
"Arrggghhhhh , ya ampun enak banget pijitannya ya Stan. Emang Zen ini favourite banget deh, harga sama servicenya berbanding lurus puassss aku mah. Kamu gimana Stan punggung udah ga pegel kan?" tanyaku seraya mengelus punggung Stanley yang sempat mengeluh pegal pegal.
"Udah seger nih ga sakit lagi punggungku, yang sakit sekarang hatiku." katanya seraya menunjuk dada bagian kiri dengan wajah nelangsa.
"Heh serius? Bentuk sakitnya gimana? Nyeri trus sesak nafas ga? Duh ke Hasan Sadikin aja ya, kita cek Stan."
Hahahahaa Stanley tertawa yang langsung aku pukul lengannya karena sudah kurang ajar mengerjaiku. Jahat banget si main main sama sakit dada.
"Sorry sorry, becanda Gab, tapi beneran aku sakit hati kamu ga mau kasih tau ada urusan apa kamu sama Alex tadi trus aku sedih karena kita harus balik ke ibu kota, artinya bakal pisah sama kamu dan tertimbun kesibukan kita masing masing." jelasnya sambil memelukku. Aku memasrahkan diri dalam pelukannya, ingin menyelami getaran hatiku.
"Woiiii, public area inih main pelukan ajah. Yuk udah bereskan sekarang waktunya kita pulang." teriak Dicta mengingatkan aku dan Stan.
"Suasana ibukota agak mencekam nih akibat corona, di RS kita ada beberapa pasien suspected corona lho Gab kabarnya." info Sammy membuatku sedikit terhenyak karena begitu cepatnya virus ini mewabah.
Hanya dapat berdoa dalam hati semoga suasana tidak makin parah, jangan sampai Indonesia seperti Itali pada akhirnya pemerintah mereka memutuskan lock down guna memutus rantai penyebarannya.
"Oke see you tomorrow, kita langsung pisah disini aja ya. Byeeee......" Kataku sambil masuk ke mobil Stanley.
See you Bandung, entah kapan bisa liburan lagi mengingat situasi sekarang kita dihimbau untuk mengurangi kegiatan di tempat umum bahkan sekolah juga diliburkan, ibadahpun sebisa mungkin dilakukan dirumah saja.
**********************
#Stanley POV#
Sejak di cafe tadi sebenarnya ada hal yang menggangguku karena Gaby tidak mau menjelaskan pembicaraannya dengan Alex. Bukan aku bukan cemburu pada Alex karena aku tahu sebatas mana hubungan mereka, tapi aku cemburu pada Alva, penasaran hal apa yang masih membuat Gaby berhubungan dengan Alva melalui Alex.
"Stan, kamu kenapa si diem aja, masih ngambek?"
Aku menoleh pada Gaby, menggenggam tangan kanannya dengan tangan kiriku, "Kamu belum percaya sepenuhnya sama aku Gab? Kenapa ga mau cerita apa yang kamu obrolin sama Alex di telpon tadi? Pasti tentang Alva kan?"
Aku menangkap keraguan di mata Gaby, mungkin galau antara cerita atau gak. Sebenarnya aku ga mau paksa Gaby untuk menceritakan semua, karena gimanapun hubungan kita baru membaik dan yah mungkin dia masih belum sepenuhnya percaya sama aku.
"Stan, sorry kalau aku ga langsung cerita tadi karena aku ga mau suasana hati kamu jadi jelek. Waktu kita buat bersenang senang ga banyak maka aku memilih ga membahas hal yang ga menyenangkan."
"Tadi aku emang ngobrol sama Alex masalah Alva. Jadi ada nomer ga dikenal yang WA aku dan kirim video Alva lagi mabok, intinya orang ini menilai aku menghancurkan Alva dengan sikap sok suciku. Dan aku pikir Alex harus tau kalau ada orang yang melakukan ini ke aku."
"Stan, wajar kalau kamu cemburu pun demikian Alva juga cemburu sama kamu. Tapi saat ini aku sudah memilih berada disisimu jadi tolong percaya sama aku seperti selama ini aku selalu percaya kamu."
Gaby menunjukkan video itu, yang tentu saja membuat aku kaget. Aku memang ga terlalu kenal Alva tapi melihat dan mendengar dia sekacau itu karena kehilangan Gaby empatiku muncul.
Kalau Alva sampe hancur pasti Gaby yang akan disalahkan, orang ga akan mau tau bahwa kesalahan Alvalah yang membuat Gaby memutuskan berpisah. Walau Alva ga setenar Afgan atau Vidi Aldiano tetapi aku tahu fanbase dia cukup banyak.
"Aku percaya sama kamu, maafin aku ya, karena sebenarnya akulah yang ga percaya diri Gab gimanapun aku pernah bersalah sama kamu jadi rasa insecure itu ada."
"Kamu boleh selesaikan urusan sama Alva sendiri tapi ingat kalau butuh bantuan kamu harus bilang sama aku ya. Aku mau kita saling terbuka dalam segala hal Gab, itu kunci supaya kejadian kejadian buruk bisa kita atasi bersama."
Aku tersenyum melihat Gaby menggangukan kepala tanda setuju. Aku memang ga mau menjalani hubungan baruku ini dengan menyembunyikan sesuatu dengan dalih demi kebaikan pasanganku. Aku ingin merangkai jalinan baru ini dengan segala keterbukaan sehingga bisa saling membentengi dari makhluk makhluk yang ingin mengganggu hubungan kami.
*********************
Aku lega karena sudah terbuka pada Stanley perihal Alva. Buat orang lain mungkin mantan harus dibuang, tapi buatku dalam kasus ini aku harus bisa bantu Alva keluar dari keterpurukan, minimal aku harus tau siapa pemilik nomer tak dikenal itu.
"Stan, aku pulang ke rumah mami aja ya, kamu jangan lupa besok ketemu papamu dan bicarakan baik-baik ya Stan, jangan mau kalah sama penggoda. Kamu harus bikin papamu lepas dari iblis penggoda."
"Iya, aku janji suasana bakal kondusif, kamu inget ya buat ngabarin aku. Kamu harus jaga kondisi jangan telat makan, dan inget selalu sama aku yang selalu menunggu kamu."
Tak terasa akhirnya sampai juga aku dirumah orang tuaku. Sekali lagi aku mengingatkan agar Stanley bisa menjaga emosinya dan berpikir positif agar rumah tangga orang tuanya tidak hancur. Kami berpelukan sangat erat meluapkan rasa yang sulit diungkapkan kata diakhiri dengan kecupan mendalam di dahiku. Aku balas mengecup pipi dan matanya, tempat favoriteku di episode yang lalu hehehe.
__ADS_1
*******************
Huft akhirnya sampe juga, kurebahkan tubuhku sejenak di sofa ruang keluarga. Aku teringat pembicaraan dengan Alex yang belum tuntas, kulihat jam menunjukkan 22:15, ehm jam segini kayaknya Alex belum tidur deh, mending telpon sekarang deh daripada kutunda tunda.
Beberapa kali nada dering dengan lagu Beautiful in White terdengar, hahahaha mentang mentang mau nikah ni ringtonenya lagu kawinan banget deh ah.
Setelah percobaan beberapa kali akhirnya....
..... "Halooo... sorry Gab barusan ga denger lu telpon!"
"Lex udah lu cek belum siapa yang punya nomer itu? Dan kira kira motifnya apa ya."
"Siapa yang punya belum tau Gab, cuma ada info Alva mengacaukan beberapa jadwal shownya dan bikin dia harus ganti rugi yang cukup besar. Gue kok malah curiga sama Aryo ya manajer Alva, lu tau kan kalo cowok tipe hello kitty gitu hatinya rapuh dan akalnya pendek karena lebih dikuasai sama emosi daripada rasionya. Nah gue curiga dia benci sama lu nyalahin lu dengan keadaan Alva sekarang."
"Lex, sebenernya gue ga terlalu masalahin penerornya tapi justru gue bingung gimana harus bantu Alva, dia ga bisa dibiarin minum minum gitu terus Lex. Gue takut dia kecanduan nantinya. Mumpung masih tahap awal gini lu harus bawa dia ke psikolog Lex, biar dia bisa cepet lepas dari alkohol."
"Gue sebenernya mau aja bantu dia Lex, gue ga da masalah secara pribadi sama Alva, gue sayang sama dia walau porsinya udah berubah dan berbeda gimanapun dia udah jadi lelaki yang jaga gue 3 tahun ini. Gue sekarang sadar bahwa perasaan gue ke Alva jauh lebih murni daripada hubungan asmara."
"Lu paham kan maksud gue Lex? Mungkin ga si Lex bahwa Alva sebenernya juga ngerasain cintanya ke gue bukan lagi nuansa asmara maka dia bisa jatuh ke pelukan Nadine?"
"Nah itu Gab, gue juga sempet mikir ke arah sana, malah gue pikir kesakitan dia sekarang karena rasa bersalah bikin lu sakit hati jadi dia salahin diri dia sendiri. Gimana kalau lu temuin dia bicarain lagi dari hati ke hati Gab?"
"Sorry Gab, gue kemarin denger suara Stanley panggil lu mesra gitu, apa bener sekarang lu balik ama dia seperti kata Alva? Apa Stan bakalan bolehin lu bantu Alva Gab?"
"Bener gue mencoba merajut kembali, setelah tahu cerita asli dari kepergian Stan selama ini, gue ngerasa bisa menerima jadi gue setuju ajakan dia buat merajut kisah baru ama dia."
"Tenang aja Lex, gue dah jujur juga ke Stan kalau gue ga bisa abaikan Alva so dia oke aja. Besok gue sempetin ke apartemen ya sebelum jadwal dinas malem gue."
"Okeee Gab, besok gue bilang kalo lu mau ketemu Alva."
Aku berpamitan pada Alex dan memutuskan hubungan telepon dengannya. Lelah rasa hatiku, aku ga mau kalau Alva sampe menghancurkan dirinya sendiri dengan alkohol, aku bertekad mengembalikan Alva yang dahulu. Kalau dulu Alva bersedia menjadi sandaranku, sekarang aku harus bisa menjadi sandarannya.
****************
"Gab, kamu udah tidur? Mami masuk ya?"
Belum sempat kujawab, pintu kamar sudah terbuka dan menampakkan wajah sumringah mamiku.
Mami memelukku seakan akan kami sudah bertahun tahun ga ketemu. Mamiku memang sangat impulsif dan atraktif, dia bisa memposisikan dirinya sebagai apapun untukku. Dia bukan orang tua yang gila hormat, mami bahkan lebih sering bertingkah sebagai temanku.
"Miiii, aku lagi bingung, ga tau harus gimana. Apa aku yang keliwat lebay gitu ya mi?"
Mamiku diam sambil memeluk dan mengelus kepalaku, tandanya mami mau denger semua ceritaku tanpa interupsi.
"Aku udah trima Stanley lagi, kami janji untuk merajut kisah baru dengan lebih terbuka satu sama lain. Tapi aku ga bisa mengabaikan Alva yang entah karena apa dia terpuruk gitu Mi. Ada yang kirim video Alva mabok dan menyalahkanku atas kelakuan Alva itu."
Air mata kesedihan yang sejak kemarin aku tahan akhirnya tumpah semua, mami makin erat memeluk dan mengusap kepalaku.
"Aku dah konfirm ke Alex, menurut dia itu berhubungan sama beberapa show Alva yang dia kacaukan, ga bisa tampil karena kondisi teler mi. Alva yang aku kenal ga gitu Mi, dulu dia bisa jadi sandaran buatku, saat ini aku merasa harus bisa menjadi sandaran buatnya."
"Tapi disisi lain ada Stanley, yang bagaimanapun harus aku jaga perasaannya. Stan mengijinkanku membantu Alva tapi aku tahu dari lubuk hatinya dia kecewa karena aku masih peduli sama Alva."
Bicara sama mami rasanya membuat hatiku amat lega, dari dulu dia selalu bisa memberiku kenyamanan, seburuk apapun masa lalu yang pernah aku dan mami lalui dulu tak pernah menghilangkan senyum dan kehangatannya. Mamiku selalu mencontohkan optimisme, mottonya adalah "Usaha tidak akan mengkhianati Hasil" dan yah terbukti pada kehidupan kami saat ini.
"Gab, kamu sudah pernah melalui hal yang lebih buruk daripada ini so ga perlu takut kan? Ikuti kata hatimu, bertindak sesuai nuranimu, sepanjang kamu jujur dan terbuka sama Stan, mami rasa ga da hal yang perlu ditakuti. Ingat dalam setiap langkah hidup dan rencana kita, ada garis yang ga bisa kita lewati karena itu sudah menjadi rencana Tuhan. Jadi sebagai manusia cukup ikuti saja kata hati kamu hasil akhir biar urusan Tuhan."
Aku mengangguk setuju, yah.... terdengar klise tapi memang benar adanya, kelahiran, jodoh dan maut adalah misteri Illahi, bukti rancangan Tuhan atas hidup kita atau biasa disebut takdir. Aku mengecup pipi kanan dan kiri mamiku sebagai tanda terima kasih.
__ADS_1
"Gab, mami malah khawatir sama kerjaan kamu di RS, wabah corona bikin mami serem Gab. Apa kamu brenti kerja aja gitu Gab? Papi aja lagi rapat tuh di rumah papi B, lagi diskusi karena kondisi sekarang ngaruh banget sama omset. Mana karyawan juga ikutan panic kan mau ga mau fokusnya berantakan." kata mami dengan muka galau yang menurutku malah lucu karena galau tapi senyumnya sumringah wakakakaka orang yang lihat juga pasti bingung karena ambigu banget.
"Lah mami masa aku brenti kerja trus mau makan apa aku mi?" candaku.
"Ish kamu ya, ga kerja juga kamu masih bisa mami kasih makan Gab, makanmu kan gampang fur ikan sama dedek ayam hihiihihi." mulailah somplaknya mamiku.
"Ya Lord, kasihani hambaMu punya mami durhaka banget!" ucapku sambil sikap berdoa yang mendapat hadiah jitakan dari mami.
"Bocah edan, ada juga anak durhaka masa mami durhaka! Serius Gab, kesehatan kan penting mami ga mau kamu amit amit terpapar virus itu Gab, secara di RS kan gudangnya penyakit."
"Masalah makan mah gampanglah, kaya ga pernah ngerasain hidup pas pasan aja kamu Gab!"
"Mami sayang, coba pikir pake logika mi, lagi kondisi darurat wabah Covid-19 ini terus dokternya malah disuruh pada brenti kerja, lah apa kabar Indonesia nanti mi. Ga da wabah aja kita sering kewalahan hadapin pasien, apalagi sekarang tenaga medis dilarang cutilah kalau ga penting banget. Kecuali kami juga sakit atau melahirkan atau dalam suasana duka."
"Kami tu disumpah lho Mi, dipasal 1 bahwa kami harus mengutamakan perikemanusiaan jadi justru saat inilah sumbangsih buat negara harus kami berikan."
"Mami ga usah khawatir, menghadapi ini, kita bantu diri kita dahulu dengan menjaga kesehatan kita mi. Makan teratur, minum yang cukup, tambah vitamin menjaga kebersihan badan, sering cuci tangan, kurangi interaksi dengan kerumunan banyak orang, jangan malu kalau merasa ga enak badan segera cek ke RS."
"Coronavirus ini dapat menyebabkan terjadinya penyakit pneumonia pada paru-paru. Biasanya, gejala dari mereka yang terinfeksi adalah dengan adanya batuk-batuk, demam, serta kesulitan bernapas. Seseorang yang mengalami gejala tersebut akibat tidak bisa sembuh hanya dengan antibiotik atau obat flu biasa."
"Nah makanya dianjurkan menggunakan masker, dan menjaga jarak dengan radius 1m, sama sering cuci tangan aja Mi, jangan masukin jari ke mulut atau ucek mata atau usap usap hidung tanpa cuci tangan."
Aku lihat mamiku mengangguk anggukkan kepalanya tanda mengerti. Maklum si namanya orang tua pasti khawatir apalagi kami ber3 anak tunggal dan smua profesinya sama dokter, yang mana sebenernya rentan terjangkit karena setiap hari bersinggungan dengan penyakit. Tapi disitulah justru aku bisa melihat kemurahan Tuhan, petugas medis rata rata punya daya tahan tubuh ekstra jadi ga usah khawatir tertular hehehehe.
Tring.....
Dicta :
Gab, mami G nyuruh lu brenti kerja ga? Gue curiga ni mami pada janjian nyuruh kita brenti kerja. Kenapa ga dulu sekalian aja ngelarang jadi dokter, ya gak? Kesel gue nih mami mrepetnya kaya abis nelen bom molotov.
Hahahahaha aku tertawa membaca WA Dicta yang ternyata abis dirusuh brenti dinas juga. Emang ni mami mami kompak somplaknya.
Gaby :
Iya bener gue juga disuruh brenti katanya takut kena corona. Gue bilang aja udah disumpah harus mengutamakan perikemanusiaan jadi ini saatnya kita bela negara hahaha.
Dicta :
Sama, gue bacain tadi isi sumpah dokter, tapi masih ngeyel aja jadi gue ancem ga mau kawin seumur hidup wakakaka.
Gaby :
Idih kacau lu, nyesel kalo ga kawin mah Dict hidup sebatang kara ntar tuanya hiiihhhhh ogah.
Dicta :
Wakakakakakaka yaa kali gue juga ogah orang pacaran aja ternyata enak apalagi kawin Gab hihihihihi
Gaby :
Yeee Somplak, udah ah tidur yuk capek. Eh Dict besok pagi gue mau ke Alva biar clear smua. see u..........
“Semakin tinggi tingkat energimu, semakin efisien tubuhmu. Semakin efisien tubuhmu, semakin baik perasaanmu dan semakin kamu akan menggunakan bakatmu untuk menghasilkan hasil yang luar biasa.”
(Anthony Robbins)
******To Be Continue******
__ADS_1
Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘