
Sejak Alva menginfokan tentang hasil DNA itu, perasaanku jadi serba salah, gimanapun aku dengan bodohnya mau saja percaya pada kebohongan Nadine. Aku bahkan memaksa Alva berusaha menerimanya dan menyuruh Nadine tinggal bersama Alva.
Duh kesal aku sama diriku sendiri kok bisa bisanya gampang dibodoh bodohin gini.
"Kamu kenapa si yank, manyun terus dari pulang dinas? Tinggal tujuh hari lagi lho kita bakal jadi suami istri. Jangan manyun dong yank harus happy."
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala, "Ga manyun cuma kepikiran Alva aja Hon."
Sesaat aku langsung tersadar kalau aku sudah salah bicara karena raut muka Stanley yang langsung berubah.
"Bukannya udah beres ya urusan sama dia?" ucapnya ketus.
Kuhampiri dia dan kupeluk erat, "Sorry Hon, tadi Alva nemuin aku cuma kasih tau kalau bayi itu bukan anak dia. Dan tadi aku kepikiran merasa bersalah karena udah percaya sama Nadine Dan maksa Alva nerima Nadine."
"Hon please jangan marah, sungguh cuma gitu aja kok, kita juga ngobrolnya di depan IGD kok banyak yang lihat." kataku semakin erat memeluk tubuhnya.
Perlahan kurasakan Stanley mulai membalas pelukanku yang artinya kemarahannya sudah luntur. Kudongakkan kepalaku melihat matanya yang kini menatapku hangat.
"Entahlah yank, aku rasanya selalu cemburu karena banyak lelaki yang Tak dapat menahan dirinya ingin memilikimu, Aku jadi worried sendiri yank."
"Rasanya selalu terbakar kalau mendengar nama lelaki lain kamu sebut atau melihat kamu sama lelaki lain bahkan Alva sekalipun."
"Maafin aku ya, maafin keegoisanku, Aku akan berusaha merubahnya." kata Stanley seraya memelukku kembali, menciumi rambutku.
Kuanggukkan kepalaku kemudian merebahkannya di dada bidang Stanley.
"Hon, aku tu ga seperfect itu kali dan ga setenar itu sampai kamu harus cemburu, yang ada harusnya aku yang was was karena seorang Arizka aja sampe bisa ngelakuin kegilaan demi dapetin kamu."
Stanley tiba tiba melepas pelukan kami, memberi jarak sehingga mata kami bisa bersitatap, dihelanya nafas panjang.
"Yank, itulah salah satu alasan aku mempercepat pernikahan kita, perempuan Gila itu mulai mendatangiku kembali."
Kini giliranku yang menarik nafas dalam, "Gimana ceritanya Hon?"
Kemudian Stanley menceritakan kejadian saat dia di Kantor Karena memang 2 minggu ini akhirnya memutuskan kembali masuk kantor.
------------------------
*Stanley POV*
__ADS_1
"Yank, itulah salah satu alasan aku mempercepat pernikahan kita, perempuan Gila itu mulai mendatangiku kembali."
Kemudian kuceritakan kejadian saat di Kantor Karena memang 2 minggu ini, aku akhirnya memutuskan kembali masuk kantor.
Flashback On
"Halo Stanley, apa kabar sayang?" aku terkejut mendapati Arizka ada di lobby kantorku.
Dengan sigap kuhindari gerakan tubuhnya yang seperti ingin menerkamku, terlihat Arizka tersinggung dengan tindakanku.
"Kabarku baik, dan tolong jangan panggil aku seperti itu sebab kamu dan Aku tidak sedekat itu. Dan satu lagi jangan datang kembali menggangguku."
"Sombong sekali kamu Stan, aku tidak saja berniat mengganggumu tapi aku berniat mengambil kamu. Yang sudah pernah menjadi milikku tidak boleh dimiliki orang lain!" katanya dengan tegas.
Aku menengok kanan kiri karyawan kantorku mulai berdatangan, Aku Tak mau jadi bahan gosip saat makan siang nanti, maka kuajak Arizka ke ruang meeting setidaknya akan aman karena ada CCTV aan ruangannya luas, ya Aku merasa curiga Ada misi yang dia bawa kemari.
"Silahkan bicarakan apa mau kami, disini Kita bisa bicara dengan leluasa!" kataku tegas.
Kupandangi Arizka yang dengan berani mengenakan rok super mini dan ketat, dipadukan tanktop dan outer atau blazer yang press body juga. Make upnya super menor bak wanita penggoda di club malam.
Seperti ada alarm dari otakku untuk berhati hati dengannya. Segala sesuatu berhubungan dengan Arizka memiliki ancaman tersendiri, entah bagaimana radarku bekerja lebih sensitif mengirimkan pesan Dangerous.
"Maaf ya dari dulu emang aku ga pernah suka kan sama kamu, aku ga nyaman sejak tau kamu dengan mudahnya berbohong tentang kelumpuhanmu hanya karena menginginkanku."
Dasar perempuan ga waras, udah diketusin malah senyum senyum gitu batinku menahan geram.
"Aku kesini Karena mau kamu balik sama aku Stan. Selama ini kamu ga pernah angkat telpon Dan bales message ku. Prinsipku kalau apa yang kumau tidak bisa datang menghampiri maka aku yang akan mendatanginya, mengambilnya kembali!"
"Denger ya dari dulu aku hanya milik Gabrielle Saputra, tapi kamu dengan nama besar orang tuamu membohongiku dan mengancamku. Owh ya dan perlu kuingatkan bahwa yang kamu mau sudah kembali kepada pemilik aslinya sudah tidak ada lagi tempat untukmu secuilpun." balasku halus tapi penuh tekanan sekaligus menantangnya perang.
"Kamu nantangin aku ya Stan, akan kubuat kamu bertekuk lutut sama aku! Ga akan kubiarkan kamu menikahinya!" ucapnya dengan nada ancaman.
Tiba tiba dia berdiri dari duduknya dan menyerangku hingga aku terjerembab dari kursi yang kududuki. Aku yang terkaget kaget belum sempat mencerna apa yang terjadi, dia menindih tubuhku, menciumiku dengan membabi buta, berusaha membuka mulutku dengan menggigit bibirku. Akal sehatku menolak semua itu, dengan kekuatan penuh kusingkirkan tubuhnya dari tubuhku.
Arizka terlempar cukup keras, tak sudi kumenolongnya. Aku benar benar marah, sopan santun yang aku berusaha pertahanan hancur sudah, kumaki dia "Breng*ek kamu, B*tch gonna be B*tch!"
Beruntung aku sempat mengabari sekretarisku agar menyuruh security datang ke ruang meeting. Walau datang sedikit terlambat setidaknya ga harus membuatku menyeret Arizka dengan tanganku sendiri.
"Bawa dia dan ingat ingat wajahnya kalau perempuan ini datang lagi kalian harus serett dia keluar!" perintahku pada kedua security yang bertugas.
__ADS_1
Terlihat Arizka terkejut tak menyangka aku akan bertindak tegas, "Lepasin, aku masih mau disini Stan, aku mau kamu, lepasin....., lepasin....!"
Masih kudengar teriakan perempuan gila itu yang minta dilepaskan. Bener bener perempuan kurang ajar beraninya ingin memperkosaku. Aku sungguh kesal, amarahku menguasai diri. Kucoba menenangkan diriku meredakan kemarahanku.
Aku harus menjaga Gaby dengan baik, aku takut perempuan gila itu akan mencelakakannya. Itu ga boleh terjadi, pernikahan kami hanya tinggal hitungan hari. Aku harus punya strategi untuk menghadapi rencana liciknya.
Tring....... tring...... tring..... tiba tiba ponselku berbunyi dan ada nama My Love tertera disana seketika aku tersenyum, hatiku jadi lebih tenang.
Flashback Off
Gaby hanya terperangah sepanjang mendengar ceritaku, sesekali nafasnya menjadi lebih pendek mungkin menahan marah.
"Aku ga tau kenapa dia tiba tiba kembali mencariku. Mungkinkah dia mencari tau dari Alva?"
Aku bukan mencurigai Alva tetapi yang tahu bahwa kami akan menikah selain keluarga hanya Alva saja. Gaby hanya diam seperti berpikir, "Kita lebih baik hubungi Alva biar jelas Hon."
"Halo Alv, ini gue Stanley pake ponsel Gaby. Sorry sebelumnya gue mau nanya apakah lu ada ketemuan sama Arizka belakangan ini?"
Diseberang sana Alva terdiam tidak langsung menjawab, "Halo Alv kenapa ga jawab lu?"
"Apa dia ganggu lu lagi Stan? Sorry gue ga maksud memberi dia info apapun tapi Karena gue kesel jadi ga sengaja gue bilang suruh jangan ganggu lu lagi karena lu udah mau nikah."
Kemudian Alva menceritakan bahwa sminggu yang lalu Arizka menemuinya lalu menceritakan kalau alasan dia membatalkan perkawinan adalah karena dia pikir aku bukan "Pria Sejati". Alva yang tidak tahu menahu menjawab bahwa aku lelaki perkasa buktinya sudah akan menikah. Alva juga merasa heran apa yang dikehendaki Arizka dariku, padahal sudah jelas aku sama sekali tidak menyukainya.
"Kasih pelajaran sama temen lu itu Alv suruh jangan seenaknya aja, tadi dia dateng ke kantor gue dan hampir perkosa gue. Dia juga ngancem bakal ngehalangin gue nikahin Gaby. Temen lu gilanya makin jadi Alv tolong lu cegah dia apapun rencana dia!"
"Oke Stan, gue bakal bantu lu, gue akan ikut awasi perempuan gila itu!"
Aku mengakhiri pembicaraan kami setelah mengucapkan trima kasih pada Alva. Kukembalikan ponsel Gaby, kuelus kepalanya, "Kamu udah ngajuin cuti kan yank? Kita harus waspada sama Arizka, dia itu orangnya nekad. Aku ga mau hidup kita terganggu sama Makhluk kaya dia yank."
"Tenang Hon, ga akan terjadi apapun sama perkawinan kita. Aku juga bukan wanita lemah yang gampang diinjek jadi kamu tenang aja ya."
Kupeluk wanitaku, perempuan pintar Dan kuat. Bersama Gaby memang selalu menenangkan, aku seperti ketergantungan dengan keberadaannya. Tak sabar rasanya memiliki dia seutuhnya.
------------------------
Biasa emang gitu ya kalau mau nikah ada aja ujiannya hehehehe. Tapi selama saling menguatkan maka hadangan apapun dapat diruntuhkan.
Halo readersku yang setia, baik hati Dan tidak sombong. Yang puasa gimana nih lancarkan? Yang ga puasa juga masih setia kan dirumah aja?
__ADS_1
Bosen pasti, jenuh apalagi tapi semoga author dapat menghilangkan sedikit kejenuhan kalian dengan karya ini ya. Seperti biasa tak lupa author memohon jejak dari para readers ya, like vote dan comments. Thank You😘🙏💪