Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 22


__ADS_3

*Sammy POV*


"Sam...., spupu kamu gila nih dia bawa Gaby ke Bandung kagak pake ijin lagi." teriak Dicta kesal. Aku hanya bisa mengelus dada, karena pasti Dicta minta nyusul dan akhirnya acara leyehan berdua pasti gatot alias gagal total.


"Pokoknya puter balik kita harus susul mereka. Aku ga mau Gaby kenapa napa!" tegasnya.


"Gaby kan udah dewasa Dict, kamu jangan posesif gitu donk, lagi slama ini Stanley kan selalu jaga dia dengan baik. Ga mungkin Stan bakal kurang ajar. Tolong kamu kasih mereka ruang dan waktu berdua Dict, supaya ada progres yang baik untuk hubungan mereka." jelasku pelan-pelan memohon pengertiannya.


"Ayolah Sam kita susul, sekalian ikut liburan di villa deh ya ya ya, please aku bosen pengen ikut ke Lembang." sahutnya memasang tampang melas dan bibir manyun yang malah justru terlihat seksi sekali menggoda imanku. Dengan gemas kucium bibirnya, yang membuat Dicta langsung merona malu hahahaha karena memang itu ciuman pertama kami. hahahaha bodo amatlah alesan dia nyusul yang penting ntar disana bisa ena ena juga duaan, batinku bersemangat.


Kucoba menelpon Gaby, untuk menanyakan posisinya saat ini karena Stan pasti sibuk nyetir ga mungkin angkat telpon.


"Haloo......." sapa suara cowok yang sudah pasti itu Stanley. Langsung saja aku luapin emosiku.


"Woiii Stan kampret banget lu ah, nyulik anak orang ga pake warning. Gue kena getah nih kudu nyusulin lu ke lembang. Ambyar semua rencana gue mau leyehan dirumah. Terus Gaby mana kok lu angkat ponsel dia? Awas ya lu macem macemin dia Stan. Lu tau kan Gaby tu ibaratnya porselein antik yang dijagain Dicta biar ga pecah, jangan sampe kita jadi tumpah darah ya kalo lo sakitin dia!" terdengar Stanley ketawa terbahak-bahak mendengar omelanku, ngeselin banget kan tu anak.


"Gaby kecapean Sam, dia lagi tidur berhubung ponsel bunyi terus ya dia suruh gue yang angkat. Lu ganggu banget si Sam, lagian kan gue udah kasih tau juga kalo ke villa yang Lembang nginep semalem jadi ga da alasan buat Dicta khawatir. Udah dewasa juga kita kan, bilang ama bini lu ga usah parno, gue jagain porselein cantiknya inih dengan segenap tubuh dan jiwa gue."


Hah ambigu banget si penjelasan Stanley, maksudnya apa si, makin kesal aku karena penasaran.


"Hah maksdnya gimana Stan, woii lu apain Gaby ampe kecapean......woiii jawab.....!" teriakku makin kesel karena Stanley mematikan ponsel tanpa pamit.


"Dict maksdnya Stanley gimana si kok Gaby kecapean, apa Stan nekad........?"


Dicta yang kutanyapun hanya mengangkat bahu bingung. Ah bodo amatlah mereka mau gimana gimana udah dewasa inih yang penting kalo sampe membuahkan brati harus tanggung jawab. Justru bagus kayaknya biar mereka ga terpisahkan lagi hehehehehe pikirku nakal.


Lebih baik aku mempergunakan waktuku bersama Dicta fokus pada hubungan kami.


"Dict, harapan kamu tentang hubungan kita gimana? Jujur aku pengen cepet nikahin kamu, hatiku udah mantep, aku dah paham kamu luar dalem Dict. Aku ga pengen buang buang waktu buat pacaran toh udah nikah juga kita masih bisa pacaran kan?" ujarku sambil mengelus lembut rambutnya. Berharap Dicta juga memiliki pemikiran yang sama denganku.


Kulihat Dicta sedikit kaget, mungkin ga siap mendapat pertanyaan mendadak yang sangat serius dariku. Terlihat dia berpikir sejenak sebelum menjawab. Aku sungguh berdoa dengan khusyuk dalam hati lebih dari yang pernah aku lakukan selama ini, berharap Dicta memberi jawaban yang membahagiakan.


"Ehm...... i love you Sam." ucap Dicta singkat padat dan sama sekali ga jelas sebab bukan itu yang aku pertanyakan.


"Hah.....?"

__ADS_1


"Iyaa aku cinta sama kamu Samuel Leonardi Zein." ucapnya lagi dengan senyum menggoda. Ya Tuhan apakah otak kekasihku ini eror atau gimana ya, ditanya apa dia jawab apa, batinku kesal sambil menghela nafas. Dan orang yang membuatku kesal malah terkekeh senang.


"Please Benedicta Angela Saputra, i Love you too, tapi bukan itu pertanyaanku sayang!" tegasku menuntut dia fokus menjawab apa yang kutanyakan.


"Jawabanku itu udah sangat mewakili kali Sam, kalau aku cinta sama kamu terus buat apa juga aku nunda nunda untuk kita hidup bersama kan?"


Hah brati........ dia......aku segera menepikan mobilku.


"Thank you sayang, aku ga janji kehidupan kita nanti bakal lurus lempeng tanpa masalah, tapi aku bisa kasih garansi kalau aku akan selalu bikin kamu bahagia, mengusahakan kamu hidup bahagia dan menjadikan kamu sebagai bagian dari kebahagiaanku." janjiku sambil memeluknya, mencium dahinya, matanya dan bibirnya, menyalurkan rasa kasihku yang dangat dalam.


Aku merasakan Dicta juga memeluk dan membalas ciumanku dengan hangat. Akhirnya penantianku selama ini dijawab tunai hahahaha.


"Kok kamu yakin banget aku bakal bawa kebahagiaan buat kamu Sam? Trus kalau ternyata dalam perjalanan kita, aku membuatmu kecewa gimana? Atau kita bertikai dan saling melukai gimana?" terdengar keraguan dalam suaranya.


"Denger ya aku yakin kamu adalah kebahagiaanku karena aku selalu nyaman bersamamu, aku tidak canggung becanda, bercerita apapun denganmu."


"Dalam perjalanan kita nanti pasti bakal ada saat dimana kamu mungkin membuatku kecewa dan sebaliknya akupun mungkin dapat membuatmu kecewa, sebab kita manusia tidak sempurna. Kuncinya cuma satu Dict, kita mau terbuka saling mengkomunikasikan apa yang membuat kita kecewa terhadap satu sama lain."


"Pun dalam perjalanan kita mungkin akan ada kondisi kita bertikai, berantem dan saling sakit hati, karena memang kita diciptakan berbeda. Kita punya keunikan masing masing yang memungkinkan kita berantem karena tidak sependapat dalam satu hal. Cukup kita ingat untuk kembali mengkomunikasikan semua masalah agar kita dapat mencari solusi terbaik untuk kita berdua."


Aku merasa kaosku basah dan terdengar isakan, benar saja Dicta ternyata menangis. Gadisku yang selama ini terkenal dingin tanpa emosi kali ini meluapkan emosinya di dadaku. Yah...... apalagi yang harus kulakukan selain beryukur karena Tuhan sangat baik menanggapi doaku.


"Sam....... ka.... kamu kan banyak fans cewek trus gi....gimana ka... kalau suatu saat a... ada .... cewek pelakor, kita... kita ... harus gimana Sam?" ujar Dicta tergagap gagap terlihat takut menanyakan hal yang mungkin sangat sensitif menurutnya.


Hahahahaa aku tertawa kecil, menghapus air matanya dan mengecupnya lembut, memberikan kekuatan agar dia lebih percaya diri.


"Menurutmu kamu cantik ga?" Dan Dicta mengangguk menanggapi pertanyaanku.


"Trus kamu pinter ga?" Sekali lagi Dicta mengangguk.


"Kamu bisa masak ga?" Lagi lagi Dicta menganggukkan kepalanya.


"Kamu bisa merasakan seberapa besar aku cinta sama kamu?"


"Iya Sam aku merasakan kok kalo kami sangat mencintai aku dari cara kamu memperlakukanku, melindungiku. Tapi apa hubungannya sama pertanyaanku si?" jawabnya dengan nada kesal yang membuatku justru tertawa dan gemes melihat dia mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Kurengkuh wajahnya dengan kedua tanganku agar matanya dapat bertatapan langsung denganku.


"Liat aku dan dengar kata-kataku, kamu cantik, pintar, bisa masak dan aku mencintaimu maka tidak ada pintu untuk orang ketiga. Tak akan ada pelakor jika masing masing dari kita mampu menjaga hatinya, kembali lagi kita harus saling terbuka agar tidak mudah disusupi orang ketiga."


"Aku bisa menjamin hatiku hanya untukmu tapi aku ga bisa memprediksi orang yang berniat jahat sama kita, jadi kita harus bekerjasama membentengi kebahagiaan kita agar tidak dirusak oleh orang lain. Kamu paham kan? Jadi tolong jangan meragukan aku!" tegasku yang dibalas anggukan dan bonus kecupan di bibirku yang membuatku melayang.


Selama beberapa saat kami dalam posisi saling memeluk, meluapkan emosi dsn mengekspresikan perasaan kasih sayang kami terhadap satu sama lain.


"Yang, udah yuk jalan lagi, ntar sampe villanya udah kemaleman klo diem disini." ujarnya sambil tersenyum menggoda.


"Makasih ya, aku suka dipanggil sayang, dan aku suka banget bibir kamu manis." kataku sambil tertawa senang. Akupun kembali fokus menyetir dengan perasaan bahagia tak terkira. Sungguh tak sia-sia Stanley menculik Gaby hahahaha karena pada akhirnya ada moment manis untuk aku dan Dicta.


*****************


"Stanley Leonardi Zein, kamu udah gila ya? Udah nyulik aku malah ketawa seneng lagi!" teriakku kesal.


Stanley malah makin ngakak sambil mengacak-acak rambutku, keliatannya bahagia banget tak menghiraukanku yang manyun ngambek dan kesal.


"Hahaha.... Gaby mana ada orang nyulik pake pamit sama saudara spupu korban penculikannya. Udah kamu ga usah kesel lagi, mending sekarang kita cari FO dan blanja baju buat kamu sama aku ganti. Kamu tu kayak ga kenal aku aja Gab, sama aku kmanapun walau cuma berdua pasti kamu aman."


Seketika pikiranku melayang ke masa masa lalu dimana aku masih pacaran dengan Stanley, dia selalu menjagaku, padahal kalo mau khilaf banyak sekali kesempatan kami tetapi dia dapat mengendalikan diri dan menjagaku dengan baik. Yah ga ada alasan untuk tidak percaya padanya.


"Hei, kok malah melamun?" tegurnya sambil menepuk pipiku lembut. Akupun tersenyum sebagai tanda kekesalanku sudah lenyap.


"Yuk kita pergi sekarang aja Stan cari baju dan aku kepengin makan surabi EnHai sama kupat tahu."


"Oke girl lets go!" ajaknya sambil menggandeng tanganku.


Kamipun pergi ke Rumah Mode di daerah Setia Budi, tak lupa aku mengabari Dicta untuk menyusul kesana karena aku yakin dia juga tidak membawa pakaian. Aku tak menyangka bisa kembali kesini bersama dengan Stanley, karena di masa lalu kami hampir setiap weekend ke Bandung dan selalu belanja pakaian di FO ini.


Apa ini yang dinamakan jodoh? Setelah berpisah 3tahun dan menjalani kisah yang berbeda kemudian kami bisa dipertemukan kembali dalam kondisi baik baik saja. Aku memilih untuk menikmati saja kondisi saat ini tanpa banyak berpikir, toh aku percaya rancangan Tuhan pasti yang terbaik. Kejadian Alvapun kupercaya adalah bagian dari rencana IndahNya. So enjoy it girl hehehee....


******To Be Continue******


Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘

__ADS_1


__ADS_2