
Aku masih kepikiran tentang WA yang masuk tadi, sebenernya dari nomer yang tidak kukenal tetapi aku sangat yakin kalo itu dari Nadine. Pergaulanku tidak terlalu luas dan bukan tipeku juga mengumbar hubungan pribadi kecuali pada lingkup keluarga dan sahabat dekatku.
Masalahku dan Alvapun tidak banyak yang tahu, maka aku yakin kalo itu WA dari Nadine. Dalam hati aku bertanya tanya apakah Nadine memang memiliki perasaan khusus untuk Alva atau dia hanya tidak ingin aku bahagia bersama Alva. Aku tidak bisa menilai Nadine karena pada dasarnya kami memang tidak kenal dekat, maka aku heran kalo alasan dia benci sama aku sampai niat ngejebak Alva.
Belum terpikir olehku menceritakan message yang kutrima tadi pada Stanley, lagipula rssa penasaranku akan papa Stan dan wanita seksi tadipun belum terjawab. Dan aku yakin Stan sbenernya sedang bermasalah dengan papanya tapi belum bisa crita padaku atau memang ga berniat menjelaskan.
Ah entahlah ....... ,lebih baik aku habiskan sisa waktu di Bandung dengan bersenang senang saja. Karena peristiwa penculikan dadakan ini, maka aku dan Sammy sepakat untuk tuker jaga, kami bakal shift malem lagi sminggu hehehe, seperti biasa dengan alasan masih susah bangun pagi klo ambil shift pagi.
Dicta setuju untuk satu kamar dengan Sammy, maka disinilah aku sekarang dalam kamar Stanley. Sambil menunggu giliran mandi, aku membongkar belanjaan kami tadi.
Sebenarnya aku kurang nyaman harus menggunakan baju yang belum dicuci tapi karena pergi tanpa rencana maka mau ga mau aku harus menggunakan baju baru tanpa dicuci, sambil berdoa smoga tidak terpapar penyakit kulit hehehehe.
Ceklek....... pintu kamar mandi terbuka, keluarlah sesosok tubuh atletis dengan rambut basah, serasa lihat iklan Shampoo khusus pria hehehehehe. Aku tersenyum dan melambaikan tangan agar dia mendekat.
"Stan, liat deh pilihanku apa kamu cocok dan suka sama pilihanku? Owh ya Stan, uang kamu nanti aku transfer ya." terlihat Stanley mengerutkan dahi dan raut mukanya sedikit tidak senang. Ehm.... sepertinya dia tersinggung karena aku berniat ganti uang yang digunakan untuk belanja tadi.
Aku paham selama ini setiap pergi belanja dia selalu suka rela membayar belanjaanku tapi saat itu aku menganggapnya wajar sebab aku berstatus kekasihnya, nah kalau sekarang aku bingung dan ga enak rasanya terima pemberian bgitu aja. Tampaknya aku harus minta maaf dan mengalah saja kali ini daripada suasana jadi tidak kondusif.
"Stan maaf bukan aku ga terima kamu bayarin, tapi aku ... ehm gimana ya jelasinnya Stan, kita.... ehm....., please jangan marah, maafin aku. Terima kasih kamu udah traktir aku." kataku sembari mengelus tangannya sebagai tanda permohonan maafku.
Huft.... terdengar dia menghela nafas kasar, berusaha mengendalikan emosinya. Dia mengganggam tanganku tepatnya meremas membuatku agak meringis tapi aku tahan.
"Gab, segitu ga maunya kamu belanja pake uangku lagi? Dulu kamu ga pernah tu menolak, dan kamu tahu pasti aku ga mungkin menyuruh kamu membayar apapun kalau pergi sama aku. Sekarang kenapa malah kamu mau gantiin? Apa ini karena status kita?" terdengar emosi di dalam ucapannya. Aku melukai harga dirinya, aduh kenapa si ni mulut ga kontrol, aku harus gimana nih suasananya jadi canggung gini.
Sejujurnya aku emang ga mau kalo dianggap matre karena antara aku dan dia ga da ikatan, apalagi dia adalah mantanku. Pergi berduaan dan tidur dalam satu kamar aja rasanya udah aneh banget tapi demi menjaga suasana hatinya yang sepertinya ambyar setelah ketemu sang papa tadi, maka aku stuju untuk berduaan.
Aku memilih beranjak mandi menyegarkan diri mendinginkan hati hehehe, siapa tahu abis aku mandi Stan udah ga marah lagi walau mustahil si hahaha, sepanjang pengetahuanku, Stan akan selalu menjaga emosi tapi kalau udah sampe marah biasanya surutnya lama.
__ADS_1
********************
Stanley POV
Aduh..... **** banget si kenapa omongan Gaby kaya gitu aja bisa bikin emosi gue naik ya. Pasti sekarang dia lagi bingung gimana kudu bikin gue ga marah. Harusnya gue paham, bagaimanapun kami belum ada ikatan lagi, walau semua yang gue lakuin harusnya udsh nunjukkin betapa gue masih cinta dia tapi tetep aja cewek butuh status seperti Dicta bilang.
Aku sebenarnya tahu bahwa emosiku mulai ga stabil sejak ketemu papa dan WILnya itu.
Flashback On
"Stan, kamu di Bandung? Sama siapa?" tiba tiba seorang pria menyapaku saat aku keluar dari toilet, dan ternyata itu papa.
"Lho papa disini juga? Sama mama? Kok bisa samaan ya kumpul di sini." kataku sumringah tapi alangkah kagetnya aku ketika tiba-tiba ada seorang wanita dengan pakaian super seksi kurang bahan menghampiri papaku dan memanggilnya dengan suara yang amat menjijikan.
Aku memandang mereka berdua dengan tatapan membunuh, dan papaku hanya diam tanpa menjelaskan apapun.
"Sayang, siapa lelaki tampan ini? Anak kamu ya, ganteng banget. Kamu ga mau kenalin aku sama anak kamu mas?" wanita itu bergelayut manja pada papaku yang makin membangkitkan nafsu membunuh dalam tubuhku.
"Pah, aku ga nyangka papa serendah ini. Papa hutang penjelasan padaku, aku akan biarkan masalah ini karena aku kesini sama Gaby dan ga mau dia liat kita ribut. Kita ketemu di kantorku, dan maaf aku akan segera bekukan semua CC dan kartu debit papa sampai aku mendapat kejelasan tentang hal menjijikan ini."
"Dan tolong pikirkan baik baik kelakuan papa ini, yang akan menanggung malu bukan hanya papa tapi juga keluarga besar kita. Oh... bukan maksudku menggurui papa ya, setidaknya memilih WIL juga yang kelasnya tinggilah Pah jangan asal comot!" seringaiku sengaja menjatuhkan wanita itu supaya sadar diri.
"Heh anak muda jangan kurang ajar ya kamu, gimanapun dia papa kamu lebih polih aku brati aku lebih baik dari kalian!" balasnya yang makin membuatku emosi.
"Jaga mulut kamu Tina, kalau bukan karena ancaman aku ga sudi sama kamu. Aku jauh lebih menyayangi mereka istri dan anakku." balas papa yang sedikit membuat amarahku mereda, dan kutunjukkan tatapan mengejekku pada wanita itu.
"Mas kamu kok jahat si malah belain mereka!" rengeknya manja yang membuat darahku benar benar mendidih tak habis pikir papaku yang sangat kuhormati bisa jatuh pada wanita kampret macam gini.
__ADS_1
Aku menelepon semua bank yang terakses dengan perusahaanku guna memblock sementara CC dan DC yg papaku gunakan dihadapan papaku. Dia hanya pasrah dan diam tanpa perlawanan. Sekali lihat aja aku tau apa yang wanita itu incar maka ini jalan yang aku tempuh, dan kalau papaku hanya diam berarti dia memang merasa bersalah maka akan lebih mudah memperbaiki semua ini.
"Stan, maafin papa ya." ucapnya lirih hampir tak terdengar. Aku menepis tangan papa yang menepuk pundakku.
"CC dan DCmu sudah aku block pa, aku yakin ga banyak uang cash papa bawa, maka segeralah kembali dan kita bereskan semua masalah di kantorku!" tegasku dingin dengan nada tinggi.
"Dan kamu, akan menyesal karena semua tujuan busukmu terhadap kami tidak akan pernah berhasil. Ingat itu!" teriakku pada wanita tersebut yang tampak mulai ketakutan.
Aku bergegas pergi, karena cukup lama sudah aku pamit ke toilet takut Gaby mencariku. Dan kalau sampai Gaby tahu ulah papaku entah mau kutaruh mana mukaku, belum lagi kalau kluarga Gaby tahu, pasti makin susah untuk meyakinkan mereka menerimaku kembali bersama Gaby.
Untung saat papa memutuskan pensiun dan mengalihkan perusahaan ke tanganku, dia juga mengalihkan tanggung jawab keuangan keluarga kami padaku jadi aku bisa memblockir sementara CC dan DC yg dipakai papaku. Mungkin sangat kelewatan kurang ajar tapi aku tak ambil pusing, selama masalahnya belum terang benderang maka lebih baik tidak memberi keuntungan lebih pada seorang yg diduga pelakor.
Saat aku membalikkan badan, aku melihat sekelebat bayangan Gaby yang berlari masuk menuju kasir, aarrrggghhhh....... jangan jangan tadi dia lihat. Bergegas aku mengejarnya ke kasir, kulihat Gaby seperti orang shock dan ga sadar situasi sekitar, dipanggil berkali kali oleh mba kasir dia ga respon.
Entah ide dari mana tiba tiba Dicta meneriakkan nama Gaby didekat telinganya dengan sangat keras. Dan reaksi Gaby sungfuh diluar dugaan, dia kaget shock sampe lututnya lemas dan hampir terjatuh kalau saja aku tak menangkap tubuhnya. Aku merasakan tubuhnya gemetar dan jantungnya berdegub sangat kencang.
Aku yang panik hanya bisa memeluknya dengan erat, mengelus punggungnya agar terasa nyaman. Ya Tuhan sadarkanlah Gaby, aku mohon doaku dalam hati. Untuk sesaat tadi hatiku benar benar terbang saking takutnya melihat Gaby yang shock, rasa takut kehilangan menguasai hati dan pikiranku.
Kukihat Dicta berjongkok dan memijat telapak kaki Gaby dengan wajah tegang campur rasa bersalah. Dia pasti juga tidak menyangka reaksi tubuh Gaby sampai segitunya. Berangsur angsur wajah yang semula pucat mulai merona merah dan detak jantungnya juga berangsur stabil. Syukur pada Allah tidak terjadi hal buruk pada Gaby, aku memeluknya sangat erat meluapkan ketakutanku, sekuat tenaga kutahan air mataku agar tidak menganak sungai. Bukan gengsi tapi malu karena kami sudah jadi tontonan hehehehe.
Setelah sadar penuh, salah satu pelayan memberi minum teh hangat yang langsung ditenggak habis oleh Gaby, seolah tak ingin membiarkan kami punya waktu menanyakan kenapa dia bisa sampai shock, Gaby dengan sigap langsung ke arah kasir tanpa bisa kucegah. Terdengar mba kasir menjelaskan bahwa belanjaannya sudah dibayar olehku, dan dia hanya tinggal mengecek sizenya apakah sudah sesuai.
Dugaanku Gaby melihat pertengkaranku dan papa tadi. Tapi aku ga akan memperjelasnya sekarang, lebih baik nanti saja aetelah kembali ke villa biar lebih santai berbincang.
Flashback off
Aku menuju balkon untuk merokok dan sedikit minum. Aku bertekad menceritakan semua tentang perasaanku dan apa yang terjadi saat aku meninggalkannya. Dan yang terpenting aku harus tau kmana hatinya sekarang berlabuh.
__ADS_1
******To Be Continue******
Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘