
*Stanley POV*
Hari ini rasanya hatiku tidak tenang, ada sesuatu yang mengganjal entah apa. Dari sejak bangun rasanya tidak mau melepaskan pelukan dari istriku tetapi kami harus pergi melakukan kewajiban masing masing.
Saat mengantarnya ke Rumah Sakit pun hatiku rasanya amat berat, aneh memang karena belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Segera kuambil ponselku mencoba menghubungi isteriku, siapa tahu hatiku berubah tenang.
"Halo Hon, ga jadi meetingkah kok telepon aku, ada apa?" sapa Gaby dengan senyum yang selalu menenangkanku.
Aku ikut tersenyum dan memandanginya di sambungan video call kami. Entah mengapa hanya ingin memandang tanpa mengatakan apapun. Gaby memonyongkan bibirnya ke layar dan mengecupnya. Aku tertawa melihat tingkahnya.
"Duh manis banget si kamu yank, ini hot Americanoku jadi kmanisan deh minumnya sambil liatin kamu." gombalku yang membuat Gaby tergelak.
"Pak Stanley sudah ditunggu di ruang meeting." informasi dari asistenku memutus candaan kami.
"Yank, aku meeting dulu ya, kamu hati-hati ya jaga baby baik baik." putusku sambil memberi kecupan jauh.
Ternyata perasaan tidak enak tetap bersarang di hatiku walau sudah bertelepon ria dengan istriku ini. Ada apa sebenarnya, aku sungguh merasa tidak nyaman rasanya ingin segera menyusul Gaby di Rumah Sakit, tetapi tugas dan tanggung jawabku kali ini tak terelakkan.
--------------------
Tring.......
Arizka : ikan sudah kumpul di kolam say
Aku tertawa melihat pilihan kata yang dibuat Arizka untuk mengabarkan bahwa Rina, Iqbal dan Tina sudah berkumpul. Ya aku menugaskan Arizka menjadi mata-mataku.
Gaby : aku sudah di tempat
Dari pintu masuk ke rooftop, kulihat mereka bertiga dalam satu meja dan Arizka di meja belakangnya. Tampaknya mereka sibuk membicarakan sesuatu sehingga tidak menyadari kedatanganku.
Aku langsung duduk di sebelah Rina berhadapan dengan Iqbal, "Halo long time no see mba Tina!"
Tina terkejut melihatku begitupun dengan Iqbal, "Ngapain kamu disini?"
"Sabar mba jangan galak-galak, kalau emosi terlalu diumbar hati-hati serangan jantung mba." kataku tersenyum santai melihat kepada wajah Tina yang sudah merah menahan marah.
"Ga puas kamu bikin saya dipenjara? Owh jangan bilang Rina ini antek-antek kamu buat nemuin saya ya!" serunya galak sambil menuding Rina.
__ADS_1
Rina hanya diam saja dengan wajah sedikit cemas memandang perseteruan kami, sedangkan Iqbal sudah ikut terpancing emosinya. Wajahnya menegang menahan marah dan tangannya terkepal.
"Gak kebalik mba, bukannya Iqbal sekutu mba Tina ini yang memperalat Rina buat goda suami saya? Sayangnya ga berhasil ya!"
"Sebenarnya dendam kesumat apa yang kalian miliki terhadap saya, sampai-sampai merencanakan kehancuran rumah tangga saya? Saya ga merasa punya urusan besar dengan kalian!" lanjutku sambil memandangi tajam kedua musuhku.
"Kamu masuk penjara karena kesalahanmu sendiri mbak tapi kenapa malah mau menghancurkanku untuk balas dendam. Kalau ga mau celaka jangan coba celakain orang lain, jadi kamu bisa masuk penjara karena akibat dari penipuan yang coba kamu lakuin ke papa saya!" seruku mencoba mengingatkan apa yang dia lakukan dulu.
"Tapi saat itu aku sudah meminta maaf dan memohon keringanan karena aku sedang hamil. Tapi apa yang kuterima justru keluarga kalian tanpa belas kasihan membiarkanku tetap menanggung hukuman." seru Tina dengan kemarahannya menatap tajam padaku.
"Kami bukan tidak berbelas kasihan, bahkan suamimu yang notabene masih satu darah karena lahir dari luar pernikahan kakek, dia mendapatkan banyak harta sebagaimana yang dia tuntut. Asal kamu tahu ya mbak, pengacara yang kusewa bahkan mengusahakan kamu mendapat hukuman teringan. Bagaimanapun hukum tidak dapat kami intervensi maka kami menyerahkan perkaramu murni kepada hukum yang berlaku." kataku balas menatap tajam padanya.
"Karena kalian aku diceraikan dan posisiku diganti wanita lain, kemudian karena tertekan aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku keguguran. Itu semua karena kalian!" teriakannya mulai tak terkendali.
Arizka yang semula diam saja, mulai beranjak menghampiri kami, sepertinya dia khawatir padaku.
"Arizka, kamu disini?" tanya Iqbal terkejut.
"Iya sedari tadi, sebelum kalian datang aku duduk disitu. Aku tahu semua yang kamu lakukan mas Iqbal, kamu berusaha mendekatiku untuk membantumu menjatuhkan Stanley. Sayang seribu sayang, otakku masih waras mas maka aku menerima rencanamu agar dapat mengawasimu dengan baik!"
Arizka tertawa menghadapi ejekan Iqbal, "Mas Iqbal sedang mengatai dia, wanita yang mengandung anakmu mas, ckckckck...... tega sekali mas. Aku tahu siapa dia dan dimana dia bekerja dahulu mas jadi jangan asal bicara, toh kamupun menikmatinya walau dia hanya seorang ja**ng!"
Kulihat Rina, dia hanya diam sambil menangis tanpa suara, sepertinya harga dirinya begitu terluka.
"Okeh, cukup drama kalian bertiga!" seruku dengan tegas agar perdebatan Iqbal dan Arizka tidak berlanjut.
"Aku datang menemui kalian hanya untuk mengetahui mengapa kalian ingin menghancurkanku dan sekaligus memberi peringatan agar jangan berani beraninya kalian menyakiti aku maupun keluargaku!"
"Ada baiknya kamu berpikir ulang jika ingin balas dendam padaku mba Tina, sebab kesalahan terletak pada suamimu sendiri yang memang sengaja ingin menyingkirkanmu setelah mendapat harta bagiannya!"
"Kamu salah alamat kalau ingin menghancurkanku, bahkan suamimu berjanji jika dia mendapatkan harta bagiannya maka dia akan membantumu mendapat keringanan hukuman, tapi nyatanya pihak kamilah yang justru membantumu!" tegasku menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
Terlihat jelas keterkejutan di mata Tina begitupun dengan Iqbal. Mereka saling memandangi satu sama lain.
"So, setelah kamu mengetahui semua ini, lalu bagaimana pertanggung jawabanmu karena sudah sempat mengacaukan hubunganku dan suamiku?" tantangku yang membuat Tina hanya terdiam.
Sebenarnya aku tidak berminat meminta pertanggungan jawab apapun darinya karena toh sebenarnya masalah ini hanya sepele dan belum sempat ada kerugian yang menimpaku. Aku hanya ingin mengetahui sejauh mana dia memahami dan menghadapi situasi ini.
__ADS_1
"Kuharap setelah mendengar semuanya, kalian berhenti menggangguku dan keluargaku!" tegasku seraya pergi meninggalkan meja mereka diikuti Arizka .
Tiba-tiba saat aku akan menuruni Tangga ke lantai dua, kurasakan ada yang menjambakku dari belakang, aku berbalik menghadap belakang dan melihat Tina yang menjambakku. Kucakar tangannya yang sedang menjambakku hingga genggamannya di rambutku terlepas.
Aku kembali berhadapan dengannya, dengan senyum licik dia mengatakan bahwa tidak akan melepaskanku karena awal dari semua yang dia rasakan tetap berasal dariku.
Akupun tak dapat berkata-kata lagi terhadap semua isi pikirannya. Betapa piciknya Tina, bahkan setelah diberi penjelasan tetap saja mau melimpahkan kemarahannya padaku.
"Aku tidak peduli semua yang kau katakan, aku hanya ingin kau merasakan semua kesialan yang menimpaku!" serunya seraya mendorong tubuhku.
Aku yang tidak menyangka akan didorong, secepat kilat menangkap tangannya hingga Tina tertarik oleh tubuhku yang mulai kehilangan keseimbangan ditangga menuju lantai satu.
"Gabyyy.................. " samar-samar kudengar teriakan Arizka memanggilku, entah apa yang terjadi, aku merasakan tubuhku terasa melayang dan kepalaku sakit serta mataku sangat berat untuk dibuka. Aku memilih menyerah pada rasa sakit dan menutup mataku.
----------------------
*Stanley POV*
"Apa maksudmu Ka? Gaby kenapa?" teriakku pada Arizka yang meneleponku di tengah rapat.
Tubuhku lemas mendengar penuturan Arizka bahwa Gaby jatuh terguling dari tangga, dan janinnya tak dapat diselamatkan. Aku segera undur diri dari rapat dan bergegas ke Zein Hospital.
Pikiranku sangat kusut, benar - benar aku tak tahu apa yang Gaby kerjakan sampai jatuh dari tangga. Sesampainya di parkiran aku berlari secepat mungkin untuk sampai di ruang tindakan.
Terlihat Arizka, Iqbal dan Rina terduduk disana. Aku heran mengapa ada Iqbal dan Rina, tapi otak cerdasku sedang Tak dapat kuajak berpikir dengan jernih.
"Ka, apa yang terjadi?" tanyaku dengan cemas. Tanpa sadar aku mengguncang tubuh Arizka dan membantakknya karena tak kunjung menjawab pertanyaanku.
Tiba-tiba pintu ruang tindakan terbuka, muncul Sammy yang langsung menghampiriku. Tampak mata Sammy memerah dibalik kaca mata minusnya.
"I'm so sorry Stan!" ucapnya sambil memelukku erat.
Hah...... apa maksud ucapannya ini, aku diam terpaku dalam dekapan Sammy. Pikiran buruk berseliweran dikepalaku, tanpa sadar air matakupun ikut turun.
--------------------
Terima kasih untuk readers yang setia menantikan kelanjutan cerita ini, mohon maaf atas keterlambatan update akhir-akhir ini dikarenakan satu dan lain hal 😁🙏
__ADS_1