Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 76


__ADS_3

Triing....... tring....... tring.....


Kulirik ponsel di meja ternyata No Name kuabaikan, kusilent ponselku dan kembali menulis status pasien pasienku.


Sudah sebulan sejak terakhir nomer ini mengirimkan kata kata kebencian padaku dan selalu tidak kutanggapi, aku pikir dia sudah lelah menggangguku tapi nyatanya hari ini bahkan dia meneleponku.


Aku sebenarnya curiga pada seseorang karena rasanya hanya dengan dia aku berseteru karena membela Papa mertua yang ternyata papa kandungku sendiri.


Tetapi orang ini sedang menjalani masa hukuman jadi sepertinya ga mungkin di dalam penjara diperbolehkan membawa ponsel.


Sampai saat ini Stanley masih menyelidiki motif Iqbal tetapi karena serangan mereka juga minim jadi sulit sekali membaca kemauannya. Bahkan Arizka yang kini masuk bekerja di Kantor Zein dan ikut membantu mencari tau tentang Iqbalpun belum menemukan sesuatu yang mencurigakan.


Aku sengaja meminta Arizka bekerja di kantor Stanley dan berakting menjadi penggoda bagi bosnya. Tujuannya untuk memancing Iqbal bertindak. Sudah hampir dua minggu dia disana tetapi belum ada pergerakan apapun.


Perasaanku mengatakan ini semua terhubung antara Iqbal dan orang yang kucurigai tetapi tanpa bukti apalagi hanya penghinaan penghinaan seperti itu pasti akan dianggap lebay jika melaporkan pada yang berwajib.


Lebih baik menunggu dengan waspada saja daripada melakukan sesuatu yang takutnya akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri jika tanpa bukti.


Tring.......


Honey :


Yank, lagi apa? Ini terakhir kamu dinas malem kan? Aku ga bisa tidur nih.


Aku tertawa geli, sejak menikah kenapa Stan jadi manja gini bukan Stan yang cenderung dingin mirip kulkas hihihi.


Kuambil ponselku dan berjalan ke ruang istirahat yang disediakan bagi dokter jaga.


"Halo Hon." sapaku pada suamiku yang wajahnya kusut masai tampil di layar ponselku. Aku tertawa melihat bentuk Stanley yang semrawut gitu, ranjang kamipun tampak acak acakan.


"Yank, aku ga bisa tidur inih dari tadi eksplore cari posisi nyaman ga bisa juga. Aku udah kecanduan sama kamu, tiap kamu dinas malam pasti aja aku begini. Kapan si kamu brenti dinasnya? Kamu lagi padat pasien ga disana, aku nyusul aja ya kan disitu ada ruang istirahat kan? Aku ikut tidur situ aja deh ya."


cerocosnya tanpa henti benar benar seperti anak kecil merajuk minta mainan.


Aku tertawa melihatnya, "Kamu tidur dulu Hon biar nanti bisa jemput aku ya. Kumpulin tenaga kamu dulu biar besok bisa strong."


"Aku kesana sekarang aja ya, udah ga tahan mau ndusel ndusel kamu yank." rengeknya makin seperti anak anak.

__ADS_1


"Udah deh jangan nekad, sampai kamu kesini aku hukum sminggu ga dapet jatah!" ancamku sambil nyengir jahil.


"Sekarang kamu tidur Hon ini kan sambil kutemenin, ayo rebahan, udah seharian di kantor lho badanmu butuh istirahat. Aku nyanyiin Nina Bobo ya biar cepet lelap." ledekku karena aku tahu dia paling takut lagu itu setelah ada film horor yang menggunakan lagu tersebut.


"Gak... gak usah nyanyi aku tidur sekarang, mataku juga udah sepet nih, tapi janji ya besok dapet jatah semauku."


Aku tertawa melihat wajah paniknya, "Siap Hon, berapa kali aja aku terima kok ga pernah sekalipun aku tolak kamu kan walau aku capek."


Kali ini terlihat wajahnya cerah ceria dengan senyum bak matahari terang benderang pokoknya mah. Dasar laki urusan ena ena aja selalu nomer satu.


"Terus kapan kamu janji ga dinas malem lagi yank?" ujar Stanley masih pantang menyerah untuk terlelap.


Aku menghela nafas dalam, "Tidur Hon besok telat lagi jemput aku gimana? Dulu kan Kita udah bahas sama Sammy, aku stop jaga malem kalau udah hamil, nanti bakal lebih banyak di Kantor daripada praktek. Puas sama jawabanku???"


Terlihat wajahnya malah semakin berseri dengan senyum jahil, "Baiklah besok kita bikin kamu hamil ya sayang, berapa kali aja aku siap!"


Tuh Kan emang cowok kalau urusan syahwat aja cepat tanggap. Kembali kusuruh suamiku ini tidur dan akhirnya menurut juga.


Selesai bertelepon, aku bergegas kembali ke IGD karena on call beberapa pasien baru masuk.


"Dok bed 3, korban kecelakaan motor versus Mobil Dok, remaja 15tahun muntah muntah da Luka di kepala.


"Bed 5, seorang nenek 76th, tidak sadarkan diri, tinggal sendiri dan ditemukan sudah dalam keadaan tidak sadar.


Kali ini aku jadwal haha bersama dokter Fionna dan beberapa Ko-As, tanpa diperintah kami sudah paham untuk menempatkan diri dimana saja yang membutuhkan kami.


Dengan cekatan kami berusaha menolong setiap pasien. Urusan hidup dan mati memang kehendak Tuhan tetapi kita sebagai paramedis harus selalu maksimal.


"Sus jadwalkan sesegera mungkin pasien bed tiga untuk CT Scan ya, diagnosis cedera kepala berat, muntah tak henti, bengkak di daerah mata, kesadaran menurun, tak dapat komunikasi, mata tidak merespon cahaya dengan baik, perdarahan keluar dari hidung dan telinga. Minta keluarga pasien segera masuk ya sus, saya mau jelasin ke mereka."


Setelahnya silih berganti pasien datang dan kebanyakan kesepuhan yang mengalami serangan jantung. Kulihat dokter Fionna sedang memberi bimbangan pada para Ko-As aku tersenyum sambil berpikir apakah sanggup jika tidak lagi berdinas.


Tak terasa, waktu dinasku habis, setelah membereskan semua dan berganti tugas dengan dokter lain, aku segera melangkah ke parkiran karena Stanley sudah menungguku.


-------------------------


*Stanley POV*

__ADS_1


Pagi pagi Aku sudah berada di parkiran Zein Hospital, rasanya rindu sekali bertemu isteriku. Entah mengapa sejak menikah aku jadi tidak dapat tidur nyenyak jika tanpa dia, terlebih lagi sejak ada ancaman yang sampai sekarang belum terselesaikan.


Kami berdua anak tunggal, aku merindukan memiliki lebih dari satu anak supaya rumah kami ramai tidak seperti saat kami kecil selalu kesepian. Sekaligus sebagai senjata agar Gaby berhenti dinas sesuai kesepakatan kami berdua.


"Hai morning sayang." sapaku begitu isteriku sudah duduk di kursi penumpang sebelahku.


Gaby tersenyum manis, "Balasanku nanti aja ya, kalau udah mandi dan wangi."


Aku hanya tersenyum sambil mengusap usap rambutnya yang sudah panjang dan kehilangan bentuknya ealau tetep rapih.


"Sebelum pulang mau mampir beli sesuatu atau pengen beli sarapan mungkin?" tawarku padanya.


Dia hanya menggeleng, meminta sarapan yang sudah dimasak ART kami saja. Dalam perjalanan yang tidak begitu lama sebenarnya , dia tertidur seperti sedang menyimpan tenaga agar dapat melayaniku di ranjang nanti, batinku sambil tersenyum membayangkan adegan demi adegan yang kami lakukan jika Gaby abis dinas malam.


Rupanya dia sangat kelelahan, sampai mesin mobil kumatikan pun dia masih terlelap. Aku sebenarnya tak tega membangunkannya, tapi terpaksa harus kubangunkan juga agar dapat segera masuk kamar dan tidur dengan nyaman.


-------------------------


Aku mencoba membuka mata karena merasa ada sesuatu yang lembut kenyal menempel nempel di kulit leherku. Seketika mataku terbelalak karena melihat ternyata suamiku sedang berulah.


Aku membiarkan saja semua tingkahnya, rasa capek dan ngantuk masih sangat menguasaiku, maka pilihannya adalah membiarkan dan menikmati saja apa yang dia perbuat padaku.


Belum pernah aku merasa capek begini sampai sampai ga da tenaga untuk merespon walau aku ingin karena sudah terpancing oleh tingkah Stanley.


"Kalau capek biar aku yang bekerja, kamu nikmatin aja yank." bisiknya ditelingaku membuatku tersenyum bahagia atas pengertiannya. Akupun mengangguk dan merespon sebisa mungkin semua aksinya.


Stanley tampak bersemangat mengeksplorasi semua bagian yang menjadi keinginannya, dan aku mengikuti irama yang dibuatnya. Hingga akhirnya terdengar desahan desahan kelegaan karena sudah sampai pada puncaknya.


Aku makin lemas dalam dekapannya, dia berbisik ditelingaku, "Makasih yank selalu memuaskanku walau kondisi lelah sekalipun." Diciumnya dahiku dan berbisik di perutku, "Semoga kamu segera hadir diperut mommy ya sayang."


Aku terharu, hatiku terenyuh mendengar harapannya, dalam usia perkawinan kami yang masih terbilang seumur jagung ternyata dia berharap banyak segera membuahkan hasil. Aku hanya mengamini harapan dan doanya.


"Yank kita harus rajin menyiram supaya cepet jadi buahnya." bisiknya lagi sambil menggigit kecil telingaku.


Aku hanya tersenyum mengiyakan, "Tapi harus inget juga Hon ini mengharapkan kehadiran sesosok manusia bukan mau bikin roti yang seandainya salah adonanpun tetap jadi roti cuma bantet atau ga enak."


"Ini kita mengharapkan hadirnya sosok manusia jadi ingat juga sama kuasaNya, semoga Tuhan mempercayakan kepada kita ya Hon. Dan yang jauh lebih penting adalah setelah punya anak tantangan hidup bakal jauh lebih berat, semoga kita sanggup ya ngatasin semuanya." terangku berusaha fokus karena serangan kantuk dan capek yang teramat dahsyat.

__ADS_1


__ADS_2