Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 43


__ADS_3

*Stanley POV*


Aku penasaran siapa yang abis menelepon Gaby sampai sampai dia melamun begitu


Cup...... dengan tiba tiba kukecup bibir Gaby membuatnya tersadar dari lamunan. Wajahnya merona merah bak udang rebus, entah mengapa setiap kali aku memulai body touching seperti cium atau peluk tubuhnya selalu menggigil seperti ada aliran listrik dan wajahnya merona merah.


"Kamu lho melamunin apa si yank? Tadi telpon dari siapa?" tanyaku sambil mendudukkannya dipangkuanku


Gaby tertawa geli, mungkin merasa aneh


duduk dipangkuan lelaki dewasa begini karena sebelumnya memang ga pernah kami melakukan body touching seintens ini.


"Stan stop cium cium leher aku, geli banget tau, gimana aku mau jawab ini ah." protesnya padaku yang memberikan kecupan kecupan kecil di leher dan tengkuknya.


"Husstt kamu jangan gerak terus yank, juniorku jadi tegang ini kalau kamu gerak gerak terus." kataku memperingatkannya agar duduk diam dipangkuanku.


Refleks Gaby melihat ke bawah bagian yang aku maksud dengan julukan Junior itu dan buru buru melepaskan diri dari pangkuanku


"Ishh kamu tu yaaa, kalau aku khilaf gimana coba, jangan goda goda kaya gitu donk Stan." protesnya sambil menjauh dari jangkauanku.


Aku tertawa terbahak bahak melihat reaksinya yang berlebihan, dan jujur aku juga sebenarnya takut kalau kami sampai khilaf gimanapun aku pria dewasa yang sangat sehat tentu gairahkupun tinggi.


"Oke.... okeee ...... aku ga godain kamu lagi, janji. Udah ya stop ya marahnya, ntar aku jadi nafsu malah liat bibir kamu dimonyongin gitu yank." bujukku masih dengan tawa yang tersisa.


"So...... tadi siapa yang telpon kamu dan bikin kamu ngelamun yank?" tanyaku serius saat kami sudah dapat mengontrol diri.


"Itu lho pasien pengen ketemu sama aku katanya jadi suster jaga telponin apakah aku bersedia datang nemuin dia." jelasnya yang masih bimbang apakah akan datang atau tidak.


"Pasien kamu namanya siapa yank? Cewek apa cowok? Umur brapa?" ujarku penasaran.


Wakakakaka Gaby tertawa geli, "Lho kok kamu malah jadi sensus penduduk gitu Stan?"


"Aku cemburu yank mana ada pasien minta ditemuin ama dokternya, makanya jelasin biar aku ga salah paham."


Dia tersenyum sambil mengusap usap lenganku, "Laki laki udah tua namanya pak Gun, sempet serangan jantung, aku yang terima dia di IGD waktu itu. Dan aku ga tau kenapa dia mau ketemu aku."


Seketika aku teringat perbincangan rahasia papaku dan papi G sore tadi, mereka menyebut sebut nama Gun yang ada kaitannya dengan rahasia hidup Gaby. Aku makin penasaran dan bertekad untuk menemuinya.


"Oke kamu boleh ketemu tapi aku harus ikut juga." tegasku memberi ultimatum.


Hah..... Gaby melongo mendengar keputusanku, dan tampak dia berpikir sejenak mempertimbangkan keinginanku.


"Oke deal, kamu boleh ngikut aku besok." jawabnya seraya mengacungkan jempol tanda setuju.


Dengan sigap aku kembali meraih tangannya menariknya dan mengajaknya naik ke kasur. Hari sudah sangat malam dan rasanya lelah sekali. Tapi hasrat kelelakianku sulit diredam.


Tanpa aba aba aku memposisikan diri, wajah kami sudah tak berjarak, kulumat lembut bibir sexinya, menariknya untuk membalas ciumanku. Gerakan bibir kami semakin intens, semakin liar, rasanya sungguh manis dan nikmat.


Gairahku semakin meningkat, nafasku memburu tapi aku menahan diri jangan sampai hilang akal. Dengan paksa kuhentikan aktifitas bibir kami, kualihkan ciumanku ke dahinya dan memeluknya lama guna menurunkan tensiku.


Aku merasakan nafas Gaby naik turun tidak beraturan tanda dia juga bergairah, sungguh aku bersyukur dapat menahan keinginanku sampai sekarang tujuanku hanya satu agar semua indah pada waktunya. Kata orang mendapatkan kemurnian dimalam pertama itu sensasinya luar biasa dahsyat menjadi kebanggaan tersendiri bagi pasangan itu, maka aku selalu menjaga untuk tidak merusaknya.


----------------------------


Sarapan pagi kali ini berlangsung dengan kilat sebab kami semua terlambat bangun hahahaha. Stan dan papi memang Working from home jadi bisa lebih santai, sedangkan aku apa kabar selain berusaha secepat mungkin sampai Rumah Sakit.


Stanley yang mengantarku berusaha menyetir secepat mungkin karena walau banyak yang Working from home ternyata kepadatan jalan raya ibukota tidak berkurang dengan signifikan.


Dalam 10 menit kurang dari waktu masuk shiftku akhirnya aku tiba didepan pintu IGD, langsung aku cuci tangan, cek suhu dan disemprot. Lututku terasa lemas nafasku ngos ngosan, akibat berlari dari halaman menuju ke IGD.


"Pagi dok, santai aja belum padat pasien kok dok." sapa seorang perawat pria yang sangat ramah.

__ADS_1


Aku tersenyum ramah kepada semua perawat yang bertugas , "Selamat pagi semuanya, semangat bertugas ya!"


Aku menghampiri Sammy di meja kerjanya untuk meminta ijin visit pak Gun sesuai janjiku kemarin.


"Sam, mumpung pasien belum rame aku boleh visit pasien bentar ga, ada pasien yang minta ketemu aku di ruang XXX. Lu bisa handle IGD sendiri dulu kan Sam?"


"Owh pasien yang jadi tanggungan gue itu, oke ga masalah kok, sekarang aja Gab biar ga kelamaan terus jangan lupa lu janji anter Nadine ke Obgyn juga."


"Oke bos, duh kalo lagi ga suruh jaga jarak udah gue ***** lu Sam hahahaha." kataku sambil meledeknya yang dibalas kepalan tangan membuatku makin keras tertawa.


Aku segera mengirim pesan untuk Stan mengikutiku menemui pak Gun.


----------------------


Sesampainya di ruang XXX ternyata pasien dipindahkan ke ICU karena kondisi yang semakin memburuk. Aku bergegas mengajak Stanley menuju ICU, aku takut tidak sempat bertemu dengannya.


Disana aku melihat dokter Yusup yang memberi kode untuk segera masuk, "Pasien sudah menolak seluruh upaya medis, operasi yang dilakukan kemarin kurang berhasil. Dia ingin ketemu sama kamu Gab, silahkan sebelum terlambat."


Hatiku sungguh nyeri melihat orang yang menjadi sumber penderitaanku saat kecil sedang berada dalam sakratul maut. Nafasnya tersengal sengal saturasinya sangat rendah, tapi pasien masih kondisi sadar. Matanya memberi isyarat agar aku mendekat.


Suster segera memasangkan jubah khusus dan sarung tangan serta memberikan masker untuk kugunakan. Dengan menyingkirkan kebencian, aku raih tangannya dalam genggamanku. Bibirnya bergerak gerak mengucapkan sesuatu, aku memperhatikan dengan seksama gerakan bibir itu dan membaca kaya Maaf.


"Aku terima maafmu pak." jawabku sambil mengangguk tak ada kata yang lebih pas dalam kondisi seperti ini selain menerima maafnya.


"Suster tolong dipandu untuk melafalkan doa sesuai agama Islam karena beliau seorang Muslim."


Seorang perawat lelaki menawarkan diri untuk membantu dan setelah beberapa saat pak Gun menghembuskan nafas terakhirnya.


Aku kemudian meminta perawat tersebut untuk mengurus jenasahnya sesuai agama yang beliau anut. Sebab aku tak tahu sebenarnya siapa dia dan dimana keluarganya.


Kemudian aku berpikir untuk menelepon papa Stan, " Pah ini Gaby mau ngabarin kalau pak Gun meninggal, operasinya kurang memuaskan. Gaby ga tau dimana keluarganya jadi Gaby serahin sama pihak Rumah Sakit nanti tinggal membayar biaya yang dikeluarkan."


"Yank, gimana kondisinya?" suara Stanley mengagetkanku, jujur aku lupa keberadaannya yang menemaniku tadi.


Aku tertawa tepatnya menertawakan diri sendiri yang sampe lupa kalau ngajak Stanley ke ICU tadi, "Pak Gun meninggal Stan, dia tadi cuma bilang maaf gitu. Aku udah telpon papa dan minta bantuan orang papa urus jenasahnya."


"Yank sebenernya dia itu siapa si kok papaku bisa kenal? Dan kamu kenal dia dimana?" akhirnya kalimat pertanyaan yang sudah lama kutunggu muncul juga, Stanley menyuarakan rasa penasarannya terhadap sosok pak Gun ini.


"Pokoknya nanti aku bakal ceritain ke kamu, janji. Sekarang kayaknya bukan waktu yang tepat buat aku cerita Stan."


"Owh ya bentar lagi giliran aku nemenin Nadine sama Alva ke Obgyn, kamu mau ikut kita atau pulang?" aku memilih menanyakan daripada nanti Stanley tau dari orang lain kalau aku nemenin Alva dan ujungnya cemburu maka lebih baik cerita di awal saja.


Terlihat dia berpikir sejenak dan kemudian memutuskan ikut menemani ke Obgyn, aku tertawa lagi bukan bermaksud meledeknya tetapi membayangkan ruang dokter Airin bakal penuh manusia yang cuma anter aatu orang kontrol hehehe.


"Dok, maaf jenasah pasien atas nama bapak Gun sudah masuk ke kamar dan sudah dapat diambil keluarganya untuk dimakamkan. Dan kami menemukan ini dok, surat yang beliau tujukan buat dokter Gaby."


Aku menerima amplop putih itu dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada suster tersebut. Rasa penasaran begitu tinggi untuk langsung membaca surat itu, tapi rasanya lebih baik nanti saja kubaca saat sudah ada dirumah.


Setelah melepaskan atribut yang harus dikenakan di ICU, aku dan Stanley kembali ke IGD guna menunggu Nadine dan Alva.


Di IGD suasana masih sangat kondusif cenderung sepi bahkan.


"Lho Stan ngapain? Mending lu tunggu di kamar istirahat aja gih Stan, situasi begini ga baik buat lu ada si Rumah Sakit bro."


Stanley menurut saja apa kata Sammy, dia masuk ke ruang istirahat dokter.


"Gimana udah ketemunya?"


Akupun menggelengkan kepala kemudian menceritakan bahwa pak Gun sudah meninggal dan cuma sempet ngomong kata Maaf doank dan menitipkan surat untukku.


Sammy mengangguk, "Berhubung dia udah meninggal tolong lu juga lepasin kebencian lu sama dia ya Gab. Ga ada gunanya simpen perasaan negatif kita ke orang lain."

__ADS_1


Aku tersenyum dan memberi tanda o dengan menyatukan jari telunjuk dan jempolku membentuk bulatan.


--------------------------------


Ruang dokter Airin terlihat penuh karena kami ber3 ikut masuk melihat pemeriksaan Nadine.


"Titik itu adalah janin ya ibu, umurnya masih 7minggu jadi masih berupa gumpalan darah, kondisi rahim ibu juga sehat tadi tensi dan gula darah juga normal ya. Ada keluhan mungkin?" dokter Airin fokus bertanya pada Nadine tentang apa yang dia rasakan pada tubuhnya.


"Kadang mual di pagi hari tapi ga sampe parah yang bikin saya ga bisa ngapa ngapain si dok, trus kalau malem lebih susah tidur. Nafsu makan cenderung meningkat tapi ga pilih pilih makanan semua bisa saya makan." jawab Nadine dengan penuh antusias.


Kulihat Alva juga penuh perhatian pada keterangan dokter Airin. Semoga hatinya segera mencair dan mau menerima Nadine.


Aku sedikit meringis merasakan remasan ditanganku yang sejak tadi digenggam Stanley. Ehm..... aku menghela nafas hilang akal menghadapi kecemburuan Stan saat ini.


"Sakit Stan, kamu cemburu sama Alva atau cemburu karena pengen punya anak juga?" bisikku mengingatkan bahwa tanganku sakit.


Sesaat dia tersadar, "Eh maaf yank aku ga sengaja ngremes tangan kamu, aku ga suka tadi kamu nglirik Alva. Maaf ya!"


"Setiap bulan kita akan USG ya bu supaya terpantau perkembangan janinnya, hanya saja untuk bulan depan kita lihat situasi dan kondisinya, apabila wabahnya membuat Rumah Sakit makin tidak kondusif maka tidak usah kontrol dulu lebih baik. Yang penting bikin hati ibu bahagia rileks agar janin berkembang baik."


"Ibu juga harus minum susu hamil ya bu pagi dan malam, nanti saya akan resepkan vitamin dan penguat kandungan serta anti mual tapi diminum bila mualnya parah dan tak tertahan."


"Sebelum kita akhiri sesi pemeriksaannya, apakah ada yang mau bapak atau ibu tanyakan? Owh ya saya juga akan membuatkan copy resep jadi bulan depan klo kondisi tidak memungkinkan ke Rumah Sakit, ibu bisa tebus sendiri di apotek."


Nadine menatap Alva sejenak, yang ditatap melengos mengalihkan pandangannya, kulihat Nadine menghela nafas dan tersenyum pada Airin.


"Ehm... sudah paham dok, terima kasih."


"IGD sepi dok, tumben nemenin pasien sampe masuk gini?" sapanya padaku setengah meledek, ya secara garis besar Airin tau kisah diantara kami berempat.


"Kalau rame mana boleh gue kabur kesini sama Sammy dok. Ya udah kalau gitu, gue balik dulu ya dinas. Thanks ya dokter Airin udah mau trima pasien pake jalur khusus hehehe."


"Nadine, Alva, aku balik kerja dulu ya. Kamu urus aja obat dan administrasinya trus langsung pulang aja, nanti obat aku anter pake ojol aja jadi kalian ga terlalu lama berada di Rumah Sakit."


Tak punya pilihan lain karena aku memang sedang tidak ingin dibantah maka mereka pun menurutiku. Setelah berpamitan, aku menggandeng Stanley keluar dari ruang klinik Obgyn.


"Stan, udah jam makan siang, mau lunch dulu sama aku atau langsung pulang?"


Tampak dia berpikir sejenak dan akhirnya setuju kami makan siang dulu. Kamipun mdnuju ke kantin khusus karyawan rumah sakit yang tampak sederhana tapi asri dan bersih.


Setelah kami memesan makanan dan duduk menunggu makanan datang, tampak dari raut mukanya Stanley penasaran akan sesuatu, "Yank, kamu kok masih mau ngurus nadine si? Dia kan udah ancurin hubunganmu sama Alva?"


Kayaknya ini udah bolak balik orang tanyain deh, dan tumben Stan ikutan kepoo.


Aku genggam jemari tangannya, "Kamu entah orang keberapa yang tanya tentang ini. Oke aku jelasin ya."


"Pertama yang ancurin hubunganku sama Alva awalnya adalah papa Nadine yang mau balas dendam karena keluarga Alva ga mau bantu saat papa Nadine terlilit hutang sampe bangkrut."


"Nah orang kedua yang makin ngancurin ya Alva sendiri karena setelah malam penjebakan itu ternyata mereka terlibat kembali secara sadar dan bisa dibilang Nadine jadi pemuas hasrat biologisnya Alva karena persetubuhannya dilakukan berulang kali, jadi disini bisa dibilang aku korban perselingkuhan hehehe."


"Tapi jujur deh aku seneng ada kejadian ini sebab bisa balik lagi sama orang yang aku cintai, jadi ga da gunanya aku membenci mereka. Toh kamu liat sendiri siapa yang menanggung penderitaan setelah menyakiti hatiku, ya mereka sendiri Stan. Itulah kenapa aku selalu menjaga hati dan otakku untuk tidak menjadi penjahat bagi orang lain, sebab aku ga mau menderita."


"Cinta Nadine ke Alva mungkin dilakukan dengan cara yang salah tetapi rasa cinta itu tetap bukan suatu kesalahan, apalagi ada makhluk yang tak berdosa hadir dari hubungan itu. Hancur lho rasanya kalau sampe dibilang anak haram atau anak ga punya papa, maka aku berusaha menyadarkan Alva untuk tidak melakukan kesalahan yang lain lagi."


---------------------------------


Author juga butuh cintaa nih dari para readers so please like vote dan koment ya.


Kritik dan sarannya ditunggu biar author makin semangat belajar nulisnya.


Terima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2