Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 32


__ADS_3

Pagi ini aku bangun dalam kondisi sangat prima, mungkin karena hatiku sangat senang maka badan juga terasa segar bugar. Sesuai rencana aku akan mengunjungi Alva, maka sepagi ini aku sudah siap dengan kostum casual dan make up soft, tak lupa juga membawa baju dinasku karena dari apartement Alva, aku langsung ke RS.


Tak lupa aku kirim WA ke Stanley supaya dia tidak mencari cari aku.


Gaby : Morning Stan😘😘


Gak lama terdengar suara ringtone hpku lagu Setia-nya Jikustik. Ya Stan emang sengaja pasang ringtone itu khusus buat nomer dia.


"Halooo good morning Stan." sapaku membuka percakapan.


"Haloo sayangku, udah siap pergi, aku di depan rumah kamu nih." katanya sambil tertawa renyah.


"Hah, Stan kan aku mau ke Alva dulu trus lanjut RS, mending aku bawa mobil sendiri aja ya."


"Yeee GR kamu, siapa juga yang mau anter jemput Gab, aku mau sarapan kok bareng mami papi kamu. Udah cepet turun kita udah nunggu nih laper." terdengar suara ketawa Stan yang super crunchy itu.


Aku bengong sesaat, hah kapan juga janjian sarapan bareng ya, rasanya kemarin gada janjian deh. Ah sudahlah nikmatin aja, yang penting kejutannya ga aneh aneh masih bisa ditrima akal sehat, batinku.


Akupun bergegas menuju meja makan, dan benar saja Stanley sudah duduk di meja makan bersama mami papiku. Kusapa mereka semua dan kucium pipi kedua orang tuaku tak terkecuali pipi Stanley juga. Dan kulihat dia sumringah girang sekali seperti anak kecil dikasih permen. Hehehehee melihat orang orang yang kucintai sehat dan dapat berkumpul bersama rasanya bahagia banget.


"Kamu mau makan apa aja Stan?" tanyaku mengambilkan piring dan makanan yang ingin Stan makan. Nasi goreng dengan toping telur dan sosis menjadi pilihannya. Kulihat Stanley makan dengan lahap, membuat kedua orang tuaku juga tampak happy.


Setelah menghabiskan sarapan, aku berpamitan, " Mi, pi, aku berangkat dulu, sebenarnya aku jaga malem tapi pagi ini ada urusan sedikit jadi berangkat gasik. Stan take care ya, jangan kupa kabar kabarin aku. Byee....."


Kamipun berkendara masing masing dengan tujuan yang berbeda. Aku hanya berdoa semoga hari ini bisa mengclearkan urusanku dengan Alva.


**********************


Ting..... nong......Ting......nong......


Ceklek........Suara pintu dihadapanku terbuka.


"Kamu.......???" aku sungguh terkejut ga nyangka bahwa dugaanku dan Alex ternyata benar. Terlihat gadis dihadapanku langsung menunduk tidak berani menatapku. Dengan gerakan tangan dia memberi kode mempersilahkan aku masuk.


Aku yang masih kaget hanya menurut saja dan melangkahkan kakiku masuk. Sejenak aku bimbang apakah kedatanganku saat ini tepat atau sebaiknya aku segera pergi. Haduh kenapa dia si yang ada disini, kemana Alex, runtukku dalam hati. Bukan aku cemburu atau apa tapi perasaan tidak nyaman bertemu dia masih menyelimuti hatiku.


Ehem....ehem... cek cek.... aku sedikit berdeham untuk menetralisir kebingunganku sendiri, "Alexnya ada?"


"Eh..... oh... Alex mungkin dia masih di kamar Alva. Eng..... lu langsung masuk aja, kayaknya Alva juga udah nungguin lu." jawabnya gugup, dengan raut muka yang menunjukkan nelangsa, ga bahagia, dan berbeban berat. Aku bertanya tanya dalam hati apa dia lagi akting jadi gadis teraniaya atau emang lagi berbeban berat ya.


Tak pikir lama, aku putuskan langaung masuk ke kamar Alva. Disana aku disuguhi pemandangan yang tak kalah mengagetkannya. Kulihat Dicta sedang memberikan suatu suntikan di lengan Alva dan Alex memegangi Alva dengan kuat, sedangkan Alva terlihat seperti habis mengamuk dan kehilangan banyak energi tapi kondisinya sadar.


"Eh Gab, udah dateng. Sorry ga denger lu masuk." kata Alex menyapaku, yang diiringi tatapan lemah Alva. Aku terpukul melihat sorot mata Alva yang seperti kehilangan harapan. Aku menoleh ke arah Dicta meminta penjelasan dan dijawab dengan gelengan yang artinya dia ga bisa jelasin sekarang. Dengan isyarat matanya Dicta memintaku mendekati Alva, aku mengangguk paham.


"Hei Alv, kamu kenapa?" sapaku yang langsung disambut dengan genggaman tangan kanannya.


"Maaf..... maafin aku." ucapnya lirih dibarengi dengan air mata yang menderas. Aku menggelengkan kepala sembari senyum dan mengusap aliran air matanya, "It's Oke Alv, kamu tenang ya, aku disini. Sekarang kamu tidur aja, aku temenin."


Alva mengangguk setuju dengan masih menggenggam tanganku dan dibawa ke dadanya. Alex dan Dicta memberi isyarat mereka menungguku di luar. Sepeninggalan mereka, kulihat Alva mulai memejamkan mata mengantuk, mungkin efek obat penenang yang Dicta berikan sudah berkerja. Setelah yakin bahwa Alva sudah tidur nyenyak, perlahan kulepas genggaman tangannya yang merenggang dari jemariku. Dengan hati hati aku melangkah keluar kamar untuk menemui Alex dan Dicta.

__ADS_1


************************


Diruang tamu, kulihat Dicta dan Alex sedang menginterogasi Nadine, yah perempuan yang membukakan pintu untukku tadi memang Nadine, makanya aku sangat terkejut.


"Lu ga bohong kan, lu beneran hamil anak Alva? Sorry bukan gue ngatain lu cewek ga bener, tapi reputasi lu selama ini bikin gue ga yakin kalau lu cuma tidur sama Alva!"


Duarrrr...... hah...... berasa disamber geledek aku mendengar kata kata Alex. Nadine hamil.... anak Alva...... benarkah?? Ternyata hal yang kutakutkan terjadi juga.


"Gue bersumpah Lex, lu mungkin selama ini ngira gue perempuan ****** karena reputasi gue yang dianggap buruk. Tapi gue ga seburuk yang orang kira, gue akui pernah mau jebak lu dan Stanley tapi itu juga karena gue dipaksa bokap gue buat dapetin salah satu dari kalian agar perusahaan bokap bisa tertolong." terdengar isak tangis Nadine yang ga bisa ditahan lagi.


"Terus kejadian lu sama Alva itu juga termasuk rangkaian jebakan atau emang kalian lakuin suka sama suka?" teriakku yang membuat 3 orang dihadapanku terperangah kaget, ga menyangka aku tiba tiba muncul dan berteriak seperti itu.


Kulihat raut wajah ketakutan dari Nadine, "Jawab gue Nadine, kita lurusin semuanya saat ini. Gue ga mau dibebani rasa bersalah karena tuduhan tuduhan lu di WA kemarin!"


Aku memang sengaja mengungkapkan tentang WA guna melihat reaksi dari Nadine, terlihat raut wajah bingung seolah tak paham dengan arah bicaraku. Berarti benar bukan Nadine yang mengirim WA itu, lantas siapa yang berusaha mengkambing hitamkan aku, batinku bertanya tanya.


"Maksud lu apaan Gab, gue ga pernah WA lu apalagi nyalahin lu, justru gue disini yang merasa paling bersalah. Gue udah ancurin hubungan lu sama Alva cuma karena gue iri sama kebahagiaan kalian."


"Kejadian malam itu bukan cuma Alva yang dijebak, sebenernya kami berdua justru yang dijebak. Yah.... gue akui emang pas pertama ketemu Alva lagi di stage, gue tertarik sama dia. Dan rupanya ada orang yang tau kalau gue menaruh hati sama Alva."


"Dia emang berniat jatuhin Alva, maka malam itu dia nyuruh bartender kasih minuman yang udah dicampur afrodisk buat gue ama Alva. Dan Alva yang memang dari awal welcome sama gue, ga curiga pas gue kasih dia minuman, pun sama gue juga ga tau kalau ternyata minuman itu udah dicampur obat perangsang."


"Abis minum itu, gue sama Alva sama sama bergairah, maka kami memutuskan naik ke kamar VIP di lantai 2. Dan di kamar itu ternyata jebakan lain sudah disiapkan, pergumulan kami dari awal masuk sampe akhir ternyata direcord." kembali tubuh Nadine bergetar, dia menangis sesenggukan.


***********************


Aku ga bisa menahan air mataku, melihat Alva benar benar membutuhkan Gaby dan hanya bisa tenang saat Gaby datang membuat hatiku sakit. Aku bertekad menceritakan semua kebenarannya kepada mereka, aku ga tau harus minta tolong kepada siapa lagi atas kehamilanku ini. Maka ketika Alex memprovokasiku untuk menceritakan semua, aku ceritakan semua yang kami alami.


Dengan jelas aku ceritakan bagaimana kami di bawah pengaruh obat perangsang melakukan persetubuhan yang ternyata direkam bak pembuatan blue film, adegannya lengkap dari awal sampe akhir. Dan betapa bingungnya kami ketika sadar kami bangun dalam keadaan ***** tanpa sehelai benangpun.


#Flaschback On#


"Arrggghhhhhh ........ luu.... luuu.... guee.... aarrggghh. Gimana bisa kita......" aku speechless melihat keadaanku dan Alva tanpa busana sehelai benangpun.


Alvapun sama kagetnya denganku, kami berusaha keras mengingat ingat apa yang sudah terjadi semalam.


"Nadine lu bener bener ya, lu jebak gue kan?" Alva mulai marah dan berteriak padaku menuduhku menjebaknya.


Sungguh hatiku sakit mendengar tuduhannya, ternyata penilaiannya padaku serendah itu, "Sumpah gue ga jebak elu Alv, gue aja merasa terjebak kok, gue ga tau apa apa. Gue berani sumpah!"


"Gue ga percaya, lu aja pernah berusaha ngejebak Alex dulu, jadi saat inipun pasti lu mampu ngelakuin ini sama gue. Kenapa gue, salah apa gue sama lu? Jawab!!!"


Aku benar benar sakit hati sampai tak tahan aku menangis histeris mendengar tuduhan Alva karena kali ini aku dipihak yang benar. Aku betul betul ga paham kejadian yang menimpa kami.


"Alva, please bukan gue, sumpah. Gue emang pernah ngelakuin kesalahan tapi kali ini gue bener bener ga tau apapun. Gue bukan perempuan murahan yang sembarangan tidur sama cowok Va, walau reputasi gue jelek tapi selama ini gue ga obralan."


Melihat aku menangis histeris, rupanya Alva luluh, dia berusaha menahan emosinya dan bahkan merengkuhku dalam pelukannya. Aku merasa bahagia karena setidaknya dia berbaik hati untuk menenangkanku. Lalu entah siapa yang memulai kami malah kembali bersetubuh.


Setelah semuanya selesai aku begitu terpukul karena dipuncak kenikmatan tadi Alva mengerang meneriakkan nama Gaby, bodohnya aku sesaat tadi merasa dia telah jatuh cinta padaku. Alva terkukai lemas dan tertidur setelah hasratnya terpuaskan sedangkan aku hanya bisa meratapi kebodohanku, apalagi kami melakukan tanpa pengaman.

__ADS_1


Disaat ketakutanku memuncak sebuah pesan masuk ke HPku, dan kembali aku terperanjat karena isinya adalah video kami bersetubuh. "Aaaarrrrrrrgggghhhhhh.......!" aku kembali histeris menangis memaki diriku sendiri. Alva terbangun mendengar suaraku, rupanya pesan itu juga masuk ke HPnya. Dia mengamuk membanting semua benda yang ada didekatnya.


#Flashback Off#


Lega rasanya bisa menceritakan semua bebanku pada mereka. Pasti mereka kaget sebab berita dan informasi yang disebarkan oleh orang tak bertanggung jawab membuat reputasiku buruk selama ini.


"Lalu, setelah itu lu ama Alva berhububgan intens sampai hari kalian kepergok sama gue?" tanya Gaby padaku, aku menatapnya mencari sorot kebencian, tapi aku tak mendapatkannya sama sekali, justru tatapan iba yang kulihat dari matanya. Hah.......... manusia macam apa Gaby ini, bisa bisanya bersimpati terhadap orang yang sudah menghancurkan hubungannya.


Pantas Alva begitu mencintainya, satu satunya yang Gaby ga kasih mungkin tubuhnya maka saat Alva merasakan kesenangan bersamaku dia sedikit terlena. Tapi saat kesadarannya kembali, aku hanya dianggap sebagai baju yang dengan mudahnya dipakai dan dilepaskan.


"Aku seperti baju bagi Alva, yang dia pakai saat membutuhkan dan dia lepas saat tidak membutuhkan. Sejak kejadian malam itu aku begitu terobsesi atas dia, hasratku menutupi logikaku, maka dengan tidak tahu malu aku menyerahkan diriku sendiri." kembali isak tangisku tak terbendung.


"Dia begitu mencintaimu, setiap kali berhubungan tanpa sadar dia meneriakkan namamu Gab. Tapi sungguh Alva seperti magnet bagiku, walau aku sakit hati tapi setiap kali itu pula aku mendekat padanya."


Kulihat Gaby menarik bafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Mungkin dia terkejut akan fakta yang aku beberkan, aku paham pasti Alva tidak mengakui semua hubungan kami karena memang bagi dia aku hanya pemuas nafsu yang tidak penting untuk diingat.


"Gab, gue ga nyangka tebakan lu tentang Alva benar! Sebagai spupunya gue minta maaf sebesar besarnya atas nama Alva."


"Ja... jadi.... lu tau semuanya Gab? Lantas kenapa lu ga marah atau maki maki gue sama Alva?" tanyaku dengan rasa penasaran tinggi.


"Gue pacaran sama Alva 3th jadi gue tau gimana dia. Orang yang dijebak ga mungkin kan bakal melakukan untuk kesekian kalinya. Satu satunya alasan yang masuk akal ya pasti karena sudah ketagihan sex."


"Dan kenapa gue ga bisa marah atau maki maki kalian, pertama ga da gunanya karena ga bakal merubah apapun. Kedua karena gue merasa punya andil kenapa Alva bisa kecantol sama cewek lain ya karena ada kepuasan batin yang ga bisa gue kasih jadi dia temuin di luar."


Sekali lagi aku hanya bisa melongo mendengar penjelasan Gaby, aku makin terintimidasi oleh sosok Gaby. Bagaimana nasib anak ini kalau papanya tetep ga mau mengakuinya.


"Sorry Nadine, kalau bener cerita lu, kalian dijebak, siapa yang jebak kalian dan apa motivasinya?" tanya dokter Dicta dengan tatapan dingin dan suara tegasnya. Aku paham susah untuk mempercayai ucapanku karena kesalahan di masa lalu, tapi memang kenyataannya kali ini aku yang dijebak.


Aku menghela nafas, kemudian aku mencari kontak orang yang mengirim video kami, kuberikan ponselku pada dokter Dicta, "Lihatlah sendiri video itu maka dokter akan percaya bahwa kami dijebak!"


Aku berharap kali ini mereka tidak lagi menyalahkanku tapi mau membantuku juga, sebab jujur aku tidak tahu lagi mencari bantuan kemana. Selama ini aku menampilkan sikap kurang terpuji yaitu arogan, supaya orang orang ga sembarangan menyepelekanku, akibatnya aku ga punya banyak teman.


Teman yang ada pun hanya sebatas memanfaatkanku. Aku tau aku salah menggoda Alva tetapi egoku ga terima saat hanya aku yang disalahkan, sedangkan Alva sebagai pihak yang menikmati tubuhku justru diberi simpati.


Aku sungguh iri pada Gaby dan Alva yang memiliki banyak cinta disaat terpurukpun mereka masih saling menguatkan. Sedangkan aku............ tak seorangpun akan peduli kondisiku.


#


#


#


"Jangan berjalan di belakangku, aku tak akan memimpin. Jangan berjalan di depanku, aku tak akan mengikutimu. Cukup berjalan di sampingku dan jadilah sahabatku.”


( Albert Camus )


******To Be Continue******


Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘

__ADS_1


__ADS_2