Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 46


__ADS_3

Aku kembali terbayang pengalaman buruk masa kecilku.


Flashback On


"Dasar anak kecil ga berguna, aku butuh banyak uang dan kamu harus bantu aku cari uang. Sana ngamen atau ga cari om om yang bisa kamu porotin kaya dulu."


"Ampun om, hiks hiks aku ga tau harus ngapain."


Tangan besar om Gun memukul pantatku berulang kali, tangiskupun semakin kencang karena sakit yang kurasakan ditubuhku.


"Stop mas cukup! Jangan kau pukuli anakku! Tega kamu ya setiap hari menyiksa kami, apa ga cukup uang yang kau terima dari nyonyah itu?" teriak ibuku sambil mendekapku dan sekarang gantian om Gun memukuli tubuh ibuku.


Aku dan ibu hanya bisa berpelukan saling menyalurkan kekuatan untuk tetap bertahan.


"Aku butuh banyak uang dan yang dia berikan sudah habis, kalau kau tidak mau menerima tamu maka bersiaplah anakmu yang cantik ini akan menggantikanmu!" ucapnya


Mami memelukku makin erat, aku yang belum paham hanya membalas pelukannya.


Dengan paksa ditariknya lenganku diseretnya aku keluar rumah. Mamiku dengan sigap mengejar kami. Melihat mami mengejar, om Gun menggendongku dan mempercepat langkahnya.


Aku terdiam tak tahu akan dibawa pergi kemana, aku sesekali melihat ke belakang mami masih mengejarku.


Aku berteriak meminta tolong begitupun mamiku, sampai akhirnya entah dari mana ada seorang bapak dan teman temannya memanggil nama mamiku.


"Gita? Hei kamu Gita kan istri pak Tian? Kamu kenapa?"


Dengan terbata bata mamiku berkata, "Iya bener mas tolong mas anak saya diculik!"


Bapak itu melihat ke arahku yang digendong om Gun sudah cukup jauh dari pandangannya. Lalu aku melihat beberapa lelaki yang bersamanya bergegas mengejarku.


Aku terus berteriak memanggil nama mamiku selain karena takut juga supaya para pengejar tidak kehilangan jejakku. Om Gun membawaku masuk kesebuah tempat remang remang yang penuh laki laki.


"Bos ini bos anak kecil masih rapet bos dengan harga sesuai yang bos mau." katanya sambil menyerahkanku kepada seorang lelaki tua. Aku tidak paham situasi yang sedsng terjadi tetapi ada alarm tsnda bahaya di otakku menyala bahwa mereka orang orang yang tidak baik.


"Hah kau gila ya menjual seorang balita kepadaku, mana ada bagian yang bisa dinikmati Gun. Sinting juga kira kira donk Gun!"


"Bawa bocah ini balik, gue ga mau. Lu ga bakal dapet duit sebelum dapetin sesuai selera gue!"


Laki laki tua itu menyerahkanku kembali ke gendongan om Gun.


"Please bos, saya butuh banget uangnya, anak kecilkan pasti rapet bos coba dulu aja!" bujuk om Gun pada laki laki itu.


Aku semakin ketakutan, otakku menyuruh mencari cara untuk kabur dari mereka.


Kemudian salah satu dari laki laki disitu berkata, "Iya bos mending cobain dulu kan belum pernah sama anak balita sapa tau enak."


Laki laki itu mengambilku dari gendongan om Gun. Dia menciumiku membuatku sungguh jijik lalu tangannya mulai membuka baju yang kukenakan, dengan sekuat tenaga aku menggigit tangan itu kemudian lari keluar dari sana.


Sambil berurai air mata aku berlari kabur keluar dari ruang remang remang itu, dibelakangku terdengar om Gun mengejar sambil memaki maki aku sebagai anak haram sialan dan kata kata jahat lainnya.


Aku tak peduli sekuat tenaga lari mencari bantuan. Saking takutnya aku lari tak melihat jalan, aku menabrak bapak yang tadi mengenali mamiku. Ternyata dia bersama beberapa polisi, keadaan menjadi terbalik, para polisi berlari mengejar om Gun dan laki laki yang didalam ruangan tadi.


Doorrr.....Dorrr.....Dorrr .....

__ADS_1


Terdengar 3x tembakan yang membuat seluruh badanku lemas ketakutan dan aku tak ingat lagi kejadian selanjutnya.


Flashback Off


Tanpa kusadari ternyata Stanley sudah menghentikan mobilnya ditepi jalan dan aku menangis terisak isak dalam dekapannya.


"A.... aku... aku kotor Stan.... orang itu menyentuhku ....aaaarrrggghhhh!" tangisku makin tak terkendali.


Dekapan Stanleypun semakin kuat, ketika aku semakin histeris dia berusaha menyadarkanku dengan menepuk nepuk pipiku. Cara itu berhasil, berangsur angsur kesadaranku kembali.


----------------------------------


*Stanley POV*


Aku terus menepuk nepuk pipi Gaby agar sadar dari histerisnya, usahaku berhasil Gaby berangsur tenang tangisnya mereda hanya tersisa isakan isakan kecil.


Hatiku teramat sakit mengetahui semua kisahnya, kejam sekali orang yang bernama pak Gun itu. Andai orang itu masih hidup aku akan membuat perhitungan dengannya, sayang dia sudah tiada dan Gabypun menerima maaf terakhirnya.


"Stan.... ka... kamu jijik ga........." aku kembali memeluknya menghujaninya dengan ciuman, menunjukkan bahwa aku tidak jijik padanya.


Aku cium semua bagian tubuh yang dia ceritakan disentuh lelaki jahanam itu.


"Aku hapus semua jejaknya dibadan kamu yank, jangan lagi berpikiran aku jijik sama kamu. Aku cinta banget sama kamu, lupain ya orang jahat itu!" kataku tegas.


"Ma... makasih yaa Stan." dia menenggelamkan dirinya di dadaku, aku usap lembut punggungnya.


Tiba tiba Gaby menjauh dari dadaku memberi jarak untuk kami bertatapan, "Dari situ aku tau bapak yang tolong aku saat umur 3 tahun dan saat aku 5 tahun yaitu orang yang sama, dia papa kamu Stan."


Dia kembali bercerita, "Setelah pingsan 2 hari, aku sadar sudah di Rumah Sakit, ada mami dan mama papa kamu serta seorang lelaki yang aku ketahui sebagai papiku. Entah mengapa penglihatan pertamaku mereka ber4 manangisiku dan bergantian meminta maaf kepadaku."


"Setelah seminggu aku dirawat, mama papa juga membawa serta anak laki laki yang seusiaku, eh.... brati anak itu kamu kan Stan? Kamu inget ga?"


Aku tersentak, anak mereka hanya aku brati bener kalau yang ikut menjenguk Gaby kecil adalah aku, otakku berusaha keras mengingat ke masa usiaku 5tahunan.


"Eh.... bener yank, aku inget papa bawa aku ke Rumah Sakit juga buat medical check up trus aku main sama anak perempuan cantik yang lagi sakit."


"What??? Brati kita ketemu pertama saat usia 5tahunan? Ya Tuhan unik sekali kisah hidup kita yank, saat pertama kali Dicta mengenalkanmu ada sisi hatiku yang langsung klik sama kamu, ternyata karena kita sudah pernah saling mengenal jauh jauh hari sebelumnya."


Terjawab sudah mengapa kedua orang tua kami tidak pernah menolak saat dulu kami mulai berpacaran dan bahkan sangat welcome. Aku benar benar takjub dengan rahasia Illahi, goresan kisah yang Tuhan tentukan untuk kami. Mungkin ini yang dinamakan God's Plan for us, kalau sudah Dia yang Maha Berkuasa bertindak maka tak ada satu makhlukpun dapat menentang.


"Stan, jalan lagi yuk kita udah ditunggu mami nih." aku tersenyum, kengecup bibirnya singkat dan kembali menjalankan mobilku.


"Makasih ya Stan, aku lega banget sekarang."


"Kembali kasih yank."


---------------------------------


*Kediaman Leo Saputra*


"Pi, anak anak kok belum sampe juga ya?" tanya mami G sembari mondar mandir gelisah menunggu Gaby dan Stanley.


Papi G sambil berjibaku dengan laptopnya, "Sabar mi, paling bentar lagi sampe. Gaby kan dokter mi jam kerjanya ga bisa tepat waktu kaya kantoran, wong papi yang kantoran aja kadang ada lembur."

__ADS_1


Mami G duduk mencoba menenangkan diri, "Pi, yakin kita bakal ceritain semua? Kenapa si kita yang harus cerita? Aku takut anak anak ga terima pi dan mereka pergi dariku."


Papi mengalihkan fokusnya dari laptop ke mami, "Pak Andre pikir karena sumber utama adalah ibuku maka cerita akan dimulai dari kita. Mereka juga sama tegangnya dengan kita mi, takut anak anak ga terima dan jauhin mereka."


"Tapi papi pikir, kalau kita smua takut dan ujungnya diem aja maka permasalahan yang lebih besar justru bisa terjadi."


"Mami bener bener ga nyangka kisah kita rumit banget njlimet kaya sinetron pi, sungguh rasanya kalau bisa pilih mending mami yang peranin adegan amnesia biar lupain semua karena ujung masalahnya ada di mami pi. Kalau ibu kamu ga benci sama aku pasti anak anak ga nanggung semua kaya gini."


"Husstt..... udah udah, mami ngomong apa si, papi yakin anak anak berbesar hati, toh kita merawat mereka dengan kasih yang tulus dan yang terpenting takdir Tuhan memang menyatukan Stanley dan Gaby."


Tin.... tin.... tin......


Mami G melihat mobil Stanley memasuki halaman rumah mereka, dia mulai diserang panik, kedua tangannya saling meremas, keringat mengucur deras padahal ruang tamunya ber AC.


"Mami mending pingsan aja deh pi, biar kamu aja ngadepin mereka sendiri."


"Eits.... jangan macem macem deh Mi please no drama, kita hadapi sama sama!" tegas papi seraya memberi pelukan menenangkan.


#


#


#


Wah ada rahasia apa si antara dua keluarga itu ya Author jadi penasaran.....


Readers penasaran juga ga ya?


Yuk kita lanjut kisah dokter Gaby biar ga penasaran lagi ya.


Sebelumnya author minta tolong donk readers tinggalin jejaknya, like vote koment kritik dan saran semua saya terima ya.


Makasih🙏😘


Waktu author nulis sambil dengerin lagunya mas Ari Lasso yang "Misteri Illahi"


Segala yang terjadi dalam hidupku ini


Adalah sebuah misteri illahi


Perihnya cobaan hanya ujian kehidupan


Lelah kaki melangkah


Tersesat tiada arah


Suara hati semakin lemah


Terkikis oleh amarah


Sesaat aku tersentak


Ingin rasanya ku teriak

__ADS_1


Masihkah ada cinta tersisa


Untuk jiwa yang terlunta


__ADS_2