
"Halo semua, kami ke atas dulu ya mau ganti baju, maaf mi sedikit terlambat. Mami udah laper ya sampe pucet gitu mukanya?"
Aku sedikit bingung melihat tingkah mamiku yang seperti gelisah dan wajahnya pucat, mungkin nahan laper ya, lebih baik aku dan Stanley bergegas ganti baju.
Setelah siap kami berdua turun untuk bergabung dengan mami papi di meja makan. Kucium pipi kedua orang tuaku.
"Papi sama mami kenapa si kaya aneh gitu? Keliatan gelisah gitu mikirin apa?" kataku sambil bergantian menatap kedua orang tuaku.
"Hah, eng... papi sama mami baik baik aja kok Gab, ayo cepet kamu ambilin Stan makanannya, udah laper pasti dia."
Sejenak aku kembali fokus menatap mami dan papiku, mami berusaha menghindari tatapanku membuatku semakin curiga. Baiklah kalau mami belum mau cerita, aku anggap aman ga da masalah saja.
Kualihkan perhatian pada Stan, "Kamu mau makan apa?"
"Sambel goreng ati ampela, sama opor ayam dan kerupuk aja yank."
Aku menyiapkan semua yang Stan mau sambil masih sesekali melirik ke arah mamiku. Terlihat sekali mami gugup bahkan di ruang makan berAC gini tampak mami berkeringat. Aku berpikir apakah mami sedang tidak enak badan atau dia sedang menyembunyikan hal yang berat dariku.
"Mii, kok diem aja ga makan?" tanyaku dengan nada biasa tapi udah bikin mamiku overeactive gitu.
"Eh, ayo ayo mami makan kok, kamu juga ya ini kan sambel goreng ati sengaja mami siapin karena kamu suka banget kan makanan ini."
Aku tersenyum dan mulai mengambil makanan untuk diri sendiri. Kulihat papiku menatap Stanley yang makan dengan lahap, tatapan papi ke Stanley ga biasanya, seperti ada kerinduan karena lama tak berjumpa. Beruntungnya aku karena papiku sangat sayang pada calon menantunya ini.
Tak sadar kembali mataku menangkap kegelisahan di raut wajah mami, rasa penasaran sungguh menyentak hatiku, ada apa sebenarnya sama mami. Lebih baik aku cepat cepat menghabiskan makanan ini agar dapat segera menginterogasi mami, tekadku dalam hati.
-------------------------------
Setelah makan, papi mengajak masuk ke ruang kerjanya, karena ingin membicarakan suatu hal yang penting katanya.
"Mii, kenapa si dari tadi gelisah terus? Ga biasanya mami kaya gini, selama ini semua masalah bisa kita bicarain dengan terbuka kan mi."
Tiba tiba mami malah menangis sambil memelukku, tubuhnya bergetar hebat tanda menyimpan tekanan berat. Sambil menangis mami menceracau berulang kali meminta maaf padaku, aku menatap bingung ke arah papiku yang hanya diam menunduk.
Haduh....... ada apa si sebenarnya dengan mereka, Stanleypun tak kalah bingungnya dan ga tau harus ngapain jadi dia memilih diam saja. Aku berusaha menenangkan mami, tapi bahkan dia semakin kencang menangis dan sekaligus menceracau, sampai akhirnya kurasakan tubuh mami melemas di pelukanku.
"Mami.... piii mami pingsan!" teriakku melepas pelukanku dan dibantu oleh Stanley segera kami tidurkan mami di sofa.
Dengan sigap papi mengambilkan tas kerjaku berisi alat medis dan juga minyak kayu putih.
__ADS_1
Aku mengukur tekanan darah dan sangat drop, kudengarkan degub jantung dan nafas mami dari stetoskop, papi membaui minyak kayu putih di hidung mami berharap mami cepat sadar, sedangkan Stanley memijat telapak kaki mami, kulihat raut khawatir berlebihan di wajah Stanley.
Aku mendekapnya memberi kekuatan bahwa mami akan baik baik saja. Stanley tersenyum mengerti maksud pelukanku. Walau ada sedikit rasa aneh ketika melihat raut khawatir Stanley yang seperti khawatir pada ibu kandungnya tapi aku memilih diam dan tidak mempertanyakan hal itu.
"Mami kenapa Gab?" tanya papi dengan suara serak sisa kepanikan tadi sepertinya.
"Mami tekanan darahnya drop, sepertinya dia khawatir berlebihan jadi merasa tertekan dan gelisah. Pada titik tertentu akhirnya ga kuat mengakibatkan dia tidak sadarkan diri. Jadi pingsan nya mami ini adalah reaksi tubuhnya terhadap emosi negatif dalam hal ini kekhawatiran kecemasan dan ketakutan berlebih."
"Saat kita tiba-tiba merasakan suatu emosi negatif seperti ketakutan yang luar biasa, sistem saraf dalam otak kita jadi kacau. Padahal sistem saraf bertugas untuk mengatur berbagai fungsi organ di seluruh tubuh."
"Karena gangguan sistem saraf tersebut, detak jantung jadi melambat dan pembuluh darah di kaki kita akan melebar. Darah pun mengalir turun ke kaki sehingga tekanan darah menurun secara mendadak. Sebab itu, otak jadi tidak mendapat asupan darah dan oksigen yang cukup. Inilah yang bikin mami pingsan."
Papi dan Stanley mengangguk angguk mendengat penjelasan medisku terhadap pingsannya mami.
"Ga sia sia papi keluarin duit banyak buat sekolah kedokteran ya Gab, penjelasanmu mudah dimengerti." ujar papi dengan polosnya.
"Hah? Idih papi nyebelin banget sih malah ngomong gitu. Harusnya kita tuh cari tau kenapa mami bisa mengalami kecemasan luar biasa gituh pi!" kataku sambil memonyongkan bibir ngambek.
"Jangan ngambek dunk Gab, justru papi tadi seneng tau, itu tuh kalimat pujian papi amazing aja bisa denger penjelasan kamu." kata papi sambil memelukku.
Setelah sekitar 1jam akhirnya mami membuka mata, "Gab maafin mami ya."
"Sekarang mami istirahat ya, jangan pikir macam macam, ga usah takut apapun karena ada aku dan Stanley serta papi yang akan jaga mami."
"Kalau mami sudah tenang dan sudah siap untuk cerita silahkan panggil kita lagi buat denger cerita mami. Oke?"
"Makasih ya Gab, janji ya apapun yang mami ceritain nanti kamu ga bakal marah dan tinggalin mami?"
Heh.... sebenarnya apa si yang mami sembunyiin sampe tertekan dan takut aku tinggalin, batinku bingung. Mami tipenya kan suka becanda ngebanyol sekarang ngomong super duper serius gini jadi serem euy.
Tapi demi menenangkan mami, "Aku janji mi."
"Ya udah kita sekarang ke kamar aja yuk istirahat, aku anter mami ke kamar ya." ujar Stanley yang memang terlihat lelah. Aku dan papipun mengangguk setuju.
Badanku lelah tapi otakku masih mikirin kenapa mami sampe tertekan begitu, perasaanku mengatakan ada hubungannya dengan pak Gun. Ahh sudahlah lebih baik aku coba memejamkan mata.
"Udah tidur aja yank, besok baru lanjut mikir. Sini kupeluk biar mimpi indah." katanya sembari memeluk dan seperti biasa mencuri kesempatan dasar cowok batinku tapi membalas juga lumatan bibirnya.
--------------------------------
__ADS_1
#
#
Maafkan diriku ya readers, hari kemarin berasa patah hati author ga konsen, udah ngetik panjang lupa ga save ilang lagi semua dan terjadi 2x sampe tadi pagi juga sebagian ketikan ilang 😭😭.
Aku minta tolong donk readers tinggalin jejaknya, like vote koment kritik dan saran semua saya terima ya.
Makasih🙏😘
buat readers yang juga pecinta karya Glen Fredly, bung Glen boleh pergi tapi karyanya tetap dihati. Author ngetik sambil dengerin
***Bersamamu kulewati
Lebih dari seribu malam
Bersamamu yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup s'kali ini saja
Tak sanggup bila harus jujur
Hidup tanpa hembusan nafasnya
Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali
Sekali lagi untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini (biarkan cinta ini)
__ADS_1
Hidup untuk sekali ini saja***