, kamu punya rasa minimal hasrat ke Nadine itu juga rasa Alv. Buktinya tubuh kamu selalu bereaksi terhadap Nadine. Beda sama perlakuan kamu ke aku, so itu namanya kamu Ada rasa. Sebrengseknya cowok, sorry Alv, ga mungkin nyerah berkali kali sama satu cewek kalau ga da rasa!" aku bicara to the point dengan nada tegas biar Alva mulai mikir ga egois.
Tampaknya Alva terpancing emosi, dia menjawab aengan nada tinggi penuh penekanan juga, "Kamu pikir dulu aku ga tertarik sama tubuh kamu? Kamu salah Gab, aku sangat sangat ingin sentuh kamu tiap Kita berduaan."
"Tapi di otakku, kamu itu berlian maka aku kendalikan tubuhku buat ga sentuh bahkan ngerusak sebelum tiba saatnya. Setengah mati Gab mengendalikan diri sendiri!"
Degh...... aku tersentak Dan jadi tahu dimana problematikanya berawal. Alva menilaiku terlalu tinggi sampai tidak berani menunjukkan rasa cintanya melalui sentuhan sentuhan. Dan aku yang pada dasarnya level cintanya ga kuat merasa baik baik aja ga tersentuh.
Kemudian hasrat yang terpendam tanpa sengaja terpuaskan oleh Nadine, tapi yang jadi masalahnya adalah persepsi Alva tentang sosok Nadine yang maaf cuma dianggap "barang" pemuas nafsu. Dan yah ga bisa disalahkan juga kalau penilaiannya jadi begitu sebab tingkah laku Nadine sendiri yang membuatnya dipandang begitu.
"Kamu diem Gab, kamu baru sadar betapa cintanya aku sama kamu hah? Aku juga sadar perasaanmu ke aku bukan cinta bahkan kalau mau dikatakan cinta takarannya terlalu kecil dibanding cintaku ke kamu!" nada bicara Alva sungguh sarat emosi.
"3Tahun Dan perasaanmu cuma datar karena kamu masih tetap cinta sama Stanley, kamu munafik Gab jalanin hubungan sama aku tapi perasaanmu ga sama aku. Kamu paham posisiku sekarang?"
"Jadi jangan nuduh aku egois karena pada kenyataannya memang bukan aku yang selalu mulai memancing hasrat tapi Nadine dia terus menggodaku, aku cuma laki laki biasa yang bisa juga terperosok tapi kamu seolah mendapat celah buat lepas dari aku, kamu ga tolong aku tapi kamu justru jerumusin aku lebih dalam lagi."
"Aku tahu kamu bahagia saat ini karena lepas dari aku, kamu punya alasan buang aku Dan balik ama Stanley. Disini yang egois siapa Gab???"
"Kamu...... kamu yang egois kejam karena 3 tahun kamu lalui tanpa berusaha mencintaiku! Sorry udah ganggu waktu kamu and thanks buat saranmu!"
Setelah meluapkan semua ganjalan di hatinya Alva langsung menutup telepon sepihak. Aku sungguh Tak menyangka ternyata aku sangat egois, tanpa sadar aku sudah terisak isak.
Untung aku angkat telpon di ruang kerja papi jadi ga da yang denger kalau aku nangis. Hatiku sakit sekali mengetahui seseorang begitu mencintaiku tapi dengan egoisnya aku berpikir dia pria brengsek. .
Aaarrrggghhhhh........ hiks hiks hiks.........
aku telungkupkan wajahku dimeja, aku meraung mengeluarkan segala sesak di hatiku. Aku tanpa sadar menghancurkan Alva, oh Tuhan....... apa yang harus kulakukan.
Mungkin benar secara tidak sadar aku justru bahagia Nadine mengincar Alva karena membuat diriku sendiri terbebas dari hutang budi ke Alva. Dan Stanley yang kembali di waktu yang tepat menambah keinginanku lepas dari Alva semakin besar.
Sungguh aku baru tahu ini yang Alva rasakan padaku cinta yang sangat besar tapi aku memperlakukannya sama dengan teman biasa. Ternyata selama 3tahun hubungan yang kami bangun tanpa dilandasi komunikasi yang benar. Aku harus minta maaf pada Alva untuk semua sakit hati yang dia rasakan Dan aku ga tahu, tekadku.
----------------------------
Tok...... Tok..... Tok ......
Kuketuk pintu kamar Mami, "Yaa masuk aja!"
Terlihat mami papiku sedang bersantai di tempat tidur, "Kenapa Gab, kesepian ya Stan masih meeting?"
Aku menggeleng, mendekat mereka Dan duduk di tepi ranjang. Aku nenyerahkan Surat pak Gun ke papiku, "Gaby cuma mau bahas tentang ini pi."
Terlihat raut tidak nyaman ketika mereka mulai mambaca Surat itu. Berkali kali papi menarik nafas dalam seolah olah dadanya sesak kekurangan oksigen. Segera kucari inhaler takut kalau sampai papi benar benar sesak.
Wajah mamiku sudah bersimbah air mata, "Maaf karena mami, kamu jadi menderita Gab."
"Aku ga merasa Mami bersalah karena Kita semua disini adalah korban mi, korban kebencian. Dan terkadang Ada Hal yang memang tidak bisa dicari alasannya karena melupakan suatu takdir manusia, tetapi Ada juga Hal yang memang terjadi karena suatu alasan." kataku mencoba menenangkan.
Aku sengaja tidak memeluk atau menenangkan Mami, aku memilih berkonfrontasi untuk sebuah kebenaran Hari ini. Aku memilih jalur komunikasi terbuka supaya jelas duduk perkaranya.
"Pi, aku sudah dewasa dan pasti aku bisa menerima semua penjelasan kenapa nenek begitu membenciku? Oke mungkin nenek benci Mami karena anak yang dibesarkan di Panti asuhan, tetapi kenapa dia harus menghancurkanku bukankah aku juga cucunya sama seperti Dicta Dan Brandon?"
"Aku tidak mendendam lagi pada nenek toh beliau sudah tiada, tapi ada hal yang ingin aku luruskan supaya hidupku tenang. Tolong pi, jelasin sama Gaby kenapa nenek benci aku!" pintaku memohon agar papi tidak diam saja.
Papiku tidak langsung menjawab, dia menggenggam tangan Mami seakan meminta persetujuan, kulihat Mami menggeleng kuat tanda melarang. Aku sedikit kesal atas reaksi Mami kenapa dia masih bersikeras tidak mau bercerita.
Papiku menatap mataku dalam, "Janji setelah tahu kamu bakal memaafkan kami semua dan tetap menjalani hidup seperti biasa?"
Aku berpikir sejenak, sedikit cemas apakah cerita dibalik ini semua sangat berat sampai papi takut aku Tak memaafkan mereka tanyaku dalam hati. Apakah aku siap?
-----------------------------
Kudu siap atuh Gaby, serumit apapun rahasia lebih baik diungkapkan. Pasti akan Ada hati yang terluka tetapi tetap akan lebih baik daripada terus tersiksa menyimpan rahasia.
Author nyesekkkkk banget waktu ngungkapin perasaan Alva, semoga dari secuil kisah mereka dapat diambil hikmahnya ya, utamakan komunikasi dalam menjalani hubungan supaya semua hal terang benderang.
Kita ga ahli baca pikiran so kalau Ada uneg uneg Segera diungkapkan. Yuk simak terus apa yang bakal diungkapkan sama Papi Gaby.
__ADS_1
Author ucapin Terima Kasih yang Tak terkira untuk readers yang sudah setia mengapresiasi karya saya, semoga dengan kritk Dan Saran serta dukungan readers maka saya bisa membuat karya yang lebih enak lagi untuk dinikmati.
Salam Sehat Dan Semangat😘💪🙏