
Setelah pertemuan terakhirku dan Alvaro, aku memutuskan ambil jatah jaga malam di RS berharap kesibukan bisa membunuh bayangan Alva dan Nadine yang sangat melukaiku. Dan hari ini setelah 2 minggu jaga malam, aku mengajukan cuti selama seminggu dari tugasku. Kali ini bukan karena ingin menghindar dari masalahku tetapi karena emang aku dan Dicta sudah merencanakan ambil liburan di Bali sekaligus menghadiri acara pernikahan spupu kami yang lain.
"Selamat berlibur ya Dok jangan lupa oleh-oleh ya," ucap kolega dan para perawatku ketika aku berpamitan pada mereka. Aku tersenyum sumringah menatap raut wajah mereka yang sangat bersemangat, " WA saya aja ya kalian nanti mau titip apa aja, selama saya bisa bawain pasti saya bawain!"
Saat dalam perjalanan pulang ada telepon dari Dicta yang mengajakku bertemu di Mie Pangsit langganan kami. Kebetulan perutku juga udah protes minta diisi, maka kusanggupi ajakannya.
"Hei Dict, wuihh lu emang malaikat gue Dict lagi laper banget eh diajak makan, " ujarku padanya dengan mata berbinar karena mie pangsit dan es jeruk favouriteku datang bertepatan dengan kehadiranku.
"Syukur deh lu sadar ama kebaikan gue, malaikat tanpa sayap kan, bukan malaikat maut maksud lu!" balas Dicta dengan tawa renyahnya serenyah peyek kacang hahahaha.
Lalu kamipun menyibukkan diri dengan proses memamah biyak si mie pangsit ini, sambil sesekali membahas acara di Bali nanti. Saking seriusnya makan dan ngobrol, kami tidak menyadari kehadiran seseorang.
"Hai Gab, Dict, gue boleh duduk bareng ga?" tepuk Alex di bahuku seraya langsung mendudukkan dirinya disebelahku. Aku yang terkejut hanya mengangguk mengiyakan.
"Lah elu Lex, ngapain ijin kalo blm dijawab dah langsung nemplok aja, untung gue lagi baik," ujar Dicta sambil ketawa yang membuat aku dan Alex ketawa juga. Spupuku yang satu ini emang hobby ceplas ceplos dan sangat lucu.
Aku celingukan melihat Alex hanya sendirian, "Tumben mas Bro sendiri aja, Chika mana?"
Alex nyengir sambil nunjuk arah toilet, menandakan Chika sang sekretaris sekaligus calon isterinya itu lagi ke toilet.
"Lu duduk sebelah Gaby ntar Chika ngamuk ga Lex?"
"Yaelah Chika mah bukan emak emak cemburuan Dict, santai dia orangnya. Oh ya Dict kemarin lu kan sempet cek kondisi Alva ya, lukanya gimana? Sorry waktu itu gue tinggal karena ada urusan mendadak."
Dicta menjelaskan bahwa luka fisiknya trutama di dahi sudah mulai mengering, kalau meninggalkan bekas nanti bisa pake salep atau perawatan ke dokter kulit juga bisa. Tapi secara psikis Alva tidak dalam kondisi baik-baik saja, perasaan bersalah dan penyesalan masih menguasai tapi tidak mengarah ke indikasi yang bakal membahayakan, sementara solusinya jangan biarkan sendirian di apartement.
__ADS_1
"Gue bingung Dict sampai saat ini Alv blm mau cerita apa yang terjadi sama dia, ga habis pikir sama Alv, dia yang bikin sakit hati Gaby tapi dia sendiri yang terpuruk!"
Hahahaha, aku dan Dicta tertawa dengan pernyataan Alex.
"Lu mau bilang harusnya yang nangis bombay berminggu-minggu si Gaby gituh?"
Alex nyengir kena skakmat dari Dicta hehehehe.
"Lu kan pernah liat gue nangis kemarin Lex, gue terlihat tegar kaya gini ya karena emang gue pilih jadi tegar Lex, tapi sebagai manusia biasa hati gue hancur, makanya sementara lebih baik gue tenggelamin diri gue di kerjaan!"
"Gue juga ga munafik Lex, pengen banget rasanya ngamukin spupu lu itu, tapi gue sadar itu ga da gunanya ga akan bisa balikin keadaan yang udah kadung ancur."
Alex manggut-manggut mengiyakan dan mungkin mencerna ucapanku yang berasa sesi curcol hahahaha.
"Itulah justru yang bikin spupu lu makin merasa bersalah Lex, karena Gaby malah nunjukkin rasa sayangnya ke Alv. Balesan Gaby yang kaya gitu justru mematikan Lex!" terang Dicta sambil ketawa menghindar dari pukulanku.
"Ga sah dengerin ni kampret satu Lex. Gue ga da niat ngebales Alv sama skali, saat liat kondisi Alv kemarin gue justru makin sadar Alv sayang gue tulus jadi tindakan gue ya spontan aja. Selama berhubungan sama siapapun baik deep relationship atau cm sekedar temenan, gue selalu jaga biar ga nyakitin orang lain Lex."
"Trutama karena gue percaya bahwa ketika kita sadar atau tidak sadar menyakiti orang lain, maka pada akhirnya kita sendiri yang akan menderita menanggung rasa bersalah dan penyesalan. Maka gue ga mau makin menyakiti hati gue sendiri kalau balas perlakuan Alv."
"Lagian hubungan gue ama Alv udh 3 tahun terbilang waktu yang cukup lama kan, jadi gue paham bahwa yang terjadi diluar kontrol Alv, maksudnya bukan karena dia sengaja mau nyakitin gue dengan selingkuh ama Nadine."
"Lu kok bisa yakin gitu Gab kalo kelakuan Alv bukan kategori selingkuh?" tanya Dicta heran karena buat dia apapun bentuk pengkhianatan dalam hubungan pacaran adalah perselingkuhan dan ga da toleransi.
"Ga cuman elu Lex yang bingung ama respon ni bocah, gue ga cuma bingung tapi cenderung kesel!"
__ADS_1
Hahahahahaha aku tertawa mendengar ungkapan hati spupuku yang super keras dan tegas ini. Entahlah, kenapa aku merasa mereka ga bisa memahamiku, atau memang aku terlalu naif ya, batinku.
"So intinya Gab, status lu sama Alv gimana? Karena kalo sikap lu tetep baik gitu kan Alv jd ga paham juga dunk gimana posisi dia sekarang?" lanjut Alex yang gimanapun pengen spupunya baik baik saja hubunganya denganku.
Aku diam sejenak untuk merangkai penjelasan supaya Alex ga salah paham dengan kputusanku.
"Ehm.... gini ya Lex, semoga lu bisa paham sama keputusan gue. Intinya gue memutuskan hubungan asmara gue sama Alv, tapi gue ga mau memposisikan diri sebagai musuh Alv. Jadi amit-amit nih sampai kejadian kaya kemarin yang Alv butuh perawatan maka gue as a doctor and his friend bakal turun tangan."
"Gue si berharap Alv bisa segera beresin masalahnya sama Nadine ya Lex supaya karier Alv ga terancam. Lu sendiri pernah kan masuk jebakan dia, dan dia pakai cara yang sama ke Alv. Gue penasaran deh apa Nadine ada masalah pribadi gitu kok dia ngincer kalian berdua yang notabene sodaraan?"
"Lu bantu Alv deh Lex buat ngatasin video yang Nadine ancem mau sebarin, gue ga bisa bayangin bakal seancur apa Alv klo video persetubuhan mereka go public gituh!" ceplos Dicta yang segera aku setujui.
Giliran Alex yang menghela nafas sambil memijat pelipisnya sebagai tanda kalau kepalanya ikut pusing masalah Alvaro. Masalahnya hingga dua minggu ini Alvaro dalam mode silent alias aksi bungkam jika ditanya Alex masalah yang sedang dia hadapi.
"Gab, gimana kalau lu yang korek keterangan lebih jauh masalah Alv sama Nadine, mungkin kalo lu yang ajak omong si Alv bakal mau cerita detail. Dan tugas lu Lex, coba cek Alva jadi nyanyi ga dinikahan Brandon spupu gue yang di Bali. Kalau Alv ga batalin, maka kita bisa korek dia abis acara disana nanti. Gimana?"
Penjelasan dan usul Dicta masuk akal si, karena memang kondisi seperti ini pasti Alv memilih bicara denganku. Sungguh berat sebenarnya tugas untuk membantu Alv kali ini, sebab hatikupun sakit setiap melihat wajah Alv maka bayangan adegan itu akan muncul dan biasanya membuatku sesak nafas. Di sisi lain kalau kami tidak turun tangan maka nama baik Alv dan kariernya dipertaruhkan.
"Sorry Gab, bukan gue ga mau tahu sama sakit hati lu, tapi kalau emang kita mau bantu Alv maka satu satunya jalan harus korek info dari dia, sedangkan dia cuma mau buka mulut sama elu!" terang Dicta to the point karena melihatku mendadak diam saja.
"Eh ternyata Alv ga batalin penampilannya di acara spupu lu Gab, brusan gue cek ke Manajernya. So gimana lu setuju ga sama rencana Dicta?" tanya Alex dengan pandangan penuh harap padaku.
Aku tersenyum dan mengangkat jempolku sebagai tanda setuju, yah walau pasti sakit tetapi aku memilih membantu Alv keluar dari masalahnya. Dicta segera menjelaskan rencananya di Bali nanti agar aku dan Alv bisa bertemu yang seolah-olah tanpa sengaja berduaan sehingga Alv tidak blocking karena merasa diinterogasi nantinya. Aku setuju saja dengan apapun yang Alex dan Dicta rencanakan. Tak lama Chika datang ke meja kami, maka aku dan Dicta pamit karena tidak mau mengganggu aktivitas makan mereka.
***********To be continue************
__ADS_1