Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 44


__ADS_3

*Stanley POV*


Mendengar penjelasan Gaby, aku jadi teringat kata kata Papa yang menceritakan Gaby dibully sebagai anak haram dimasa sekolahnya. Mungkin itu yang mendasari dia tidak ingin anak Nadine merasakan pengalaman dibully seperti dia.


Aku sungguh bangga bisa memenangkan perempuan berhati emas ini, Aku berjanji akan selalu setia padanya. Dan apapun masa lalu yang sudah dialaminya akan aku ganti dengan memberinya kebahagiaan.


Triiinggg.......... triiingggg...........


Papi G yang menelepon, segera kuangkat panggilannya.


"Haloo pi...... iya ini Stan di Rumah Sakit sama Gaby tadi ada pasien Gaby namanya Gun meninggal, nah sebelum meninggal dia minta ketemu dulu sama Gaby jadi Stan temenin."


Papi terkejut dengan meninggalnya pak Gun, ternyata mereka semua memang mengenal pak Gun ini, aku jadi makin penasaran.


"Oke Pi nanti aku sama Gaby usahakan ga terlambat sampe rumah." kataku sambil mengakhiri panggilannya.


"Stan kok papi telpon kamu ya bukan aku? Siapa si yang anaknya?" dengus Gaby yang membuatku justru senang melihat muka ngambeknya yang imut.


"Kita berdualah anaknya, cemburu sama aku? Lagian siapa yang punya habit silent hp makanya ditelponin ga denger. Kebiasaan kamu tuh sering bikin aku sport jantung tau yank, cemas klo tlp bolak balik ga diangkat."


Kulihat Gaby mencek ponselnya dan kemudian tertawa senang karena melihat missed call dari papi sebanyak 10x. Aku mengacak rambutnya dengan gemas, aku sangat senang dari dulu sampai sekarang Gaby tidak berubah dia selalu memperlihatkan apa adanya dia, ini yang aku tidak temukan pada wanita lain. Aku begitu nyaman melewati hal apapun bersama dia.


"Stan jangan ngusek usek rambut aku atuhlah, ga kuat jantungku rasanya ambrol hehehe. Rambut yang diacak tapi hati aku yang berantakan hihiihi."


Aku tertawa terbahak mendengar gombalannya yang selalu aja ga kreatif karena pada dasarnya emang Gaby bukan cewek yang pandai bermanis kata, dia cenderung lugas dan to the point dalam pemilihan katanya.


"Yank usaha banget si kamu mau jadi ratu gombal? Ni kalau ga lagi social distancing aku udah unyel unyel kamunya." kataku gemas


Setelah seleai makan, kamipun beranjak kembali ke IGD karena jam istirahat sudah usai, "Aku ke apartement kita ya nanti pulang dinas kamu tunggu aku jemput. Dan kamu hutang penjelasan lho yank tadi ga sempet bahas siapa itu pak Gun." tegasku menekankan bahwa aku ga nau menunda rasa penasaranku lagi.


"Oke. See you." balasnya sambil melakukan kiss bye. Aku tertawa sambil membalas kiss byenya dan melangkah pergi.


-------------------------------

__ADS_1


"Ciyeee dokter pacar baru ya, yang lama tadi saya liat gandengan ama yang lain ke Obgyn dok?" ledek seorang perawat yang melihatku berpisah jalan dengan Stanley tadi.


Ternyata banyak yang perhatiin juga ya, aku ketawa sambil mikir males banget kalau kudu jelasin, "Dih kamu kepoo banget deh sus. Intinya kami punya kisah masing masing dan yah.... ini yang sekarang kami jalanin. Yang satu sekarang jadi mantan rasa teman dan satu lagi dari mantan rasa pacar hahahaha."


"Hah...... gimana .... gimana dok saya belum paham. Ish dokter mah sengaja mau bikin saya tambah penasaran ya." sungut suster Mira kesal.


Hahahaha........ aku hanya tersenyum dan mengerlingkan mataku menggodanya.


"Dok ruang transit, bayi 7 bulan sesak nafas, kesadaran sudah sangat menurun, demam tinggi, tetangganya PDP dok."


Kulihat Sammy sudah berlari ke ruang transit, suster Mirna membantuku mengenakan Alat Pelindubg Diri karena tadi aku baru datang jadi bekum sempat kupakai.


"Suster telpon ruang Isolasi untuk bersiap." perintahku yang dengan sigap langsung dilakukannya.


Setibaku di ruang transit terdengar teriakan tabgisan histeris, deg meninggalkah pasien bayi ini batinku. Kulihat Sammy keluar dari sana dan menggelengkan kepala tanda pertolongan terlambat dan sudah berakhir.


Aku menatap nanar pada keluarga pasien, dari anamnesa yang berhasil dikumpulkan bahwa pasien sudah sakit panas tinggi selama seminggu tetapi keluarga berdiam diri takut kalau seandainya ternyata mereka terinfeksi covid dan kemudian harus diisolasi.


Padahal sejatinya apabila terinfeksipun bukanlah suatu aib sebab jika diketahui dengan cepat maka kemungkinan hidup jauh lebih besar. Orang terinfeksi covid cukup banyak dan bisa bertahan karena pola makan dan pola hidup yang baik sehingga daya tahan tubuhnya terjaga. Jika penyakit disembunyikan maka akibatnya justru lebih parah dan meluas.


Bagiku sebenarnya menghadapi kematian sudah bukan hal yang istimewa karena di Rumah Sakit setiap harinya kami menghadapi baik itu kelahiran kematian dan kesembuhan, tetapi selalu ada rasa haru yang sama saat melihat keluarga yang berduka.


"Dok, bed 6, ibu muda 19 tahun, hamil 7 bulan, perdarahan dan ada kontraksi."


Aku bergegas ke bed6, aku lihat bagiab bawah ibu tersebut sudah basah kmungkinan besar ketuban pecah, aku memerintahkan memasang infus dan koordinasi ke Obgyn untuk refer. Suami dari ibu muda itu juga terlihat masih muda ya sepertinya mereka seumuran. Ekspresinya bingung gelisah tanpa tahu apa yang harus diperbuat.


"Pak, maaf anda suaminya? Apakah ada keluarga yang mendampingi?"


Pria tersebut mengangguk dan kemudian menggeleng, owh oke dia shock dan sepertinya blank juga menghadapi situasi ini.


Aku menepuk bahunya untuk menyalurkan energi positifku , "Tenang aja istrimu akan baik baik saja, saya langsung refer ke bagian kandungan karena sepertinya akan melahirkan. Jika ada BPJS atau jaminan kesehatan lain silahkan diurus di pendaftaran ya."


Aku mengirim pesan ke bidan Early jika sampai nanti tidak ada keluarga yang lebih dewasa mendampingi mereka, maka aku meminta bidan early menghubungiku. Tiba tiba pikiranku melayang pada Alva dan Nadine, semoga mereka bisa segera memutuskan yang terbaik terutama untuk anak yang ada di perut nadine.

__ADS_1


"Gab, tadi gue liat Alva sama Nadine abis dari Obgyn jalan ke parkiran tapi kayak berseteru gitu adu mulut, dari tadi mau kasih tau eou lupa mulu."


"Biarin deh, sapa tau dengan sering adu mulut bisa tumbuh benih cinta hahaha." kataku asal disambut ketawa dan anggukan setuju dari Sammy. Jujur konsentrasiku sedang tidak pada kasus Alva dan Nadine yang menurutku sebenarnya sudah clear apa yang harus dilakukan tetapi karena egois aja jadi seolah masalah tidak terselesaikan.


"Sam, pikiran gue lagi keganggu sama pasien yang mau lahiran tadi, masih muda dan ga da satupun orang dewasa dampingin, ehm.... kira kira kalau.....


"Oke gue mau kok seperti biasa jadi penjamin." aku tertawa senang sebab Sammy sudah paham maksud omonganku ke arah mana padahal belum selesai aku bertanya.


"Apa si yang ga gue lakuin buat lu Gab, lu itu orang tersayangnya Dicta dan kebetulan gue juga sayang banget sama lu, lu tu ibarat mukjizat buat gue disaat gue terobsesi punya adik cewek tapi nyokap lairannya cowok mulu eh elu muncul hahahaha." omongan Sammy membuatku makin girang, seandainya lagi ga dirumah so pasti aku pengen lompat lompat rasanya.


"Owh ya lu musti segera ceritain tentang pak Gun ya, cowok lu dah beberapa kali WA nanyain tentang pak Gun soalnya, tau sendiri kan Stan kalau penasaran bisa makan orang lho emosi dia."


"Siap bos!" kekehku, aku emang beruntung banget punya sahabat sekaligus calon sodara spupu ipar kaya Sammy. Semoga apapun yang nanti aku ceritakan ga akan berpengaruh sama perasaan Stanley ke aku.


#


#


#


***Keindahan persaudaraan tidak hanya karena ikatan darah, ketika kamu merasa energimu selalu bertambah ketika bersamanya, itulah persaudaraan sejati.


Jangan hapus persaudaraan hanya karena sebuah kesalahan. Namun hapuslah sebuah kesalahan demi utuhnya persaudaraan***.


---------------------------


Hai readers pada penasaran ga si sebenernya ada kisah menarik apa dimasa lalu dokter Gaby?


Author juga penasaran banget nih dokter Gaby mau cerita apa si sama Stanley 😁


Ikutin terus yaaa karya aku, dan jangan lupa pastinya author butuh like, vote, koment, kritik dan saran dari readers.


Terima kasih buat yang sudah dukung terus sampe 40 episode lebih, semoga membuatku makin bersemangat dan cerdas menulis. terima kasih🙏🙏😘.

__ADS_1


__ADS_2