
Hooaam..... Aahhhh...... eeehhh ...... aku sedang berusaha mengumpulkan nyawaku sembari meregangkan kaki Dan tanganku. Ternyata setelah aktivitas yang cukup panas tadi selesai kami ketiduran tanpa sempat membersihkan badan.
Ish.... lengket banget rasanya pengen mandi, kulirik Stanley masih tertidur lelap. Akupun turun dari ranjang dan masuk kamar Mandi untuk membersihkan diri.
Sambil berendam, aku memikirkan kembali semua kejadian Hari ini, pertengkaranku dengan Alva sampai terungkapnya kenyataannya antara aku Dan Stan. Rasanya hidupku Kaya sinetron aja, batinku.
Jangan jangan keluarga Zein juga tidak suka padaku karena aku seorang perempuan, karena biasanya seorang pewaris dipilih karena dia laki laki. Seandainya benar begitu bagaimana aku harus bersikap dan apakah aku bisa memaafkan mereka?
Aku Kira anak yang ketuker cuma Ada di sinetron yang sempet happening pada masanya dulu, lah ini ternyata kejadian sama hidupku. Terus disinetron anak anak itu banyak banget ngalamin penderitaan silih berganti hahahaha.
Untung walau aku Dan Stanley ditukar tapi kami menjalani hidup relatif bahagia ga Kaya sinetron yang tokoh utamanya sedih Dan ketimpa derita mulu. Yah...... dalam segala perkara kalau kita mengambil sisi positifnya maka kita masih bisa berkata untung.......
Tok...... Tok...... Tok.......
"Yank, mandinya cepetan donk, gantian badanku lengket banget rasanya. Mama Papa juga udah dateng tuh." teriak Stan dari balik pintu kamar mandi.
Aku bergegas menyelesaikan mandiku, dan keluar untuk berganti baju.
Di depan pintu kamar Mandi, "Ehm.... wangi banget si yank, jadi ga sabar pengen halalin kamu biar bisa Mandi bareng."
"Heh...... Omes banget kamu Stan, jadi tujuan nikahnya cuma biar hasratmu legal hah!" sentakku pura pura ngambek.
"Dih ngambek, berjanda yank eh becanda maksudku hahahaha. Udah cepet pake baju, gimanapun aku laki laki lho klo bablas gimana?" katanya sambil ketawa.
"Bablas ya siapa takut, tetep kawin kawin juga Kan ujungnya." kataku sambil menggodanya.
Tiba tiba Stanley memelukku dari belakang, "Bener ya kamu nantangin sendiri lho ya, ayo kalo gitu aku terima."
Stanley ketawa sedangkan aku meronta ronta minta dilepasin karena takut bablas beneran, "Ampun Stan Ampun ga lagi lagi nantangin singa laper, aku takut BaPer. Please lepasin aku please!"
"Bayar dulu kompensasinya baru kulepasin!"
"Apaan? Jangan macem macem takut khilaf nanti nagih bahaya kan, please." kataku dengan memasang wajah memelas yang imut dan sexy.
"Hadeh malah pasang muka kayak gitu, jadi Makin pengen makan kamu tau yank. Udah kompensasinya gampang, mulai sekarang panggil aku Han dari Honey!" aku terkikik geli ternyata aku yang Omes alias Otak Mesum.
Hahahaha, aku tertawa centil mencuri ciuman di bibirnya sambil berkata, "Oke Honey!"
__ADS_1
Stanley yang kaget karena kucium duluan meraba bibirnya, aku bergegas lari masuk keruang ganti pakaian sambil masih tertawa.
----------------------
Melihat mama Papa Stan yang ternyata adalah mama papaku, perasaanku jadi sedikit berbeda, rasanya canggung.
Ketika kecanggungan makin melanda, kurasakan genggaman di jemariku, yah... siapa lagi kalau bukan jemari Stanley.
Kami berdua berdiri bergenggaman dihadapan kedua orang tua kami karena bingung rasanya harus gimana.
Kulihat mama Dan mamiku sudah berpelukan dengan berurai air mata tanpa isak tangis. Aku Tau banget rasanya sesak kalau Kita harus menangis tanpa suara saking takut atau sedihnya.
Aku Dan Stanley memilih duduk berdampingan di sofa yang bersebrangan dengan orang tua kami. Wajah mereka kusut semua, mata mereka menata kami seolah mengirim pesan untuk memaafkan mereka.
Semua hening Dan hanya saling menatap, sedangkan kedua ibuku masih menangis dalam diam. Apakah aku semenakutkan itu sampai orang tuaku tak berani mengawali pembicaraan?
"Ehm..... apa Kita mau diem dieman begini terus? Kenapa papi Tak kunjung bercerita pi? Apakah aku semenakutkan itu sampai kalian ga berani bicara?" tanyaku mengurai keheningan yang melingkupi kami.
"Sebelum kamu denger cerita lengkapnya, buat kami kamu Dan Stanley sama sama adalah anak kami. Papi ga mempermasalahkan siapa Mami atau mama kamu yang melahirkan, kamu adalah anak papi sampai kapanpun." kata papiku dengan suara serak karena menahan perasaan.
"Begitu juga untuk kami nak, kalian adalah anak kami sampai kapanpun." imuh papaku
"Pa, Gaby sayang kalian sama Dan bukan masalah siapa orang tua kandungku karena toh kalian semua sangat menyayangiku. Yang mengganggu Gaby apakah aku tidak diharapkan sehingga dengan sengaja ditukar?" rasanya seperti boom waktu yang meledak saat aku melemparkan pertanyaan itu dadaku sesak.
Stanley hanya terdiam sambil mengelus kepalaku, karena seperti penjelasannya yang jujur tadi buat dia ga da masalah mengetahui siapa yang sebenarnya jadi orang tua kandungku selama kami masih bersama.
Papa menarik nafas dalam, Dan mulai menceritakan kejadian sebenarnya, "Saat it mama Dan Mami melahirkan ditempat yang sama Dan beberapa jam setelah melahirkan ternyata Gun menculik mamimu tapi dia salah ambil bayi, karena saat itu Stanley yang sebenarnya anak papimu sedang dibawa ke ruang khusus untuk dipanasi sebab terlahir agak kuning."
"Bayi yang Ada di kamar itu adalah kamu Gab jadi Gun salah culik. Begitu menyadari kalian diculik kami berusaha bergerak cepat untuk menangkapnya, tetapi rupanya Ada kekuatan besar yang berada di balik Gun yaitu orang orang suruhan nyonya Saputra."
"Melihat kamu diculik mama histeris depresi sehingga papimu memutuskan memberikan Stanley kepada kami. Dan sejak merawat Stanley mama berangsur pulih dari depresinya."
"Dan cerita selanjutnya kamu mengalami sendiri sampai akhirnya papa menemukan kamu Dan mamimu. Saat itu terungkap bahwa nyonya Saputra yang menjadi dalang penculikanmu, papimu Tak berdaya untuk menuntut ibunya sendiri, maka kasus ditutup dengan kesalahan ditimpakan ke Gun."
"Pada saat yang sama papa Dan mama dihadapkan juga dengan masalah keluarga besar, karena Papa menikah dengan mamamu yang orang biasa maka kakek Dan nenekmu menuntut kami memberikan anak lelaki kalau ingin mendapat bagian warisan."
Isak tangis Tak terbendung lagi dariku, benar dugaanku lagi lagi aku cucu yang Tak diharapkan. Apa salahnya dilahirkan sebagai perempuan. Disini aku dibenci karena nenek mengetahui aku bukan keturunannya, disana kelahiranku sebagai Zein ditutupi agar papa dapat warisan. Aaaaarrrrrrggggghhhhh........
__ADS_1
"Maka saat kamu sudah ditemukan, kami semua sepakat untuk saling membantu, dengan tetap merawat kalian yang tertukar. Papa sungguh minta maaf akan keegoisan papa, tapi saat itu papa takut pada ancaman kakek nenekmu, kalau tidak mendapat harta papa jamin masih bisa kerja tapi kalau mereka mengganggu kehidupan mama, rasanya papa ga sanggup."
Ternyata mendengar semuanya sungguh menyakitkan, mengetahui bahwa kakek nenek kita sendiri Tak menyukai Kita rasanya seperti disilet, perih pedih.
"Terus kenapa papi ga kasih tau nenek masalah ini biar dia ga benci aku? Trus kalau kalian udah Tau kenapa papi masih test DNAku?" tanyaku sambil terisak isak.
"Papi ga bisa kasih tau nenek karena pasti dia akan menuntut kembali Stanley dan membahayakan keluarga papamu. Test DNA itu diambil diam diam oleh nenek karena dia heran semakin besar wajahmu tidak mirip kami."
"Papa berniat sembunyiin ini dari kami sampai kapan pa? Kalau ternyata Stan ga cinta sama Gaby apakah kalian tetap diam pa? Bahkan kami pernah terpisah hampir empat tahun lamanya." kali ini Stanley angkat bicara.
"Tentu tidak Stan, papa Dan papimu selalu berkomunikasi bertukar kabar Dan info tentang kalian bahkan di masa kecil kalian sempat beberapa kali bertemu kalau kamu ingat Stan."
"Papa Dan papimu emang berniat menceritakan disaat yang kami anggap tepat. Sampai suatu hari kamu bawa Gaby ke rumah sebagai pacar kamu, papa mama sungguh takjub akan kuasa Tuhan yang mempersatukan kalian saat itu."
"Dan kalau sampai kalian tidak bersamapun suatu saat kami pasti akan membuka ini semua. Tetapi ternyata takdir Tuhan mempersatukan kalian. Maka papa mohon sama kamu Gab untuk tidak lari dari kami."
Aku masih terisak isak, "Aku ga tau harus bersikap gimana tapi jujur aku sakit hati sama semua ini, aku... aku... sakit hati sama papa."
Papa menghambur memelukku, mangucapkan maaf berulang kali, aku ga benci sama papa tapi aku sakit hati. Entahlah aku sendiri pusing bagaimana mendeskripsikan rasa hatiku.
Aku diam Tak bergeming di dalam pelukan papa, pun Tak membalas memeluknya, papa yang sebelum aku tahupun sudah sangat aku sayangi.
"Maaf, aku..... aku ke kamar dulu." kataku yang membuat papa melepaskan pelukannya. Satu sisi hatiku merasa tidak tega tapi sisi satunya ga bisa terima, aku butuh pergi setidaknya menenangkan diriku sendiri.
----------------------
Kecewa, terluka, sakit hati, semua orang pernah merasakan hal itu. Kehidupan tak pernah hanya berisi suka.
Duka adalah bagian yang tak akan pernah terhindarkan. Seberapa keras pun kita berusaha melindungi diri kita dari pahitnya kehidupan, perasaan manusia adalah sesuatu yang rentan.
Setiap interaksi dengan manusia lain berpotensi menghasilkan sesuatu yang ajaib, yang lebih besar dari dunia itu sendiri. Namun bersama itu pula, hadir resiko terjatuh, disakiti, dan dikecewakan.
Bagaimana kita menanggapinya akan menentukan akhir bahagia dalam kisah-kisah kita. Author sampe ikut galau Kira Kira Gaby bakal menanggapi fakta hidupnya seperti apa ya???
Kalau kalian di posisi Gaby Kira Kira bakal gimana si???
Kalo author nyesek sama kaya yang terjadi udah semangat 45 posting, viewer meningkat eh tapi masih belum mau like hehehehehe, gapapa sih author sabar kok nunggu readers pada ikhlas mencet like vote ama comment.
__ADS_1
Buat yang always dukung pastinya Thank You😘💪🙏