
"Stan, mulai malam ini sampe seminggu kedepan gantian ya kamu yang nginep di rumah mami. Mami juga kan pengen ngabisin waktu sama kalian. Mau ya?"
"Stan terserah Gaby aja mi, kemana dia mau nginep aku ikut. Ga mau lagi dipisahin udah cukup 4 tahun kepisah sama dia, aku ga kuat."
Orang tua kami tertawa bersamaan mendengar jawaban konyolku. Tapi memang aku ga kuat kalau harus pisah lagi sama Gaby, ibarat ikan tanpa air bisa mati rasanya.
Gaby yang malu langsung membenamkan wajahnya di dadaku. Tampaknya suasana sangat kondusif, aku akan katakan keinginanku sekarang saja.
Eeehhhem....... aku berdeham untuk melonggarkan tenggorokanku, " Mama papa dan mami papi, Stan memberanikan diri memohon ijin sama kalian semua untuk mempercepat keinginanku membina rumah tangga sama Gaby."
"Aku ngerasa udah ga da yang harus ditunggu lagi untuk mewujudkan niat baikku. Umur juga kami udah dewasa, kemampuan finansial juga sudah lebih dari cukup, tempat tinggal juga aku sudah siapin apartement yang deket sama Rumah Sakit tempat Gaby kerja. Secara fisik dan mental aku sangat siap."
Gaby melepaskan pelukannya, mengambil jarak untuk menatap mataku, seolah mencari kebenaran dan keyakinan atas apa yang aku utarakan.
"Kamu mau kan yank kalau kita cepet menikah? Aku sungguh ga kuat kalau harus menghadapi banyaknya lelaki yang mengagumi kamu yank, aku gelisah dan cemburu." kataku berterus terang yang langsung menjadi bahan tertawaan Gaby dan orang tua kami.
"Siapa si yang bikin kamu cemburu Stan? Senangnya hatiku kalau kamu cemburu tandanya kamu cinta dan takut kehilangan aku tapi disisi lain brati kamu ga percaya dunk sama kekuatan cintaku?"
"Bukannya gitu, aku percaya sama kamu tapi aku ga percaya sama mereka. Terutama Alva dan dokter Indra!"
"Emang Gaby masih hubungan sama Alva? Main dua kaki gitu?" ucap mami spontan dan tentu saja langsung dihadiahi pelototan Gaby.
"Ga usah melotot Gab, mami cuma nanya. Trus dokter Indra siapa lagi tu? Fans kamu lumayan juga ya." lanjut mami sambil ketawa.
Hahaha mau ga mau kami semua jadi tertawa mendengar ocehan mami G.
"Stan kan aku udah bilang kalau masalah Alva, aku ga bisa lepas tangan gitu aja setelah semua yang kami lalui. Aku merawat Alva kan juga ga sendiri, ada Dicta dan Sammy juga Retna."
"Iya yank, aku ga ngelarang cuma rasa cemburu tetep ga bisa ilang juga. Bisa aja Alva tricky yank, pokoknya aku mau kita nikah secepatnya."
"Papi setuju aja kalau Stan maunya gitu, kita sebagai orang tua mah mendukung aja ya gak pak Andre?"
"Iya Gab, papa juga setuju kamu cepet nikah toh dua keluarga sudah sangat mendukung."
Aku sungguh lega karena semua setuju untuk segera menikah saja, "Makasih ya mama papa dan mami papi, aku sama Gaby janji untuk saling membahagiakan."
Kupeluk erat dan kukecup kening Gaby, ya Tuhan bantu hambaMu ini untuk selalu membahagiakan perempuan terbaik yang Engkau kirimkan untukku.
---------------------------
Sesampainya dirumah aku segera masuk kamar dan menata baju baju Stan karena bakal nginep sminggu di rumahku. Sambil menunggu Stanley yang masih membersihkan diri di kamar mandi, aku turun ke dapur untuk mengisi air minum.
"Pii, Stanley makin mirip ya sama opa Leo, kamu sama mas Andre kapan mau ceritain yang sebenernya ama mereka?"
Samar samar aku mendengar pembicaraan papi dan mamiku yang justru membuatku sangat terkejut. Stan mirip opa Leo, maksudnya mirip opaku kan ayah dari papi, hah gimana bisa batinku mulai gelisah.
Aku makin merapatkan tubuh ke pintu kamar orang tuaku guna mendengar percakapn mereka lebih lanjut.
"Papi sama pak Andre sepakat secepatnya memberitahu mereka sebab ternyata Gun muncul lagi dan bahkan jadi pasien di tempat Gaby dinas. Kami takut dia bakal kasih informasi yang justru akan bikin runyam."
What ...... ada hubungan sama pak Gun juga, berarti ini tentang alasan kenapa aku dan mami bisa sampe tinggal di tempat pelacuran dulunya.
"Mami rasa lebih cepat lebih baik pi, toh ikatan cinta mereka sudah sangat kuat jadi saat mereka tahu pun tidak akan membuat mereka marah. Toh bukan salah kita juga kondisi ini terjadi."
"Iya mi, pasti kita bakal beresin semuanya secepatnya. Aku ke bawah dulu ya ambil air."
Hah..... aku buru buru berjingkat pergi dari depan pintu kamar papi dan secepat mungkin turun tangga.
"Lho Gab, lagi ambil air juga?" sapa papi ketika melihatku sedang mengisi tumblerku.
__ADS_1
Aku mengangguk dan meletakkan tumbler yang sudah terisi penuh kemudian meraih tumbler papi, "Sini Gaby isiin pi sekalian!"
Papi memberikan tumblernya dan menungguku mengisi air sambil mengelus elus rambutku.
Kulihat mata papi berkaca kaca, "Papi kenapa? Kangen banget sama aku?"
Papi tertawa mendengar ledekanku, aku memeluk lelaki cinta pertamaku ini dengan erat, teringat rahasia yang orang tuaku miliki, apapun itu aku tetap akan mencintai mereka.
"I love u dad, my first love, I don't care about my past, sepanjang papi tetep sayang aku itu udah lebih dari cukup. Saat aku dewasa tentu banyak pertanyaan yang aku pengen tahu jawabannya dan aku selalu memilih diam sebab aku takut bikin papi sedih. Sampai saat ini aku cuma menunggu papi siap menceritakan semuanya kenapa aku bisa terdampar di tempat itu saat kecil."
Tanpa kusadari aku sudah terisak isak dalam pelukan ayahku, begitupun papi tanpa malu meneteskan air mata mendengar semua keluh kesah hatiku. Tak satupun kata keluar sebagai jawaban dari mulut beliau tetapi aku lega karena sudah mengungkapkan semua unek unek itu.
"Pi, jangan nangis nanti mami sama Stanley curiga dikira kita berantem lagi hehehehehe." kataku sambil mengeringkan air mata yang mengalir diwajah lelaki cinta pertamaku ini.
"Maafin papi ya, 5 tahun pertama di hidupmu episodenya cukup buruk gara gara papi, janji nanti papi akan jelasin semua ke kamu Gab." kata papi sambil menautkan jari kelingkingnya pada kelingkingku.
"Gab, apa kamu benar benar mencintai Stanley? Apa kamu yakin kalian bisa bahagia?"
"Papi jangan khawatir, aku tulus cinta sama Stan, bukan karena pelarian dari Alva tapi karena aku juga merasakan cinta yang besar dari Stanley pi."
"Entah kenapa ya pi, aku sering kali menemukan sisi Stanley yang sangat mirip papi dan mungkin itu yang aku ga temukan di Alva atau cowok lain yang selama ini berusaha deketin aku."
Aku tiba tiba teringat omongan mami tadi yang mengatakan Stanley mirip opa Leo.
Tiba tiba hatiku bergetar jangan jangan maksudnya aku dan Stanley adalah anak yang tertukar. Hah..... OMG...... gak gak gak mungkin ini hidup Gab bukan sinetron batinku sambil menggeleng gelengkan kepalaku sendiri tanpa sadar.
"Husstt........ jangan pikir yang macem macem Gab, tiba saatnya nanti papi akan ceritain semua. oke?"
Papi kembali memelukku menenangkan karena sepertinya dia tahu kearah mana pikiranku.
"Yuk kita balik kamar masing masing, Stanley pasti masih canggung Gab karena baru pertama kali nginep sini kan. Mami papi percaya penuh sama kalian so jangan kecewain kami ya. U know what i mean Gab?" lanjut papi sambil mencubit hidungku, aku hanya senyum sambil mengacungkan jempol tanda janjiku.
------------------------------
Aku mendengarkan Dicta yang menjelaskan tentang kondisi Alva dan Nadine terkini. Secara mental Alva semakin baik, kepercayaan dirinya berangsur pulih, dia sudah dapat mengendalikan diri jika berhadapan dengan Nadine, tidak berlaku kasar lagi.
Moodnya juga sangat baik dan membuat dia kembali produktif mengaransemen lagu. Nafsu makan juga semakin baik dan suasana hatinya berangsur membaik sudah tidak murung atau menangis, dan indikasi untuk menyakiti diri sendiri juga tidak ada lagi.
Sedangkan kondisi Nadine justru sebaliknya dia merasa tertekan sedih dan takut karena Alva masih menolak untuk bersama dia. Untuk masalah kehamilan cenderung aman karwna kehamilan Nadine bukan tipe yang membuat dia merasa morning sickness berat, bahkan nafsu makan cenderung meningkat drastis.
"Oke Dict thanks ya, besok gue udah jadwalin mereka cek ke Obgyn. Semoga hubungan mereka membaik ya."
"Sammy masih di apartement lu Dict? Gue ama Stan lagi di rumah mami nih. Lu pulang gih jadi tiap sore kita bisa ketemuan."
"Sam masih nih disini, gue brusan dinner ama ortu Sam. Gue mau aja si balik kerumah mami tapi takutnya ada kondisi darurat Nadine atau Alva kan susah nolongnya coy jauh beut jaraknya. Lagian lu sok sokan kesepian orang tidur ama Stanley juga ah." ujarnya sambil terkekeh.
"Bener juga lu ya, by the way gimana tanggapan keluarga Zein? Gue juga kemarin makan malem bareng Dict, mama papa Stan dan mami papi."
"Waow..... Stan bener bener udah ga sabar nikahin lu ya Gab, mama papa Sam baik dan terima gue. Pesen mereka cuma satu jangan kelamaan soalnya mereka udah pengen cucu hahahaa."
Akupun ikut tertawa senang spupu tercintaku sudah menemukan pelabuhannya.
"Eh Dict, menurut lu apa muka Stan mirip sama opa Leo? Entah kenapa makin kesini kaya banyak kesamaan antara papi dan Stan."
"Ehm...... iya juga ya gue baru sadar sekarang Stan mirip sama papi G. Jodoh kali Gab makanya udh 4th pisah juga balikan lagi kalian. Udah ah gue tutup ya ngantuk nih!"
Aku makin penasaran rahasia apa yang sebenarnya orang tua kami simpan. Semoga bukan hal yang buruk deh buat kami semua, doaku dalam hati.
Triiinggg....... Triiinggg....... Triiingggg .....
__ADS_1
Aku mengernyit heran melihat nomer Rumah Sakit yang menghubungiku.
"Halo dengan dokter Gaby disini."
"Dengan suster jaga dok, pasien atas nama Gun di kamar XXX meminta diketemukan dengan dokter Gaby, gimana dok?"
"Ehm.... oke besok saya usahakan visit ya. Makasih sus selamat bertugas."
Ada apa ya lelaki itu ingin menemuiku, huft...... aku ragu apakah besok benar akan menemui dia atau tidak. Tapi hati kecilku penasaran, kmungkinan besar rahasia orang tuaku ada kaitan dengan lelaki itu. Semoga keinginan lelaki itu bertemu denganku tidak membawa kepahitan buatku sudah cukup 5tahun siksaan darinya.
Cup...... kecupan Stanley yang tiba tiba membuatku tersadar dari lamunanku. Segera saja wajahku terasa panas, entah mengapa setiap kali Stan memulai body touching seperti cium atau peluk rasanya selalu saja seperti ada sengatan listrik dan kupu kupu yang berterbangan menggelitik perutku.
"Kamu lho melamunin apa si yank? Tadi telpon dari siapa?" tanyanya sambil mendudukkanku dipangkuannya.
Aku tertawa geli, aneh rasanya duduk dipangkuan lelaki dewasa begini karena belum pernah aku melakukan body touching seintens ini selama pacaran.
"Stan stop cium cium leher aku, geli banget tau, gimana aku mau jawab ini ah." protesku pada Stanley yang memberikan kecupan kecupan kecil di leher dan tengkukku.
"Husstt kamu jangan gerak terus yank, juniorku jadi tegang ini kalau kamu gerak gerak terus."
Hah..... aku refleks melihat ke bawah bagian yang Stanley maksud dengan julukan Junior itu dan buru buru melepaskan diri dari pangkuan Stan.
"Ishh kamu tu yaaa, kalau aku khilaf gimana coba, jangan goda goda kaya gitu donk Stan."
Stanley tertawa terbahak bahak melihat reaksiku yang berlebihan, dan jujur karena aku memang takut kalau kami sampai khilaf gimanapun kami wanita dan pria dewasa yang sangat sehat.
"Oke.... okeee ...... aku ga godain kamu lagi, janji. Udah ya stop ya marahnya, ntar aku jadi nafsu malah liat bibir kamu dimonyongin gitu yank." bujuk Stan masih dengan tawa yang tersisa.
"So...... tadi siapa yang telpon kamu dan bikin kamu ngelamun yank?" tanyanya serius lagi saat kami sudah dapat mengontrol diri.
"Itu lho pasien pengen ketemu sama aku katanya jadi suster jaga telponin apakah aku bersedia datang nemuin dia." jelasku yang masih bimbang apakah akan datang atau tidak.
"Pasien kamu namanya siapa yank? Cewek apa cowok? Umur brapa?" ujar Stan penasaran.
Wakakakaka aku tertawa geli, "Lho kok kamu malah jadi sensus penduduk gitu Stan?"
"Aku cemburu yank mana ada pasien minta ditemuin ama dokternya, makanya jelasin biar aku ga salah paham."
Aku tersenyum sambil mengusap usap lengan Stanley, "Laki laki udah tua namanya pak Gun, sempet serangan jantung, aku yang terima dia di IGD waktu itu. Dan aku ga tau kenapa dia mau ketemu aku."
"Oke kamu boleh ketemu tapi aku harus ikut juga." tegasnya memberiku ultimatum.
Hah..... aku melongo mendengar keputusan akhirnya, tapi ga da salahnya juga si aku ajak Stan menemui lelaki itu, mungkin ini juga waktu yang tepat untuk Stan mengetahui masa laluku.
"Oke deal, kamu boleh ngikut aku besok." jawabku seraya mengacungkan jempolku.
------------------------------
Duh kira kira pak Gun ini mau ngomongin apa si sama Gaby ya gaes???? Jadi penasaran nih ..........
Biar ga penasaran kita lanjut ya kisah hidup dokter Gaby ini.... tapi sebelumnya boekh donk Author minta sesuatu..........
#
#
#
Ayo donk kasih author like vote dan saran yang banyak biar semangat nih lanjut ceritanya. Oke oke???
__ADS_1
Makasih ya buat yang sudah dukung sampai lebih dari 40 bab ini.
Love u all my readersπππππ