
"Lhoo Gaby apa kabar kamu? Stan kok ga bilang kalau Gaby mau kesini, mama ga siapin apa apa nih lho. Atau kita grabfood aja ya, kamu mau makan apa sayang bilang aja nanti kita pesen." mama Stan kelimpungan sendiri waktu melihatku datang.
Perasaanku campur aduk ketika bertemu dengan orang yang bertahun lalu sempat dekat dan rutin aku kunjungin. Tapi setelah mereka memutuskan Stan menikahi Arizka, sebagai manusia biasa aku merasa sakit hati, egoku mengatakan mereka tidak seberapa besar mengasihiku sampai memutuskan hal tersebut. Jadi sejak itu aku tak pernah lagi menyapa apalagi mengunjungi mama papa Stan, dan sebaliknya merekapun begitu.
"Apa kabar tante, maaf udah lama Gaby ga mampir kesini." kataku sambil mencium kedua pipinya dan memeluknya erat.
"Hah kok tante, apa... apa... kamu masih marah sama kami Gab? Saat itu kami ga berdaya, maafin mama sama papa ya." ucapnya sedikit terbata dan tanpa terasa air mata mengalir perlahan dari sudut mata mama.
Aku menatap matanya, terlintas kesedihan yang samar disana, kuhapus pelan air mata yang mengalir. Ehmm... serba salah memang karena dulu aku kerap memanggilnya mama tapi tadi aku ragu, takut beliau justru tidak berkenan.
"Maaf Ma, tadi aku sedikit ragu, malah kukira Mama yang bakal ga nyaman makanya aku keucap tante. Maafin aku ya Ma, ga da niat nyakitin mama." kupegang dan kucium punggung tangan mama Stan.
Stanley memeluk kami berdua bersamaan, "Terima kasih sudah bersedia jadi wanita teristimewa dalam hidup aku. Kalian berdua sama pentingnya buatku. Mulai sekarang apapun yang mengganjal dalam hati kita, harus kita ungkapkan jangan pendam dalam hati agar tidak jadi penyakit. Oke?"
Aku dan mama mengangguk bersamaan, ya Tuhan semoga kehangatan dalam keluarga ini tidak akan hilang dimakan waktu, mohonku dalam hati.
"Pakett.....!" kami kaget dengan teriakan kurir pengantar paket diluar gerbang.
"Biar bibi aja non yang ambil." kata bibi yang entah kapan datengnya tiba tiba aja muncul didepan kami dan berlari keluar.
"Ma, kita pesen sushi ya, mama suka kan?" tanya Stan yang diangguki mamanya.
Kamipun duduk bersama di meja makan dan mulai sibuk memilih menu menu favourite kami masing masing.
"Stan, tanya papa sana dia mau makan apa, mama masih malas bicara sama papa kamu!"
"Emang papa dimana ma, aku aja yang samperin papa ajak kesini boleh?"
Aku melihat mama dan Stan bergantian mataku meminta ijin pada mereka, tapi sebelum ada jawaban ternyata papa Stan sudah muncul keluar dari ruang kerjanya.
Aku tersenyum menyambut beliau dan msncium punggung tangannya, "Halo Pa, apa kabar?"
Dari mata papa terlihat terkejut akan kehadiranku kemudian mata itu menjadi sendu mungkin mengingat kejadian yang lampau, "Kabar baik Gab, maafin papa ya udah egois dulu."
"Ga da yang perlu dimaafin pa, semua udah takdirnya begitu. Mungkin kalau dulu kami ga terpisah malah sekarang mungkin kami juga ga bersatu. Semua kisah ga bisa diprediksi pa, dari dulu Gaby ga pernah salahin Stanley apalagi mama sama papa. Gaby jalanin semua mengalir aja pa biar ga jadi beban hidup kita." kataku seraya mengelus tangan papa yang sudah keriput karena usia.
"Gaby akan selalu inget kebaikan papa sama Gaby dulu, itu ga pernah bisa dibalas dengan apapun pa."
"Kamu memang anak baik, sudah sepantasnya kamu dapet kebahagiaan bersama orang orang yang mencintai kamu." papa memelukku dan berbisik bahwa kisah lampau biar menjadi rahasia kami berdua saja.
Aku tersenyum dan mengangguk melepaskan pelukan papa, "Duduk pa, mau pesen apa aja, kita delivery sushi tei."
Dengan wajah cemberut mama memberi kode agar aku duduk disebelahnya, aku tertawa melihat raut muka mama yang super duper memendam kesal ke papa, berarti masalah Tina belum usai batinku.
"Oh tuan ada disini, tadi ada kurir kirim paket buat tuan jadi saya masukan taruh di meja kerja tuan." kata bibi menginterupsi kebersamaan kami.
Papa mengangguk, "Terima kasih ya bi."
"Ehm..... papa pesen yang sama dengan mama aja Gab." kata papa agak canggung karena di depanku mama tetap saja cemberut dan acuh sama papa.
"Ya udah mama pesen yang mana aja? Ayo ma jangan cemberut terus atuh, kasian kalau kelamaan ntar cacing di perut Gaby beranak pinak dengan cepat lho." goda Stanley pada mamanya yang masih awet pasang muka cemberut.
Hahaha geli rasanya liat mama Stan memonyongkan bibir dengan kesal, "Huh ngapain juga sama samain dengan menuku! Jangan caper ya, aku masih ga trima kamu jahatin!"
__ADS_1
Kulihat papa Stan menarik nafas panjang dan menghembuskannya, "Aku dijebak mam, please aku lagi brusaha membuktikan aku ga bersalah."
Agak awkward sebenrnya mendengarkan pertengkaran mama papa, walau sejatinya aku sudah tau bahwa itu berkaitan sama wanita muda yang bersama papa di Bandung, tapi saat ini posisiku harus berpura pura belum tahu.
Dehemmm ehemm...., "Gaby aja yang pilihin buat mama papa ya, kayaknya lagi musim ngambek gini ntar perutku keburu bengkak isi cacing hehehe."
Setelah usai huru hara pemesanan menu, kami bubar dari meja makan, papa masuk ruang kerja, mama naik ke kamar sisa aku dan Stan duduk di teras depan.
"Gab, kamu sama papa bisik bisik apa si tadi?" rupanya aksi bisik bisik waktu papa peluk aku ternyata bikin Stan penasaran.
"Bukan apa apa kok, cuma basa basi aja karena lama ga ketemu."
"Owh ya Stan, kamu udah nanya tentang keberadaan papa di Bandung? Trus CC sama DC udh kamu buka?" tiba tiba aku teringat kartu kartu papa yang Stan blokir. Rasanya kasian juga papa yang biasa berlimpah uang tiba tiba semua akses keuangan distop sama anak sendiri lagi.
"Belum, aku bilang bakal buka semua kalau sudah beresin masalah papa. Papa bilang dia ga seberapa inget peristiwa penjebakan itu, terakhir kali papa sedang meeting di sebuah VIP restaurant, nah selesai meeting tiba tiba ada orang yang bekep papa trus ketika sadar papa di kamar hotel sama Tina. Kejadiannya ga lama setelah nikahan Brandon brati sekita sebulanan."
"Dan perempuan itu kembali datang menemui papa dan meminta tanggung jawab karena hamil, dia menunjukkan hasil lab menyatakan dia hamil terus yang kita ketemu di Bandung itu katanya dia ngidam pengen ke Bandung. Papa yang ga sepenuhnya percaya pura pura menuruti semua keinginan dia untuk mencari bukti bahwa papa ga bersalah."
Akhirnya titik terangnya kudapat, aku akan dengan mudah bisa tolong papa. Aku akan bicarakan semua nanti saat perutku sudah terisi sebab sekarang aku benar benar super lapar.
Beruntung ga pake lama pesenan kami semua datang. Kamipun makan bersama diwarnai nuansa sendu dan cemburu hahaha, hanya aku dan Stan yang becanda dan so pasti jadi garing sebab kedua orang disamping kami hawanya saling membunuh gitu.
"Ma.... Pa.... ga malu ya sama calon mantu ambek ambekan gitu? Mama kan ngajarin kita komunikasi terus saling percaya nah gimana prakteknya kok mama cemberut cemburu ngambek padahal papa udah menceritakan semua. Cewek itu jelas hanya orang suruhan yang ngejar uang, buktinya begitu kartu papa dibekukan, dia udah ga pernah muncul lagi kan?"
"Stan, dia emang ga muncul tapi dia telpon dan kirim WA ke papamu rutin, dia juga ada WA ke mama dia bilang kalau lagi hamil dan katanya papa janji nikahin."
"Hah, terus mama percaya gitu aja cuma karena WA dia? Ada ga papa balas atau angkat telponnya?"
"Swear papa ga pernah balas ataupun angkat telponnya Stan." ceplos papa seraya memberikan tanda ✌️(peace).
"Mama harus percaya sama aku Ma, aku yakin saat aku dijebak walau dalam keadaan ga sadar sekalipun, aku pasti ga mungkin bersetubuh dengannya. Mama tau kan penyakitku, diabetes, efeknya dahsyat untuk organ vitalku. Dari situ aja harusnya mama percaya sama aku." jelas papa dengan tatapan sendunya.
"Papa beneran jujur bukan karena mengharap kartu papa dibuka blokirnya, toh tanpa itu semua kebutuhan papa sudah terpenuhi di rumah ini jadi papa ga membutuhkan kartu kartu itu Ma, kalau kalau mama pikir papa melakukannya karena kartu."
"Papa beneran sayang dan cinta sama mama, dari dulu muda banyak kan cewek cewek yang berniat rebut papa, tapi papa tetep pilih mama, apa itu ga bisa jadi pertimbangan untuk mama hanya percaya papa?"
"Gab, kamu kan dokter di tempat papa berobat, kamu pasti tau kan rekam medis papa, bagaimana kondisi tubuh papa, coba kamu jelasin sama mama apa mungkin papa bisa hamilin orang!"
Aku menatap mama dan papa bergantian kemudian mataku bersitatap dengan Stanley yang memberi kode untukku menjelaskan. Aku rasa karena papa sebagai pasien yang meminta maka aku tidak melanggar kode etik kedokteranku.
Kudekati mama, aku tersenyum melihat mama yang sebenernya dia percaya sama papa hanya saja gengsinya membuat dia bertahan menyalahkan papa. Justru menurutku sikap mama dan papa ini romantis hahaha, ya kali kalau hubungan cuma lurus terus ga da belokannya pasti kaya masakan kurang bumbu kan?
"Mama beneran ga percaya sama papa? Kalau udah ga dipercaya mending papa beneran aja deh ke Tina, ayo aku anter sekarang orangnya ada dimana aku tau lho." ke3 pasang mata didepanku langsung melotot ga percaya aku malah ngomong gitu hehehe.
"Kok kamu malah dukung papa selingkuh?" ketus mama makin melototkan matanya padaku.
"Buat apa to bertahan kalau ga dipercaya ma, ayo pa ikut Gaby ke tempat Tina." ajakku sambil menarik tangan papa yang nurut aja.
Dengan cepat mama menarik tangan papa yang satu lagi, "Jangan macem macem kamu ya, berani kamu keluar dari rumah ini, aku bakal bikin cewek itu menderita!"
Wuih sadis juga ternyata mama, aku berusaha menahan tawa. Aku melirik ke Stanley yang masih melongo belum mampu menangkap maksud drama yang kubuat.
Papa melepaskan tangannya dariku, "Gak ma, papa ga akan keluar dari sini. Papa minta maaf ya udah buat mama marah."
__ADS_1
"Mama hebat deh, ga nyangka mama bisa sadis juga ya mau bikin menderita cewek yang ganggu papa hehehe. Stan denger tu kalau sampe macem macem, aku bakal lebih galak dari mama."
"Makasih ya Gab, mama tau kalau mama terlalu kekanakan, mama jadi malu." kata mama senyum malu malu.
"Pa, sebenarnya waktu papa di Bandung itu aku lihat saat kalian bertengkar, terus Stan ceritain ke aku tapi dari awal aku yakin pasti papa ga salah, dan sekarang terbukti memang papa ga salah kan."
"Gab, kamu bisa baca hasil USG ga?" kata papa tiba tiba sambil berjalan ke ruang kerjanya. Aku mengikut papa masuk ruang kerja dan ternyata mama sama Stan juga ngikut karena penasaran.
Papa menyodorkan selembar hasil USG atas nama Tina, dan akupun tersenyum karena pembuktian papa ga bersalah semakin mudah.
"Kok senyum senyum sayang?" kata Stan sambil merapatkan tubuhnya ikut melihat hasil USG ditanganku.
Aku memperlihatkan perkiraan usia kandungan yang tertera di foto USG itu, 13week sedangkan menurut Stan kejadiannya pada saat Brandon menikah jadi usia janin ini kelebihan skitar 5week dari peristiwa persetubuhan yang dituduhkan.
"Pa, ada foto yang mereka kirim buat ngancem papa ga? Foto kejadian yang papa tau tau ada di kamar hotel bareng Tina? Kita butuh tanggal kejadian hari itu pa, kata Stan kejadiannya pas nikahan Brandon ya?"
"Bukan Gab, kan pas nikahan Brandon di Bali mama papa dateng kondangan trus besoknya langsung pulang nah lusanya kejadian abis papa ketemu Klien."
Papa menunjukkan sebuah foto yang siapapun kalau lihat pasti juga bakal berpikir papa abis bersetubuh sama perempuan di foto itu. Aku cek properties dan tanggal pengambilan menunjukkan tepat 55 hari dari tanggal yanh tertera di USG, fix ini bukti paling otentik.
"Pa, masih simpen nomer Tina? Bisa ga papa telpon dan ajak ketemu, kita tuntasin masalah ini lebih cepat lebih baik pa. Lusa aja suruh dia dateng kesini boleh ya ma? Sminggu kedepan praktekku shift pagi jadi sorenya aku free. Gimana?"
Mama mengangguk tanda setuju, "Mama aja yanh telpon Tina, dia kan pernah ngajak mama ketemu. Lusa mama suruh dia kesini dan kita bisa segera beresin dia ya Gab!"
Aku dan Stanley tertawa melihat reaksi mama garang banget, persis ABG yang berebut cinta.
"Oke ma pa karena masalah kalian sudah ditangani Gaby, sekarang kami pamit naik ke atas ya, ada urusan juga lebih penting."
"Awas ya Stan kalo kamu apa apain anak mama, ga selamet kamu Stan!"
Aku tertawa senang sekaligus lega karena hubungan kami membaik seperti semula, akupun menuruti ajakan Stan istirahat di kamarnya.
"Yank, lusa kamu mau ngelakuin apa sama tina si nenek sihir?"
"Tunggu aja lusa oke?" kataku tak mau membocorkan langkah yang aku ambil hehehe. Stanley mengerucutkan bibirnya membuatku gemes sendiri karena jadi baby face gitu wajahnya. Dengan cepat dan singkat kukecup bibir itu.
Stanley tak mau kalah, diapun bereaksi dipegangnya kedua pipiku membiarkan matanya menatap mataku, perlahan tangan kanannya memegang tengkukku menekannya. Wajah kami semakin tak berjarak, bibirnya perlahan tapi pasti meraih bibirku, meluapkan semua rasa sayang dan rindu diantara kami. Dan terjadilah..............
----------------------------------
#
#
#
"Kepercayaan itu mahal harganya, pengkhianatanmulah yang murahan."
Kepercayaan adalah kemauan seseorang bertumpu pada orang lain dimana orang tersebut memiliki keyakinan kepadanya.
Kepercayaan adalah salah satu bekal kehidupan yang amat penting untuk kita jaga. Karena tanpa adanya kepercayaan, maka hidup ini terasa penuh dengan kecurigaan dan kebohongan.
******To Be Continue******
__ADS_1
Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘